
<p>Berikut beberapa alasan mengapa para ulama bisa berselisih pendapat:</p>
<p> </p>
<p>1. Hadits hanya sampai pada salah satu ulama yang berselisih pendapat.<br>
2. Hadits sampai pada seorang ulama, namun ia tidak menganggapnya shahih.<br>
3. Hadist sampai pada seorang ulama dan ia menshahihkannya, namun ia lupa.<br>
4. Keyakinan ulama bahwa tidak ada penunjukkan dalil atau ayat yang seperti itu.<br>
5. Keyakinan ulama bahwa penunjukkan dalil nash itu shahih, namun ia yakini ada pertentangan dalil lain yang menunjukkan lemahnya, dihapusnya atau ditakwilnya dalil tersebut.</p>
<p>Faedah dari Kitab <em>Ma’alim Ushul Fiqh</em>, Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jiizani, Dar Ibnil Jauzi, cetakan ketiga, Muharram 1422 H, hal. 493-494, ditulis via note BB.</p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="../../undefined/" target="_blank" rel="noopener">https://rumaysho.com</a></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/22525-memberi-manfaat-lewat-doa-hingga-saat-duduk-di-pinggir-jalan-termasuk-amalan-mutaaddi.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Memberi Nasihat dan Mendamaikan yang Berselisih Termasuk Amalan Muta’addi</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/6488-bijak-menghargai-perbedaan-pendapat.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bijak Menghargai Perbedaan Pendapat</strong></span></a></li>
</ul>
 