
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/60584-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-waswas-bag-3.html">Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3)</a></span></strong></p>
<p><em>Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du</em>.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hadis Keenam</strong></span></h2>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إن الله تجاوز لي عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل أو تكلّم</span></p>
<p>“Sesungguhnya, karena aku-lah Allah memaafkan umatku dari waswas (bisikan) dalam hati mereka, selama mereka tidak melakukan atau mengucapkannya” <strong>(HR. Al-Bukhari)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Penjelasan</strong></span></h2>
<p>Ibnu Hajar <em>Rahimahullah</em> menjelaskan bahwa <em>waswasah</em> (waswas) adalah kebimbangan dalam hati yang tidak menetap dan tidak bersemayam dalam hati.</p>
<p>Dalam hadis ini dijelaskan bahwa waswas atau bisikan hati seseorang yang tidak menetap di hati dan justru hatinya membencinya dan menolaknya, maka waswas seperti itu tidak akan menyebabkan orang tersebut disiksa. Hal ini karena Allah <em>Ta’ala</em> memaafkannya selama dia tidak mengucapkannya (seperti dengan membicarakan aib orang tanpa alasan yang dibenarkan, ucapan adu domba, dusta, menuduh dan penyakit lisan lainnya), atau selama tidak melakukannya dengan melakukan bisikan buruk dalam hatinya (seperti dengan mencuri, zina, membunuh, minum-minuman yang memabukkan, dan amalan maksiat lainnya).</p>
<p>Ini adalah karunia Allah <em>Ta’ala</em> yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.</p>
<p>Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”</strong></span></h2>
<p>Syaikhul Islam <em>Rahimahullah</em> dalam <em>Majmu’ Fatawa</em> berkata,</p>
<p>“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu <em>syar’i</em> dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari <em>dzikrullah</em>. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu <em>syar’i</em> dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah <em>Ta’ala</em>.”</p>
<p>Beliau <em>Rahimahullah</em> juga mengatakan,</p>
<p>“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah <em>sharihul iman</em>,  yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”</p>
<p>Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian <em>salaf ash-shalih</em><em>,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب</span></p>
<p>“Sesungguhnya Yahudi dan <em>Nashara</em> mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’  Lalu <em>salaf ash-shalih</em> itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”</p>
<p>Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas</em>” <strong>(QS. Az-Zumar: 10)</strong>.</p>
<p>Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</span></p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik</em>” <strong>(QS. Al-‘Ankabut: 69)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Doa</strong></span></h2>
<p>Semoga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> segera menyembuhkan saudara-saudaraku yang menderita penyakit waswas dan memberikan mereka pahala dengan pahala jihad dan sabar, serta mengampuni segala kesalahan mereka dan kita, serta menerima segala amal ibadah mereka dan kita semua. <em>Aamiin</em>. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57800-jika-ragu-akan-kehalalan-sembelihan-apa-hukumnya.html">Jika Ragu Akan Kehalalan Sembelihan, Apa Hukumnya?</a></strong></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24322-fatwa-ulama-ketika-ragu-sudah-batal-wudhu-atau-belum.html">Fatwa Ulama: Ketika Ragu Sudah Batal Wudhu Atau Belum</a></strong></span></li>
</ul>
<p> </p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah">Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 