
<p>Hendaklah kita berusaha menyesuaikan amalan kita dengan tuntunan agama kita. Kalau cuma sedekar beramal saja pakai perasaan, dianggap itu niatan yang baik, amalan tersebut tidak akan diterima dan sia-sia.</p>
<p>Coba ambil pelajaran dari kisah berikut …</p>
<p>Al-Bara’ bin ‘Azib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menuturkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ ، وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ</p>
<p>“<em>Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih qurban seperti qurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala qurban. Barangsiapa yang berqurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak teranggap sebagai qurban</em>.”</p>
<p>Abu Burdah yang merupakan paman dari Al-Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ</p>
<p>“Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.”</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ</p>
<p>“<em>Kambingmu hanyalah kambing biasa (namun bukan kambing qurban).</em>” (HR. Bukhari, no. 955)</p>
<p>Niatannya baik, qurbannya dipakai untuk sarapan sebelum shalat. Namun akhirnya membuat statusnya bukan lagi jadi qurban, hanya dianggap daging biasa.</p>
<p>Kita juga dapat melihat dari perkataan Ibnu Mas’ud bahwa niatan baik semata tidaklah cukup. Ketika Ibnu Mas’ud melewati suatu masjid, di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.</p>
<p>“<em>Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?</em>”</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.</p>
<p>Mereka menjawab, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ</p>
<p>“<em>Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya</em>.” (HR. Ad- Darimi 1: 79. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini <em>jayyid</em>)</p>
<p> </p>
<p>Ingat perkataan Ibnu ‘Umar berikut,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً</p>
<p>“<em>Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik</em>.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam kitab As-Sunnah dengan sanad shahih dari Ibnu ‘Umar. Lihat <em>Ahkam Al-Janaiz</em>, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hlm. 258, beliau mengatakan hadits ini <em>mauquf </em>-hanya perkataan Ibnu ‘Umar-, shahih)</p>
<p>Perkataan Ibnu ‘Umar menunjukkan bahwa standar beramal itu bukan pakai perasaan orang, namun hendaklah menyesuaikan dengan tuntunan.</p>
<p> </p>
<p>Fudhail bin Iyadh ditanya apa yang dimaksud amalan yang ikhlas dan benar ketika ditanya mengenai firman Allah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا</p>
<p>“<em>Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya</em>.” (QS. Al-Mulk: 2). Karena amalan yang ikhlas dan benar itulah yang diterima.</p>
<p>Fudhail menjawab,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ العَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا وَصَوَابًا فَالخَالِصُ أَنْ يَكُوْنَ للهِ وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى السُّنَّةِ</p>
<p>“Yang namanya amalan jika niatannya ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Sama halnya jika amalan tersebut benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Amalan tersebut barulah diterima jika ikhlas dan benar. Yang namanya ikhlas, berarti niatannya untuk menggapai ridha Allah saja. Sedangkan disebut benar jika sesuai dengan petunjuk Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” (<em>Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam</em>, 1: 72)</p>
<p>Yang mendukung perkataan Al-Fudhail dikatakan oleh Ibnu Hajar adalah firman Allah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا</p>
<p>“<em>Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.</em>” (QS. Al-Kahfi: 110) (<em>Idem</em>).</p>
<p>Semoga Allah memberi taufik untuk bisa beramal sesuai tuntunan.</p>
<p>—</p>
<p><a href="https://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul</a>, 2 Dzulhijjah 1437 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a>, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam</p>
<p>Biar membuka Rumaysho.Com mudah, downloadlah aplikasi Rumaysho.Com lewat Play Store <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=sms.com.rumaysho"><strong>di sini</strong></a>.</p>
 