
<h3><strong>Pengertian Aqiqah</strong></h3>
<p>Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, aqiqah yaitu sembelihan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat diberi anak yg dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran si bayi. Untuk bayi laki-laki 2 ekor kambing, sedangkan untuk bayi perempuan 1 ekor kambing.</p>
<h3><strong>Hukum Aqiqah</strong></h3>
<p><strong></strong>Para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Sebagian ada yang mewajibkannya namun mayoritas mengatakan sunnah. <strong></strong></p>
<p>a. Pihak yang <strong>Mewajibkan</strong> Aqiqah, antara lain:</p>
<p>Syaikh Abdul ‘Azhim Al Badawi <em>Rahimahullah</em> dalam kitab <em>Al-Wajiiz</em> menyatakan bahwa ‘aqiqah adalah suatu kewajiban atas orangtua.</p>
<p>Dari Salman bin Amir adh-Dhabby <em>Radhiyallahu’anhu</em>, ia bertutur:</p>
<p>“Saya pernah mendengar Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em> bersabda<em>,”Bersama seorang anak itu ada ‘aqiqahnya. Karena itu alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah gangguan darinya.”</em> (<em>Shahih Ibnu Majah</em> no:2562u <em>Fathul Bari</em> IX: 590 no 5472,<em>‘Aunul Ma’bud</em> VIII:41 no:2822u <em>Tirmidzi</em> III: 35 no:1551 dan <em>Nasa’i</em> VII:164)</p>
<p>b. Pihak yang Menyatakan Aqiqah itu <strong>Sunnah</strong>, antara lain:</p>
<p>– Syaikh Utsaimin <em>Rahimahullah</em> : ‘Aqiqah adalah sunnah muakkadah (sunnah yg amat dianjurkan). Bagi orang yg tidak mampu melakukannya maka gugur kewajiban (sunnah) ini darinya.</p>
<p>– Imam Ahmad <em>Rahimahullah</em> berkata ‘Aqiqah merupakan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau telah melakukannya untuk Hasan dan Hushain. Para sahabat beliau juga melakukannya. Dan Dari Hasan bin Samurah <em>radhiyallahu’anhu,</em> Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p><em>“Semua anak yg lahir tergadaikan dengan ‘aqiqahnya.”</em> (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i).</p>
<p>Sehingga tidak patut, jika seorang bapak tidak melakukan ‘aqiqah untuk anaknya. (<em>Al Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Fauzan</em> (3/194)).</p>
<h3><strong>Waktu Aqiqah</strong></h3>
<p><strong></strong>Disunnahkan pada hari ketujuh dari kelahiran jika terlewatkan maka pada hari ke empat belas kemudian jika terlewatkan lagi maka hari ke duapuluh satu.</p>
<p>Dari Burairah dari Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em>, beliau bersabda,”Kambing ‘aqiqah disembelih pada hari ketujuh atau ke 14 atau ke 21.” (<em>Shahihul Jami’us Shaghir</em> no: 4132 dan <em>Baihaqi</em> IX: 303).</p>
<p>Namun ada sebagian ulama di antaranya Syaikh Shalih Al Fauzan dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bolehnya melakukan ‘aqiqah selain waktu di atas tanpa batasan sehingga berdasarkan pendapat ini, maka orangtua yang belum mampu pada waktu-waktu tersebut dapat menundanya manakala sudah mampu.</p>
<h3><strong>Jumlah Kambing</strong></h3>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>, ia berkata,”Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> pernah menyuruh kami memotong aqiqah 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan sesekor kambing untuk anak perempuan.” (<em>Shahih Ibnu Majah</em> no:2561u <em>Ibnu Majah</em> II:1056 no:1163u <em>Tirmidzi</em> III:35 no:1549)</p>
<h3><strong>Terdapat Keringanan</strong></h3>
<p><strong></strong>Menurut Syaikh Ibnu Jibrin <em>Rahimahullah</em> bahwa disunnahkan untuk menyembelih 2 ekor kambing untuk anak laki-laki tapi jika tidak mampu maka insya Allah cukup dengan seekor kambing untuk anak laki-laki. Bisa juga dengan cara penyembelihan yang tidak bersamaan, misalnya yang seekor disembelih setelah 1 pekan, sementara yang seekor lagi setelah 2 pekan. (<em>Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah</em>)</p>
<h3><strong>Jenis Kambing</strong></h3>
<p>Para Ulama menyatakan bahwa kambing ‘aqiqah sama dengan kambing qurban dalam usia, jenis dan bebas dari aib dan cacat. Akan tetapi mereka tidak merinci tentang disyaratkan jantan/ betina. (Syaikh Utsaimin dalam <em>Syarah Nadzmu Waraqatu</em> hlm 89-90).</p>
<p>Dengan demikian sah bila seseorang menyembelih kambing betina dalam qurban dan ‘aqiqah, walaupun yang utama dan dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam</em> ialah kambing jantan yang bertanduk. <em>Wallahu a’lam</em></p>
<h3><strong>Siapa yang Membiayai ‘Aqiqah ?</strong></h3>
<p><strong></strong>Anak memang tanggung jawab orangtua, dengan begitu berarti ‘aqiqah seorang anak juga termasuk tanggungjawab orangtua. Namun boleh jika ‘aqiqah dibiayai oleh selain orangtua. Sebagaimana pendapat syaikh Ibnu Jibrin <em>Rahimahullah</em>, “Jika si anak di ‘aqiqahi oleh kakeknya atau saudaranya atau yang lainnya maka ini juga boleh. Tidak disyaratkan harus oleh ayahnya atau dibiayai sebagiannya.” (<em>Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah</em>)</p>
<h3>‘<strong>Aqiqah dibagikan kepada siapa saja?</strong>
</h3>
<p><strong></strong>Menurut syaikh Ibnu Jibrin <em>Rahimahullah</em>: Disunnahkan untuk dimakan 1/3nya, dihadiahkan 1/3nya kepada sahabatnya (teman-teman orangtuanya) dan disedekahkan 1/3nya kepada kaum muslimin. Namun boleh juga mengundang teman-teman dan kerabat untuk menghidangkannya atau disedekahkan semuanya.( <em>Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah</em>)</p>
<h3><strong>Apakah untuk Janin Prematur tetap diadakan ‘Aqiqah?</strong></h3>
<p><strong></strong>Menurut syaikh Ibnu Utsaimin<em> Rahimahullah</em>: Bila janin terlahir setelah 4 bulan maka hukumnya sebagaimana bayi hidup maupun mati. Karena jika telah sempurna 4 bulan roh telah ditiupkan. Jika terlahir setelah itu, maka dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan di pekuburan kaum muslimin, dinamai serta di’aqiqahi.</p>
<p>Jika terlahir sebelum ditiupkan roh (kandungannya berumur di bawah empat bulan, ed) maka menurut <em>Al-Lajnah ad Da’imah</em> adalah tidak ada ‘aqiqah baginya walaupun telah tampak sebagai laki-laki atau perempuan.</p>
<p>***<br>
Artikel muslimah.or.id<br>
Penyusun : Ummu Hamzah Galuh Pramita<br>
Murajaah: Ust Muhammad Abduh T</p>
<p><strong>Rujukan:</strong><em><br>
</em></p>
<ul>
<li>
<em></em><em>Aktsar min Alf Jawab lil Mar’ah</em> (Terj), Penerbit Darul Haq</li>
<li>
<em></em><em>Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil’aziz (</em>Terj), Pustaka As Sunnah</li>
<li><em>Majalah As Sunnah ed 04/IX/1426H</em></li>
</ul>
<p> </p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 