
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/627710079&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h3><strong>Qadha Shalat ‘Id</strong></h3>
<p>Jika ketinggalan shalat id, apa yg harus dilakukan?</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, kita awali dari pembahasan, apakah ada qadha untuk shalat sunah yang dibatasi waktu (<em>an-Nawafil al-Muaqqatah</em>), seperti shalat id, witir atau rawatib.</p>
<p>Ada 2 pendapat ulama dalam masalah ini. Pendapat syafiiyah menyatakan, dianjurkan untuk qadha.</p>
<p>An-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">
ذكرنا أن الصحيح عندنا استحباب قضاء النوافل الراتبة وبه قال محمد والمزني وأحمد في رواية، وقال أبو حنيفة ومالك وأبو يوسف في أشهر الروايتين عنهم: لا يقضى.
</p>
<p>Telah kami sebutkan bahwa pendapat yang kuat menurut madzhab kami (syafiiyah), dianjurkan melakukan qadha untuk shalat sunah rawatib. Ini merupakan pendapat Muhammad bin Hasan, al-Muzani, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat. Sementara Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Abu Yusuf menurut riwayat yang masyhur dari mereka, tidak disyariatkan qadha. (al-Majmu’, 4/43).</p>
<p>Diantara dalil adanya anjuran ini adalah hadis dari Abu Said al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">
مَنْ نَامَ عَنِ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَهُ
</p>
<p>Siapa yang ketiduran atau kelupaan sehingga tidak witir, hendaknya dia mengerjakannya setelah masuk subuh atau ketika ingat. (HR. Turmudzi 467, Ahmad 11264 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, adakah qadha untuk shalat id?</p>
<p>Terdapat beberapa riwayat bahwa sahabat dan tabiin melakukan qadha shalat id.</p>
<p>Imam Bukhari menyebutkan beberapa riwayat mengenai qadha shalat id secara <em>muallaq</em> dalam kitab shahihnya,</p>
<p class="arab">
وَأَمَرَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلاَهُمُ ابْنَ أَبِى عُتْبَةَ بِالزَّاوِيَةِ ، فَجَمَعَ أَهْلَهُ وَبَنِيهِ ، وَصَلَّى كَصَلاَةِ أَهْلِ الْمِصْرِ وَتَكْبِيرِهِمْ . وَقَالَ عِكْرِمَةُ أَهْلُ السَّوَادِ يَجْتَمِعُونَ فِى الْعِيدِ يُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ . وَقَالَ عَطَاءٌ إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
</p>
<p>Anas bin Malik menyuruh mantan budaknya, Ibnu Abi Uthbah yang tinggal di Zawiyah untuk menjadi imam. Beliau kumpulkan istri dan anak-anaknya, lalu mereka shalat seperti shalat yang ada di lapangan dengan jumlah takbir yang sama.</p>
<p>Ikrimah mengatakan, Penduduk as-Sawad mereka melaksanakan shalat id dua rakaat seperti yang dilakukan imam. Atha mengatakan, “Siapa yang ketinggalan, tidak shalat id, hendaknya shalat 2 rakaat.” (Shahih Bukhari, 4/154).</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, bagaimana tata caranya?</p>
<p>Tata caranya sama seperti shalat id, 2 rakaat dengan takbir tambahan 7 takbir di rakaat pertama dan 5 takbir di rakaat kedua.</p>
<p>Al-Bukhari dalam shahihnya mengatakan,</p>
<p class="arab">
باب إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ. وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ ، وَمَنْ كَانَ فِى الْبُيُوتِ
</p>
<p>Bab, penjelasan, apabila tidak shalat id di lapangan, maka melakukan shalat 2 rakaat. Demikian pula untuk wanita, dan mereka yang tinggal di rumah. (Shahih Bukhari, 4/154)</p>
<p>Praktek ini seperti yang dilakukan Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p class="arab">
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إذَا كَانَ فِي مَنْزِلِهِ بِالطَّفِّ ، فَلَمْ يَشْهَدْ الْعِيدَ إلَى مِصْرِهِ جَمَعَ مَوَالِيَهُ وَوَلَدَهُ ، ثُمَّ يَأْمُرُ مَوْلاه ، عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي عُتْبَةَ ، فَيُصَلِّي بِهِمْ كَصلاة أَهْلِ الْمِصْرِ
</p>
<p>Apabila Anas bin Malik sedang di kampungnya di Thaf, sehingga beliau tidak bisa hadir shalat id di pusat kota, beliau kumpulkan budak-budaknya dan anaknya, kemudian beliau perintahkan Ibnu Abi Utbah untuk jadi imam. Beliau shalat id seperti yang dilakukan imam di kota. (HR. Thahawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar, 6/30).</p>
<p>Dan ini sesuai dengan kaidah fiqh,</p>
<p class="arab">
القضاء يحكي الأداء
</p>
<p>Qadha itu sama dengan menyerupai ada’.</p>
<p>Shalat id yang dikerjakan bersama imam di lapangan adalah shalat id ada’. Sementara siapa yang tidak bisa ikut atau ketinggalan, dia bisa shalat 2 rakaat sebagai qadha. Tata caranya, sama dengan shalat id ada’ (di lapangan)</p>
<p>Ada riwayat dari as-Sya’bi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">
من فاته العيد فليصلّ أربعا
</p>
<p>“Siapa yang tidak ikut shalat id, hendaknya dia shala 4 rakaat.”</p>
<p>Hanya saja sebagian ulama menilai riwayat ini dhaif. Karena as-Sya’bi tidak pernah mendengar dari Ibnu Mas’ud.</p>
<p>Sehingga yang lebih tepat, jumlah rakaatnya sama dengan shalat id pada umumnya. Hanya saja tidak boleh ada khutbah.</p>
<p><strong>Bagi yang Telat Datang di Lapagan</strong></p>
<p>Bagi yang telat datang di lapangan dan khatib sedang berkhutbah, dianjurkan untuk langsung mendengarkan khutbah dan shalatnya ditunda setelah khutbah, sehingga dia mendapat dua pahala. Pahala mendengarkan khutbah dan shalat.</p>
<p>Dalam salah satu fatwanya, Lajnah mengatakan,</p>
<p class="arab">
ولمن حضر يوم العيد والإمام يخطب أن يستمع الخطبة ثم يقضي الصلاة بعد ذلك حتى يجمع بين المصلحتين
</p>
<p>Bagi yang hadir ketika id sementara imam sedang berkhutbah, hendaknya dia mendengarkan khutbah, kemudian baru  mengqadha shalatnya. Sehingga dia mendapat 2 manfaat. (Fatwa <em>Lajnah Daimah</em>, 8/306)</p>
<p>Allahu a’lam</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 