
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah menjadikan silih bergantinya bulan dan tahun, siang dan malam serta hari dengan penuh hikmah. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> menjadikan ada siang dan malam agar menjadi bendahara yang menyimpan  amal-amal. Menjadi fase-fase berkembangnya setiap ajal. Menjadi lahan  bagi setiap manusia untuk melakukan kebaikan maupun keburukan. Hal itu  terus terjadi sampai usai dan habisnya ajal mereka.</p>
<p>Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> juga menjadikan peredaran masa penuh dengan rahmat. Di antara rahmat-Nya ialah Dia ‘<em>Azza wa Jalla</em> jadikan siang dan malam yang masing-masing memiliki tanda-tanda yang  berbeda. Tanda-tanda siang ialah matahari sedangkan tanda-tanda malam  ialah bulan. Dia ‘<em>Azza wa Jalla</em> telah menjadikan malam agar  manusia merasakan ketenangan di dalamnya, dan telah menjadikan siang  terang benderang agar mereka  bisa mendapatkan karunia dari-Nya ‘<em>Azza wa Jalla</em> dan bisa mencari penghidupan di dalamnya. Dia <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah menjadikan siang silih berganti sebagaimana kehidupan yang baru,  sehingga setiap hamba akan memperbarui kekuatannya dan menyongsong  amalan-amalannya. Oleh karenanya, Dia ‘<em>Azza wa Jalla</em> menyebut tidur di waktu malam sebagai kematian sedangkan terjaga di waktu siang sebagai kebangkitan. Dia ‘<em>Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم  بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ  إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p>“<em>Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui  apa yang kamu kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu  pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan,  kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu  apa yang dahulu kamu kerjakan.</em>” (QS. al-An’am [6]: 60).</p>
<p>Dan di antara rahmat-Nya <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, Dia telah  jadikan matahari dan bulan sebagai perhitungan. Pada matahari diketahui  perhitungan musim, iklim dan cuaca, sedangkan pada bulan di malam hari  diketahui perhitungan penanggalan bulan serta tahun [QS al-An’am [6]:  96]. Sehingga diketahuilah bahwa bilangan bulan dalam setahun ialah dua  belas bulan [QS at Taubah [9]: 36].</p>
<p>Di antara kemudahan yang Allah berikan kepada manusia ialah Dia ‘<em>Azza wa Jalla</em> telah menetapkan perhitungan penanggalan atas dasar bulan baru yang disebut <em>hilal</em>.  Sebab ia merupakan tanda nyata yang nampak jelas dan bisa dipahami oleh  seluruh manusia secara khusus maupun secara umum, yaitu dengan melihat  hilal di saat Maghrib setelah terbenamnya matahari. Sehingga kapan saja  hilal terlihat, maka berarti telah masuk bulan baru dan usailah bulan  lalu. Dari sini pula diketahui bahwa awal perhitungan hari dihitung  sejak terbenamnya matahari sebagaimana awalnya bulan.</p>
<p><strong>Sekilas Sejarah Penanggalan Islam</strong></p>
<p>Penanggalan Islam di mulai sejak zaman <em>Amirul Mukminin</em> Umar bin Khaththab <em>radhiallahu ‘anhu</em>.  Beliau kumpulkan enam belas atau tujuh belas pemuka sahabat dan  bermusyawarah dengan mereka tentang kapan penanggalan Islam diawali.  Sebagian mengatakan di awali saja sejak hari kelahiran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sebagian lainnya mengatakan dimulai saja sejak diutusnya beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjadi Nabi dan Rasul. Sebagiannya lagi mengatakan dimulai saja sejak  hijrahnya beliau ke Madinah. Dan sebagiannya lagi mengatakan dimulai  saja sejak wafatnya beliau<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Akhirnya, beliau <em>radhiallahu ‘anhu</em> memilih dan menguatkan permulaan penanggalan Islam sejak hijrahnya beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ke Madinah. Sebab, dengan hijrah ini Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> membedakan antara yang <em>haq</em> dengan yang batil. Maka, sepakatlah para sahabat bahwa hari hijrahnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai awal penanggalan Islam. Sebab, tahun tersebut juga merupakan  tahun terbentuknya umat Islam yang sesungguhnya yang akan memiliki masa  depan gemilang. Tahun itu juga merupakan tahun pertama terbentuknya  negeri Islam yang mutlak dikuasai oleh kaum muslimin.</p>
<p>Kemudian, para sahabat bermusyawarah lagi tentang pada bulan apa  dimulainya tahun. Sebagian mereka mengatakan dimulai dari bulan Rabi’ul  Awal, sebab ia merupakan bulan berhijrahnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ke Madinah. Sebagian lainnya mengatakan dari bulan Ramadhan, sebab ia  merupakan bulan diturunkannya al-Qur’an. Namun, Umar bin Khaththab <em>radhiallahu ‘anhu</em> bersepakat bersama Utsman bin Affan <em>radhiallahu ‘anhu</em> dan Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwa awal tahun dimulai dari bulan Muharram. Sebab, bulan Muharram  merupakan bulan yang beriringan dengan bulan Dzulhijjah di mana pada  bulan tersebut manusia menunaikan kewajiban terakhir dari rukun Islam,  yaitu haji. Selain itu juga, bahwa Muharram beriringan dengan bulan  dibaiatnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> oleh para sahabat  untuk berhijrah. Sehingga bai’at tersebut merupakan permulaan hijrah,  maka jadilah bulan Muharram yang lebih tepat untuk menjadi permulaan  tahun.</p>
<p><strong>Kemudahan yang Harus Disyukuri</strong></p>
<p>Semuanya adalah kemudahan yang telah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berikan kepada kita. Maka, kewajiban kita kaum muslimin ialah bersyukur  atas nikmat kemudahan ini. Bersyukur atas nikmat perhitungan yang  sederhana ini. Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> telah menetapkan  penanggalan harian dengan kemudahan dari-Nya diawali dengan terbenamnya  matahari. Sedangkan penanggalan bulan dimulai dengan terbitnya <em>hilal</em>. Adapun penanggalan tahunan di awali dari tahun hijrahnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.  Inilah sebagaimana yang telah dijalankan oleh kaum muslimin serta telah  diperhitungkan oleh para ulama dalam kitab-kitab peninggalan mereka.</p>
<p>Bersyukur atas kemudahan perhitungan waktu tak henti-hentinya terus  dilakukan. Sebagaimana waktu itu terus bergulir, maka syukur pun tak  boleh berhenti tertinggal digilas waktu.</p>
<p><strong>Sadari Agar Tidak Tertipu Waktu</strong></p>
<p>Kita harus sadar dan tanggap akan waktu. Perhatikan hari-hari dan  malam-malam berlalu. Sesungguhnya ia tidak berlalu melainkan sebagai  jenjang-jenjang yang telah kita lalui menuju kampung yang sesungguhnya.  Ialah kampung akhirat. Sampai suatu saat nanti perjalanan kita akan  berakhir ke sana.</p>
<p>Setiap hari yang telah kita lalui, sesungguhnya makin menjauhkan kita  dari dunia dan mendekatkan kita ke akhirat. Maka, berbahagialah orang  yang sanggup memanfaatkan kesempatannya dengan sesuatu yang mendekatkan  dirinya kepada Zat Yang Mahaperkasa <em>‘Azza wa Jalla</em>.  Berbahagialah hamba yang tersibukkan dengan ketaatan dan menghindar dari  setiap kemaksiatan. Berbahagialah setiap hamba yang menyadari setiap  kejadian seiring perjalanan waktu berupa silih bergantinya peristiwa dan  keadaan. Berbahagialah setiap hamba yang menjadikan setiap peristiwa  dan keadaan yang dia dapati sebagai penunjuk jalan menuju pemahaman akan  hikmah Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> yang jelas serta seluruh rahasia-rahasia-Nya. Dia ‘<em>Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُوْلِي الْأَبْصَارِ</p>
<p><em>“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang  demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang  mempunyai penglihatan.”</em> (QS. an-Nur [24]: 44)</p>
<p>Perhatikanlah matahari. Bagaimana setiap hari dia terbit dari timur  dan terbenam di tempat terbenamnya di arah barat. Sungguh pada terbit  dan terbenamnya matahari terdapat pelajaran yang sangat hebat. Terbit  dan terbenamnya matahari merupakan tanda bahwa dunia bukanlah kampung  kekekalan. Ia hanya terbit dan terbenam lalu menghilang begitu saja.</p>
<p>Perhatikanlah bulan-bulan yang telah berlalu. Berapa kali hilal telah  mengiringinya dari berbentuk kecil sebagaimana anak kecil yang  dilahirkan, lalu tumbuh berkembang sedikit-demi sedikit sebagaimana  tumbuhnya badan. Sehingga apabila telah sempurna pertumbuhannya,  mulailah ia berkurang dan melemah. Demikianlah usia kita sebagai manusia  pun sama halnya. Maka ambillah ini sebagai pelajaran.</p>
<p>Perhatikanlah tahun-tahun yang telah berlalu. Bagaimana ia silih  berganti. Bila tahun lalu telah usai, maka tahun baru pun menyusulnya.  Perhatikanlah bagaimana manusia—juga termasuk kita, apabila memasuki  tahun baru, kita menatap akhir tahun sangat jauh di ujung sana, namun  ternyata hari-hari berlalu dengan sangat cepatnya. Tahun pun akan segera  bergulir dengan cepat secepat kedipan mata. Tak disadari ternyata kita  telah berada di hari-hari terakhir tahun pada tahun tertentu.</p>
<p>Maka demikianlah usia kita sebagai manusia. Kita merasa usia kita  masih terlalu panjang, namun tak kita sadari kita telah berada di depan  pintu gerbang kematian. Boleh jadi seseorang berangan-angan dengan  usianya yang panjang, sehingga ia bersantai-santai dengan berbagai  angan-angan dan cita-citanya itu. Namun tiba-tiba saja ia telah berada  di ujung tali angan-angan, sementara bangunan cita-cita telah runtuh.  Sebabnya ialah kematian. Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَجَاءتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ</p>
<p>“<em>Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.</em>” (QS. Qaf [50]: 19)</p>
<p><strong>Di Ujung Tahun</strong></p>
<p>Kita sekarang tengah berada di ujung tahun yang telah menjadi saksi  atas kita. Kita sedang menyongsong tahun baru. Apalah kiranya yang  hendak kita tinggalkan di tahun yang kan berlalu? Dan dengan apa pula  kiranya kita hendak menyongsong tahun baru yang kan datang menjelang?  Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ  مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ  ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ<br> إِنَّ فِي اخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَّقُونَ</p>
<p>“<em>Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.  Dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan  bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan  (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak.  Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang  Mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada  apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat  tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.</em>” (QS. Yunus [10]: 5-6)</p>
<p>Dari sini, hendaknya setiap orang yang berakal segera muhasabah,  introspeksi diri. Perhatikan apa yang telah ditinggalkannya di tahun  yang kan berlalu ini. Apabila ia telah menyia-nyiakan beberapa  kewajibannya terhadap Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em>, segeralah bertaubat kepada–Nya ‘<em>Azza wa Jalla</em>.  Segeralah untuk berusaha mengejar dan mendapatkan sesuatu yang  tersia-siakan tadi. Apabila ternyata ia menzhalimi diri sendiri dengan  berbagai maksiat dan hal-hal yang haram, segeralah meninggalkannya  sebelum datang saat malaikat maut menjemput. Dan apabila ia termasuk  orang-orang yang dianugerahi Allah ‘<em>Azza wa Jalla istiqamah</em>, hendaknya ia banyak memuji-Nya atas karunia-Nya dan hendaknya dia memohon keteguhan sampai mati.</p>
<p>Maka demikianlah. Tahun yang berlalu tidak sekadar sebagai kenangan.  Tahun baru yang kan tiba bukan untuk disambut dengan perayaan. Namun  berlalunya tahun lama mengingatkan kita akan apa yang telah kita  tinggalkan, sedangkan tahun baru disambut dengan iman, dengan taubat dan  istighfar, lalu istiqomah di atas jalan keridhaan Allah ‘<em>Azza wa Jalla.</em></p>
<p>Iman bukanlah sekadar angan-angan kosong. Iman juga bukan sekadar  hiasan bibir. Taubat pun bukan sekadar ucapan lisan tanpa usaha  membersihkan diri. Iman itu ialah sesuatu yang tertanam di dalam hati  dan dibuktikan oleh amalan. Sedangkan taubat ialah penyesalan atas apa  yang telah berlalu dari berbagai kekurangan. Taubat ialah segera  menjauhi dan meninggalkan dosa-dosa. Taubat ialah kembali kepada Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> dengan usaha memperbaiki amalan. Taubat ialah rasa senantiasa diawasi oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> Zat Yang Maha Mengetahui seluruh keghaiban. Itulah taubat. Selagi masih  ada waktu dan terbentang kesempatan, maka apalagi yang menghalangi  untuk segera bertaubat?</p>
<p><strong>Nasihat Nabi <em>Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam</em></strong></p>
<p>Berbagai potensi kebaikan telah dikaruniakan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kepada kita. Masa muda, keadaan sehat wal afiyat, hidup berkecukupan,  terbentangnya waktu dan kesempatan serta masa-masa dalam kehidupan  adalah sebesar-besar potensi kebaikan. Di masa muda terdapat kekuatan  dan keteguhan. Apabila seseorang telah lanjut usia, melemahlah  kekuatannya dan lunturlah keteguhannya. Dalam kesehatan terdapat  semangat dan kerajinan. Apabila seseorang sakit, mengendurlah  semangatnya dan melemahlah kerajinannya, sehingga sempitlah jiwanya,  beratlah rasanya untuk beraktivitas dan beramal.</p>
<p>Dalam kecukupan terdapat kelonggaran. Apabila seseorang telah ditimpa  kemiskinan, ia akan disibukkan dengan kegiatan mencari penghidupan  untuk diri dan tanggungannya. Adapun dalam kehidupan terdapat lapangan  yang sangat luas untuk melakukan seluruh amalan shalih. Apabila  seseorang telah mati, terputuslah kesempatannya beramal. Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tatkala menasihati seorang sahabat, beliau bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ  صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ  شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ</p>
<p>“<em>Mengaislah kebaikan pada lima keadaan sebelum datang lima  keadaan: pada masa mudamu sebelum datang masa tuamu, pada masa sehatmu  sebelum datang sakitmu, pada masa cukupmu sebelum datang kefakiranmu,  pada kesempatanmu sebelum datang kesibukanmu, dan pada hidupmu sebelum  datang kematianmu.</em>” (HR. Hakim 7846, beliau mengatakan: “Hadits ini  shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, namun beliau berdua tidak  meriwayatkannya.” Dishahihkan juga oleh al-Albani dalam<em> Shahih at-Targhib</em> no. 3355)</p>
<p>Oleh karenanya, hendaklah diperhatikan umur usia kita. Hendaklah  ditimbang-timbang antara yang tersisa dan yang telah berlalu.  Sesungguhnya yang akan datang itu sangat cepat kehadirannya, sedangkan  yang telah berlalu tak lagi sanggup kita menggapainya. Sementara apa  yang ada sekarang ini mungkin saja dan pasti akan sirna sesaat atau dua  saat waktu yang tak tertentu. Yang demikian itu agar kita bersegera  beramal shalih sebelum sesuatu yang sekarang ada ini akan sirna dan tak  tersisa.</p>
<p><em>Wallahul muwaffiq.</em></p>
<p>*Nasihat ini diramu penulis dari dua khutbah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rahimahullahu ta’ala</em> dalam <em>adh-Dhiya’ul Lami’ minal Khithobil Jawami’.</em></p>
<p>Penulis: <a href="http://alghoyami.wordpress.com/">Ustadz Abu Ammar Al-Ghoyami</a><br> Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 