
<p>Sifat orang beriman adalah sedikit tidur pada malam hari karena sibuk dengan <a href="https://rumaysho.com/?s=tahajud">tahajud</a>.</p>
<p> </p>
<h4 style="text-align: center;">Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail</h4>
<ol start="212">
<li style="text-align: center;">
<h4>Bab Keutamaan Qiyamul Lail</h4>
</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<h2 style="text-align: center;"><strong>Ayat Kedua:</strong></h2>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ</p>
<p style="text-align: center;">“<em>Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya</em>.” (QS. As-Sajadah: 16)</p>
<h2 style="text-align: center;"><strong>Ayat Ketiga:</strong></h2>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ</p>
<p style="text-align: center;">“<em>Di dunia mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam.”</em>(QS. Adz-Dzariyat: 17)</p>
<h3></h3>
<h2 style="text-align: center;"><strong>Penjelasan Ayat:</strong></h2>
<p>Yang dimaksud dengan “<em>Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya</em>” adalah karena <a href="https://rumaysho.com/762-panduan-shalat-tahajud.html">qiyamul lail (shalat malam)</a>. Mereka meninggalkan tidur dan berbaring pada alas tidur yang empuk. Mujahid dan Al-Hasan Al-Bashri mengatakan mereka tidak tidur lantaran shalat malam. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:142.</p>
<p>Ada pendapat lain yang disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Zaad Al-Masiir (6:337-338), yang dimaksud adalah shalat antara Maghrib dan Isya, seperti pendapat Anas bin Malik. Ada juga yang menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah shalat Isya karena para sahabat tidaklah tidur, menunggu <a href="https://rumaysho.com/18539-manhajus-salikin-waktu-shalat-isya.html">shalat Isya</a> dilaksanakan, inilah pendapat Ibnu ‘Abbas. Ada juga yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah shalat Isya dan Shubuh berjamaah sebagaimana pendapat Abu Ad-Darda’ dan Adh-Dhahak.</p>
<p>Sedangkan ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ</p>
<p>terdapat dua tafsiran: (1) maa bermakna naafi artinya “tidak”, maksudnya mereka sedikit mendapati malam dan waktu tersebut mereka tidaklah tidur; (2) maa bermakna mashdariyyah artinya “yang”, maksudnya sedikit dari malam mereka yang digunakan untuk tidur. Lihat bahasan dalam <em>Zaad Al-Masiir</em>, 8:31.</p>
<p>Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan mengenai surah Adz-Dzariyat ayat 17, “Tidur mereka pada malam hari sedikit. Mayoritas malam mereka digunakan untuk taat menghadap Rabb mereka dengan shalat, <a href="https://rumaysho.com/11261-8-adab-membaca-al-quran.html">membaca Al-Qur’an</a>, berdzikir, berdoa, dan tunduk kepada Allah.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 858)</p>
<p><strong><span style="background-color: #ffff00;">Baca Juga:</span> <a href="https://rumaysho.com/21397-tahajud-itu-dilakukan-setelah-bangun-tidur.html"><span style="color: #ff0000;">Tahajud itu Dilakukan Setelah Bangun Tidur</span></a></strong></p>
<h4 style="text-align: center;"><strong>Referensi:</strong></h4>
<ol>
<li>
<em>Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em>. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.</em> Cetakan pertama, Tahun 1431 H.  Imam Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
<li>
<em>Tafsir As-Sa’di.</em> Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.</li>
<li>
<em>Zaad Al-Masiir.</em> Cetakan keempat, Tahun 1407 H. ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurosyi Al-Baghdadi. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.</li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p>Disusun<a href="https://darushsholihin.com"><strong> @ Darush Sholihin</strong></a>, 19 Muharram 1441 H (18 September 2019)</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/09/Buletin-DS-Edisi-114.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/09/Buletin-DS-Edisi-114.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
 