
<p>Tulisan berikut adalah tulisan terakhir yang kami susun di musim haji tahun lalu. Penjelasan ini berisi kesalahan-kesalahan seputar ihram, thawaf, sa’i, dan amalan haji lainnya yang sering kita temukan di tengah-tengah jama’ah haji. Semoga dengan adanya artikel ini bisa meluruskan ritual keliru yang selama ini berjalan.           <!--more-->  </p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kesalahan ketika ihram</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Melewati      miqot tanpa berihram seperti yang dilakukan oleh sebagian jamaah haji      Indonesia dan baru berihram ketika di Jeddah.</li>
<li>Keyakinan      bahwa disebut ihram jika telah mengenakan kain ihram. Padahal sebenarnya      ihram adalah berniat dalam hati untuk masuk melakukan manasik. </li>
<li>Wanita      yang dalam keadaan haidh atau nifas meninggalkan ihram karena menganggap      ihram itu harus suci terlebih dahulu. Padahal itu keliru. Yang tepat,      wanita haidh atau nifas  boleh      berihram dan melakukan manasik haji lainnya selain thawaf. Setelah ia suci      barulah ia berthawaf tanpa harus keluar menuju <em>Tan’im</em> atau <em>miqot</em> untuk memulai ihram karena tadi sejak awal ia sudah berihram.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kesalahan dalam thawaf</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Membaca      doa khusus yang berbeda pada setiap putaran thawaf dan membacanya secara      berjamaah dengan dipimpin oleh seorang pemandu. Ini jelas amalan yang      tidak pernah diajarkan Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
<li>Melakukan      thawaf di dalam Hijr Isma’il. Padahal thawaf harus dilakukan di luar      Ka’bah, sedangkan Hijr Isma’il itu berada dalam Ka’bah.</li>
<li>Melakukan      <em>roml</em> pada semua putaran. Padahal <em>roml</em> hanya ada pada tiga      putaran pertama dan hanya ada pada <em>thawaf qudum</em> dan <em>thawaf umrah</em>.</li>
<li>Menyakiti      orang lain dengan saling mendorong dan desak-desakan ketika mencium hajar      Aswad. Padahal menyium hajar Aswad itu sunnah (bukan wajib) dan bukan      termasuk syarat thawaf.</li>
<li>Mencium      setiap pojok atau rukun Ka’bah. Padahal yang diperintahkan untuk dicium      atau disentuh hanyalah hajar Aswad dan rukun Yamani.</li>
<li>Berdesak-desakkan      untuk shalat di belakang makam Ibrahim setelah thawaf. Padahal jika      berdesak-desakkan boleh saja melaksanakan shalat di tempat mana saja di      Masjidil Haram.</li>
<li>Sebagian      wanita berdesak-desakkan dengan laki-laki agar bisa mencium hajar Aswad.      Padahal ini adalah suatu kerusakan dan dapat menimbulkan fitnah.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kesalahan ketika sa’i</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Sebagian      orang ada yang meyakini bahwa sa’i tidaklah sempurna sampai naik ke puncak      bukit Shafa atau Marwah. Padahal cukup naik ke bukitnya saja, sudah      dibolehkan.</li>
<li>Ada      yang melakukan sa’i sebanyak 14 kali putaran. Padahal jalan dari Shafa ke      Marwah disebut satu putaran dan jalan dari Marwah ke Shafa adalah putaran      kedua. Dan sa’i akan berakhir di Marwah.</li>
<li>Ketika      naik ke bukit Shafa dan Marwah sambil bertakbir seperti ketika shalat.      Padahal yang disunnahkan adalah berdoa dengan memuji Allah dan bertakbir sambil      menghadap kiblat.</li>
<li>Shalat      dua raka’at setelah sa’i. Padahal seperti ini tidak diajarkan dalam Islam.</li>
<li>Tetap      melanjutkan sa’i ketika shalat ditegakkan. Padahal seharusnya yang      dilakukan adalah melaksanakan shalat jama’ah terlebih dahulu.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kesalahan di Arafah</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Sebagian      jamaah haji tidak memperhatikan batasan daerah Arafah sehingga ia pun      wukuf di luar Arafah. </li>
<li>Sebagian      jamaah keluar dari Arafah sebelum matahari tenggelam. Yang wajib bagi yang      wukuf sejak siang hari, ia diam di daerah Arafah sampai matahari tenggelam,      ini wajib. Jika keluar sebelum matahari tenggelam, maka ada kewajiban      menunaikan <em>dam </em>karena tidak melakukan yang wajib. </li>
<li>Berdesak-desakkan      menaiki bukit di Arafah yang disebut <em>Jabal Rahmah</em> dan menganggap      wukuf di sana lebih afdhol. Padahal tidaklah demikian. Apalagi      mengkhususkan shalat di bukit tersebut, juga tidak ada dalam ajaran Islam.</li>
<li>Menghadap      <em>Jabal Rahmah</em> ketika berdo’a. Padahal yang sesuai sunnah adalah      menghadap kiblat.</li>
<li>Berusaha      mengumpulkan batu atau pasir di Arafah di tempat-tempat tertentu. Seperti      ini adalah amalan bid’ah yang tidak pernah diajarkan.</li>
<li>Berdesak-desakkan      dan sambil mendorong ketika keluar dari Arafah.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kesalahan di Muzdalifah</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Mengumpulkan      batu untuk melempar jumroh ketika sampai di Muzdalifah sebelum      melaksanakan shalat Maghrib dan Isya’. Dan diyakini hal ini adalah suatu      anjuran.  Padahal mengumpulkan batu      boleh ketika perjalanan dari Muzdalifah ke Mina, bahkan boleh mengumpulkan      di tempat mana saja di tanah Haram.</li>
<li>Sebagian      jama’ah haji keluar dari Muzdalifah sebelum pertengahan malam. Seperti ini      tidak disebut <em>mabit</em>. Padahal yang diberi keringanan keluar dari      Muzdalifah adalah orang-orang yang lemah dan itu hanya dibolehkan keluar      setelah pertengahan malam. Siapa yang keluar dari Muzdalifah sebelum      pertengahan malam tanpa adanya uzur, maka ia telah meninggalkan yang      wajib.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kesalahan ketika melempar jumroh</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Saling      berdesak-desakkan ketika melempar jumroh. Padahal untuk saat ini lempar jumroh      akan semakin mudah karena kita dapat memilih melempar dari lantai dua atau      tiga sehingga tidak perlu berdesak-desakkan.</li>
<li>Melempar      jumroh sekaligus dengan tujuh batu. Yang benar adalah melempar jumroh      sebanyak tujuh kali, setiap kali lemparan membaca takbir “Allahu akbar”.</li>
<li>Di      pertengahan melempar jumroh, sebagian jama’ah meyakini bahwa ia melempar      setan. Karena meyakini demikian sampai-sampai ada yang melempar jumroh      dengan batu besar bahkan dengan sendal. Padahal maksud melempar jumroh      adalah untuk menegakkan dzikir pada Allah, sama halnya dengan thawaf dan      sa’i. </li>
<li>Mewakilkan      melempar jumroh pada yang lain karena khawatir dan merasa berat jika mesti      berdesak-desakkan. Yang benar, tidak boleh mewakilkan melempar jumroh kecuali      jika dalam keadaan tidak mampu seperti sakit.</li>
<li>Sebagian      jama’ah haji dan biasa ditemukan adalah jama’ah haji Indonesia, ada yang      melempar jumrah di tengah malam pada hari-hari tasyrik bahkan dijamak      untuk dua hari sekaligus (hari ke-11 dan hari ke-12).</li>
<li>Pada      hari tasyrik, memulai melempar jumroh aqobah, lalu wustho, kemudian ula.      Padahal seharusnya dimulai dari ula, wustho lalu aqobah.</li>
<li>Lemparan      jumroh tidak mengarah ke jumroh dan tidak jatuh ke kolam. Seperti ini      mesti diulang.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kesalahan di Mina</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Melakukan      thawaf wada’ dahulu lalu melempar jumrah, kemudian meninggalkan Makkah.      Padahal seharusnya thawaf wada menjadi amalan terkahir manasik haji.</li>
<li>Menyangka      bahwa yang dimaksud barangsiapa yang terburu-buru maka hanya dua hari yang      ia ambil untuk melempar jumrah yaitu hari ke-10 dan ke-11. Padahal itu      keliru.  Yang benar, yang dimaksud      dua hari adalah hari ke-11 dan ke-12. Jadi yang terburu-buru untuk pulang      pada hari ke-12 lalu ia ia melempar tiga jumrah setelah matahari      tergelincir dan sebelum matahari tenggelam, maka tidak ada dosa untuknya.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Kesalahan ketika Thawaf Wada’</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Setelah      melakukan thawaf wada’, ada yang masih berlama-lama di Makkah bahkan satu      atau dua hari. Padahal thawaf wada’ adalah akhir amalan dan tidak terlalu      lama dari meninggalkan Makkah kecuali jika ada uzur seperti diharuskan      menunggu teman.</li>
<li>Berjalan      mundur dari Ka’bah ketika selesai melaksanakan thawaf wada’ dan diyakini      hal ini dianjurkan. Padahal amalan ini termasuk bid’ah.</li>
</ol>
<p>Demikian beberapa penjelasan haji yang bisa kami ulas dalam tulisan yang sederhana ini. Tulisan ini perlu dirujuk dan ditambahkan dari beberapa sisi karena masih belum lengkap. Namun insya Allah sudah mencukupi bagi yang membutukan.</p>
<p align="center"><em>Wallahu Ta’ala a’lam. Walhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p> </p>
<p>Panduan Haji sebelumnya:</p>
<ul style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; border: 0px; outline: 0px; font-size: 11.818181991577148px; background-color: transparent; list-style-type: square; list-style-position: inside; color: #666666; line-height: 18.18181800842285px;">
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" href="https://rumaysho.com/hukum-islam/haji-umrah/ringkasan-panduan-haji-6-mengenal-miqot324-2645" title="Ringkasan Panduan Haji (6), Mengenal Miqot">Ringkasan Panduan Haji (6), Mengenal Miqot</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" href="https://rumaysho.com/hukum-islam/haji-umrah/ringkasan-panduan-haji-5-ihram-dan-tahallul323-2641" title="Ringkasan Panduan Haji (5), Ihram dan Tahallul">Ringkasan Panduan Haji (5), Ihram dan Tahallul</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" href="https://rumaysho.com/hukum-islam/haji-umrah/ringkasan-panduan-haji-4-wajib-haji322-2639" title="Ringkasan Panduan Haji (4), Wajib Haji">Ringkasan Panduan Haji (4), Wajib Haji</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" href="https://rumaysho.com/hukum-islam/haji-umrah/ringkasan-panduan-haji-3-rukun-haji321-2637" title="Ringkasan Panduan Haji (3), Rukun Haji">Ringkasan Panduan Haji (3), Rukun Haji</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" href="https://rumaysho.com/hukum-islam/haji-umrah/ringkasan-panduan-haji-2-tiga-cara-manasik-haji320-2635" title="Ringkasan Panduan Haji (2), Tiga Cara Manasik Haji">Ringkasan Panduan Haji (2), Tiga Cara Manasik Haji</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" href="https://rumaysho.com/hukum-islam/haji-umrah/ringkasan-panduan-haji-1-hukum-dan-syarat-haji319-2633" title="Ringkasan Panduan Haji (1), Hukum dan Syarat Haji">Ringkasan Panduan Haji (1), Hukum dan Syarat Haji</a></li>
</ul>
<p> </p>
<p>Selesai disusun di Ummul Hamam, Riyadh KSA</p>
<p>5 Dzulhijjah 1432 H (1 hari sebelum safar ke Mina)</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<p> </p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Referensi Kitab</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>
<em>Al      Hajj Al Muyassar</em>, Sholeh bin Muhammad bin Ibrahim As Sulthon,      terbitan Maktabah Al Malik Fahd Al Wathoniyah, cetakan keempat, 1430 H.</li>
<li>
<em>Al      Majmu’</em>, Yahya bin Syarf An Nawawi, sumber dari Mawqi’      Ya’sub (nomor halaman sesuai cetakan).</li>
<li>
<em>Al      Mawsu’ah Al Fiqhiyah</em>, terbitan Kementrian Agama dan Urusan Islam Kuwait.</li>
<li>
<em>Al      Minhaj li Muriidil Hajj wal ‘Umroh</em>, Muhammad      bin Sholeh Al ‘Utsaimin, terbitan Muassasah Al Amiyah Al ‘Anud.</li>
<li>
<em>Al      Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj</em>, Yahya bin      Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi-Beirut, cetakan      kedua, 1392 H.</li>
<li>
<em>Al      Mughni</em>, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, terbitan Darul      Fikr-Beirut, cetakan pertama, 1405 H.</li>
<li>
<em>An      Nawazil fil Hajj, </em>‘Ali bin Nashir Asy Syal’an, terbitan Darut Tauhid,      cetakan pertama, 1431 H.</li>
<li>
<em>Ar      Rofiq fii Rihlatil Hajj</em>, Majalah Al Bayan, terbitan 1429 H.</li>
<li>
<em>Fiqhus      Sunnah</em>, Sayid Sabiq, terbitan Muassasah Ar Risalah,      cetakan ketiga, 1430 H.</li>
<li>
<em>Mursyid      Al Mu’tamir wal Haaj waz Zaair fii Dhouil Kitab was Sunnah</em>,      Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qohthoni, terbitan Maktabah Al Malik Fahd Al      Wathoniyah, cetakan ketiga, 1418 H.</li>
<li>
<em>Tafsir      Al Jalalain</em>, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi,      terbitan Darus Salam, cetakan kedua, 1422 H.</li>
<li>
<em>Taisirul      Fiqh</em>, Prof. Dr. Sholeh bin Ghonim As Sadlan, terbitan Dar      Blansia, cetakan pertama, 1424 H.</li>
<li>
<em>Shahih      Fiqh Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin As Sayid Saalim, terbitan      Maktabah At Taufiqiyah.</li>
<li>
<em>Shifatul      Hajj wal ‘Umrah, </em>terbitan bagi pengurusan Masjidil Haram dan Masjid      Nabawi, cetakan keduabelas, 1432 H.</li>
<li>
<em>Syarhul      Mumthi’ ‘ala Zaadil Mustaqni’</em>, Muhammad bin Sholeh Al      ‘Utsaimin, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, 1424 H.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Referensi Buku Indonesia</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>
<em>Meneladani      Manasik Haji dan Umrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> Mubarak bin Mahfudh Bamuallim, Lc, terbitan Pustaka Imam Asy Syafi’i,      cetakan ketiga, 1429 H.</li>
</ol>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Referensi Mawqi’</span></strong></p>
<ol start="1">
<li>Mawqi’      Islam Web: </li>
</ol>
<p><a href="http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=58685">http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=58685</a></p>
<ol start="2">
<li>Mawqi’      resmi Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz : <a href="http://www.binbaz.org.sa/mat/3737">http://www.binbaz.org.sa/mat/3737</a> </li>
<li>Mawqi’      Dorar.net:</li>
</ol>
<p><a href="http://www.dorar.net/art/379">http://www.dorar.net/art/379</a></p>
 