
<p>Di antara keutamaan bulan haram ialah semua rangkaian ibadah haji dilaksanakan di bulan Dzulhijjah. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ</p>
<p>“<em>Musim haji adalah beberapa bulan yang telah dikenal</em>.” (QS. Al-Baqarah : 197)</p>
<p>Imam al-Bukhari mengatakan, “Ibnu ‘Umar menafsirkan ayat tersebut dengan bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan 10 hari pertama Dzulhijjah.” (<em>Shahih al-Bukhari</em>)</p>
<p>Nabi pun dahulu melakukan umrah sebanyak 4 kali di bulan haram. Sebagaimana ucapan Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> yang memberikan komentar mengenai hal tersebut, “Tidaklah Allah memilihkan untuk Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam umrahnya melainkan waktu yang paling utama dan mulia.” Beliau juga mengatakan, “Waktu terbaik untuk mengerjakan umrah adalah bulan-bulan haji dan pertengahan Dzulqa’dah. Inilah masa yang kita harapkan kebaikannya dari Allah. Barangsiapa memiliki kelebihan dalam ilmu, maka hendaknya ia berpedoman dengannya.” (<em>Jami’ al-Fiqhi</em> karya Ibnul Qayyim, dengan tahqiq dari Syaikh Yasri as-Sayyid Muhammad 3/467)</p>
<p>Demikian pula, di dalam bulan haram, terdapat 10 hari pertama Dzulhijjah yang mana Allah telah bersumpah dengannya di dalam kitab-Nya dan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengabarkan bahwa 10 hari tersebut termasuk hari yang paling mulia. Bahkan, amal shalih yang dikerjakan di rentang waktu tersebut lebih agung pahalanya dibandingkan waktu selainnya.</p>
<p>Imam al-Bukhari dan Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadis dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ</p>
<p>“<em>Tiada hari dimana amal shalih yang dikerjakan di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada 10 hari ini</em>.”<br>
Kemudian para sabahat bertanya, “Wahai Rasulullah, walaupun jihad di jalan Allah?”<br>
Nabi pun menjawab,</p>
<p style="text-align: center;">وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ</p>
<p>“<em>Iya, meskipun jihad fi sabilillah. Kecuali seseorang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, lantas ia tidak kembali pulang dengan membawa suatu apapun</em>.” (HR. Al-Bukhari no. 969 dan Sunan at-Tirmidzi no. 757, dengan redaksi at-Tirmidzi)</p>
<p>Di bulan haram, juga terdapat hari ‘<em>Arafah</em>, hari <em>Nahr</em> (Idul Adha), dan hari Tasyriq yang semuanya termasuk hari yang paling utama di sisi Allah, sekaligus hari raya bagi umat Islam. Abu Dawud meriwayatkan hadis di dalam kitab Sunan dari ‘Abdullah bin Qurth bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;">إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ تَعَالى يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya hari paling mulia di sisi Allah Ta’ala adalah hari Nahr (10 Dzulhijjah), kemudian hari Qarr (11 Dzulhijjah).</em>” (<em>Sunan at-Tirmidzi</em> no. 1765 dan dinilai shahih oleh al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud 1/331 no. 1552)<br>
***</p>
<p>Penulis: Dr. Amin bin Abdillah asy-Syaqawi<br>
Penerjemah: Ummu Fathimah<br>
Diterjemahkan dari <a href="https://www.alukah.net/sharia/0/121267/">https://www.alukah.net/sharia/0/121267/</a></p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 