
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan</b></span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Pertanyaan:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa sebab-sebab dan sarana persatuan umat?</span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jawaban:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebab-sebab persatuan umat di antaranya:</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">memurnikan aqidah, yaitu aqidah yang selamat (terbebas) dari kemusyrikan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ</b></span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu. Dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” </span></em><b>(QS. Al-Mu’minuun [23]: 52)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya, aqidah yang lurus (<em>shahih</em>) itulah yang menyatukan hati manusia dan menghilangkan saling dengki di antara mereka. Berbeda halnya jika aqidah tersebut bermacam-macam dan (akibatnya) sesembahan pun bermacam-macam. Maka setiap (penganut) aqidah (tertentu) akan mengistimewakan (mengunggulkan) aqidah mereka dan sesembahan mereka, dan menilai batil aqidah yang lain. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/7692-landasan-dan-langkah-mewujudkan-persatuan.html" data-darkreader-inline-color="">Landasan dan Langkah Mewujudkan Persatua</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">أ</span><b>َأَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”</em> </span><b>(QS. Yusuf [12]: 39)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, bangsa Arab di jaman jahiliyyah itu berpecah belah dan menjadi lemah di muka bumi. Ketika Islam datang, dan luruslah aqidah mereka, mereka pun bersatu dan bersatu pula negeri mereka. </span></p>
<p><b>Kedua, </b><span style="font-weight: 400;">mendengar dan taat kepada pemerintah kaum muslimin. Oleh karena itu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, </span><b>mendegar dan taat (kepada penguasa), meskipun dia adalah seorang budak dari Habaysah (Ethiopia).</b><span style="font-weight: 400;"> Barangsiapa yang masih hidup di antara kalian, dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 2676 dan yang lainnya, hadits shahih)</b></p>
<p><b>Ketiga, </b><span style="font-weight: 400;">kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menyelesaikan dan menghentikan perselisihan. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ  وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً</b></span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” </span></em><b>(QS. An-Nisa’ [4]: 59)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/26767-pilih-kasih-dalam-penegakan-hukum-faktor-hancurnya-sebuah-negara.html" data-darkreader-inline-color="">Pilih Kasih Dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah Negar</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan tidak merujuk kepada pendapat seseorang atau adat kebiasaan mereka.</span></p>
<p><b>Keempat, </b><span style="font-weight: 400;">melakukan perdamaian (perbaikan) di antara sesama, yaitu ketika terjadi perselisihan di antara person tertentu atau di antara suku (kabilah) tertentu. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ</b></span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“Oleh sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” </span></em><b>(QS. Al-Anfal [8]: 1)</b></p>
<p><b>Kelima, </b><span style="font-weight: 400;">memerangi pemberontak dan khawarij, yang ingin memecah belah kaum muslimin. Mereka bagaikan duri yang mengancam persatuan dan merusak keamanan kaum muslimin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي</b></span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi.” </span></em><b>(QS. Al-Hujurat [49]: 9)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, amirul mukminin ‘Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">memerangi pemberontak dan Khawarij, dan hal itu dihitung sebagai salah satu keutamaan beliau, semoga Allah <em>Ta’ala</em> meridhainya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29569-indonesia-bukan-negara-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Indonesia Bukan Negara Islam?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57644-hukum-boikot-produk-orang-kafir-dan-pendukung-kemaksiatan.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Boikot Produk Orang Kafir dan Pendukung Kemaksiata</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@FK UGM, 21 Muharram 1442/ 9 September 2020</span></p>
<p><b>Penerjemah: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari kitab </span><strong><i>Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘an As-ilati Al-Manaahij Al-Jadiidah, </i></strong><span style="font-weight: 400;">hal. 213-214(penerbit Maktabah Al-Hadyu Al-Muhammadi Kairo, cetakan pertama tahun 1429)</span></p>
 