
<p>Tidak sedikit kaum muslimin yang salah paham mengenai definisi wali dan karomah</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Salah Paham Tentang Wali</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak orang yang salah memahami mengenai wali. Mereka mengira wali Allah adalah orang-orang yang bisa melakukan perkara-perkara yang ajaib-ajaib. Dari kesalah-pahaman inilah timbul berbagai macam penyimpangan dan kesesatan. Karena orang-orang yang bisa melakukan perkara yang ajaib-ajaib kemudian dikultuskan bahwan disembah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/18710-keutamaan-wali-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Wali Allah Ta’ala</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Wali Terbebas dari Beban Syariat?</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang-orang awam juga berkeyakinan bahwa wali itu adalah orang yang sudah tidak lagi menjalankan syariat agama, karena sudah mencapai level teratas dalam agama. Jadi mereka orang yang dianggap wali, sudah tidak wajib lagi shalat, tidak wajib puasa, tidak wajib menutup aurat, boleh minum khamr, zina, mencuri, dll. Keyakinan ini jelas batilnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad at Tamimi dalam risalah beliau “al Ushul as Sittah” membahas masalah ini, beliau mengatakan:</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Landasan yang kelima: Penjelasan Allah Subhaanahu tentang wali-wali Allah dan perbedaan antara wali Allah dengan pihak-pihak yang menyerupai mereka (wali setan) dari kalangan musuh-musuh Allah kaum munafikin dan kaum fajir (yang banyak berbuat dosa). Cukuplah dalam hal ini ayat dalam surat Ali Imron yaitu firman Allah:</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian…(Q.S Ali Imran ayat 31)</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dan ayat dalam surat al-Maidah yaitu firman Allah:</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad (keluar dari Islam) di antara kalian, Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah…” (Q.S al-Maidah ayat 54)</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dan (dua) ayat dalam Surat Yunus:</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ingatlah, sesungguhnya para Wali Allah itu tidak ada perasaan takut pada mereka dan merekapun tidak bersedih. Mereka adalah orang yang beriman dan bertaqwa.” (Q.S Yunus ayat 62-63)</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Kemudian Allah ta’ala menakdirkan ternyata kebanyakan orang yang mengaku berilmu dan mengaku kalau dia adalah da’i kepada Allah dan penjaga syariat bahwa para wali haruslah orang yang meninggalkan ittiba’ (meneladani Rasul) dan yang mengikuti Rasul bukanlah mereka (wali Allah), Wali Allah haruslah meninggalkan jihad, barangsiapa yang berjihad bukanlah wali Allah. Wali Allah haruslah meninggalkan iman dan taqwa, barangsiapa yang berpegang teguh dengan iman dan taqwa bukanlah Wali Allah. Wahai Tuhan kami, kami memohon kepadaMu pemaafan dan ‘afiyat (kesehatan dan keselamatan), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[selesai nukilan]</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/41892-menonton-acara-televisi-yang-terdapat-sihir-dan-pelecehan-terhadap-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Menonton Acara Televisi yang Terdapat Sihir dan Pelecehan terhadap Islam</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Manusia Paling Mulia Tidak Pernah Meninggalkan Syariat</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal manusia yang paling bertaqwa kepada Allah ta’ala, wali yang paling wali, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, tidak pernah meninggalkan syariat bahkan sampai akhir hidupnya. Dari Aisyah radhiallahu ta’ala ‘anha, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika beliau sakit menjelang wafatnya beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَصَلَّى النَّاسُ؟ فَقَالُوْا: لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apakah orang-orang telah melaksanakan shalat?”. Para Sahabat menjawab, “Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu engkau (untuk menjadi imam)”. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Taruhkanlah air untukku pada al-mikhdhab (tempat air)” (HR. Bukhari no.687, Muslim no. 418).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga para sahabat Nabi, yang mereka jelas para wali Allah yang mulia, mereka tidak ada yang meninggalkan syariat sampai akhir hayatnya. Lihat bagaimana Umar bin Khathab radhiallahu’anhu ketika sakaratul maut akibat ditusuk oleh Abu Lu’luah, beliau tetap melaksanakan shalat. Dari Musawwar bin Makhramah radhiallahu’anhu:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أنَّه دخَلَ مع ابنِ عبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهما على عُمرَ رَضِيَ اللهُ عَنْه حين طُعِن، فقال ابنُ عبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهما: (يا أميرَ المؤمنين، الصَّلاةَ! فقال: أجَلْ! إنَّه لا حَظَّ في الإسلامِ لِمَنْ أضاعَ الصَّلاةَ)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ia masuk ke rumah Umar bin Khathab bersama Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma ketika Umar (pagi harinya) ditusuk (oleh Abu Lu’luah). Maka Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkata: Wahai Amirul Mukminin, ayo shalat! Umar pun menjawab: betul, tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang menyia-nyiakan shalat” (HR. Malik dalam Al Muwatha, 1/39, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 1/225).</span></p>
<p><strong>Maka jelaslah kebatilan keyakinan bahwa wali itu adalah orang yang boleh meninggalkan syariat.</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/38623-larangan-berobat-dengan-metode-sihir-01.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Larangan Berobat dengan Metode Sihir</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Wali Allah adalah Setiap Orang yang Bertaqwa</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah ta’ala sudah mendefinisikan wali dalam Al Qur’an. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“dan mereka (kaum Musyrikin) bukanlah wali-wali Allah? Wali-wali Allah hanyalah orang-orang yang bertaqwa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Anfal: 34).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">At Thabari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (wafat 310 H) menuturkan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يعني: الذين يتقون الله بأداء فرائضه, واجتناب معاصيه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wali Allah adalah yang bertaqwa kepada Allah, menjalankan semua kewajiban-Nya, dan meninggalkan semua larangan-Nya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Ath Thabari</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وهم الذين آمنوا باللّه ورسوله، وأفردوا اللّه بالتوحيد والعبادة، وأخلصوا له الدين‏</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wali Allah adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah dan mengikhlaskan amalan hanya kepada Allah” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Taisir Karimirrahman</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka tidak benar bahwa wali Allah itu adalah orang yang punya </span><i><span style="font-weight: 400;">khawariqul ‘adah </span></i><span style="font-weight: 400;">(keajaiban-keajaiban). Bahkan semua orang yang beriman dan bertaqwa adalah wali Allah. Semakin tinggi ketaqwaannya dan pengamalannya terhadap syariat agama, semakin tinggi pula kewaliannya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/33499-tidak-boleh-membenarkan-ucapan-jin-pada-orang-yang-disihir-atau-kerasukan.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Boleh Membenarkan Ucapan Jin pada Orang yang Disihir atau Kerasukan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Para Ulama Sunnah, Mereka Jelas Wali Allah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika anda memahami bahwa semua orang yang beriman dan bertaqwa adalah wali Allah. Dan tingkat kewalian itu sebanding dengan ketaqwaan. Maka para ulama ahlussunah, mereka lah yang paling pantas disebut wali. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah berfirman: barangsiapa yang menentang wali-Ku, ia telah menyatakan perang terhadap-Ku”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no. 6502).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu Imam Asy Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (wafat 204 H) mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إن لم يكن الفقهاء العاملون أولياء الله فليس لله ولي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika para fuqaha (ulama) yang mengamalkan ilmu mereka tidak disebut wali Allah, maka Allah tidak punya wali” (diriwayatkan Al Baihaqi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Manaqib Asy Syafi’i</span></i><span style="font-weight: 400;">, dinukil dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Mu’lim </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 21).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka para ulama, orang-orang yang mengajarkan agama yang benar, dan juga orang-orang yang belajar agama dan mengamalkannya, merekalah wali-wali Allah yang paling nyata.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26245-cara-pengobatan-dari-pengaruh-sihir-dan-kesurupan-jin-1.html" data-darkreader-inline-color="">Cara Pengobatan Dari Pengaruh Sihir Dan Kesurupan Jin</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Perbedaan Karomah dengan Sihir dan Perdukunan</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih al Fauzan menjelaskan tentang karomah, “Diantara akidah ahlussunah wal Jama’ah adalah membenarkan adanya karomah wali. Karomah wali adalah perkara khawariqul ‘adah (yang di luar kebiasaan manusia) yang Allah jadikan pada diri sebagian wali-Nya, sebagai pemuliaan bagi mereka. Ini ditetapkan dalam al Qur’an dan as Sunnah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang-orang Mu’tazilah dan Jahmiyah mengingkari adanya karomah. Mereka mengingkari perkara yang sudah menjadi suatu realita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun perlu kita ketahui bersama, bahwa di zaman sekarang, banyak orang yang terjerumus dalam kesesatan dalam masalah karomah wali. Mereka ghuluw dalam masalah ini sampai-sampai menganggap sya’wadzah (perdukunan), sihir setan dan dajjal sebagai karomah wali. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal perbedaannya jelas antara karomah wali dan perdukunan. Karomah dijadikan oleh Allah untuk terjadi pada diri orang yang shalih. Sedangkan sya’wadzah (perdukunan) dilakukan oleh tukang sihir dan orang sesat yang ingin menyesatkan manusia dan meraup harta mereka. Kemudian karomah itu terjadi karena sebab ketaatan dan sya’wadzah terjadi karena kekufuran dan maksiat” (Min Ushuli Aqidah Ahlissunnah, 37-38).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">As Sa’di </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">juga menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وشرط كونها كرامة أن يكون من جرت على يده هذه الكرامة مستقيمًا على الإيمان ومتابعة الشريعة ، فإن كان خلاف ذلك فالجاري على يده من الخوارق يكون من الأحوال الشيطانية</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“syarat dikatakan karomah adalah ia terjadi pada orang yang lurus imannya dan mengikuti syariat. Jika tidak demikian maka keajaiban yang terjadi padanya adalah dari setan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tanbihat Al Lathifah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 107).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">والكرامة موجودة من قبل الرسول ومن بعد الرسول إلى يوم القيامة ، تكون على يد ولي صالح ، إذا عرفنا أن هذا الرجل الذي جاءت هذه الكرامة على يده هو رجل مستقيم قائم بحق الله وحق العباد عرفنا أنها كرامة . </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وينظر في الرجل فإذا جاءت هذه الكرامة من كاهن – يعني : من رجل غير مستقيم – عرفنا أنها من الشياطين ، والشياطين تعين بني آدم لأغراضها أحياناً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Karomah sudah ada sebelum diutusnya Rasulullah dan tetap ada sepeninggal beliau hingga hari kiamat. Karomah terjadi pada seorang wali yang shalih. Jika orang yang terjadi karomah pada dirinya kita ketahui ia adalah orang yang lurus agamanya, menjalankan hak-hak Allah, dan menjalankan hak-hak hamba, maka kita ketahui itu adalah karomah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan kita lihat seksama pada orang tersebut, jika karomah tersebut terjadi pada seorang dukun, yaitu orang yang tidak lurus agamanya, maka kita ketahui ia adalah dari setan. Setan terkadang membantu manusia untuk melancarkan tujuan-tujuan setan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Liqa Baabil Maftuh</span></i><span style="font-weight: 400;">, 8/8).</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/24570-mengenal-sihir-dan-bahayanya.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Sihir Dan Bahayanya</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Karomah yang Paling Sakti</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang sering mengidentikkan karomah wali dengan kesaktian-kesaktian dan berbagai keajaiban. Namun tahukah anda apa karomah wali yang paling “sakti” menurut para ulama?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (wafat 792 H) mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">في الحقيقة إنما الكرامة لزوم الاستقامة ، وأن الله تعالى لم يكرم عبدا بكرامة أعظم من موافقته فيما يحبه ويرضاه وهو طاعته وطاعة رسوله</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Karomah yang sebenar-benarnya adalah seseorang tetap bisa istiqomah. Allah Ta’ala tidak memuliakan seorang hamba dengan suatu karomah yang paling besar kecuali dengan memberinya taufiq untuk tetap melaksanakan apa-apa yang Allah cintai dan ridhai, yaitu taat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarah Aqidah Thahawiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/ 748).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وانما غاية الكرامة لزوم الاستقامة، فلم يكرم الله عبدا بمثل أن يعينه على ما يحبه ويرضاه، ويزيده مما يقربه اليه ويرفع به درجته</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya karomah yang paling ‘sakti’ adalah seseorang tetap bisa istiqomah. Allah tidak memuliakan seorang hamba dengan kemuliaan yang lebih besar ketimbang ia diberi pertolongan untuk tetap bisa melakukan apa-apa yang Allah cintai dan ridhai, dan menambah apa-apa yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah dan mengangkat derajatnya di hadapan Allah” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al Furqan baina Auliya-ir Rahman wa Auliya-isy Syaithan</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/187).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka karomah yang paling sakti bukanlah hal-hal ajaib seperti bisa terbang, bisa jalan di atas air, bisa mengubah daun jadi uang, dan semisalnya. Karomah paling sakti adalah seseorang menghabiskan hari-harinya dalam keadaan bisa istiqamah di atas ketaatan dan tidak bermaksiat. Sungguh ini sangat sulit kita dapati pada diri-diri kita, dan andai ada orang yang bisa demikian, dialah wali Allah yang sejati.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/7844-kiat-agar-telindung-dari-sihir.html" data-darkreader-inline-color="">Kiat Agar Telindung dari Sihir</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/3837-sihir-dan-perdukunan-perusak-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Sihir dan Perdukunan Perusak Tauhid</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah ta’ala menjadikan kita semua sebagai wali-wali-Nya.</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color=""> Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 