
<h2><b>Satu Kali Tayamum Untuk Satu Shalat?</b></h2>
<p><em><b>Pertanyaan</b><span style="font-weight: 400;">:</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Ustadz, mohon tanya:</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Kami berhalangan yg mengharuskan bertayamum sbg gantinya berwudhu. (sakit,oleh dokter dilarang kena air).</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Insya Alloh kami paham tatacaranya.</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Satu hal yg kami suwun aken pirso (ingin kami tanyakan, red),</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Satu kali tayamum untuk satu kali sholat.</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Ini bagaimana umpama saat sholat dhuhur, ada sholat sunat rowatib baik kobliah atau bakdiyah.</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Apakah setiap sholat2 tsb hrs terlebih dahulu bertayamum?</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Apa cukup satu kali tayamum bisa untuk satu rombongan tadi?</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Jazakumulloh khairan.</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Dari : Bpk Sarkidi, di Patang Puluhan, Jogja</span></em></p>
<p><b>Jawaban</b><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaam ‘ala Rasuulillah, waba’du.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada dua pendapat ulama tentang hal ini.</span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, satu tayamum bisa digunakan untuk lebih dari satu shalat fardhu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama (jumhur), di antaranya Imam Ahmad dalam salah satu riwayat yang populer (masyhur) dari beliau, Hasan Al-Basri, Abu Hanifah, Ibnul Musayyib, dan Az-Zuhri.</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, satu tayamum hanya untuk satu shalat fardhu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik dan Imam Syafi’i.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meski menurut pendapat ini tayamum hanya bisa digunakan untuk satu shalat fardhu, tayamum bisa digunakan untuk shalat-shalat sunah yang terdapat di dalam waktu satu shalat fardhu tersebut. Seperti shalat siang rawatib, dll.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil pendapat pertama:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat dan hadis yang menerangkan tentang tayamum, tidak membatasi fungsi tayamum hanya untuk satu shalat fardhu. Dan secara redaksional (dzahir), dalil-dalil tersebut menunjukkan makna yang tidak menunjukkan pembatasan atau absolut (mutlak).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara dalil-dalil tersebut, hadis yang berbunyi,</span></p>
<p class="arab">الصعيد الطيب وضوء المسلم..</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Debu yang suci adalah wudhunya seorang muslim.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadis ini tegas menyatakan bahwa tayamum berstatus sama seperti wudhu. Sehingga segala ketentuan hukum yang berlaku pada wudhu, juga berlaku pada tayamum. Seperti bisa digunakan untuk lebih dari satu shalat fardhu, selama belum batal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian sejatinya tayamum adalah pengganti wudhu. Dan pengganti mengikuti hukum yang digantikan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil lainnya, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,</span></p>
<p class="arab">وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا</p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“</span></em><i><span style="font-weight: 400;">Bumi ini telah dijadikan masjid dan tempat bersuci untukku.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam Al-Qur’an diterangkan</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i></p>
<p class="arab">وَإِن كُنتُمۡ جُنُبٗا فَٱطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ <b>وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ </b><span style="font-weight: 400;">وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. </span></i><b><i>Allah tidak ingin menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak mensucikan kalian</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Ma’idah : 6)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil pendapat kedua:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebuah riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau berkata:</span></p>
<p class="arab">من السنة ألا يصلي بالتيمم إلا مكتوبة واحدة، ثم يتيمم للأخرى</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Termasuk sunnah adalah, tidak melakukan shalat dengan satu tayamum kecuali untuk satu shalat fardhu. Kemudian shalat fardhu berikutnya menggunakan tayamum yang lain.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ucapan sahabat yang berbunyi, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Termasuk Sunnah adalah, demikian dan demikian.</span></i><span style="font-weight: 400;">..” berstatus seperti hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana dihukumi demikian oleh para ulama ahli hadis dan ulama Ushul Fiqh. (Lihat : Adwa-ul Bayan 2/68)</span></p>
<p><b>Pendapat yang Kuat?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tampaknya pendapat pertama yang dipegang oleh jumhur ulama, lebih kuat. Dasarnya adalah sebagai berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Pendapat kedua menyelisihi qiyas yang shahih yang didukung tegas oleh hadis berikut,</span></p>
<p class="arab">الصعيد الطيب وضوء المسلم..</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Debu yang suci adalah wudhunya seorang muslim.</span></i><span style="font-weight: 400;">“</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Riwayat Abdullah bin Abbas yang dijadikan dalil oleh pendapat kedua, adalah riwayat yang dha’if jiddan (sangat lemah). Karena di dalam sanadnya ada perawi yang bernama Hasan bin Amaroh. Dinilai oleh para ulama hadis sebagai perowi yang lemah. Di antaranya Imam Ahmad rahimahullah (dalam riwayat Abu Thalib),</span></p>
<p class="arab">حسن بن عمارة متروك الحديث، أحاديثه موضوعة لا يكتب حديثه</p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>“Hasan bin Amaroh hadis-hadisnya matruk. Hadis-hadisnya mau’dhu’ (palsu) dan tidak layak ditulis.”</em> (Al-Jarh wat Ta’dil 3/116, dikutip dari Mausu’ah Aqwal Imam Ahmad 1/261)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Jika satu tayamum bisa digunakan untuk sejumlah shalat sunah yang ada dalam waktu satu shalat fardhu, mengapa tidak bisa digunakan untuk sejumlah shalat fardhu juga?! Bukankah thaharahnya shalat sunah tidak ada bedanya dengan thaharahnya shalat fardhu?! Tidak mungkin dinyatakan, “Tayamum, jika anda gunakan untuk shalat sunah maka status anda suci. Tapi jika anda gunakan untuk shalat fardhu, maka status anda berhadas/tidak suci.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam bish showab</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori, Lc.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Pengajar di Ponpes Hamalatul Quran Jogjakarta &amp; Pengasuh Thehumairo.com)</span></p>
<p> </p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>: BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 