
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/54882-serial-fiqh-zakat-bag-3-hukuman-bagi-orang-yang-tidak-menunaikan-zakat.html" data-darkreader-inline-color="">Serial Fiqh Zakat (Bag. 3): Hukuman bagi Orang yang Tidak Menunaikan Zakat</a></span></strong></p>
<p><span style="font-size: 24pt;"><b>Syarat yang berkaitan dengan pemberi zakat (muzakki)</b></span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Islam</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Zakat diwajibkan kepada setiap muslim.</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalil dari al-Qur’an</b></span></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” </span><b>[QS. at-Taubah: 103]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seruan </span><i><span style="font-weight: 400;">(khithab)</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam perintah berzakat pada ayat di atas ditujukan kepada kaum muslimin, karena merekalah yang akan dibersihkan dan disucikan dengan mengeluarkan zakat. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Muhalla,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 4: 4; </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Jaami’ li Ahkaam al-Qur’an,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 8: 124]</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalil dari as-Sunnah</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhuma, </span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketika Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengutus Mu’adz </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> ke Yaman, beliau berkata, “Ajaklah mereka kepada syahadah (persaksian) bahwa tidak ada </span><i><span style="font-weight: 400;">ilah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sesembahan) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah menaatinya, maka beritahukanlah bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Dan jika mereka telah menaatinya, </span><b>maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir mereka.”</b><span style="font-weight: 400;"> [HR. al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19. Redaksi di atas adalah redaksi al-Bukhari.]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi menjadikan perintah menunaikan zakat setelah menaati mereka untuk masuk ke dalam Islam. Demikian pula kata ganti (dhamir) pada frasa “أَغْنِيَائِهِمْ” yang berarti adalah orang-orang kaya yang telah menaati mereka dan masuk ke dalam Islam, di mana zakat juga akan dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka (kaum muslimin). [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Muhalla,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 4: 4]</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalil ijmak</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejumlah ulama seperti an-Nawawi dan Ibnu Rusyd mengutip adanya ijmak bahwa zakat diwajibkan kepada seorang muslim. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Majmu’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 5: 326;  </span><i><span style="font-weight: 400;">Bidayah al-Mujtahid,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 1: 245]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, “Kewajiban zakat atas setiap orang yang merdeka dan muslim adalah hal yang jelas (zhahih) berdasarkan keumuman dalil al-Quran, as-Sunnah, dan ijmak.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Majmu’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 5: 326]</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/40314-hukum-memberikan-zakat-bagi-non-muslim-dan-di-negeri-non-muslim.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Memberikan Zakat Bagi Non-Muslim dan di Negeri Non-Muslim</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Merdeka</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Zakat diwajibkan kepada pemilik harta yang merdeka, bukan budak. Hal ini karena jika dia seorang budak, meski terkadang dapat memiliki harta </span><i><span style="font-weight: 400;">(al-mukatab),</span></i><span style="font-weight: 400;"> kepemilikannya terhadap harta tidaklah sempurna.</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalil ijmak</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, “Kewajiban zakat atas setiap orang yang merdeka dan muslim adalah hal yang jelas (zhahir) berdasarkan keumuman dalil al-Qur’an, as-Sunnah dan ijmak.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Majmu’</span></i><span style="font-weight: 400;">, 5: 326]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Rusyd mengatakan, “Adapun kepada siapa zakat itu diwajibkan, maka kaum muslimin bersepakat bahwa zakat diwajibkan kepada setiap muslim yang berakal, memiliki harta yang telah mencapai nishab dengan kepemilikan yang sempurna.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Bidayah al-Mujtahid</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1: 245]</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Hukum zakat atas budak</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak ada kewajiban zakat pada seorang budak. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan sebagian ulama mengklaim ijmak dalam hal ini. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mughni</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2: 464; </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Mukhtashar Khalil</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2: 181]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qudamah mengatakan, “Zakat tidaklah wajib kecuali atas setiap orang yang merdeka, muslim, dan memiliki kepemilikan terhadap harta (obyek zakat) yang sempurna. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan kami tidak mengetahui ada yang menyelisihinya selain Atha’ dan Abu Tsaur. Mereka berdua mengatakan seorang budak tetap wajib mengeluarkan zakat hartanya.”</span> <span style="font-weight: 400;">[</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mughni</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2: 464]</span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Alasannya adalah:</strong></span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Seorang budak tidak memiliki hak kepemilikan. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Hasyiyah Ibnu Abidin</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2: 259]</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Zakat menuntut adanya pengalihan hak kepemilikan. Seorang yang tidak memiliki hak kepemilikan tidak mungkin mengalihkannya kepada orang lain. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Tabyin al-Haqaiq</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1: 253]</span>
</li>
</ul>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Hukum zakat atas harta </b><b><i>al-mukatab</i></b></span></h3>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mukatab</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah budak yang pembebasan dirinya ditetapkan dengan suatu harga tertentu. Apabila budak tersebut bekerja dan menebus dirinya dengan harga tersebut, maka dia dibebaskan. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Aniis al-Fuqaha,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 1: 61]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">al-Mukatab</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah para budak yang membeli kebebasan diri dari pemilik mereka. Kata al-mukatab berasal dari kata </span><i><span style="font-weight: 400;">al-kitabah,</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena dalam perjanjian tercantum tulisan </span><i><span style="font-weight: 400;">(al-kitabah)</span></i><span style="font-weight: 400;"> antara pemilik dan budak.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">asy-Syarh al-Mumti’</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6: 229]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Zakat tidaklah diwajibkan atas harta </span><i><span style="font-weight: 400;">al-mukatab.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ulama madzhab yang empat bersepakat akan hal ini. Sebagian ulama mengklaim adanya ijmak. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Badai’ ash-Shanai’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 2: 6; </span><i><span style="font-weight: 400;">Hasyiyah ad-Dasuqi,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 1: 431; </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Majmu’, </span></i><span style="font-weight: 400;">5: 326; </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Inshaf,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 3: 7; </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mughni,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 10: 415]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qudamah mengatakan, “Kesimpulan, tidak ada zakat yang diwajibkan kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">al-mukatab</span></i><span style="font-weight: 400;"> tanpa ada perselisihan pendapat sependek pengetahuan kami.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mughni</span></i><span style="font-weight: 400;">, 10: 415]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan mengapa </span><i><span style="font-weight: 400;">al-mukatab</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak diwajibkan mengeluarkan zakat adalah karena statusnya adalah budak, maka kepemilikannya terhadap harta tidak sempurna. Karena itu tidak ada kewajiban zakat atas dirinya hingga dibebaskan. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Ijma’</span></i><span style="font-weight: 400;">, hlm. 47; </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Mughni</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2: 464]</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/40291-mengeluarkan-zakat-fitri-lebih-awal.html" data-darkreader-inline-color="">Mengeluarkan Zakat Fitri Lebih Awal</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Apakah muzakki dipersyaratkan harus berakal dan dewasa (baligh)?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Berakal dan dewasa bukanlah syarat wajib zakat. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Kaafi fi Fiqhi Ahli al-Madinah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1: 284; </span><i><span style="font-weight: 400;">Tuhfah al-Muhtaj</span></i><span style="font-weight: 400;">, 3: 330; </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Mughni</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2: 464]</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalil al-Qur’an</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”</span><b> [QS. at-Taubah: 103]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Firman Allah di atas berlaku umum kepada setiap anak kecil dan dewasa, berakal dan gila.</span> <span style="font-weight: 400;">[</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Muhalla</span></i><span style="font-weight: 400;">, 4: 4]</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalil as-Sunnah</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda kepada Mu’adz,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir mereka.” [HR. al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19. Redaksi di atas adalah redaksi al-Bukhari.]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Frasa “أَغْنِيَائِهِمْ” mencakup anak kecil dan orang gila, sebagaimana hal yang sama berlaku pada lafadz “فُقَرَائِهِمْ”. Artinya, sebagaimana zakat itu dibagikan kepada kaum muslimin, baik yang masih kecil maupun yang telah dewasa, demikian pula zakat diambil dari harta kaum muslimin, baik yang masih kecil maupun yang telah dewasa. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa al-Lajnah ad-Daimah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 9: 411]</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalil atsar</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari al-Qasim bin Muhammad, dia berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كانت عائشةُ رَضِيَ اللهُ عنْهَا تَلِيني أنا وأخًا لي يتيمينِ في حِجْرِها، فكانت تُخرِجُ مِن أموالِنا الزَّكاةَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku dan saudaraku adalah yatim, dan ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mengasuh kami dan beliau mengeluarkan zakat dari harta kami.”</span> <span style="font-weight: 400;">[HR. Malik dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Muwaththa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> 2: 353]</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dalil aqli</b></span></h3>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Zakat diserahkan agar pemberi zakat (muzakki) memperoleh pahala dan agar kalangan fakir memperoleh kenyamanan. Dan anak kecil maupun orang gila termasuk keduanya, yaitu kalangan yang membutuhkan pahala dan juga kenyamanan. Karena itulah, keduanya tetap diwajibkan untuk menafkahi keluarga dan kerabat; serta mereka wajib membebaskan sang ayah apabila misalnya dia  berstatus budak yang berada dalam kepemilikan mereka. dengan begitu, zakat tetap diwajibkan atas harta mereka. [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Majmu’</span></i><span style="font-weight: 400;">, 5: 329]</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Kewajiban zakat atas harta keduanya dianalogikan dengan status harta mereka yang tetap wajib dikeluarkan untuk menafkahi dan membayar ganti rugi (denda). [</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Majmu’</span></i><span style="font-weight: 400;">, 5: 330]</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Zakat adalah hak fakir yang ada pada harta orang kaya, sehingga kewajiban untuk memenuhinya bersifat setara dan berlaku baik pada mukallaf maupun non-mukallaf (misal anak kecil dan orang gila). [</span><i><span style="font-weight: 400;">Nihayah al-Muhtaj</span></i><span style="font-weight: 400;">, 3: 128; </span><i><span style="font-weight: 400;">asy-Syarh al-Mumti’</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6: 23]</span>
</li>
</ul>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/30515-siapakah-yang-berhak-menerima-zakat-fithri.html" data-darkreader-inline-color="">Siapakah yang Berhak Menerima Zakat Fithri?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/30463-tiga-langkah-mudah-menunaikan-zakat-fitri.html" data-darkreader-inline-color="">Tiga Langkah Mudah Menunaikan Zakat Fitri</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><b>Penulis: </b><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/ichwan" data-darkreader-inline-color=""><b>Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.</b></a></span></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 