
<p>Jangan bersikap isrof. Apa itu ISROF?</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَا بَنِي آَدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</p>
<p>“<em>Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan</em>.” (QS. Al-A’raf: 31)</p>
<p>Berlebihan (isrof) di sini adalah menambah lebih dari kadar secukupnya.</p>
<p>Ada perbedaan antara isrof dan tabdzir. Perbedaan ini kami temukan di web islamweb, ada nukilan dari Ibnu ‘Abidin sebagai berikut,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الإسراف: صرف الشيء فيما ينبغي زائداً على ما ينبغي، والتبذير: صرف الشيء فيما لا ينبغي</p>
<p>“Israf adalah menyalurkan sesuatu yang layak melebihi dari kadar layaknya. Sedangkan tabdzir adalah menyalurkan sesuatu pada sesuatu yang tidak layak.”</p>
<p>Karenanya para ulama menjelaskan tabdzir sebagai berikut.</p>
<p>Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “<em>Tabdzir</em> (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.”</p>
<p>Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah <em>tabdzir</em> (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan <em>tabdzir</em> (pemborosan).”</p>
<p>Qatadah mengatakan, “Yang namanya <em>tabdzir</em> (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 5: 68).</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em>berkata bahwa yang dimaksud boros ada dua pendapat di kalangan para ulama:</p>
<ul>
<li>Boros berarti menginfakkan harta bukan pada jalan yang benar. Ini dapat kita lihat dalam perkataan para pakar tafsir yang telah disebutkan di atas.</li>
<li>Boros berarti penyalahgunaan dan bentuk membuang-buang harta. Abu ‘Ubaidah berkata, “Mubazzir (orang yang boros) adalah orang yang menyalahgunakan, merusak dan menghambur-hamburkan harta.” (<em>Zaad Al-Masiir</em>, 5: 27-28)</li>
</ul>
<p> </p>
<p> </p>
<h4>Baca selengkapnya di sini :</h4>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="Hg526NG6da"><p><a href="https://rumaysho.com/2112-apa-yang-dimaksud-boros.html">Apa yang Dimaksud Boros?</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Apa yang Dimaksud Boros?” — Rumaysho.Com" src="https://rumaysho.com/2112-apa-yang-dimaksud-boros.html/embed#?secret=Hg526NG6da" data-secret="Hg526NG6da" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p> </p>
<h4>Faedah dari ayat di atas:</h4>
<p>1- Diperintah untuk memakai zinah (perhiasan) setiap kali shalat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan bahwa memakai zinah, lebih dari sekedar menutup aurat. Karena pundak saja mesti ditutup sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ</p>
<p>“Janganlah salah seorang di antara kalian shalat dengan satu pakaian hingga membuat pundaknya tidak ada kain satu pun yang menutupinya.” (HR. Muslim, no. 516 dan An-Nasa’i, no. 769). Pundak dalam hadits ini mesti ditutup, padahal pundak bukanlah aurat dengan sepakat ulama. Lihat <em>Asy-Syarh Al-Mumthi’</em>, 2: 150)</p>
<p>2- Ayat ini menunjukkan perintah untuk menutup aurat dalam shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah.</p>
<p>3- Menutup aurat termasuk zinah (berhias) pada badan. Sebaliknya, membuka aurat berarti membuat badan dalam keadaan jelek dan hina. Demikian kata Syaikh As-Sa’di.</p>
<p>4- Berhias dengan pakaian juga yang dimaksud adalah memakai pakaian yang bagus dan bersih dari kotoran serta najis.</p>
<p>5- Kita diperintahkan makan dan minum dari rezeki halal yang Allah berikan.</p>
<p>6- Diperintah untuk makan dan minum asal tidak bertindak isrof (berlebihan dari kadar yang mencukupi).</p>
<p>7- Kalau berlebihan saja tidak boleh apalagi makan dan minum yang sampai mencelakai badan.</p>
<p>8- Kalau berlebihan saja tidak boleh apalagi sampai memakan yang haram.</p>
<p>9- Allah membenci orang-orang yang israf.</p>
<p>10- Termasuk berlebih-lebihan adalah membuang-buang makanan.</p>
<p>Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat <em>israf</em> dan <em>tabdzir</em>.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Asy-Syarh Al-Mumthi’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’</em>. Cetakan pertama, tahun 1422 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</p>
<p><em>Tafsir As-Sa’di</em>. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.</p>
<p>—</p>
<p>Disusun <a href="https://darushsholihin.com/">@ DS, Panggang, GK</a>, Senin siang, 17 Ramadhan 1438 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></p>
 