
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara bentuk <a href="https://muslim.or.id/31148-larangan-mencela-dosa-maksiat-orang-lain.html">maksiat dan dosa lisan</a> adalah perkataan dusta, yaitu mengatakan sesuatu berbeda dengan kondisi senyatanya. Namun terkadang ada beberapa kondisi yang jika kita berkata jujur, akan menimbulkan dampak buruk (mudharat) kepada diri kita. Dalam kondisi semacam ini, boleh berbohong, atau jika tidak, dia bisa mencari jalan keluar dengan mengucapkan kalimat-kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah. Tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">inilah yang akan kami bahas dalam tulisan ini.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47206-sumpah-dusta-untuk-melariskan-barang-dagangan.html" data-darkreader-inline-color="">Sumpah Dusta untuk Melariskan Barang Dagangan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Pengertian </b><b><i>tauriyah (ma’aaridh)</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah seseorang mengucapkan suatu kalimat atau perkataan, dan dia maksudkan dengan kalimat tersebut maksud yang benar dan tidak bohong, meskipun ketika kalimat itu ditangkap oleh orang lain, mereka akan memahami makna lain yang berbeda dengan maksud si pembicara. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk memperjelas definisi di atas, berikut ini kami sampaikan satu contoh </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah:</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada orang dzalim (si A) yang mengejar dan bermaksud untuk mendzalimi si B. Lalu si B lari dan bersembunyi di rumah kita. Dan ketika si B masuk ke rumah kita, kita sedang duduk di kursi teras rumah. Lalu datanglah si A dan menanyakan apakah melihat si B?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kita mengetahui bahwa si A akan berbuat dzalim kepada si B, maka kita menjawab, “Sejak aku </span><b>berdiri</b> <b>di sini, </b><span style="font-weight: 400;">aku tidak melihat seorang pun.” Yang dipahami oleh si A dari kalimat ini adalah bahwa kita memang tidak melihat siapa pun, termasuk si B. Inilah makna yang ditangkap oleh si A.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal makna yang kita maksud, dan ini juga makna yang benar, adalah bahwa kita tidak melihat siapapun itu </span><b>sejak kita berdiri. </b><span style="font-weight: 400;">Karena tadi si B masuk ke rumah kita, </span><b>ketika kita sedang duduk. </b><span style="font-weight: 400;">Jadi apa yang kita sampaikan itu sebetulnya bukan kebohongan. Akan tetapi, makna yang ditangkap oleh orang lain itu seolah-olah adalah bohong karena mereka menangkap maksud lain dari kalimat kita.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/36086-firaun-mendustakan-allah-berada-di-atas-langit.html" data-darkreader-inline-color="">Fir’aun Mendustakan Allah Berada di Atas Langit</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contoh lain dari </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam, </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagaimana dalam riwayat dalam Shahih Bukhari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menceritakan bahwa pada suatu hari, Nabi Ibrahim </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam</span></i><span style="font-weight: 400;"> sedang bersama dengan Sarah, istrinya. Beliau datang kepada seorang raja yang zhalim, lalu raja tersebut diberi informasi bahwa akan ada seorang laki-laki bersama seorang wanita yang paling cantik. Sehingga diutuslah seseorang menemui Ibrahim, lalu utusan itu bertanya kepadanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Utusan itu bertanya, “Siapakah wanita ini?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibrahim menjawab, </span><b>“Dia saudaraku.”</b><span style="font-weight: 400;"> Lalu Sarah datang, maka Ibrahim pun berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا سَارَةُ: لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ، وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي، فَلاَ تُكَذِّبِينِي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan Engkau anggap bahwa aku berbohong.” </span><b>(HR. Bukhari no. 3358)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata “saudara” bisa dimaksudkan dengan “saudara seiman atau seagama”; dan bisa juga dimaksudkan dengan “saudara kandung”. Nabi Ibrahim memaksudkan jawaban beliau sebagai “saudara seiman” (dan ini makna benar, tidak bohong). Meskipun yang dipahami oleh utusan raja adalah “saudara kandung” (dan ini makna yang tidak benar). Dengan kalimat tersebut, Nabi Ibrahim sedang berusaha menghindarkan istrinya, Sarah, dari kezaliman yang akan dilakukan oleh sang raja.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/21024-bahaya-dusta-atas-nama-nabi.html" data-darkreader-inline-color="">Bahaya Dusta Atas Nama Nabi</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b><i>Tauriyah </i></b><b>adalah jalan keluar daripada melakukan kebohongan secara terang-terangan</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qayyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebutkan sejumlah riwayat dari ulama salaf yang menunjukkan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">ini adalah jalan keluar daripada harus berkata yang murni bohong dan dusta. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Umar bin Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إن في معاريض الكلام ما يغني الرجل عن الكذب</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesunggguhnya dalam bahasa-bahasa </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu sudah mencukupi seseorang sehingga dia tidak perlu berdusta secara terang-terangan.” </span><b>(</b><b><i>Ighatsatul Lahafaan, </i></b><b>1: 381)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ما يسرني بمعاريض الكلام حمر النعم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah membahagiakanku ketika bahasa-bahasa </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu diganti dengan unta merah (harta yang paling mahal ketika itu, pent.)” </span><b>(</b><b><i>Ighatsatul Lahafaan, </i></b><b>1: 381)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, menemukan kalimat-kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">tauriyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang bisa menyelamatkan seseorang dari dusta itu jauh lebih berharga dari unta merah yang merupakan harta yang paling mahal ketika itu.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/20066-kedustaan-dalam-pacaran.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Kedustaan Dalam Pacaran</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang ulama masa tabi’in, Hammad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">jika seorang tamu datang ke rumah beliau namun beliau tidak mau menemui dan berbicara dengannya, maka beliau meletakkan tangan atau jarinya ke giginya, sambil mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ضرسي، ضرسي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Gigiku, gigiku … “ </span><b>(</b><b><i>Afaatul Lisaan, </i></b><b>hal. 50)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang mengira bahwa beliau sedang sakit gigi, sehingga mereka pun pulang karena merasa tidak enak. Padahal yang dimaksud Hammad adalah sekedar ingin menunjukkan bahwa ini gigi, dan ini tentu benar karena yang ditunjuk adalah gigi, bukan bagian tubuh yang lain.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/2208-membongkar-kedustaan-wali-setan.html" data-darkreader-inline-color="">Membongkar Kedustaan Wali Setan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44396-jihad-memberantas-hoax.html" data-darkreader-inline-color="">Jihad Memberantas Hoax</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Puri Gardenia i10, 12 Syawwal 1440/16 Juni 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 