
<p>Seringkali setelah takbiratul ihram kita teringat ternyata masih ada shalat wajib yang belum dikerjakan atau timbul keinginan menunaikan shalat sunnah rawatib dahulu atau bahkan diawal shalat ia berniat menjadi makmum lalu ditengah shalat ia menjadi imam. Bagaimana sebenarnya hukum merubah niat setelah <em>takbiratul ihram</em>?</p>
<h3>Pengertian Shalat <em>Muthlaq</em> dan <em>Mu’ayyan</em>
</h3>
<p>Seseorang yang sedang meniatkan shalat tertentu maka dalam shalat tersebut terdapat dua unsur niat: niat <em>Muthlaq</em> dan niat <em>Mu’ayyan</em>. Jika batal niat <em>Mu’ayyan</em> maka yang tersisa niat <em>Muthlaq</em>-nya. (<em>Asy-Syarh Al-Mumti’</em>, II/298)</p>
<p>Sebagai contoh seorang yang hendak menunaikan shalat dzuhur maka maka dalam shalat tersebut tersebut terdapat dua unsur niat. Dzuhur sebagai niat <em>Mu’ayyan</em> sementara shalat sebagai niat <em>Muthlaq</em>.</p>
<h3>Merubah Niat Ditengah Shalat</h3>
<ul>
<li>Dari shalat fardhu ke shalat sunnah <em>Muthlaq</em>, <strong>hukumnya terlarang. </strong>Contohnya ada seseorang sedang menunaikan shalat dzuhur sendirian kemudian ia melihat sejumlah orang yang mendirikan shalat dzuhur berjamaah. Ia bermaksud merubah niat shalat dzuhur yang ia kerjakan menjadi shalat sunnah <em>Muthlaq</em> dan ingin menunaikan shalat dzuhur berjamaah maka hukumnya tidak boleh.</li>
<li>Dari shalat fardhu ke shalat fardhu jenis lainnya, <strong>hukumnya terlarang</strong>. Kedua shalat tersebut menjadi batal. Shalat yang pertama batal karena diputus niatnya sementara shalat yang kedua batal karena orang tersebut tidak berniat sejak awal (sebelum takbiratul ihram). Contohnya ada seseorang yang sedang shalat ‘asar, ditengah-tengah shalat tiba-tiba ia teringat dirinya belum mengerjakan shalat dzuhur lalu ia bermaksud merubah niat shalat asar yang ia kerjakan menjadi shalat dzuhur maka hal ini tidak boleh.</li>
<li>Dari shalat sunnah ke shalat fardhu, <strong>hukumnya terlarang.</strong> Beralasan sebagaimana pada poin kedua diatas. Sebagai contoh ada orang melakukan shalat sunnah subuh dua raka’at (sunnah <em>qabliyyah</em>) kemudian ia ingin merubahnya menjadi shalat subuh (shalat fardhu) maka hal ini hukumnya tidak boleh. Bahkan jika ia benar-benar merubah niatnya maka kedua shalat tersebut batal.</li>
<li>Dari shalat sunnah <em>Mu’ayyan</em> ke shalat sunnah <em>Muthlaq</em>, <strong>hukumnya boleh</strong>. Hal ini dikarenakan dalam shalat sunnah <em>Mu’ayyan</em> terdapat unsur shalat sunnah <em>Muthlaq</em> (sebagaimana pengertian yang kami berikan diawal tulisan ini). Contohnya, seseorang berniat shalat sunnah dzuhur 4 rakaat, ditengah shalat ia mendengar iqamah sudah dikumandangkan kemudian ia merubah niat shalat sunnah 4 raka’at menjadi 2 raka’at karena ingin bersegera shalat dzuhur berjamaah maka hukumnya boleh.</li>
<li>Dari shalat sunnah <em>Mu’ayyan</em> ke shalat sunnah <em>Mu’ayyan</em> lainnya, <strong>hukumnya terlarang</strong>. Sebagai contoh seseorang yang sedang mengerjakan shalat sunnah tahiyyatul masjid kemudian ia hendak merubah niatnya menjadi shalat sunnah subuh maka hal ini tidak boleh. Jika ia memang benar-benar melakukannya maka kedua shalatnya batal sebagaimana penjelasan yang telah lalu.</li>
<li>Dari shalat sunnah <em>Muthlaq</em> ke shalat sunnah <em>Mu’ayyan</em>, <strong>hukumnya terlarang</strong>. Sebagai contoh seseorang yang sedang mengerjakan shalat sunnah <em>Muthlaq</em> dua rakaat tanpa niat <em>Mu’ayyan</em> (seperti halnya shalat sunnah dua rakaat sesudah wudhu) kemudian ditengah shalat ia ingin merubah niatnya menjadi shalat sunnah subuh (sunnah <em>Mu’ayyan</em>) maka hal ini tidak boleh beralasan sebagaimana yang telah lalu.</li>
<li>Dari niat imam menjadi makmum, <strong>hukumnya boleh. </strong>Berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em>, tentang kisah Abu Bakar mengimami para sahabat. Dalam hadits tersebut beliau menyebutkan, “Ketika ia (Abu Bakar) melihat Rasulullah datang, ia mundur. Nabi <em>shallallahu alaihi wassalam</em> memberi isyarat kepadanya seraya bersabda, “Tetaplah ditempatmu”. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>datang dan duduk di samping Abu Bakar. Maka Abu Bakar salat berdiri bermakmum kepada Rasulullah <em>shallallahu alaihi wassalam</em> sementara para sahabat lainnya mengikuti Abu Bakar <em>radhiyallahu’anhu</em>“. (HR. Bukhari dan Muslim)</li>
<li>Berniat makmum dibelakang seorang imam kemudian pindah ke imam yang lain, <strong>hukumnya boleh. </strong>Sebagai contoh seseorang yang berada dibelakang imam yang sedang sakit kemudian ditengah shalat imam tersebut tidak kuat melanjutkan shalatnya dan diganti dengan imam lain maka shalat makmum yang dibelakanganya tetap sah. Berdalil dengan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu’anha</em> di atas ketika para sahabat bermakmum di belakang Abu Bakar <em>radhiyallahu’anhu</em> kemudian berpindah ke Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Dan juga kisah terbunuhnya Umar bin Khathab <em>radhiyallahu’anhu </em>saat mengimami para sahabat kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf<em> </em><em>radhiallahu’anhu</em> menggantikan beliau sebagai imam.</li>
<li>Niat makmum menjadi imam, <strong>hukumnya boleh. </strong>Ketika imam memiliki udzur meninggalkan shalat seperti karena sakit atau yang lainnya lalu ia menunjuk seorang makmum menggantikan dirinya. Berdasarkan kisah terbunuhnya Umar <em>radhiyallahu’anhu</em> diatas.</li>
<li>Berniat shalat sendiri kemudian menjadi imam, <strong>hukumnya boleh</strong>. Seperti seseorang shalat sendirian kemudian orang lain datang bermakmum dibelakangnya. Berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau berkata, “<em>Aku pernah bermalam dirumah bibiku. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam shalat malam akupun menyusul beliau. Aku berdiri disebelah kiri lalu beliau memegang kepalaku dan menariknya disebelah kanan. “(</em>HR. Bukhari dan Muslim<em>). </em>Meskipun hadits ini berkisah tentang shalat sunnah namun yang benar tidak ada perbedaan antara shalat sunnah dengan shalat fardhu.</li>
<li>Berniat imam kemudian menjadi shalat sendirian, <strong>hukumnya terlarang kecuali jika ada udzur</strong>. Seperti makmum mendapatkan udzur meninggalkan shalat jamaah hingga imam shalat sendirian maka hukumnya boleh dan shalatnya tetap sah.</li>
<li>Berniat menjadi makmum kemudian menjadi shalat sendirian, <strong>hukumnya boleh jika ada udzur. </strong>Seperti bacaan imam yang terlalu panjang hingga melebihi tuntunan yang diajarkan maka makmum diperbolehkan meninggalkan jamaah dan shalat sendirian. (<em>Shahih Fiqh Sunnah, </em>I/308 dengan sedikit tambahan)</li>
</ul>
<p><em>Washallahu’ala nabiyyina Muhammad wa’ala alihi washahbihi wattabi’in.</em></p>
<p>Penulis: Ummu Fatimah Umi Farikhah</p>
<p>Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah</p>
<p>Maraji’</p>
<ol>
<li>
<em>Asy Syarhul Mumti’ ‘ala Zaad al Mustaqni</em>‘, Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, <em>Muassasah Asam</em>, Riyadh KSA.</li>
<li>
<em>Shahih Fiqh As Sunnah,</em> Abu Malik Kamal, <em>Maktabah Taufiqiyyah.</em>
</li>
</ol>
<p><em>***</em></p>
<p><a href="Permalink:%20https://muslimah.or.id/fikih/serba-serbi-ni%E2%80%A6-tengah-shalat.html%20Edit%20serba-serbi-niat-shalat2-merubah-niat-di-tengah-shalat">Artikel Muslimah.or.id</a><em></em></p>
<p> </p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 