
<h2>Membeli Raja, Menguasai Tahta</h2>
<p>Seberapa penting arti “komunikasi” bagi Microsoft? Penting  sekali! Sampai-sampai Microsoft harus mengakuisisi Skype, pada Mei 2011,  senilai US$ 8,5 miliar.</p>
<p>Semahal itu? Apa yang membuat Skype  begitu berharga di mata Microsoft? Bagaimana mungkin sebuah perusahaan  besar, yang sudah memiliki aplikasi populer—misal Windows Live Messenger  dengan 330 juta pengguna aktif setiap bulan—bersedia membeli aplikasi  Skype yang hanya memiliki 124 juta pengguna aktif per bulan dengan harga  sekitar Rp 68 triliun?—asumsi US$ 1 = Rp 8.000.</p>
<p>Rp 68 triliun  tentu saja “super besar” untuk sebuah aplikasi. Sebagai perbandingan,  Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) salah satu kabupaten di  Sulawesi bagian utara saja hanya sekitar Rp 500 miliar per tahun. Jumlah  ini pun harus “dibagi” ratusan ribu jiwa penduduk. Bandingkan dengan  Skype yang jumlah pegawainya tidak sampai 10 ribu orang<em>. Subhanallah</em>. Apa jadinya kalau pemilik Skype orang Indonesia? Bakal sesak devisa kita tahun ini. <em>Ngimpi kali, ye.</em></p>
<p><strong>Era Baru Telah Tiba</strong></p>
<p>Pada  1960-1970-an, komputer adalah besi-besi raksasa super berat yang hanya  bisa disederhanakan dengan satuan “ton”. Komputer di era itu memang  berukuran besar. Jadi wajar pemiliknya membuatkan tempat khusus. Setelah  itu, yakni era 1980-1990-an, yang disebut komputer berubah. Bukan lagi <em>mainframe</em> raksasa. Tapi sesuatu yang akhirnya populer dengan sebutan PC <em>(personal computer)</em> dan laptop. Bentuknya lebih ringkas dan bisa ditenteng ke mana saja.  Dulu butuh ruang khusus, komputer era 1990-an hanya butuh tas untuk  menjinjingnya.</p>
<p>Pada 2000-an, tepatnya 2007, setelah Apple  meluncurkan iPhone, orang-orang menenteng “PC” dan “laptop” ke mana pun  mereka pergi. Suka atau tidak suka, <em>smartphone </em>ada di genggaman ratusan juta manusia saat ini adalah PC sekaligus laptop masa depan. <em>Smartphone </em>punya prosesor, punya <em>hardisk,</em> punya memori, punya aplikasi, bahkan virus.</p>
<p>Tapi komputer era sekarang bisa dimasukkan ke dalam kantong. Bisa mengambil foto. Bisa <em>internetan.</em> Bisa SMS dan <em>chatting.</em> Bisa merekam dan mengedit video. Bisa memindai <em>barcode</em>, memainkan musik dan <em>game</em>. Bisa melacak jejak lari Anda. Bahkan sudah bisa diajak ngobrol—<em>thanks for Siri in iPhone 4s.</em></p>
<p>Jangan lupa—satu lagi yang paling penting—dalam <em>smartphone</em> ada kata <em>phone</em>.  Jadi, benda ini “komputer” yang bisa menghubungkan Anda dengan kolega  Anda—secara natural tentunya. Singkat cerita, ini era baru. Era ponsel  pintar alias <em>smartphone</em>. Dan saya rasa Anda tahu fungsi hakiki sebuah ponsel—untuk berkomunikasi.</p>
<p><strong>Komunikasi, itulah Skype</strong></p>
<p>Bila  familiar dengan Skype, Anda pasti tahu tujuan utama aplikasi bernuansa  biru langit ini. Tepat sekali: komunikasi! Tidak salah kalau Anda  menyebut Skype pionir di bidangnya. Diluncurkan pertama kali pada 2003,  Skype langsung menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu <em>killer app—</em>baca: aplikasi yang sangat penting, sehingga tanpanya, sebuah <em>platform</em> terlihat kurang berguna di bidang komunikasi.</p>
<p>Sebelum  Skype muncul, para pengguna PC mungkin tidak pernah berbicara dan  berkomunikasi menggunakan suara mereka laiknya ketika melakukannya via  telepon. Tapi Skype mampu mewujudkan mimpi jutaan, bahkan ratusan juta,  orang—Sykpe memiliki 600-an juta akun terdaftar—dengan “sangat”  sempurna. Sempurna dalam dalam arti Anda bisa menelepon bebas, dan  gratis, kepada sesama pengguna Skype, di manapun berada selama  terkoneksi ke Internet. Hebat bukan?</p>
<p>Di dunia nyata, tidak akan  ada operator yang berani memberi Anda bonus menelepon bebas tanpa  syarat. Heboh kalau ada. Di Indonesia, Telkomsel mungkin langsung gulung  tikar kalau begitu caranya. Tapi Skype melakukannya—dan Skype tidak  gulung tikar juga?</p>
<p>Sekali lagi perlu ditegaskan, Skype hanya  membebaskan biaya percakapan antarpenggunanya. Tapi ketika hendak  menghubungi telepon rumah atau telepon genggam, pengguna Skype harus  membayar—tentunya lebih murah—plus biaya koneksi Internet yang tidak  gratis tentunya. <em>So</em>, Skype memang <em>killer app. </em>Tapi tetap ada “biaya pakai” juga.</p>
<p>Itulah mengapa Skype sangat populer di Eropa dan Amerika bagian utara. Di sana, penetrasi Internet ber-<em>bandwith</em> besar sangat tinggi, sehingga Skype menjadi alternatif sempurna bagi  telepon biasa. Tapi di Indonesia, beda. Di sini, penetrasi Internet yang  bagus belum seperti di dua benua tadi, sehingga pengguna Skype di  negara kita belum mampu mencapai titik popularitas seperti Facebook atau  Twitter.</p>
<p><strong>Skype di Mana Saja, Termasuk di Pikiran</strong></p>
<p>Sebagai sebuah <em>software</em>, Skype bisa disebut Opera-nya aplikasi VoIP <em>(Voice over Internet Protocol).</em> Skype tersedia untuk pengguna Windows, Mac, bahkan Linux. Tidak puas bercokol di tiga <em>platform</em> terbesar komputasi <em>desktop,</em> Skype juga hadir di beberapa <em>platform mobile</em> seperti Symbian, Brew, iOS, Android, Maemo dan Windows Phone 7.</p>
<p>Itulah sebabnya Skype bisa hadir di begitu banyak <em>gadget</em>, seperti Play Station Portable (PSP), iPad, iPhone, dan <em> handset</em> berbasis Android, Maemo, Brew dan WP7. Dengan eksistensi di beberapa <em>platform </em>sekaligus, sadar atau tidak, Skype mampu membuat <em>brand</em> sekaligus jangkauan penggunanya menjadi tambah luas.</p>
<p>Selain  Skype, sebenarnya ada cukup banyak aplikasi lain, seperti Google Voice,  GoToMeeting, Apple FaceTime, Cisco WebEx, SightSpeed, Qute, Combots,  Vbuzzer, ooVoo, Jajah, VoIP Buster, dan bahkan Windows Live Messenger.  Tapi siapa pun tahu, Skype adalah pemimpin pasar. Dan pemimpin pasar  biasanya ada di kepala setiap orang. Dan apa-apa yang ada di kepala  setiap orang cenderung menarik perhatian Microsoft.</p>
<p>Karena,  seperti sering disitir oleh Bill Gates dan Steve Ballmer, tujuan utama  Microsoft adalah menjadi penguasa pasar di setiap lini bisnis yang  dimasukinya. Bukan menciptakan sebuah produk sebagus-bagusnya ala Steve  Jobs dengan timnya di Apple. Dengan kata lain, jika mereka masuk ke  dalam bisnis pencarian, mereka ingin mendepak Google dari tahtanya. Sama  seperti di dunia DBMS <em>(Database Management System),</em> Microsoft selalu ingin mendepak Oracle dari singgasananya.</p>
<p>Dalam  beberapa percobaan, Microsoft sering berhasil—misal pembelian Hotmail  senilai US$ 400 juta sempat membuat Microsoft merajai dunia layanan <em>e-mail</em> gratis berbasis <em>web.</em> Tapi kadang nasib perusahaan yang berbasis di Seattle ini tidak selalu baik. Jadi, tidak selamanya menjadi penguasa pasar.</p>
<p>Namun, untuk pembelian aplikasi VoIP hasil karya <em>programmer </em>Estonia  ini, suka atau tidak, Microsoft akan langsung naik podium. Tanpa harus  bekerja keras dan menghamburkan uang untuk membangun <em>brand</em>.  Atau sibuk mencari rekanan seperti yang sudah dipertontonkannya ketika  menghadapi Google di ranah mesin pencari. Cukup benamkan banyak uang,  Microsoft pun menang.</p>
<p><strong>Microsoft Baru Saja Membeli “Raja”</strong></p>
<p>Di  dunia aplikasi VoIP, Skype adalah rajanya—jadi, Microsoft membeli  “raja” . Berdasarkan riset TeleGeography pada 2009, Skype adalah  penyedia jasa nomor satu komunikasi antarnegara <em>(international calls).</em> Skype, aplikasi buatan perusahaan IT dari Eropa, menyumbang sekitar 54  miliar menit percakapan dari total 406 miliar yang terjadi. Jumlah ini  13% dari semua jumlah percakapan internasional. Naik sekitar 5%  dibandingkan hasil penelitian sebelumnya yang hanya menyumbang 8% dari  total percakapan internasional.</p>
<p>Eksistensi Skype selaku pemain baru bisnis percakapan internasional membuat banyak <em>vendor</em> penyedia jasa telekomunikasi regular gusar. Wajar.</p>
<p><strong>Mengapa Mahal?</strong></p>
<p>Saya  mencoba memahami nilai akuisisi Skype oleh Microsoft. Boleh jadi, Rp 68  triliun bukanlah harga aplikasinya secara teknis. Tapi popularitas<em> brand</em> sekaligus status yang sudah digenggam Skype saat ini. Itulah yang mahal.</p>
<p>Kalau  Microsoft mau, rasanya mereka tidak akan kesulitan membuat aplikasi  yang mampu menyamai fungsi Skype. Tapi sekali lagi, Microsoft tidak  membeli aplikasi. Ia membeli <em>brand,</em> ratusan juta pengguna aktif Skype, dan mungkin saja … masa depan teknologi komunikasi yang akan ia terapkan ke seluruh <em>platform</em> dan <em>gadget</em> yang sudah familiar dengan teknologi Skype.</p>
<p>Dengan Skype, Microsoft seakan memiliki jalan tol alias jalan bebas hambatan untuk masuk ke <em>platform </em>milik  orang lain seperti iOS, Android, Symbian, Brew, Maemo, dan sebagainya.  Untuk perusahaan yang selalu ingin menjadi penguasa pasar, saya kira  Microsoft sudah bermain cantik.</p>
<p><em>Last but not least</em>.  Dilihat dari kacamata bisnis, tampaknya Microsoft sudah melakukan  pembelian cerdas. Tapi apakah akan berhasil? Kita tunggu saja. Manusia  hanya bisa memprediksi. Hasilnya kehendak Allah!***</p>
<p><em>*Penulis  adalah sarjana Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada. Salah satu  cita-citanya ingin masuk surga dengan bantuan teknologi informasi.</em></p>
<p><strong>Boks: Membeli Raja, Memimpin Pasar </strong>(jika masih ada space, ya)</p>
<ul>
<li>Microsoft mengakuisisi Skype dengan harga yang mahal: sekitar Rp 68  triliun (!), karena korporasi ini menganggap penting arti komunikasi.  Tentu saja juga bisnisnya, karena Skype-lah yang membuat para pengguna  PC berbicara dan berkomunikasi layaknya bertelepon—dan gratis (!)—di  mana pun berada selama terkoneksi ke Internet.</li>
<li>Skype adalah  pemimpin pasar. Dan pemimpin pasar biasanya ada di kepala setiap orang.  Dan apa-apa yang ada di kepala setiap orang cenderung menarik perhatian  Microsoft. Tujuan utama Microsoft adalah menjadi penguasa pasar di  setiap lini bisnis yang dimasukinya. Bukan menciptakan sebuah produk  sebagus-bagusnya, sekaligus untuk mendepak pesaing dari tahtanya. Ini  juga tujuan utamanya membeli Skype.</li>
<li>Di dunia aplikasi VoIP,  Skype adalah rajanya—jadi, Microsoft membeli “raja” . Dengan membeli  Skype, Microsoft sekaligus membuat gusar para pemain bisnis percakapan  internasional dan <em>vendor</em> penyedia jasa telekomunikasi.</li>
<li>Kalau nilai akuisisi Skype demikian mahal, itu karena yang dibeli adalah popularitas<em> brand</em> Skype, sekaligus para penggunanya dan masa depan teknologi komunikasi yang akan ia terapkan ke seluruh <em>platform</em> dan <em>gadget</em> yang sudah familiar dengan teknologi Skype.</li>
<li>Dengan membeli Skype, Microsoft seakan memiliki jalan tol alias jalan bebas hambatan untuk masuk ke <em>platform </em>milik  para pesaingnya. Untuk perusahaan yang selalu ingin menjadi penguasa  pasar, Microsoft telah bermain cantik dengan mengakusisi Skype.  Microsoft melakukan pembelian cerdas.</li>
</ul>
<p><strong>[Wim/Majalah PM]</strong></p>
<p><strong>Ingin berlangganan majalah Pengusaha Muslim:</strong></p>
<p><strong><a title="berlangganan majalah pengusaha muslim" href="http://majalah.pengusahamuslim.com/popupBerlangganan.php">Klik Tautan Ini</a></strong></p>
<p>Atau</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Hubungi:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>e-mail: sirkulasi@pengusahamuslim.com</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p>HP: 081567989028</p>
<p>Hadir Juga E-Magazine [Majalah Pengusaha Muslim Digital] <a href="http://shop.pengusahamuslim.com/">Klik Tautan</a></p>
<p></p>
 