
<p>Bentuk kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan rohani dalam hati dan<br>
jiwa manusia. Yakni kebahagiaan dengan ilmu yang bermanfaat dan buahnya<br>
(amalan saleh untuk mendekatkan kepada Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>).</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim <em>Rahimahullah</em> menyampaikan sebuah kisah yang pantas kita renungkan.</p>
<p>Dikisahkan,<br>
 seorang ulama menumpang sebuah kapal laut yang mengangkut para saudagar<br>
 kaya (yang membawa banyak harta dan barang dagangan). Tapi kemudian (di<br>
 tengah lautan), kapal tersebut rusak (dan tenggelam bersama seluruh<br>
barang muatannya). Para saudagar serta merta menjadi orang-orang hina<br>
dan rendah (karena harta mereka tenggelam di laut). Padahal sebelumnya<br>
mereka merasa mulia (bangga) dengan kekayaan mereka. Sedangkan ulama<br>
tersebut, sesampainya di negeri tujuan, dimuliakan dengan berbagai macam<br>
 hadiah dan penghormatan (karena ilmu yang dimilikinya).</p>
<p>Para<br>
saudagar yang kemudian jatuh miskin itu ingin kembali ke negeri mereka.<br>
Mereka bertanya kepada ulama tersebut. “Apakah Anda ingin menitip pesan<br>
atau surat untuk kaum kerabat Anda?</p>
<p>“Ya. Sampaikanlah kepada<br>
mereka: Jika kalian ingin mengambil harta (kemuliaan), ambillah harta<br>
 yang tidak akan tenggelam (hilang), meskipun kapal tenggelam. Oleh<br>
karena itu jadikanlah ilmu (agama) sebagai (barang) perniagaan<br>
(kalian).” (Kitab <em>Miftaahu daaris sa’aadah</em>; 1/107)</p>
<p>Kisah<br>
 tersebut memberikan pelajaran kepada kita tentang hakikat kemuliaan dan<br>
 kebahagiaan yang seharusnya kita utamakan dalam kehidupan ini. Yakni<br>
kemuliaan yang selalu menyertai kita dalam semua perjalanan yang kita<br>
lalui sampai di akhirat nanti. Ada pun kemuliaan semu dan sesaat akan<br>
berakhir seiring dengan berakhirnya dunia ini, dan sangatlah cepat<br>
terjadinya.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> berfirman, yang artinya,</p>
<p><em>“Hai<br>
 orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap<br>
 diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok<br>
(akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha<br>
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em> (QS. Al-Hasyr: 18)</p>
<p>Imam Qatadah bin Di’amah al-Bashri berkata tentang ayat tersebut: “Senantiasa tuhanmu (Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>)<br>
 mendekatkan (waktu terjadinya) Hari Kiamat, sampai-sampai Dia<br>
menjadikannya seperti besok.” (Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam<br>
kitab beliau, <em>Ighaatsatul lahfan;</em> hlm 152: <em>Mawaaridul  amaan</em>)</p>
<p>Renungkanlah nasihat Imam Ibnul Qayyim <em>Rahimahullah</em> berikut ini: “Sesungguhnya bentuk-bentuk kebahagiaan (kemuliaan) yang diprioritaskan oleh jiwa manusia ada tiga (macam). Yakni:</p>
<p>1.<br>
 Kebahagiaan (kemuliaan) di luar zat (diri) manusia. Kebahagiaan ini<br>
pinjaman dari selain dirinya, yang akan hilang dengan dikembalikannya<br>
pinjaman tersebut. Inilah kebahagiaan dengan harta dan kedudukan<br>
(jabatan duniawi). Kebahagiaan ibarat seseorang dengan pakaian (indah)<br>
dan perhiasannya, tapi ketika pandangannya melewati penutup dirinya,<br>
ternyata tidak ada satu keindahan pun yang tersisa pada dirinya!</p>
<p>2.<br>
 Kebahagiaan (kemuliaan) pada tubuh dan fisik manusia. Misal, kesehatan<br>
tubuh, keseimbangan fisik dan anggota badan, keindahan rupa, kebersihan<br>
kulit dan kekuatan fisik. Kebahagiaan ini, meskipun lebih dekat (pada<br>
diri manusia)  jika dibandingkan dengan kebahagian yang pertama, namun<br>
hakikatnya di luar diri dan zat manusia. Karena manusia dianggap sebagai<br>
 manusia dengan ruh dan hatinya, bukan (sekadar) tubuh dan raganya<br>
sebagaimana ucapan seorang penyair:</p>
<p><em>Wahai orang yang (hanya) memperhatikan fisik, betapa besar kepayahanmu dengan mengurus tubuhmu</em></p>
<p>Padahal kamu (disebut) manusia dengan ruhmu bukan dengan tubuhmu.</p>
<p>Saya<br>
 sampaikan keterangan tambahan – termasuk butir ketiga, bahwa itulah<br>
keindahan semu dan palsu milik orang-orang munafik yang tidak dibarengi<br>
dengan keindahan jiwa dan hati, sehingga Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em> mencela mereka dalam firman-Nya, yang artinya,</p>
<p><em>“Dan<br>
 apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh (penampilan fisik) mereka<br>
menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan<br>
perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.”</em> (QS.<br>
Al-Munafiqun: 4). Artinya, mereka memiliki penampilan rupa dan fisik<br>
yang indah. Tapi hati dan jiwa mereka penuh dengan keburukan, ketakutan<br>
dan kelemahan, tidak seperti penampilan lahir mereka. (Simak <em>Tafsir Ibnu Katsir, </em>4/472;  <em>Tafsir al-Qurthubi</em>, 18/124-125 dan <em>Fathul Qadiir</em>, 7/226)</p>
<p>3.<br>
 (Bentuk) kebahagiaan (kemuliaan) yang ketiga: inilah kebahagiaan yang<br>
sejati, kebahagiaan rohani dalam hati dan jiwa manusia, yaitu<br>
kebahagiaan dengan ilmu yang bermanfaat dan buahnya (amalan saleh untuk<br>
mendekatkan kepada Allah <em>Subhanahu wa ta’ala</em>).</p>
<p>Sesungguhnya<br>
 kebahagiaan itulah (yang ketiga) yang menetap dan kekal (pada diri<br>
manusia) dalam semua keadaan, dan menyertainya dalam semua perjalanan<br>
(hidupnya). Bahkan pada semua alam yang akan dilaluinya. Yakni alam<br>
dunia, alam <em>barzakh</em> (kubur) dan alam tempat menetap (akhirat).<br>
Dengan inilah seorang hamba akan meniti tangga kemuliaan dan derajat<br>
kesempurnaan. (Kitab <em>Miftaahu daaris sa’aadah, </em>1/107-108)</p>
<p>Demikianlah, semoga bermanfaat dan menjadi renungan kita semua, serta menjadi sebab kebaikan diri kita di dunia dan akhirat. <strong>(PM)</strong></p>
 