
<h2><strong>Sederhana, Luar Biasa</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bisyr bin Al-Mufadhdhol bercerita, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">جَلَسْتُ إِلَى مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُوْمَ قَالَ أَتَأْذَنُ؟ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku duduk bersama Muhammad bin al-Munkadir, tatkala beliau hendak pergi beliau pamitan dengan mengatakan, ‘Apakah kau izinkan diriku untuk pergi?’ (Hilyah al-Auliya’ 3/153)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Manusia itu mulia di mata manusia dengan adab luhur dan akhlak mulia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara adab mulia adalah pamitan ketika hendak meninggalkan suatu majelis, forum atau pun sekedar acara duduk-duduk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara adab yang kurang baik adalah tiba-tiba menghilang meninggalkan kawan-kawan duduk tanpa mereka sadari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pergi tanpa pamit adalah adab buruk jika duduk bersama orang yang wajib dihormati semisal guru, orang yang berilmu, orang tua, orang yang lebih tua dll.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jabat tangan saat berpamitan hukumnya mubah, boleh dilakukan dan bisa dianjurkan jika sikap semisal ini di suatu daerah mengandung nilai lebih menghormati dan menghargai kawan duduk. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk berkawan dengan kawan-kawan yang memiliki akhlak mulia dan adab yang luhur. Aamiin. </span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 