
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color="">Serial Fiqh Zakat (Bag. 2): Hukum Orang yang Tidak Menunaikan Zakat</span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hukuman di Akhirat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. </span><b>(QS. at-Taubah: 34-35)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَن آتاه اللهُ مالًا، فلم يؤَدِّ زكاتَه، مُثِّلَ له ماله شُجاعًا أقرَعَ ، له زبيبتانِ ، يُطوِّقه يومَ القيامة، يأخُذُ بلِهْزِمَتَيهِ- يعني شِدْقَيه، ثم يقول: أنا مالُكَ، أنا كَنْزُك. ثم تلا: وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang diberikan harta oleh Allah, namun tidak mengeluarkan zakatnya, niscaya pada hari kiamat harta itu akan berubah wujud menjadi seekor ular jantan yang bertanduk dan memiliki dua taring lalu melilit orang itu pada hari kiamat. Lalu ular itu memakannya dengan kedua rahangnya, yaitu dengan mulutnya seraya berkata, ‘Aku inilah hartamu, akulah harta simpananmu”. Kemudian Beliau membaca firman Allah Ta’ala di surat Ali ‘Imran ayat 180 yang artinya,  ” Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” </span><b>(HR. al-Bukhari: 1405)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa yang memiliki emas dan perak, tetapi dia tidak membayar zakatnya, niscaya di hari kiamat akan dibuatkan setrika api untuknya yang dinyalakan di dalam neraka, lalu disetrikakan ke perut, dahi dan punggungnya. Setiap setrika itu dingin, maka akan dipanaskan kembali lalu disetrikakan kembali kepadanya setiap hari –di mana sehari setara lima puluh tahun di dunia – hingga perkaranya diputuskan. Setelah itu, barulah ia melihat jalannya keluar, adakalanya ke surga dan adakalanya ke neraka.” </span><b>(HR. Muslim: 987)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47059-mewakilkan-untuk-dibelikan-beras-membayar-zakat-fitrah.html" data-darkreader-inline-color="">Mewakilkan untuk Dibelikan Beras Saat Membayar Zakat Fitrah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hukuman atau Sanksi di Dunia</b></span></h2>
<p><b>Pembahasan pertama: Sanksi bagi orang yang tidak menunaikan zakat dan berada dalam kekuasaan pemerintah</b><b>.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap orang yang enggan menunaikan zakat dan dirinya masih berada dalam kekuasaan pemerintah atau penguasa, memperoleh sanksi berupa pengambilan zakat dari hartanya secara paksa. </span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Dalil dari al-Quran:</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” </span><b>(QS. at-Taubah: 103)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun perintah untuk mengambil zakat pada ayat di atas ditujukan pada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> namun ulama sepakat bahwa setiap pemimpin dan penguasa menggantikan posisi beliau dalam urusan tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Abdi al-Barr </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, “Ulama bersepakat bahwa para khalifah dan penguasa menempati posisi beliau dalam perkara pengambilan zakat yang disebutkan dalam firman Allah di surat at-Taubah ayat 130.” </span><b>(</b><b><i>Al-Istidzkar,</i></b><b> 2: 226)</b></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Dalil dari as-Sunnah:</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berpesan pada Mu’adz radhiallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أعْلِمْهم أنَّ اللهَ افتَرَض عليهم صدقةً في أموالِهم، تُؤخَذُ مِن أغنيائِهم فتردُّ على فُقرائِهم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ajarkan mereka bahwa Allah mewajibkan mereka untuk menunaikan zakat pada harta mereka yang diambil dari kalangan yang kaya untuk dikembalikan kepada kalangan yang miskin.” </span><b>(HR. al-Bukhari: 1395 dan Muslim: 19)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini menunjukkan bahwa imam (penguasa) yang bertanggungjawab dalam pengambilan dan pendistribusian zakat, entah kegiatan tersebut dilakukan sendiri atau melalui perwakilan. Setiap orang yang enggan menunaikan zakat, maka diambil dari hartanya secara paksa. </span><b>(</b><b><i>Fath al-Bari</i></b><b>, 3: 360)</b></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Dalil ijma’</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan, “Ulama bersepakat bahwa setiap orang yang tidak menunaikan zakat, maka zakat diambil dari hartanya secara paksa.” </span><b>(</b><b><i>Syarh Shahih al-Bukhari</i></b><b>, 3: 391)</b></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Apakah sanksi pengambilan paksa itu sebanding atau melebihi kadar zakat yang wajib dikeluarkan?</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama berselisih pendapat dalam hal ini.</span></p>
<p><b>Pendapat pertama: Sanksi hanya berupa pengambilan harta secara paksa sebanding dengan kadar zakat yang wajib dikeluarkan. Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama [1].</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qudamah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyatakan, “Apabila seseorang enggan menunaikan zakat, namun masih meyakininya sebagai suatu kewajiban, dan imam (penguasa) telah menetapkan sanksi untuk mengambil zakat dari hartanya secara paksa, maka zakat bisa diambil secara paksa dan ta’zir juga dapat diterapkan, namun jangan mengambil hartanya melebihi kadar zakat yang diwajibkan. Hal ini menurut pendapat mayoritas ahli ilmu, di antaranya abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan murid-murid mereka.” </span><b>(</b><b><i>Al-Mughni</i></b><b>, 2: 428)  </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil pendapat pertama adalah sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada zaman Abu Bakar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, setelah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> wafat, sebagian kalangan enggan menunaikan zakat, namun tidak ada satu pun riwayat yang dinukil dari sahabat bahwa mereka mengambil harta secara paksa melebihi kadar zakat yang diwajibkan. </span><b>(</b><b><i>Al-Mughni,</i></b><b> 2: 428)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, menunaikan zakat adalah ibadah, sehingga layaknya ibadah yang lain, meski tidak ditunaikan, tidak ada kelaziman untuk mengambil setengah harta orang yang tidak menunaikan zakat. </span><b>(</b><b><i>Al-Majmu’</i></b><b>, 5: 332)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti ketentuan yang berlaku pada hak yang lain, boleh mengambil hak dari pihak yang zalim, namun tanpa melebihi batas. </span><b>(</b><b><i>Kasyf al-Qana,</i></b><b> 2: 257)</b></p>
<p><b>Pendapat kedua: Zakat diambil secara paksa dari orang yang tidak menunaikannya sekaligus diberi hukuman ta’zir, yaitu setengah hartanya disita [2].</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat ini merupakan pendapat asy-Syafi’i terdahulu </span><b>(</b><b><i>Al-Majmu’,</i></b><b> 5: 331)</b><span style="font-weight: 400;"> dan salah satu pendapat dalam madzhab Hanabilah </span><b>(</b><b><i>Al-Mughni</i></b><b>, 2: 428).</b><span style="font-weight: 400;"> Pendapat ini juga merupakan pendapat al-Auza’i dan Ishaq bin Rahuyah </span><b>(</b><b><i>Hasyiyah Ibn al-Qayyim ma’a ‘Aun al-Ma’bud</i></b><b>, 4: 318).</b><span style="font-weight: 400;"> Dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu al-Qayyim, Ibnu Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah </span><b>(</b><b><i>I’lam al-Muwaqqi’in</i></b><b>, 2: 129; </b><b><i>asy-Syarh al-Mumti’</i></b><b>, 6: 200-201; dan </b><b><i>Fatawa az-Zakah:</i></b><b> 780).</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil pendapat kedua ini adalah sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فِي كُلِّ سَائِمَةِ إِبِلٍ: فِي أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ, لَا تُفَرَّقُ إِبِلٌ عَنْ حِسَابِهَا, مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا بِهَا فَلَهُ أَجْرُهُ, وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ, عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا, لَا يَحِلُّ لِآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا شَيْءٌ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَعَلَّقَ اَلشَّافِعِيُّ اَلْقَوْلَ بِهِ عَلَى ثُبُوتِه ِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pada setiap 40 ekor unta yang dilepas mencari makan sendiri, zakatnya seekor anak unta betina yang umurnya memasuki tahun ketiga. Tidak boleh dipisahkan anak unta itu untuk mengurangi perhitungan zakat. Barangsiapa memberinya karena mengharap pahala, ia akan mendapat pahala. </span><b>Barangsiapa menolak untuk mengeluarkannya, kami akan mengambilnya beserta setengah hartanya karena membayar zakat merupakan perintah yang keras dari Rabb ka</b><span style="font-weight: 400;">mi. Keluarga Muhammad tidak halal mengambil zakat sedikit pun.” </span><b>(HR. Abu Dawud: 1575. Dinilai hasan oleh al-Albani)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43880-kecerobohan-kaum-muslimin-terkait-kewajiban-zakat.html" data-darkreader-inline-color="">Kecerobohan Kaum Muslimin Terkait Kewajiban Zakat</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Pembahasan kedua: Sanksi bagi orang yang</b> <b>tidak menunaikan zakat dan tidak berada dalam kekuasaan pemerintah.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalangan yang menolak zakat dan mereka tidak berada dalam kekuasaan pemerintah, wajib diperangi hingga mereka mau menunaikan kewajiban tersebut.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Dalil al-Quran:</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” </span><b>(QS. at-Taubah: 5)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat di atas menunjukkan bahwa mereka (kaum musyrikin) tidak lagi diperangi dan dibiarkan beraktivitas di muka bumi apabila menunaikan tiga syarat, yaitu masuk Islam, menegakkan shalat dan membayar zakat. Jika tidak terpenuhi syarat tersebut, boleh memerangi mereka. </span><b>(</b><b><i>Tafsir Ibnu Katsir</i></b><b>, 4: 111)</b></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Dalil as-Sunnah:</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dia berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لما توفى النبي صلى الله عليه وسلم واستُخلف أبو بكر وكفر من كفر من العرب قال عمر : يا أبا بكر كيف تقاتل الناس وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أمِرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله ، فمن قال لا إله إلا الله عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله ؟ قال أبو بكر : والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة ، فإن الزكاة حق المال ، والله لو منعوني عناقا كانوا يؤدونها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لقاتلتهم على منعها . قال عمر : فو الله ما هو إلا أن رأيت أن قد شرح الله صدر أبي بكر للقتال فعرفت أنه الحق</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketika Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> wafat, dan Abu Bakar menggantikannya, banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata, “Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">Laa ilaaha illallah.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Barangsiapa yang telah mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya diganggu, kecuali dengan alasan yang hak (yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?” Abu Bakar berkata, “Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">niscaya akan tetap kuperangi dia”. Umar berkata, “Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran.” </span><b>(HR. al-Bukhari: 1399 dan Muslim: 20)</b></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Dalil ijma’:</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejumlah ulama seperti Ibnu Baththal, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Qudamah dan an-Nawawi menukil ijma’ para sahabat untuk memerangi kaum yang menolak membayar zakat hingga mereka bersedia untuk menunaikannya. </span><b>(</b><b><i>Syarh Shahih al-Bukhari,</i></b><b> 3: 391; </b><b><i>al-Istidzkar</i></b><b>, 3: 214; </b><b><i>al-Mughni</i></b><b>, 2: 427; </b><b><i>al-Majmu’, </i></b><b>5: 334)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, “Terdapat riwayat dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada </span><i><span style="font-weight: 400;">ash-Shahihain</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang menerangkan bahwa para sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berselisih pendapat perihal hukum memerangi kalangan yang menolak membayar zakat. Abu Bakar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berpandangan untuk memerangi mereka dan mengemukakan dalil kepada sahabat yang lain. Ketika dalil yang dikemukakan telah dipahami, mereka pun menyetujui pendapat Abu Bakar, sehingga memerangi orang yang menolak membayar zakat merupakan perkara yang disepakati oleh mereka.” </span><b>(</b><b><i>Al-Majmu’,</i></b><b> 5: 334)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/42713-kewajiban-zakat-terhadap-harta-anak-yatim.html" data-darkreader-inline-color="">Kewajiban Zakat terhadap Harta Anak Yatim</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40291-mengeluarkan-zakat-fitri-lebih-awal.html" data-darkreader-inline-color="">Mengeluarkan Zakat Fitri Lebih Awal</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/ichwan" data-darkreader-inline-color="">Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><b><i>An-Binayah Syarh al-Hidayah</i></b><b>, 3; 291; </b><b><i>Syarh az-Zarqani ‘ala Mukhtashar Khalil</i></b><b>, 8: 201; </b><b><i>al-Majmu’</i></b><b>, 5: 331; </b><b><i>al-Furu’</i></b><b>, 4: 246.</b></p>
<p><b>[2]</b><span style="font-weight: 400;"> Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Apakah yang dimaksud setengah harta itu adalah setengah dari keseluruhan harta atau setengah dari kadar zakat yang wajib ditunaikannya.</span></p>
 