
<p>Segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk  dan agama yang haq untuk dimenangkan di atas seluruh agama. Salawat dan  salam semoga terus tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi  seluruh alam, yang menjadi saksi, pemberi kabar gembira dan peringatan,  sebagai da’i yang mengajak kepada Allah dan menjadi lentera yang  menerangi perjalanan hidup manusia. <em>Amma ba’du</em>.</p>
<p>Menjadi da’i yang mengajak umat untuk  menghamba kepada Allah, sebuah tugas yang sangat utama dan mulia. Tugas  yang membuktikan kesejatian <em>ittiba’</em> (komitmen untuk setia kepada Sunnah) pada diri seorang muslim terhadap Nabi yang dicintainya.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah;  Inilah jalanku. Aku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashirah/ilmu.  Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan maha suci  Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.”</em> (<strong>QS. Yusuf: 108</strong>). Ayat yang mulia ini mengisyaratkan bahwasanya orang yang paling sempurna dalam <em>ittiba’</em> adalah yang paling sempurna dalam berdakwah (lihat <em>ad-Durar al-Ghaliyah fi Adab ad-Da’wah wa ad-Da’iyah</em> oleh Syaikh Abdul Hamid bin Badis <em>rahimahullah</em>, hal. 18</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Formula Dakwah</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah <em>ta’ala</em> menerangkan kepada kita bahwasanya jalan dakwah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dibangun di atas tiga perkara:</p>
<ol>
<li>Mengajak kepada Allah di atas <em>bashirah</em>/ilmu</li>
<li>Menyucikan Allah <em>ta’ala</em> -dari segenap celaan dan      kekurangan-</li>
<li>Berlepas diri dari orang-orang musyrik (lihat <em>ad-Durar      al-Ghaliyah</em>, hal. 8 )</li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengajak Kepada Allah</strong></span></p>
<p>Hendaknya seorang da’i mengingat, bahwasanya dakwah yang dilakukannya  adalah untuk mengajak manusia kepada Allah, yaitu: mengajak manusia  kepada agama-Nya, agar mereka mentauhidkan-Nya, dan mengajak mereka  untuk masuk ke dalam surga-Nya. Sehingga seorang da’i harus ikhlas dalam  berdakwah (lihat <em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, Syaikh  Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar’awi, hal. 50). Berdakwah kepada  hukum-hukum Allah juga termasuk dalam dakwah kepada Allah, karena hal  itu merupakan ajakan terhadap apa yang diperintahkan dan untuk menjauhi  apa yang dilarang oleh-Nya (lihat <em>adh-Dhau’ al-Munir fi at-Tafsir</em>,  hal. 550). Artinya, semestinya dakwah yang diserukannya bukanlah dalam  rangka meraih target kekuasaan, ambisi tertentu, harta, ataupun  urusan-urusan dunia lainnya. Akan tetapi dakwahnya bertujuan mengajak  manusia mentauhidkan Allah dan mengikuti syari’at-Nya (<em>Syarh Kitab at-Tauhid</em>, Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em>, hal. 42)</p>
<p>Dari sini kita mengetahui bahwa yang dimaksud mengajak kepada Allah ialah:</p>
<ol>
<li>Mengajak kepada agama-Nya, yaitu Islam</li>
<li>Mengajak kepada tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah</li>
<li>Mengajak untuk menempuh jalan menuju surga-Nya, yaitu jalan      yang lurus</li>
<li>Mengajak untuk menerapkan hukum-hukum Allah, yaitu melaksanakan      perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengajak Kepada Agama-Nya</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dialah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama…”</em> (<strong>QS. al-Fath: 28</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sesungguhnya agama -yang benar- di sisi Allah adalah Islam.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 19</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa  yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima  darinya dan di akherat nanti dia pasti termasuk golongan orang-orang  yang merugi.”</em> (<strong>QS. Ali Imran: 85</strong>).</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman bersabda, <em>“Sesungguhnya  kamu akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab, hendaknya  kamu ajak mereka untuk bersyahadat tiada sesembahan -yang benar- selain  Allah dan bahwasanya aku adalah utusan Allah…”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>).  Hadits ini menunjukkan pula kepada kita bahwasanya seseorang tidak  dihukumi sebagai muslim kecuali setelah dia mengucapkan dua kalimat  syahadat, demikian keterangan Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> (lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/48]). Hal ini tentu saja berbeda jauh dengan apa yang sering  digembar-gemborkan oleh kaum liberal dan pluralis bahwa seorang bisa  menjadi muslim tanpa mengikuti agama Islam dan tanpa dua kalimat  syahadat [?!] Kalau pun mereka menamai gerakan mereka sebagai Jaringan  Islam Liberal -dengan label Islam- maka itu sebenarnya menunjukkan  betapa pengecutnya mereka sehingga tidak berani untuk menyingkap hakekat  dakwah mereka yang berisi kekafiran! <em>Mereka malu kepada manusia tetapi tidak malu kepada Allah, padahal Dia senantiasa mengawasi gerak-gerik mereka… </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengajak Kepada Tauhid</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami  telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku,  sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 59</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan  kepada kaum ‘Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata;  Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 65</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan  kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata;  Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 73</strong>). Allah<em> ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan  kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu’aib. Dia  berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan  selain-Nya.”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 85</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</em> (<strong>QS. an-Nahl: 36</strong>).  Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah  dakwah tauhid. Demikian juga semestinya yang dilakukan oleh para ulama  dan da’i yang melanjutkan perjuangan mereka…</p>
<p>Oleh sebab itu mereka pun senantiasa memperingatkan umat dari bahaya syirik. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh  telah diwahyukan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu, apabila kamu berbuat  syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu, dan kamu benar-benar akan  termasuk golongan orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>QS. az-Zumar: 65</strong>). Nabi Ibrahim<em> ‘alaihis salam</em> pun berdoa kepada Allah supaya dijauhkan dari pemujaan kepada berhala, sebagaimana dikisahkan dalam ayat (yang artinya), <em>“Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari pemujaan kepada berhala.”</em> (QS. Ibrahim: 35).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengungkap Kesalahpahaman Tentang Tauhid</strong></span></p>
<p>Banyak yang mengira bahwa tauhid adalah sekedar keyakinan bahwa Allah  itu satu, tidak berbilang. Tauhid itu maknanya Allah satu-satunya  pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta. Itulah yang biasa  dikenal di dalam istilah para ulama sebagai tauhid rububiyah, yaitu  mengakui keesaan Allah dalam perkara mencipta, mengatur dan semacamnya.  Padahal, tauhid yang menjadi inti dakwah para nabi dan rasul bukan itu.  Tauhid yang menjadi tujuan utama dakwah ialah tauhid uluhiyah; yaitu  menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan  segala sesembahan selain-Nya. Hal itu sebagaimana yang dijelaskan oleh  Allah dalam ayat (yang artinya), <em>“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan apapun.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 36</strong>).</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Bukanlah  yang dimaksud dengan tauhid itu sekedar tauhid rububiyah yaitu  keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam sebagaimana yang  disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf.  Bahkan, mereka menyangka apabila mereka telah bisa menetapkan kebenaran  hal ini dengan bukti dalil maka mereka merasa telah mengukuhkan hakekat  tauhid. Mereka beranggapan apabila mereka telah menyaksikan dan mencapai  tingkatan ini maka itu artinya mereka telah berhasil menggapai puncak  ajaran tauhid. Padahal sesungguhnya apabila ada seseorang yang mengakui  sifat-sifat yang menjadi keagungan Allah ta’ala dan menyucikan-Nya dari  segala sesuatu yang mencemari kedudukan-Nya dan juga meyakini bahwasanya  Allah satu-satunya pencipta segala sesuatu, tidaklah dia menjadi  seorang muwahid sampai dia mengucapkan syahadat la ilaha illallah; tiada  sesembahan yang benar kecuali Allah semata, sehingga dia mengakui bahwa  Allah semata yang berhak untuk diibadahi dan dia menjalankan ibadah  kepada Allah serta tidak mempersekutukan-Nya.”</em> (Dikutip dari <em>Fath al-Majid</em>, hal. 15-16)</p>
<p>Kesalahpahaman ini muncul dari kalangan Mutakallimin/filsafat, Asya’irah dan Mu’tazilah yang mengartikan kata <em>ilah</em> dalam syahadat <em>la ilaha illallah</em> dengan makna <em>al-Qadir</em>; artinya yang berkuasa. Sehingga mereka menafsirkan <em>la ilaha illallah</em> dengan tiada yang berkuasa untuk mencipta kecuali Allah. Oleh sebab itu di dalam kitab pegangan mereka semisal <em>Ummul Barahin</em>, dijelaskan bahwa makna <em>ilah</em> adalah Dzat yang tidak membutuhkan selain diri-Nya sedangkan segala  sesuatu selain-Nya membutuhkan-Nya. Ini artinya mereka telah  menyimpangkan makna tauhid uluhiyah kepada tauhid rububiyah. Hal ini  pula yang menimbulkan munculnya pemaknaan <em>la ilaha illallah</em> dengan ‘tiada tuhan selain Allah’, karena istilah tuhan di sini  dimaknakan dengan Rabb/pencipta, pengatur dan pemelihara alama semesta.  Padahal, yang benar maknanya adalah tiada sesembahan yang benar selain  Allah (lihat <em>at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 75-76)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Menjelaskan Hakekat Ibadah</strong></span></p>
<p>Dakwah tauhid tidak tegak tanpa pemahaman yang benar mengenai hakekat  ibadah. Oleh sebab itu menjelaskan kepada umat mengenai keluasan  cakupan ibadah dan pilar-pilarnya merupakan bagian yang tidak  terpisahkan dari dakwah tauhid itu sendiri. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Rabb  kalian berkata: Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan.  Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah  kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.”</em> (<strong>QS. Ghafir: 60</strong>). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Ibadah  merupakan sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan  diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang batin maupun lahir.  Ini artinya sholat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara,  menunaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali  kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang  mungkar, berjihad memerangi orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada  tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, maupun budak dari  kalangan manusia atau binatang piaraan, doa, dzikir, membaca al-Qur’ab,  dan lain sebagainya itu semua adalah ibadah. Demikian juga kecintaan  kepada Allah dan rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, inabah kepada-Nya,  mengikhlaskan agama untuk-Nya, bersabar menghadapi ketetapan-Nya,  mensyukuri nikmat-Nya, ridha dengan takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya,  mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan semisal itu pun  termasuk ibadah kepada Allah.”</em> (<em>al-’Ubudiyah</em>, hal. 6)</p>
<p>Ibadah pada asalnya mengandung makna perendahan diri, akan tetapi  ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah suatu  bentuk perendahan diri yang paling tinggi kepada Allah dengan disertai  puncak rasa cinta kepada-Nya. Seorang yang menundukkan dirinya kepada  orang lain namun menyimpan rasa benci kepadanya tidaklah dianggap  beribadah kepadanya. Demikian juga orang yang mencintai seseorang namun  tidak menundukkan diri kepadanya pun tidak dikatakan beribadah  kepadanya. Oleh sebab itu kedua pilar ibadah tersebut -yaitu perendahan  diri dan puncak kecintaan- itu harus selalu ada dalam menjalani ibadah  kepada Allah. Bahkan Allah harus lebih dicintainya daripada segala  sesuatu dan menjadi sosok yang paling agung daripada segala-galanya.  Bahkan, tidaklah berhak untuk mendapatkan rasa cinta dan ketundukan yang  sempurna kecuali Allah semata. Segala sesuatu yang dicintai bukan  karena Allah maka kecintaannya adalah kecintaan yang rusak/tidak sah.  Begitu pula tidaklah sesuatu selain Allah diagung-agungkan tanpa  perintah dari-Nya melainkan pengagungan itu adalah sebuah kebatilan  (lihat <em>al-’Ubudiyah</em>, hal. 12)</p>
<p>Ibadah ditopang dengan tiga buah pilar amalan hati, yaitu:</p>
<ol>
<li>Rasa cinta</li>
<li>Rasa takut</li>
<li>Rasa harap (lihat <em>at-Tauhid al-Muyassar</em>, hal. 53)</li>
</ol>
<p>Ketiga hal di atas harus terkumpul dalam diri seorang muslim, tidak  boleh dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Barangsiapa yang  bersandar hanya kepada salah satunya dan menyingkirkan yang lainnya  maka dia tidak beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Beribadah  kepada Allah hanya dengan cinta adalah jalan kaum Sufi. Beribadah  kepada Allah hanya dengan harapan adalah jalan kaum Murji’ah. Beribadah  kepada Allah hanya dengan rasa takut adalah jalan kaum Khawarij (lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad</em>, hal. 35)</p>
<p>Ibadah terdiri dari tiga jenis amalan:</p>
<ol>
<li>Amalan hati</li>
<li>Amalan lisan</li>
<li>Amalan anggota badan (lihat <em>Fath al-Majid</em>, hal. 17)</li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Menjelaskan Hakekat Syirik dan Bahayanya</strong></span></p>
<p>Mendakwahkan islam dan tauhid tidak akan terwujud kecuali dengan  menjelaskan hakekat syirik dengan sejelas-jelasnya, sehingga dengan itu  seorang muslim akan selamat dari bahayanya. Oleh sebab itu kita dapati  banyak dalil dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah yang menjelaskannya. Di  antaranya adalah syirik dalam hal doa. Yaitu tatkala seorang hamba  menujukan doanya kepada Allah dan juga kepada selain-Nya. Dia gantungkan  harapan dan rasa takutnya kepada selain Allah di samping harapan dan  takut kepada-Nya. Allah <em>ta’ala</em> berfirman mengenai ulah orang-orang musyrik (yang artinya), <em>“Kemudian  apabila mereka naik di atas perahu (kemudian diterjang badai lautan)  maka mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama  untuk-Nya, namun ketika Allah selamatkan mereka ke daratan tiba-tiba  mereka pun kembali melakukan kesyirikan.”</em> (<strong>QS. al-Ankabut: 65</strong>)</p>
<p>Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah dalam  hal-hal yang menjadi kekhususan bagi Allah. Syirik ini terbagi menjadi  dua:</p>
<ol>
<li>Syirik akbar; yaitu segala sesuatu yang disebut sebagai       kesyirikan oleh pembuat syari’at dan padanya terkandung tindakan keluar       dari agama</li>
<li>Syirik asghar; yaitu segala perbuatan atau ucapan yang disebut       sebagai syirik atau kekafiran namun berdasarkan dalil-dalil yang lain       diketahui bahwa ternyata hal itu tidak mengeluarkan dari agama (lihat  <em>at-Tauhid      al-Muyassar</em>, hal. 20)</li>
</ol>
<p>Bahaya syirik banyak sekali, diantaranya adalah:</p>
<ol>
<li>Pelakunya tidak akan diampuni apabila mati dalam keadaan belum      bertaubat darinya (lihat an-Nisaa’: 48)</li>
<li>Pelakunya keluar dari Islam, menjadi halal darah dan hartanya      (lihat at-Taubah: 5)</li>
<li>Amalan apa saja yang dilakukan tidak akan diterima oleh Allah,       ia hanya akan menjadi sia-sia bagaikan debu yang beterbangan (lihat       al-Furqan: 23)</li>
<li>Pelakunya haram masuk surga (lihat al-Ma’idah: 72) (lihat <em>at-Tauhid      al-Muyassar</em>, hal. 26)</li>
</ol>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengajak Kepada Jalan Yang Lurus</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Yaitu jalannya  orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang  yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”</em> (<strong>QS. al-Fatihah: 7</strong>). Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa hakekat jalan yang lurus itu akan diperoleh dengan cara mengenali kebenaran dan mengamalkannya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 39). Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Dengan  ucapan anda ‘Ihdinash shirathal mustaqim’ itu artinya anda telah  meminta kepada Allah ta’ala ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.”</em> (<em>Tafsir Juz ‘Amma</em>, hal. 12).</p>
<p>Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Maka  orang yang diberi nikmat atas mereka yaitu orang yang berilmu sekaligus  beramal. Adapun orang-orang yang dimurkai yaitu orang-orang yang berilmu  namun tidak beramal. Sedangkan orang-orang yang tersesat ialah  orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu.”</em> (<em>Tsamrat al-’Ilmi al-’Amalu</em>, hal. 14). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan bahwa penyebab orang terjerumus dalam kesesatan ialah  rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan penyebab orang terjerumus dalam  kemurkaan ialah rusaknya niat dan amalan (lihat <em>al-Fawa’id</em>, hal. 21)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman memberitakan ucapan Nabi ‘Isa <em>‘alaihis salam</em> (yang artinya), <em>“Maka  bertakwalah kalian kepada Allah dan taatilah aku. Sesungguhnya Allah  adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang  lurus.” </em>(<strong>QS. Ali Imran: 50-51, </strong>lihat juga<strong> QS. Az-Zukhruf: 63-64</strong>). Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Inilah,  yaitu penyembahan kepada Allah, ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan  kepada rasul-Nya merupakan ‘jalan lurus’ yang mengantarkan kepada Allah  dan menuju surga-Nya, adapun yang selain jalan itu maka itu adalah  jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.”</em> (<em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 132). Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“…Sesungguhnya  kebenaran itu hanya satu, yaitu jalan Allah yang lurus, tiada jalan  yang mengantarkan kepada-Nya selain jalan itu. Yaitu beribadah kepada  Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun, dengan cara menjalankan  syari’at yang ditetapkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi  wa sallam, bukan dengan [landasan] hawa nafsu maupun bid’ah-bid’ah…”</em> (<em>at-Tafsir al-Qayyim</em>, hal. 116-117)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Bukankah Aku  telah berpesan kepada kalian, wahai keturunan Adam; Janganlah kalian  menyembah syaitan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.  Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”</em> (<strong>QS. Yasin: 60-61</strong>). Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> menerangkan, bahwa yang dimaksud ‘mentaati syaitan’ itu mencakup segala  bentuk kekafiran dan kemaksiatan. Adapun jalan yang lurus itu adalah  beribadah kepada Allah, taat kepada-Nya, dan mendurhakai syaitan (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 698)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Mengajak Kepada Hukum Allah</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Tidak pantas  bagi seorang yang beriman, lelaki ataupun perempuan, apabila Allah dan  rasul-Nya telah menetapkan suatu urusan kemudian ada bagi mereka pilihan  yang lain dalam urusan mereka itu. Barangsiapa yang durhaka kepada  Allah dan rasul-Nya sungguh di telah tersesat dengan kesesatan yang amat  nyata.”</em> (<strong>QS. al-Ahzab: 36</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Demi  Rabbmu, sesungguhnya mereka tidaklah beriman sampai mereka mau  menjadian kamu (Muhammad) sebagai hakim atas segala yang diperselisihkan  di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati rasa sempit dalam  hati mereka atas apa yang kamu putuskan, dan mereka pasrah dengan  sepenuhnya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 65</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Kemudian  apabila kalian berselisih tentang suatu perkara, kembalikanlah kepada  Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah) jika kalian benar-benar beriman  kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih baik dan lebih bagus  akibatnya.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 59</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Barangsiapa yang menaati rasul sesungguhnya dia telah menaati Allah.”</em> (<strong>QS. an-Nisaa’: 80</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari. Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah, bagi orang-orang yang yakin.”</em> (<strong>QS. al-Ma’idah: 50</strong>). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan putuskanlah hukum di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu mereka.”</em> (<strong>al-Ma’idah: 49</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan janganlah kalian merusak bumi setelah perbaikannya.”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 56</strong>). Abu Bakr bin ‘Iyasy <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya  Allah telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada  segenap penduduk bumi sementara ketika itu mereka berada dalam  kerusakan, maka Allah memperbaiki mereka dengan diutusnya Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang mengajak untuk  menyelisihi/menentang ajaran yang dibawa oleh Muhammad shallallahu  ‘alaihi wa sallam, itu artinya dia termasuk golongan orang-orang yang  melakukan perusakan di atas muka bumi.”</em> (<em>Fath al-Majid</em>, hal. 383). Syaikh Abdurrahman bin Hasan <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“…Berhukum  kepada selain Allah dan rasul-Nya termasuk sebab paling besar yang  menimbulkan kerusakan di atas muka bumi sehingga memunculkan berbagai  kemaksiatan, maka tiada kebaikan baginya kecuali dengan berhukum dengan  Kitab Allah dan Sunnah rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah  jalannya orang-orang yang beriman.”</em> (<em>Fath al-Majid</em>, hal. 383)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Berdakwah Dengan Ilmu</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dakwah bukan perkara sembarangan. Ia membutuhkan perbekalan dan  pemahaman. Seorang yang berdakwah berarti mengajak orang untuk beragama  dengan pemahaman yang disebarkannya. Apabila pemahamannya keliru, maka  menimbulkan pemahaman orang yang didakwahinya pun menjadi keliru.  Sehingga yang seharusnya dia bisa bergembira dengan limpahan pahala  berlipatganda karena dakwahnya, namun karena kebodohan justru sebaliknya  yang dia peroleh, dosa bertumpuk-tumpuk yang dia dapatkan, <em>wal ‘iyadzu billah</em>.</p>
<p>Salah satu sebab yang banyak mengacaukan dakwah ini adalah ketidakadaan ilmu. Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“..  karena sesungguhnya perkara yang paling banyak merusak dakwah adalah  ketiadaan ikhlas atau ketiadaan ilmu. Dan yang dimaksud ‘di atas  bashirah’ itu bukan ilmu syari’at saja. Akan tetapi ia juga mencakup  ilmu mengenai syari’at, ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi, dan  ilmu tentang cara untuk mencapai tujuan dakwahnya; itulah yang dikenal  dengan istilah hikmah…”</em> (<em>al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid</em> [1/82]). Syaikh Abdurrazzaq al-Badr <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Adapun orang yang berdakwah tanpa bashirah/ilmu, maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”</em> (<em>Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah</em>, hal. 111)</p>
<p>Dari Mu’awiyah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda, <em>“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan dari Allah, niscaya akan dipahamkan dalam agama.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam <em>hafizhahullah</em> berkata, <em>“Sesungguhnya  di antara buah yang bisa dipetik dari bertafaqquh/mendalami agama Allah  adalah berjalan di atas jalan keselamatan dari fitnah/kekacauan…”. </em>Itulah  metode yang ditempuh oleh para sahabat sehingga mereka bisa selamat  dari api fitnah. Seperti contohnya ketika mereka berselisih mengenai  siapakah yang menggantikan Nabi, maka mereka pun merujuk kepada dalil  dan pasrah kepadanya sehingga perselisihan pun usai. Sehingga  diangkatlah Abu Bakar sebagai khalifah karena beliau adalah dari  Quraisy, sebagaimana yang dipesankan oleh Nabi agar pemimpin umat ini  dari kalangan mereka. Kemudian Syaikh Muhammad al-Imam berkata, <em>“Lihatlah  bagaimana perselisihan itu bisa dibendung dengan sebab tafaqquh dalam  agama serta pasrah kepada dalil, dan lihatlah betapa banyak perselisihan  yang timbul di kalangan para sahabat akhirnya lenyap dan berakhir  apabila telah datang dalil dan keterangan syari’at. Maka tafaqquh dalam  agama merupakan asas semua kebaikan, akan tetapi itu berlaku apabila ia  diasuh oleh seorang guru yang benar akidahnya dan selamat manhajnya  serta baik niatnya…”</em> (<em>at-Tanbih al-Hasan fi Mauqif al-Muslim min al-Fitan</em>)</p>
<p>Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya  Allah tidak akan mencabut ilmu dengan serta-merta mencabutnya dari  hamba-hamba-Nya. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan  para ulama, sampai apabila sudah tidak disisakan lagi seorang yang  berilmu, maka orang-orang pun mengangkat para pemimpin dari kalangan  orang-orang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu. Mereka itu  sesat dan menyesatkan.”</em> (<strong>HR. Bukhari</strong>).</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Menyucikan Allah Dari Segala Celaan</strong></span></p>
<p>Celaan atau penodaan terhadap keagungan Allah dan agama-Nya timbul  karena dakwah yang disampaikan tidak berlandaskan bashirah/ilmu. Oleh  sebab itu, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjelaskan makna ayat ‘Maha suci Allah’, maksudnya di sini adalah, <em>“Maha suci Allah dari dakwah yang aku lakukan yang tidak berlandaskan bashirah!”</em> (<em>al-Qaul al-Mufid</em> [1/83]). Akibat dari berbicara tentang Allah dan agama-Nya tanpa ilmu,  maka terjadilah berbagai bentuk penodaan dan pelecehan terhadap  keagungan Allah dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya (lihat <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>, hal. 406). Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Katakanlah;  Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan perkara-perkara keji yang tampak  ataupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa hak,  kamu mempersekutukan Allah yang sama sekali tidak ada dalil yang  diturunkan untuk membenarkannya, dan kamu berbicara mengatasnamakan  Allah apa-apa yang tidak kamu ketahui.”</em> (<strong>QS. al-A’raaf: 33</strong>)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Berlepas Diri Dari Penganut Kesyirikan</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Dan ingatlah,  tatkala Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya; Sesungguhnya aku  berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali Yang Menciptakanku.”</em> (<strong>QS. az-Zukhruf: 26</strong>).  Seorang yang hendak merealisasikan tauhid di dalam dirinya maka dia  harus berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah (lihat <em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 32). Sehingga tidak akan terkumpul pada diri seseorang antara keimanan dengan rasa cinta kepada musuh-musuh Allah. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Sungguh  telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang  bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya  kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain  Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian  permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman  kepada Allah saja.”</em> (<strong>QS. al-Mumtahanah: 4</strong>).</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
 