
<p><strong>RAHN (GADAI)</strong></p>
<p>Oleh<br>
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</p>
<p><strong>Definisi Rahn</strong><br>
Rahn secara bahasa adalah al-ihtibas (penahanan), diambil dari ucapan mereka, “Rahana asy-syai-a (jika ia berlangsung dan tetap).” Dan di antaranya pula firman Allah:</p>
<p><strong>كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ</strong></p>
<p>“<em>Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.</em>” [Al-Muddatstsir/74: 38]</p>
<p>Secara syara’ adalah menjadikan harta sebagai jaminan bagi hutang agar bisa dilunasi darinya jika yang berhutang berhalangan (udzur) dari membayar hutangnya. [1]</p>
<p><strong>Pensyari’atan Rahn</strong><br>
Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p><strong>وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ</strong></p>
<p>“<em>Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperolah seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang ber-piutang)</em>.” [Al-Baqarah/2: 283]</p>
<p>Pembatasan (hukum) dengan waktu safar (perjalanan) dalam ayat di atas sehingga tidak berlaku secara umum tidak bisa difahami secara terbalik karena adanya indikasi hadits yang menunjukkan masyru’nya rahn.</p>
<p>Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :</p>
<p><strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ</strong>.</p>
<p>“<em>Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran tempo dan beliau menggadaikan baju perangnya.</em>” [2]</p>
<p><strong>(Hukum) Memanfaatkan Barang Yang Digadaikan</strong><br>
Tidak boleh bagi orang si penerima gadai (murtahin) untuk memanfaatkan barang yang digadaikan (rahn), sebagaimana yang telah lewat dalam masalah qardh (piutang): “Setiap hutang yang menarik manfaat adalah riba.”</p>
<p>Kecuali bila barang gadai tersebut berupa tunggangan (kuda, keledai dan yang sejenisnya-penj.) atau sesuatu yang bisa diperah susunya (sapi, unta, kambing dan yang lainnya-penj.), maka ia boleh menaiki tunggangan tersebut dan memerah susunya jika ia memberikan nafkah (dengan memberi makan) kepadanya.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>اَلظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَلَبَنُ الدَّرِيُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِي يَرْكَبُ ويَشْرَبُ النَّفَقَةُ.</strong></p>
<p>“<em>Punggung hewan yang digadaikan boleh dinaiki dengan nafkahnya (membayarnya) dan susu hewan yang digadaikan boleh diminum dengan nafkahnya. Bagi orang yang menaiki dan meminumnya wajib menafkahinya.</em>’” [3]</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]<br>
_______<br>
Footnote<br>
[1]. Lihat Fat-hul Baari (V/140) dan Manaarus Sabiil (I/351)<br>
[2]. Muttafaq ‘alaih: Telah disebutkan takhrijnya.<br>
[3]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3962)], Shahiih al-Bukhari (V/143, no. 2512), Sunan Abi Dawud (IX/439, no. 3509), Sunan at-Tirmidzi (II/362, no. 1272), Sunan Ibni Majah (II/816, no. 2440).</p>
 