
<p><em>Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>
<p>Rasa lapang dada adalah sebuah tujuan yang sangat besar dan mulia, yang mana setiap hamba pasti ingin memilikinya. Bagaimana tidak? Rasa lapang dada adalah salah satu sebab paling utama agar kita selalu mensyukuri semua yang telah Allah <em>Ta’ala</em> berikan kepada kita. Rasa lapang dada juga merupakan kunci utama agar selalu bersabar. Sabar merupakan pintu kesuksesan kita di kehidupan dunia ini.</p>
<p>Jika Allah <em>Ta’ala </em>telah mengaruniakan rasa lapang dada ini kepada salah satu hamba-Nya, maka itu pertanda bahwasannya Allah <em>Ta’ala</em> telah memudahkan urusannya. Sehingga akan mudah baginya untuk melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta dimungkinkan baginya untuk selalu konsisten di dalam melakukan kebaikan.</p>
<p>Adapun jika Allah <em>Ta’ala</em> menyempitkan hati seorang hamba, maka urusan hamba tersebut akan menjadi kacau balau. Sehingga ia tidak bisa fokus di dalam menjalankan pekerjaannya, dan aktivitas kesehariannya tidak akan mengarah kepada kebaikan, bahkan ia akan selalu merasa khawatir dan sedih.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Makna lapang dada</strong></span></h2>
<p>Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr <em>Hafidzhohullah</em> menyebutkan di dalam karyanya,</p>
<p>“Maksud dari lapang dada adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa tidak nyaman dan masalah dari hati, serta terus menerus merasa bahagia di kehidupan yang mulia dan baik.”</p>
<p>Maka bisa diambil kesimpulan bahwasannya lapang dada adalah sebab terbesar yang dapat menolong seorang hamba di dalam mencapai tujuan dan meraih semua keinginan. Maka ketika Allah <em>Ta’ala </em>memerintahkan Nabi-Nya Musa ‘<em>Alaihissalam </em>untuk pergi menemui Fir’aun dalam rangka mendakwahi dan memberi peringatan kepadanya akan konsekuensi dari kecongkakannya, Nabi Musa ‘<em>Alahissalam </em>mengangkat wajahnya ke langit seraya berdoa,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي</span></p>
<p>“<em>Wahai Rabb-ku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah semua urusanku</em>” (QS. Thaha: 25).</p>
<p>Dan Allah <em>Ta’ala </em>juga berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ</span></p>
<p><em>“Bukankah kami telah melapangkan dadamu (</em><em>wahai </em><em>Muhammad)?” </em>(QS. Asy-Syarh: 1).</p>
<p>Dari kedua ayat ini bisa kita ketahui bahwa hakikat lapang dada yang sebenarnya adalah yang bersumber dari Allah <em>Ta’ala </em>semata. Itu merupakan karunia yang Allah <em>Ta’ala </em>berikan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, orang yang memanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan berpeluang besar mendapatkan hidayah.</p>
<p>Sedangkan orang yang menyia-nyiakan nikmat lapang dada yang Allah <em>Ta’ala </em>berikan, maka akan mudah baginya terjerumus ke dalam kesesatan. Sebagaimana lapangnya dada adalah kenikmatan yang paling utama, maka menyia-nyiakannya adalah seberat-beratnya ujian.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/67832-cara-mengobati-hati-yang-sempit-dan-depresi.html" data-darkreader-inline-color="">Cara Mengobati Hati yang Sempit dan Depresi</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hal-hal yang harus diperhatikan untuk meraih rasa lapang dada</strong></span></h2>
<p>Syekh Abdurrazzaq <em>Hafidzhohullah</em> menjelaskan, “Tidaklah mungkin kita memperoleh kedudukan yang agung ini, kecuali dengan memperhatikan agama kita dengan sebenar-benarnya, serta menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Setiap kali seorang hamba bersemangat istikamah menjalankan agama ini, serta berkomitmen dengan apa yang datang dengannya, maka ia layak mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan apa yang dia perbuat.”</p>
<p>Oleh karena itu, seluruh sebab yang akan mengarahkan kita untuk mendapatkan kelapangan dada bermuara pada dua hal yang saling berkaitan, sebagai berikut:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> lapang dada tidak akan bisa kita raih kecuali dengan taufik atau petunjuk dari Allah <em>Ta’ala, </em>dan pertolongan dari-Nya.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> pemberian dari Allah ini tidaklah datang kepada seorang hamba, kecuali dengan cara mentaati-Nya dan konsisten di dalam menjalankan syariat-Nya.</p>
<p>Maka kedua hal ini merupakan intisari dari pembahasan lapang dada. Karena sejatinya hati kita berada di tangan Allah <em>Subhaanahu wa Ta’ala,</em> Allah dapat membolak-balik hati kita sesuai kehendak-Nya. Apa yang Allah <em>Ta’ala </em>kehendaki akan terjadi, dan apa yang tidak Allah <em>Ta’ala </em>kehendaki tidak akan terjadi. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ يَشْرَحْ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ  ۖ  وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُۥ يَجْعَلْ صَدْرَهُۥ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجْسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya hidayah, maka Allah akan lapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatan baginya, Allah akan jadikan dadanya sempit dan sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit</em> ” (QS. Al-An’am: 125).</p>
<p>Satu-satunya cara meraih kelapangan dada adalah dengan taufik dari Allah <em>Ta’ala.</em> Sudah sepantasnya kita hanya meminta kepada-Nya dengan cara yang sesuai syariat dan wahyu dari-Nya. Hal yang bisa dilakukan seorang mukmin untuk meraih kelapangan dada adalah dengan berdoa kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan menyandarkan semua urusan hanya kepada-Nya. Kemudian diikuti dengan menjalankan sebab-sebab yang bisa mengantarkannya untuk meraih tujuan mulia ini. Ibnul Qayyim <em>Rahimahullah</em> pernah menyebutkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أن حال العبد في القبر كحال القلب في الصدر نعيما وعذابا، وسجنا وانطلاقا</span></p>
<p>“Keadaan seorang hamba di alam kubur itu sebagaimana keadaan hati di dalam dada, baik itu merasakan kenikmatan atau kesengsaraan, rasa terkekang maupun kebebasan.”</p>
<p>Barangsiapa yang dadanya terasa sempit dan sesak karena menjalankan agama ini, begitu pula-lah keadaan kuburnya; akan sempit dan sesak pula. Barangsiapa yang dadanya lapang serta menerima agama ini, maka Allah <em>Ta’ala</em> akan lapangkan kuburnya.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/67494-mengobati-kegalauan-bag-3.html" data-darkreader-inline-color="">Mengobati Kegalauan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Ciri-ciri hamba yang Allah <em>Ta’ala </em>lapangkan dadanya</strong></span></h2>
<p>Kelapangan dada itu tanda-tandanya sangat jelas, serta nampak pada seorang mukmin dan itu terangkum pada tiga hal.</p>
<p><em>Pertama, </em>menerima dan meyakini akan adanya akhirat atau alam keabadian.</p>
<p><em>Kedua, </em>menjauhkan diri atau mencukupkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang fana ini.</p>
<p><em>Ketiga, </em>menyiapkan diri dari kematian dan kehidupan setelahnya.</p>
<p>Sehingga bila terwujud tiga hal ini di hati seorang hamba, sungguh itu adalah tanda bahwa Allah melapangkan dadanya dan menenangkan hatinya.</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>Rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">… كما في الأثر المشهور: إذا دخل النور القلب انفسح وانشرح، قيل : ومت علامة ذلك ؟ قال: التجافي عن دار الغرور، والإنابة إلى دار الخلود، والإستعداد للموت قبل نزوله</span></p>
<p>“Disebutkan di dalam sebuah <em>atsar</em> yang terkenal, bilamana cahaya masuk ke dalam hati, maka hati tersebut akan merasa lapang dan menerima. Dikatakan kepadanya, ‘Apa tandanya?’ Dijawab, ‘(1) Mencukupkan diri dari dunia yang penuh tipuan; (2) condong kepada kehidupan abadi (akhirat); dan (3) menyiapkan diri menghadapi kematian sebelum kematian itu mendatanganinya.'”</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Sepuluh sebab yang dianjurkan syariat untuk meraih lapang dada</strong></span></h2>
<p><em>Pertama, </em>mengesakan Allah <em>Ta’ala </em>dan mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya.</p>
<p><em>Kedua, </em>cahaya yang Allah <em>Ta’ala</em> karuniakan ke dalam hati hamba-Nya.</p>
<p><em>Ketiga, </em>menuntut ilmu yang bermanfaat.</p>
<p><em>Keempat, </em>kembali kepada Allah <em>Ta’ala </em>dan menghadap kepada-Nya dengan sebaik-baik kondisi.</p>
<p><em>Kelima, </em>konsisten di dalam berzikir (mengingat Allah <em>Ta’ala</em>).</p>
<p><em>Keenam, </em>berbuat baik kepada hamba-hamba Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p><em>Ketujuh, </em>keberanian dan kuatnya hati.</p>
<p><em>Kedelapan, </em>menjauhkan diri dari penyakit-penyakit hati dan racun-racunnya.</p>
<p><em>Kesembilan, </em>meninggalkan berlebih-lebihan di dalam semua aspek kehidupan.</p>
<p><em>Kesepuluh, </em>mengikuti petunjuk Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dengan sebaik-baiknya.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/28438-sering-menangis-karena-film-sedih-namun-tidak-pernah-menangis-karena-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Sering Menangis Karena Film Sedih, Namun Tidak Pernah Menangis Karena Allah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/22187-jangan-bersedih-jika-dakwah-anda-tidak-diterima.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Bersedih Jika Dakwah Anda Tidak Diterima</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/idrissaelany" data-darkreader-inline-color="">Muhammad Idris</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<p>Bersumber dari <em>Asyartu Asbabin Linsyirahi As-sadr</em> (10 Sebab Memperoleh Rasa Lapang Dada) karya Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr <em>Hafidzhohullah </em>dengan beberapa perubahan.</p>
 