
<p>Dikarenakan inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah <i>Ta’ala</i>, sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah <i>Ta’ala</i> merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah-Nya. Dalam hadits <i>Qudsi</i> yang shahih, Allah <i>Ta’ala</i> berfirman: “<em>Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian</em>”<strong>[1]</strong>.</p>
<p>Oleh karena itu, Allah <i>Ta’ala</i> yang maha sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah Al Fatihah:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}</span></p>
<p>“<em>Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus</em>”.</p>
<p>Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut”<strong>[2]</strong>.</p>
<p>Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> mengajarkan kepada kita doa memohon hidayah kepada Allah <i>Ta’ala</i>. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat witir:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">(( اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْت))</span></p>
<p>“<em>Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah</em>”<strong>[3]</strong>.</p>
<p>Juga doa beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى ))</span></p>
<p>“<em>Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu)</em>”<strong>[4]</strong>.</p>
<p>Sebaliknya, keengganan atau ketidaksungguhan untuk berdoa kepada Allah <i>Ta’ala </i>memohon hidayah-Nya merupakan sebab besar yang menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayah-Nya.</p>
<p>Oleh karena itu, Allah <i>Ta’ala</i> sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan memohon kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>: “<em>Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya</em>”<strong>[5]</strong>.</p>
<h2>Sebab Datangnya Hidayah</h2>
<p>Hal-hal lain yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah <i>Ta’ala</i> selain yang dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:</p>
<h3><b>1. Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan</b></h3>
<p>Artinya selalu bergantung dan bersandar kepada Allah <i>Ta’ala</i> dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang hamba, serta tidak bergantung kepada kemampuan diri sendiri.</p>
<p>Ini merupakan sebab utama untuk meraih taufik dari Allah <i>Ta’ala</i> yang merupakan hidayah yang sempurna, bahkan inilah makna taufik yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah.</p>
<p>Coba renungkan pemaparan Imam Ibnul Qayyim berikut ini: “Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.</p>
<p>Telah bersepakat <i>Al ‘Aarifun</i> (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah <i>Ta’ala</i> kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan adalah <i>khidzlaan</i> (berpalingnya) Allah <i>Ta’ala</i> dari hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (makna) taufik itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan kebaikan/keburukan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) <i>al khidzlaan</i> (berpalingnya Allah <i>Ta’ala</i> dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah <i>Ta’ala</i>)”<strong>[6]</strong>.</p>
<p>Inilah yang terungkap dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>: “(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata”<strong>[7]</strong>.</p>
<p>Oleh karena inilah makna dan hakikat taufik, maka kunci untuk mendapatkannya adalah dengan selalu bersandar dan bergantung kepada Allah <i>Ta’ala</i> dalam meraihnya dan bukan bersandar kepada kemampuan diri sendiri.</p>
<p>Imam Ibnul Qayyim berkata: “Kalau semua kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah (selalu) berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepada-Nya). Maka ketika Allah telah memberikan kunci (taufik) ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan (pintu taufik) kepadanya.Dan ketika Allah memalingkan kunci (taufik) ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan (taufik) akan selalu tertutup baginya”<strong>[8]</strong>.</p>
<h3>
<b>2. Selalu mengikuti dan berpegang teguh dengan agama Allah </b><b><i>Ta’ala</i></b><b> secara keseluruhan lahir dan batin</b>
</h3>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى}</span></p>
<p>“<em>Maka jika datang kepadamu (wahai manuia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara (dalam hidupnya)</em>” (QS Thaahaa: 123).</p>
<p>Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang yang mengikuti dan berpegang teguh dengan petunjuk Allah <i>Ta’ala</i> yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya <i>Ta’ala</i>, dengan mengikuti semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia tidak akan tersesat dan sengsara di Dunia dan Akhirat, bahkan dia selalu mendapat bimbingan petunjuk-Nya, kebahagiaan dan ketentraman di Dunia dan Akhirat<strong>[9]</strong>.</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ}</span></p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk (agama Allah Ta’ala</em><em>) maka Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya</em>” (QS Muhammad: 17).</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/19131-makna-dan-hakikat-hidayah-allah.html" target="_blank" rel="noopener">Makna Dan Hakikat Hidayah Allah</a></strong></em></p></blockquote>
<h3><b>3. Membaca al-Qur-an dan merenungkan kandungan maknanya</b></h3>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا}</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar</em>” (QS al-Israa’: 9).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir berkata: “(Dalam ayat ini) Allah <i>Ta’ala</i> memuji kitab-Nya yang mulia yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya <i>Ta’ala</i>, yaitu al-Qur-an, bahwa kitab ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan jelas”<strong>[10]</strong>.</p>
<p><b>Maksudnya:</b> yang paling lurus dalam tuntunan berkeyakinan, beramal dan bertingkah laku, maka orang yang selalu membaca dan mengikuti petunjuk al-Qur-an, dialah yang paling sempurna kebaikannya dan paling lurus petunjuknya dalam semua keadaannya<strong>[11]</strong>.</p>
<h3>
<b>4.Mentaati dan meneladani sunnah Rasulullah </b><b><i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i></b><b><br>
</b>
</h3>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> menamakan wahyu yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> sebagai <i>al-huda </i>(petunjuk) dan <i>dinul haq</i> (agama yang benar) dalam firman-Nya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا}</span></p>
<p>“<em>Dialah (Allah Ta’ala</em><em>) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi</em>” (QS al-Fath: 28).</p>
<p>Para ulama Ahli Tafsir menafsirkan <i><b>al-huda </b></i><b>(petunjuk)</b> dalam ayat ini dengan <b>ilmu yang bermanfaat</b> dan <i><b>dinul haq</b></i><b> (agama yang benar)</b> dengan amal shaleh<strong>[12]</strong>.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa sunnah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> adalah sebaik-baik petunjuk yang akan selalu membimbing manusia untuk menetapi jalan yang lurus dalam ilmu dan amal.</p>
<p>Dalam hadits yang shahih, Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bersabda: “<em>Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitab Allah (al-Qur-an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah </em><em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em><em>, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (baru dalam agama)</em>”<strong>[13]</strong>.</p>
<p>Inilah makna firman Allah <i>Ta’ala</i>:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}</span></p>
<p align="LEFT">“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>” (QS al-Ahzaab:21).</p>
<h3>
<b>5. Mengikuti pemahaman dan pengamalan para Shahabat </b><b><i>Radhiallahu’anhum</i></b><b> dalam beragama</b>
</h3>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ}</span></p>
<p>“<em>Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan</em>” (QS al-Baqarah: 137).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman para Shahabat <i>Radhiallahu’anhum</i> dalam keimanan, ibadah, akhlak dan semua perkara agama lainnya, karena inilah sebab untuk mendapatkan petunjuk dari Allah <i>Ta’ala</i>. Para Shahabat <i>Radhiallahu’anhum</i> adalah yang pertama kali masuk dalam makna ayat ini, karena merekalah orang-orang yang pertama kali memiliki keimanan yang sempurna setelah Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i><strong>[14]</strong>.</p>
<h3><b>6. Meneladani tingkah laku dan akhlak orang-orang yang shaleh sebelum kita</b></h3>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}</span></p>
<p>“<em>Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka</em>” (QS al-An’aam: 90).</p>
<p>Dalam ayat ini Allah <i>Ta’ala</i> memerintahkan kepada Nabi Muhammad <i>Ta’ala</i> untuk meneladani petunjuk para Nabi ‘<em>alaihimussalam</em> yang diutus sebelum beliau <i>Ta’ala</i>, dan ini juga berlaku bagi umat Nabi Muhammad <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i><strong>[15]</strong>.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/22658-sadarilah-kawan-hidayah-anugerah-allah.html" target="_blank" rel="noopener">Sadarilah Kawan, Hidayah Anugerah Allah</a></strong></em></p></blockquote>
<h3>
<b>7. Mengimani takdir Allah </b><b><i>Ta’ala</i></b><b> dengan benar</b>
</h3>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ}</span></p>
<p>“<em>Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu</em>” (QS at-Taghaabun:11).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir berkata: “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah <i>Ta’ala</i>), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya”<strong>[16]</strong>.</p>
<h3><b>8. Berlapang dada menerima keindahan Islam serta meyakini kebutuhan manusia lahir dan batin terhadap petunjuknya yang sempurna</b></h3>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ}</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk Allah berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman</em>” (QS al-An’aam: 125).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa tanda kebaikan dan petunjuk Allah <i>Ta’ala</i> bagi seorang hamba adalah dengan Allah <i>Ta’ala</i> menjadikan dadanya lapang dan lega menerima Islam, maka hatinya akan diterangi cahaya iman, hidup dengan sinar keyakinan, sehingga jiwanya akan tentram, hatinya akan mencintai amal shaleh dan jiwanya akan senang mengamalkan ketaatan, bahkan merasakan kelezatannya dan tidak merasakannya sebagai beban yang memberatkan<strong>[17]</strong>.</p>
<h3>
<b>9. Bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah </b><b><i>Ta’ala</i></b><b> dan selalu berusaha mengamalkan sebab-sebab yang mendatangkan dan meneguhkan hidayah Allah </b><b><i>Ta’ala</i></b><b><br>
</b>
</h3>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}</span></p>
<p align="LEFT">“<em>Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan</em>” (QS al-‘Ankabuut: 69).</p>
<p align="LEFT">Imam Ibnu Qayyimil Jauziyah berkata: “(Dalam ayat ini) Allah <i>Ta’ala</i> menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah <i>Ta’ala</i>) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya”<strong>[18]</strong>.</p>
<p align="LEFT">Demikianlah pemaparan ringkas tentang sebab-sebab datangnya hidayah Allah <i>Ta’ala</i>, dan tentu saja kebalikan dari hal-hal tersebut di atas itulah yang merupakan sebab-sebab hilangnya/tercabutnya hidayah Allah <i>Ta’ala</i>, semoga Allah <i>Ta’ala</i> melindungi kita dari segala keburukan dan fitnah.</p>
<h2 align="LEFT"><b>Penutup</b></h2>
<p align="LEFT">Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih semangat mengusahakn sebab-sebab datangnya hidayah dari Allah <i>Ta’ala</i>.</p>
<p align="LEFT">Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah <i>Ta’ala</i> dengan semua nama-Nya yang maha indah dan sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia <i>Ta’ala</i> senantiasa melimpahkan, menyempurnakan dan menjaga taufik-Nya kepada kita semua sampai kita berjumpa dengan-Nya di surga-Nya kelak, sesungguhnya Dia <i>Ta’ala</i> maha mendengar lagi maha mengabulkan doa.</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/28401-hidayah-adalah-sebaik-baik-nikmat-allah-taala.html" target="_blank" rel="noopener">Hidayah Adalah Sebaik-Baik Nikmat Allah Ta’ala</a></strong></em></p></blockquote>
<div>
<h5>—</h5>
<p><strong>Catatan Kaki</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> HSR Muslim (no. 2577).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[2]</strong> Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 39).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[3]</strong> HR Abu Dawud (no. 1425), at-Tirmidzi (no. 464) dan an-Nasa-i (3/248), dinyatakan shahih oleh <a href="https://kisahmuslim.com/5668-kisah-hidup-syaikh-al-albani-pakar-hadits-abad-ini-12.html" target="_blank" rel="noopener">Syaikh al-Albani</a>.</p>
</div>
<div>
<p><strong>[4]</strong> HSR Muslim (no. 2721).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[5]</strong> HR at-Tirmidzi (no. 3373) dan al-Hakim (1/667), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p><strong>[6]</strong> Kitab “Al Fawa-id” (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir 1424 H).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[7]</strong> HR an-Nasa-i (6/147) dan al-Hakim (no. 2000), dishahihkan oleh Imam al-Hakim, disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (1/449, no. 227).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[8]</strong> Kitab “Al Fawa-id” (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir 1424 H).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[9]</strong> Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 515).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[10]</strong> Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/39).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[11]</strong> Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 454).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[12]</strong> Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/209) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 335).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[13]</strong> HSR Muslim (no. 867).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[14]</strong> Demikian makna penjelasan yang penulis pernah dengar dari salah seorang syaikh di kota Madinah, Arab Saudi.</p>
</div>
<div>
<p><strong>[15]</strong> Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (2/208).</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><strong>[16]</strong> Tafsir Ibnu Katsir (8/137).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[17]</strong> Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 272).</p>
</div>
<div>
<p><strong>[18]</strong> Kitab “al-Fawa-id” (hal. 59).</p>
</div>
 