
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/60579-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-bag-1.html">Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<p><em>Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du</em></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hadis Kedua</strong></span></h2>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau  berkata, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يأتي الشيطان أحدكم فيقول: من خلق كذا وكذا حتى يقول له: من خلق ربك؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته</span></p>
<p>“Setan datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’; hingga dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhan-mu?’ Jika telah sampai pada pikiran ini, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah <em>Ta’ala </em>dan berhentilah dari pikiran tersebut” <strong>(HR. Muslim)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Penjelasan</strong></span></h2>
<p>Apabila muncul was-was pada hati seseorang berupa tanya-jawab yang terus-menerus dalam hatinya, misalnya muncul dalam hati seseorang tanya jawab berikut ini,</p>
<p>“<em>Siapa yang menciptakan langit?”;</em> lalu dijawab oleh hatinya, “<em>Allah</em>”; lalu muncul lagi, “<em>Siapa yang menciptakan bumi?</em>”; lalu dijawab  oleh hatinya, “<em>Allah</em>”; dan demikian seterusnya, sampai pada lintasan yang buruk:</p>
<p>“<em>Siapa yang menciptakan Allah?</em>”; ketahuilah ini adalah was-was dari setan.</p>
<p>Maka segera ucapkan, “<em>A’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rajiim</em>” dengan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa melindungi hamba-Nya dari was-was setan dan bahwa tipudaya dan was-was setan itu lemah.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman.</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah</em>” <strong>(QS. An-Nisa’: 76)</strong>.</p>
<p>Dan hendaklah dia segera <strong>berhenti</strong> dari pikiran buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Adapun <strong>makna “berhenti” </strong>dalam hadis tersebut adalah,</p>
<p><strong>Pertama, </strong>Tidak meneruskan dan tidak meladeni pikiran was-was yang buruk serta tidak meyakini kebenarannya. Meskipun penderita yang sering dan dikuasai was-was tersebut menduga kuat bahwa was-was dalam hatinya itu benar.</p>
<p>Hal ini berlaku dalam masalah ibadah dan muamalah. Berikut ini beberapa contoh kasus was-was:</p>
<p><strong>*)</strong> Jika ada waswas,</p>
<p>“<em>Ada yang menciptakan Allah</em>”; maka yakini, <strong>“<em>Tidak benar!</em>”</strong></p>
<p>“<em>Allah bukan makhluk. Justru Allah-lah satu-satunya Sang Pencipta.</em>”</p>
<p><strong>*)</strong> Jika sering was-was setelah wudu, “<em>Kamu belum basuh tanganmu</em>”; maka yakini, <strong>“<em>Aku sudah basuh</em>”</strong></p>
<p><strong>*)</strong> Jika sering was-was dalam salat, “<em>Sudah berniat atau belum</em>”; maka yakini, “<em>Sudah berniat.</em>” Atau, “<em>Baru 3 atau 4 rakaat?</em>”; maka yakini, “<em>4 rakaat</em>”</p>
<p>Meskipun dia menduga kuat 3 rakaat, karena dia telah dikuasai oleh was-was. Sehingga pikirannya sudah tidak normal. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh An-Nafrawi <em>Rahimahullah</em>, salah seorang ulama mazhab Malikiyyah<em>, </em>dalam kitabnya <em>Al-Fawakih Ad-Dawani</em>.</p>
<p><strong>*)</strong> Jika sering was-was dalam cerai, “<em>Jangan-jangan ucapanku barusan termasuk talaq kinayah</em>”; maka yakini, “<em>Saya tidak mencerai istriku.</em>”</p>
<p><strong>Kedua, </strong>Mengalihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar <em>Rahimahullah</em> dalam <em>Fathul Bari<strong>,</strong></em> saat menjelaskan makna “<em>berhenti</em>” dalam hadis di atas,</p>
<p>Maka alihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, seperti bertaubat kepada Allah <em>Ta’ala </em>dari segala dosa, <em>zikrullah</em>, <em>istighfar</em>, dan baca Alquran serta aktifitas lainnya yang bermanfaat, termasuk aktifitas duniawi.</p>
<p>Dengan demikian, hindari menyendiri dan menutup diri, karena hal itu akan memperparah penyakit was-was.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesimpulan dari hadis kedua</strong></span></h2>
<p><strong>Pertama, </strong>pikiran dan lintasan hati kekufuran seperti itu adalah <strong>was-was dari setan</strong> yang ingin mengajak manusia kekal di neraka.</p>
<p><strong>Kedua, </strong>resep menghilangkannya mudah, yaitu dengan  berdoa memohon perlindungan kepada Allah <em>Ta’ala </em>dan berhenti dari was-was setan tersebut, dengan makna “<em>berhenti</em>” yang telah dijelaskan di atas.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59061-dahsyatnya-bahaya-hasad.html">Inilah Dahsyatnya Bahaya Hasad</a></strong></span></li>
<li><strong><a href="https://muslim.or.id/59343-berdoa-agar-tidak-hasad-kepada-saudaranya.html"><span style="color: #ff0000;">Berdoa agar Tidak Hasad Kepada Saudaranya</span></a></strong></li>
</ul>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah">Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 