
<h2>Shalat Dhuha<br>
</h2>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mensyariatkan shalat-shalat sunnah  untuk menyempurnakan ibadah shalat wajib yang terkadang tidak dapat  sempurna pahalanya. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ  أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ  صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ  فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ  الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ  فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ  عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ</p>
<p><em>“Sungguh, amalan hamba yang pertama kali dihisab dari seorang  hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan  sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila shalat  wajibnya kurang sedikit, maka Rabb ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Lihatlah,  apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)!’ Lalu,  dengannya disempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajibnya  tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian.”</em> (Hr. at-Tirmidzi)</p>
<p>Di antara perkara yang disyariatkan adalah shalat dhuha.</p>
<h2>Keutamaan Shalat Dhuha</h2>
<p><a href="baca/artikel/485/shalat-dhuha--sedekah-dengan-seluruh-persendian" target="_parent">Shalat dhuha</a> memiliki banyak keutamaan, di antaranya:</p>
<p>Keutamaan pertama, mencukupkan sedekah sebanyak persendian manusia,  yaitu tiga ratus enam puluh persendian, sebagaimana dijelaskan dalam  hadits yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ  أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ  قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ  تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ  صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ  وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ  يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى</p>
<p>Dari Abu Dzar dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m, bahwa beliau telah bersabda, “<em>Setiap  hari bagi setiap persendian dari salah seorang di antara kalian  terdapat kewajiban untuk bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah,  setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap  takbir adalah sedekah, amar makruf nahi munkar adalah sedekah. Semua itu  tercukupkan dengan dua rakaat shalat yang dilakukan di waktu dhuha.”</em> (Hr. Muslim, <em>Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbab Shalat ad-Dhuha,</em> no. 720)</p>
<p>Hal ini lebih diperjelas dengan sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فِي  الْإِنْسَانِ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلًا فَعَلَيْهِ أَنْ  يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ  ذَلِكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ  تَدْفِنُهَا وَالشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ  فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ</p>
<p><em>“‘Dalam diri manusia ada tiga ratus enam puluh persendian, lalu  dari setiap sendinya diwajibkan untuk bersedekah.’ Mereka berkata,  ‘Siapa yang mampu demikian, wahai Nabi Allah?’ Beliau menjawab,  ‘Memendam riak yang ada di mesjid dan menghilangkan sesuatu (gangguan)  dari jalan. Apabila tidak mendapatkannya, maka dua rakaat shalat dhuha  mencukupkanmu.'”</em> (Hr. Abu Daud, no. 5242; dinilai shahih oleh al-Albani dalam kitab<em> Irwa al-Ghalil</em>: 2/213 dan <em>at-Ta’liq ar-Raghib</em>: 1/235)</p>
<p>Keutamaan kedua, Allah menjaga orang yang melaksanakan empat rakaat  shalat dhuha pada hari tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadits  yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن عقبة بن عامر الجهني رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن الله عز و جل يقول يا ابن آدم اكفني أول النهار بأربع ركعات أكفك بهن آخر يومك</p>
<p>Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani <em>radhiallahu ‘anhu</em>, ‘Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> bahwa Allah berfirman, <em>Wahai Bani Adam, shalatlah untuk-Ku di awal siang hari sebanyak empat rakaat, niscaya Aku menjagamu di sisa hari tersebut.”</em> (Hr. at-Tirmidzi, <em>Kitab Shalat</em>, <em>Bab Ma Ja`a fi Shalat ad-Dhuha</em>,  no. 475; Abu Isa berkata, “Hadits hasan gharib;” hadits ini dinilai  shahih oleh Ahmad Syakir dalam tahqiq beliau atas kitab at-Tirmidzi,  sert al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi: 1/147)</p>
<p>Keutamaan ketiga, shalat dhuha adalah <em>shalat al-awwabin</em> (orang yang banyak bertaubat kepada Allah). Hal ini disampaikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ قَالَ وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ</p>
<p><em>“Tidaklah menjaga shalat dhuha, kecuali orang yang banyak bertaubat kepada Allah.”</em> (Hr. al-Hakim dalam <em>al-Mustadrak</em>: 1/314; dinilai sebagai hadits hasan oleh Syekh al-Albani dalam <em>Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah,</em> no. 1994, lihat: 2/324)</p>
<h3>Hukum Shalat Dhuha [1]</h3>
<p>Para ulama berselisih pendapat tentang hukum shalat dhuha dalam beberapa pendapat, yaitu:</p>
<p><strong><em>Pendapat pertama,</em></strong> hukum shalat dhuha adalah  sunnah mutlak dan disunnahkan untuk melakukannya setiap hari. Inilah  mazhab mayoritas ulama. Mereka berargumentasi dengan beberapa dalil, di  antaranya:<br> 1. Keumuman hadits-hadits tentang keutamaan shalat dhuha.<br> 2. Hadits Abu Hurairah <em>radhiyalahu ‘anhu</em> yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَوْصَانِي  خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ  أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ  أَنْ أَنَامَ</p>
<p>“Kekasihku <em>shallalahu ‘alaihi wa sallam</em> telah berwasiat  kepadaku dengan tiga hal: berpuasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat  shalat dhuha, dan witir sebelum tidur.” (Muttafaqun ‘alaihi).</p>
<p>Syekh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa  shalat al-Dhuha adalah sunnah mutlak yang dilakukan setiap hari. [2]</p>
<p>3. Hadits Mu’adzah al-‘Adawiyah ketika menanyakan sebuah pertanyaan kepada ‘Aisyah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كَمْ  كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي  صَلَاةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ</p>
<p>“Berapa rakaat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m  dahulu melaksanakan shalat dhuha?” Beliau menjawab, “Empat rakaat, dan  beliau menambahnya sebanyak yang beliau inginkan.” (Hr. Muslim, K<em>itab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbaab Shalat Dhuha,</em> no. 719)</p>
<p><strong><em>Pendapat kedua,</em></strong> hukum shalat dhuha adalah sunnah namun tidak dilakukan setiap hari. Inilah pendapat Mazhab Hambali.</p>
<p><strong><em>Pendapat ketiga, </em></strong>hukumnya bukan sunnah. Inilah pendapat Ibnu Umar.</p>
<p><strong><em>Pendapat keempat,</em></strong> shalat dhuha hanya  disunnahkan karena sebab tertentu. Inilah yang dirajihkan oleh Ibnu  Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim. Beliau menyatakan, “Barangsiapa yang  menelaah hadits-hadits marfu’ dan atsar sahabat tentu mendapatkan bahwa  mereka hanya menunjukkan pendapat ini. Adapun hadits-hadits anjuran dan  wasiat untuk melakukannya, maka yang shahih darinya, seperti hadits Abu  Hurairah dan Abu Dzar, tidak menunjukkan bahwa shalat dhuha adalah  sunnah yang terus dikerjakan untuk setiap orang.</p>
<p>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m mewasiati Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dengan wasiat tersebut, karena telah diriwayatkan bahwa Abu Hurairah  dahulu memilih belajar hadits di malam hari dibandingkan melaksanakan  shalat. Kemudian, beliau memerintahkan Abu Hurairah untuk melakukan  shalat sunnah diwaktu dhuha sebagai ganti shalat malamnya. Oleh karena  itu, Abu Hurairah diperintahkan untuk tidak tidur kecuali setelah  berwitir, dan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m tidak memerintahkan hal itu kepada Abu Bakar, Umar, dan seluruh sahabat lainnya.” [3]</p>
<p>Sedangkan Ibnu Taimiyah, setelah menjelaskan sunnahnya shalat dhuha,  menyatakan, “Tinggal masalah apakah yang utama adalah melakukannya  secara berkesinambungan atau tidak, karena mencontoh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m?  ini yang menjadi perselisihan para ulama. Yang rajih adalah bahwa  barangsiapa yang terus-menerus melakukan shalat malam, maka itu  mencukupkannya dari melakukan shalat dhuha terus-menerus, sebagaimana  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m dahulu demikian. Barangsiapa yang tidak melakukan shalat malam, maka shalat dhuha menjadi pengganti shalat malam baginya.” [4]</p>
<p>Yang rajih, <em>insya Allah</em> adalah pendapat pertama, karena  keumuman anjuran melakukan shalat al-dhuha Hal inilah yang dirajihkan  oleh Syekh Ibnu Utsaimin. Beliau menyatakan, “Yang rajih adalah (bahwa  shalat dhuha) adalah sunnah mutlak yang terus-menerus dilakukan. Sebab  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ</p>
<p><em>“Setiap persendian dari salah seorang kalian wajib untuk bersedekah setiap hari.”</em></p>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa persendian manusia berjumlah tiga ratus  enam puluh persendian dalam tubuh, sehingga setiap orang harus  bersedekah tiga ratus enam puluh sedekah per hari. Namun, sedekah ini  bukanlah sedekah harta, tapi berupa amalan taqarrub kepada Allah, karena  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فَفِي  كُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ  تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ  بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ  مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى</p>
<p><em>‘Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah,  setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah,amar makruf  nahi munkar adalah sedekah. Semua itu tercukupkan dengan shalat dua  rakaat yang dilakukan di waktu dhuha.’</em></p>
<p>Berdasarkan hadits ini, kami berpendapat bahwa shalat dhuha adalah  sunnah yang selalu dikerjakan, karena kebanyakan manusia tidak mampu  memberikan sedekah hingga tiga ratus enam puluh sedekah.” [5] <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<h3>Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha</h3>
<p>Waktu shalat dhuha dimulai dari terbitnya matahari hingga menjelang  matahari tergelincir (zawal). Syekh Ibnu Utsaimin merinci waktu ini  ketika menjelaskan awal dan akhir waktu dhuha. Beliau menyatakan bahwa  waktu dhuha berawal setelah matahari terbit seukuran tombak, yaitu  sekitar semeter. Dalam hitungan jam yang ma’ruf adalah sekitar 12 menit  (setelah terbitnyamatahari) dan jadikan saja sekitar seperempat jam,  karena lebih hati-hati.</p>
<p>Apabila telah berlalu seperempat jam dari terbit matahari, maka  hilanglah waktu terlarang dan telah masuklah waktu shalat dhuha.  Sedangkan akhir waktunya adalah sekitar sepuluh menit sebelum  tergelincirnya matahari.” [6]</p>
<p>Adapun dasar awal waktu dhuha adalah hadits Abu Dzar yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عَنْ  رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ اللَّهِ عَزَّ  وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ  أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ</p>
<p>Dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> bahwa Allah berfirman,<em> “Wahai Bani Adam, shalatlah empat rakaat untuk-Ku di awal siang hari, niscaya aku menjagamu di sisa hari tersebut.”</em></p>
<p>Waktu dhuha berakhir dengan tergelincirnya matahari yang menjadi awal  waktu zuhur. Adapun jeda sebelumnya diberlakukan karena adanya larangan  shalat sebelum tergelincirnya matahari.</p>
<p>Oleh karena itu, Syekh Ibnu Utsaimin menyatakan, “Kalau begitu, waktu  shalat dhuha dimulai setelah keluar dari waktu larangan (untuk shalat)  di awal siang hari (pagi hari) sampai adanya larangan di tengah hari.”  [7]</p>
<h3>Waktu Utama Shalat Dhuha<br>
</h3>
<p>Adapun waktu utama untuk melaksanakan shalat dhuha adalah di akhir  waktunya. Syekh Ibnu Utsaimin menyatakan, “Melaksanakannya di akhir  waktu adalah lebih utama.” [8]<br> Hal ini dijelaskan dalam hadits yang berbunyi,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَنَّ  زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنْ الضُّحَى فَقَالَ  أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ  أَفْضَلُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ</p>
<p>“Sesungguhnya Zaid bin Arqam melihat suatu kaum melakukan shalat  dhuha, lalu beliau berkata, ‘Apakah mereka belum mengetahui bahwa shalat  pada selain waktu ini lebih utama? Sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m dahulu bersabda, ‘Shalat al-awwabin (hendaklah dilakukan) ketika anak unta kepanasan.'” (Hr. Muslim, K<em>itab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Shalat al-Awwabina hina Tarmidhu al-Fishal,</em> no. 748)</p>
<h3>Jumlah Rakaat dan Tata Caranya</h3>
<p>Disyariatkan bagi seorang muslim untuk melakukan shalat dhuha  sebanyak dua, empat , enam, atau delapan rakaat, atau lebih, tanpa ada  batasan tertentu. Inilah yang dirajihkan oleh Syekh Ibnu Utsaimin dalam  pernyataan beliau, “Yang benar adalah bahwasanya tidak ada batas untuk  banyaknya, karena ‘Aisyah berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ الله</p>
<p>‘Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m dahulu melakukan shalat dhuha sebanyak empat rakaat, dan beliau menambahnya sebanyak yang beliau inginkan.’ (Hr. Muslim, <em>Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab Istihbaab Shalat Dhuha, </em>no. 719)</p>
<p>Jumlah rakaat shalat dhuha tidak ada pembatasannya. Seandainya  seorang sholat dari terbit matahari setombak sampai menjelang  tergelincir matahari, misalnya empat puluh rakaat, maka ini semua masuk  dalam shalat dhuha.” [9]</p>
<p>Ini semua dilakukan dengan dua rakaat-dua rakaat, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa salla</em>m,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى</p>
<p><em>“Shalat malam dan siang adalah dua rakaat-dua rakaat.” </em>(Hr. an-Nasa’i dalam<em> Kitab Qiyam al-Lail wa Tathawu’ an-Nahar, Bab Kaifa Shalat al-Lail:</em> 3/227, dan Ibnu Majah dalam Kitab I<em>qamat ash-Shalat wa as-Sunnah fiha, Bab Ma Ja`a fi Shalat al-Lail wa an-Nahar Matsna Matsna,</em> no. 1322; diniai shahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah: 1/221)</p>
<p>Demikianlah beberapa hukum seputar shalat dhuha. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Artikel <a target="_top">www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
<p>===<br> <strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>[1] Disarikan dari asy-Syarhu al-Mumti’: 4/115-117, Shahih al-Fiqh as-Sunnah: 1/422-424, dan Zad al-Ma’ad: 1/318-348.<br> [2] Asy-Syarhu al-Mumti’: 4/116.<br> [3] Zad al-Ma’ad: 1/346.<br> [4] Majmu’ Fatawa: 22/284.<br> [5] Asy-Syarhu al-Mumti’: 4/117.<br> [6] Lihat: asy-Syarhu al-Mumti’: 4/122–123.<br> [7] Syarhu al-Mumti’: 4/123.<br> [8] Ibid.<br> [9] Ibid: 4/119.</p>
 