
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,</em><br>
Ana punya beberapa pertanyaan dan mohon penjelasan ustadz:</p>
<ol>
<li>Pada sholat <em>jahr</em> (contohnya sholat subuh), apakah makmum wajib membaca (al-fatihah) atau hanya diam mendengarkan bacaan imam hingga selesai sholat?</li>
<li>Misalnya seseorang masbuk dan mendapati berdiri bersama jama’ah dan membaca al-fatihah, namun ketika al-fatihah belum selesai, imam telah ruku’. Pertanyaannya; apakah bacaan al-fatihahnya disempurnakan ataukah langsung mengikuti gerak imam (ruku’) dengan memutus al-fatihah yang belum selesai dibaca tersebut. Kemudian apakah sebelum salam dia sujud sahwi atau tidak?</li>
<li>Bagaimanakah sebenarnya makna dari ‘membuat jama’ah (sholat) baru’? Apakah pelarangan membuat jama’ah baru berlaku pada setiap masjid dan kondisi?</li>
</ol>
<p>Demikian pertanyaan dari ana. <em>Jazakumullohukhoiron</em> atas penjelasan ustadz. Solawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad <em>sallallohu’alaihiwasallam</em> dan juga keluarga dan sahabatnya. <em>Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.</em></p>
<p><!--more--><strong>Jawaban Ustadz:</strong></p>
<ol>
<li>Para ulama berselisih tentang hal ini, namun yang mudah-mudahan lebih <em>rojih</em> (lebih kuat) adalah tetap membaca surat Al Fatihah, <em>wallohu a’lam.</em>
</li>
<li>Pendapat yang benar insya Alloh adalah makmum ikut ruku’ tanpa meneruskan bacaan Al Fatihah dan tidak dilakukan sujud sahwi, <em>wallohu a’lam</em>.</li>
<li>Membuat jama’ah baru dalam sholat adalah membuat jama’ah sholat setelah jama’ah pertama sholat bersama imam rawatib. Untuk masjid-masjid yang berada di jalan-jalan, pasar dan semacamnya para ulama membolehkan untuk membuat jama’ah baru. Sedangkan untuk masjid-masjid yang berada di perkampungan dengan jama’ah yang tetap dan relatif tidak berganti-ganti, sebagian ulama melarang untuk membuat jama’ah baru. Namun yang lebih <em>rojih</em> (lebih kuat) insya Alloh adalah pendapat yang membolehkannya asalkan tidak timbul fitnah di dalamnya. <em>Wallohu a’lam</em>.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Penanya: Abu Ahmad<br>
Dijawab Oleh: Ust. Abu Isa Abdullah bin Sallam</p>
 