
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih Sayang</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Tatkala Anda tahu bahwa kecintaan Allah adalah tujuan mendidik anak</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka ketahuilah bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">mendidik anak dengan cinta karena-Nya adalah perkara yang dicintai-Nya.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">amatlah mencintai hamba-hamba-Nya yang didalam hatinya terdapat kasih sayang dan cinta kepada sesamanya. Dari Abdullah bin ‘Amr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;">الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Renungkanlah,</span> <b>tidakkah kita mau menjadi orang yang disayangi-Nya dan dicintai-Nya melalui cara mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan cinta karena Allah<i>?</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perhatikanlah hadis berikut ini, bagaimana Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengasuh dua anak kecil, Usamah bin Zaid dan  Al-Hasan bin Ali dengan asuhan cinta. Dari Usamah bin Zaid </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa beliau memeluk dirinya dan Al-Hasan lalu bersabda, </span></p>
<p style="text-align: right;">اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا أَوْ كَمَا قَال</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya maka itu cintailah keduanya”, atau sebagaimana beliau sabdakan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al-Bukhari).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Usamah bin Zaid </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa Rasulullah  </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a, </span></p>
<p style="text-align: right;">اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Al-Bukhari).</span></p>
<p><b>Pelajaran</b></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Di dalam hadis yang agung di atas terdapat isyarat bahwa kecintaan dan kasih sayang beliau kepada dua anak kecil tersebut adalah cinta dan kasih sayang yang ikhlas karena Allah dan demi mengharap keridhaan-Nya, karena mengiringi kecintaan dan kasih sayangnya dengan kecintaan dan kasih sayang Allah sebagai dasarnya sekaligus buahnya.</span></li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Mengasuh anak dengan cinta dan kasih sayang yang ikhlas adalah perkara yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam! </span></i><span style="font-weight: 400;">Maka barangsiapa mempraktekkannya berarti ia mengikuti suri teladan terbaik, Rasulullah  </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan barangsiapa yang mengikuti beliau, maka tanda bahwa ia mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, karena Allah berfirman,<br>
</span>
<p style="text-align: right;">قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Ali Imraan: 31).<br>
</span>Imam Ibnu Katsir <i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyatakan:<br>
</span></p>
<p style="text-align: right;">هذه الآية الكريمة حاكمة على كل من ادعى محبة الله ، وليس هو على الطريقة المحمدية فإنه كاذب في دعواه في نفس الأمر ، حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأحواله</p>
<p>“Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengklaim bahwa dirinya mencintai Allah, jika ia tidaklah berada di atas Sunnah Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka sesungguhnya ia berdusta dalam masalah tersebut hingga mengikuti Syari’at dan agama (yang dibawa) Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam seluruh ucapan maupun perbuatannya”.</p>
</li>
</ol>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 