
<p><strong>SHALAT DHUHA, PENGGANTI SEDEKAH PERSENDIAN</strong></p>
<p>Oleh<br>
Ustadz Kholid Syamhudi Lc</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan shalat-shalat sunnah untuk menyempurnakan ibadah shalat wajib yang terkadang tidak dapat sempurna pahalanya. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ </strong></p>
<p><em>Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba ialah shalatnya. Apabila baik, maka ia telah beruntung dan selamat; dan bila rusak, maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya , maka Rabb Azza wa Jalla berfirman, “Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat tathawwu’ (shalat Sunnah),” lalu disempurnakanlah dengannya yang kurang dari shalat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian</em>. [HR at-Tirmidzi].</p>
<p>Dan di antara yang disyariatkan ialah shalat Dhu<u>h</u>a.</p>
<p><strong>K</strong><strong>eutamaan </strong><strong>S</strong><strong>halat </strong><strong>D</strong><strong>huha</strong><br>
1. Mencukupkan sedekah sebanyak persendian manusia, yaitu 360 persendian, sebagaimana dijelaskan dalam hadits:</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </strong><strong>أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى. (أخرجه مسلم).</strong></p>
<p>Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau telah bersabda: <em>“Di setiap pagi, ada kewajiban sedekah atas setiap persendian dari salah seorang kalian. Setiap tasbiih adalah sedekah, setiap tahmiid adalah sedekah, setiap tahliil adalah sedekah, setiap takbiir adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Dan dapat memadai untuk semua itu, dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhu<u>h</u>a”</em>.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Juga sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam :</p>
<p><strong>فِي الْإِنْسَانِ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلًا فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِي الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّيْءُ تُنَحِّيهِ عَنْ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ </strong></p>
<p><em>“Dalam diri manusia ada 360 persendian, lalu diwajibkan sedekah dari setiap sendinya,” mereka bertanya,”Siapa yang mampu demikian, wahai Nabi Allah?” Beliau menjawab,”Memendam riak yang ada di masjid dan menghilangkan sesuatu (gangguan) dari jalanan. Apabila tidak mendapatkannya, maka dua raka’at shalat Dhu<u>h</u>a mencukupkanmu.”</em><a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>2. Allah Subhanahu wa Ta’alamenjaga orang yang shalat Dhu<u>h</u>a empat rakaat pada hari tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam hadits:</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَوْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</strong><strong> عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ أخرجه الترمذي. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ</strong></p>
<p><em>Dari Abu Dardaa’ atau Abu Dzar, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Allah Subhanahu wa Ta’alabahwa Allah berfirman: “Wahai Bani Adam, shalatlah untuk-Ku pada awal siang hari empat rakaat, niscaya Aku menjagamu sisa hari tersebut”</em><a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>3. Shalat Dhu<u>h</u>a merupakan shalat <em>al-aww</em><em>â</em><em>b</em><em>î</em><em>n</em>. Yaitu orang yang banyak bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:</p>
<p><strong>لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ قَالَ وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِيْنَ. (أخرجه الحاكم).</strong></p>
<p><em>Tidaklah menjaga shalat Dhu<u>h</u>a kecuali orang yang banyak bertaubat kepada Allah</em>.<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p><strong>Hukum </strong><strong>S</strong><strong>halat</strong> <strong>Dhuha</strong><a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a><br>
Para ulama berselisih tentang hukum shalat Dhu<u>h</u>a dalam beberapa pendapat sebagai berikut.<br>
1. Hukumnya sunnah mutlak, dan disunnahkan melakukannya setiap hari.</p>
<p>Demikian ini madzhab mayoritas ulama, yang berargumentasi dengan beberapa dalil.</p>
<ul>
<li>Keumuman hadits-hadits tentang keutamaan shalat Dhu<u>h</u>a sebagaimana telah disebutkan terdahulu.</li>
<li>Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>أَوْصَانِي خَلِيلِي </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </strong><strong>بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>Kekasihku Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepadaku dengan tiga hal: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhu<u>h</u>a dan Witir sebelum tidur</em>. [Muttafaqun ‘alaihi].</p>
<p style="padding-left: 40px;">Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah menyatakan, hadits ini menunjukkan bahwa shalat Dhu<u>h</u>a adalah sunnah mutlak yang dilakukan setiap hari.<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<ul>
<li>Hadits Mu’âdzah al-‘Adawiyah ketika bertanya kepada ‘Âisyah dengan sebuah pertanyaan:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</strong><strong> يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ </strong></p>
<p style="padding-left: 40px;"><em>“Dahulu, berapa rakaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dhu<u>h</u>a?” Beliau menjawab,”Empat rakaat, dan menambah sesukanya”</em>.<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p>2. Hukumnya sunnah, namun tidak dilakukan setiap hari.<br>
3. Hukumnya bukan sunnah, inilah pendapat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.<br>
4. Shalat Dhu<u>h</u>a hanya disunnahkan karena faktor tertentu.</p>
<p>Pendapat ini <em>dirajihkan</em> Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan Ibnul-Qayyim rahimahullah.</p>
<p>Menurut beliau (Ibnul-Qayyim), barang siapa yang menelaah hadits-hadits marfu’ dan atsar sahabat, tentu akan menyimpulkannya hanya mendukung pendapat ini. Adapun hadits-hadits yang berupa anjuran dan wasiat untuk melakukannya, maka yang <em>sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em> darinya, seperti hadits Abu Hurairah dan Abu Dzar Radhiyallahu anhuma  tidak menunjukkan jika shalat Dhu<u>h</u>a sebagai sunnah yang terus dikerjakan untuk setiap orang.</p>
<p>Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada Abu Hurairah Radhiyallahu anhu  dengan wasiat itu, karena telah diriwayatkan bahwa Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dahulu memilih belajar hadits pada malam hari dari pada shalat, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan melakukannya pada waktu Dhu<u>h</u>a sebagai ganti shalat malam. Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk tidak tidur kecuali setelah berwitir, dan tidak memerintahkan hal itu kepada Abu Bakar, ‘Umar dan seluruh sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum.<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<p>Sedangkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, setelah menjelaskan sunnahnya shalat Dhu<u>h</u>a, beliau rahimahullah menyatakan, masalahnya apakah yang lebih utama melakukannya secara terus-menerus ataukah tidak, karena mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Demikian ini yang menjadi perselisihan para ulama. Yang <em>rajih</em> dikatakan, barang siapa yang kontinyu melakukan shalat malam, maka itu mencukupinya dari melakukan shalat Dhu<u>h</u>a terus-menerus, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu demikian. Barang siapa yang tidak melakukan shalat malam, maka shalat Dhu<u>h</u>a menjadi pengganti shalat malam.<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<p>Adapun yang <em>rajih</em> dari pendapat-penpat tersebut, Insya Allah adalah pendapat pertama, karena keumuman anjuran melakukan shalat Dhu<u>h</u>a. Demikian pula yang <em>dirajihkan</em> Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau menyatakan, yang <em>rajih</em> ialah sunnah mutlak yang terus-menerus dilakukan. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ </strong></p>
<p>(<em>Setiap hari wajib bersedekah bagi setiap persendian dari salah seorang kalian</em>).</p>
<p>Para ulama menjelaskan, bahwa pada tubuh manusia terdapat 360 jumlah persendian, sehingga setiap orang harus bersedekah 360 sedekah setiap hari. Yang dimakusdkan dengan sedekah ini bukan berupa harta, tetapi berupa amalan <em>taqarrub</em> (mendekatkan diri) kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>فَفِي كُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى</strong></p>
<p>(<em>Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Mencukupkan dari itu semua dua rakaat yang dilakukan di waktu Dhu<u>h</u>a</em>).</p>
<p>Berdasarkan hadits ini, maka kami berpendapat bahwa hukum shalat Dhu<u>h</u>a ialah sunnah yang selalu dikerjakan, karena kebanyakan manusia tidak mampu memberikan sedekah hingga 360 sedekah.<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a><br>
<em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>W</strong><strong>aktu Pelaksanaan Shalat Dhuha</strong><br>
Waktu shalat Dhu<u>h</u>a dimulai dari terbitnya matahari hingga menjelang matahari tergelincir (<em>zaw</em><em>â</em><em>l</em>). Sedangkan akhir waktu Dhu<u>h</u>a, yaitu dengan tergelincirnya matahari yang menjadi awal waktu Zhuhur.</p>
<p>Secara rinci Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn menjelaskan bahwa waktu Dhu<u>h</u>a berawal setelah matahari terbit seukuran tombak, yaitu sekitar satu meter. Adapun dalam perhitungan jam, yang <em>ma’ruf</em> ialah sekitar 12 menit, atau untuk lebih hati-hati sekitar 15 menit. Apabila telah berlalu 15 menit dari terbit matahari, maka hilanglah waktu terlarang dan masuklah waktu untuk bisa menunaikan shalat Dhu<u>h</u>a. Sedangkan akhir waktunya, ialah sekitar sepuluh menit sebelum matahari tergelincir.<a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a></p>
<p>Dalil yang menjadi penetapan awal waktu Dhu<u>h</u>a, yaitu hadits Abu Dzar yang berbunyi:</p>
<p><strong>عَنْ رَسُولِ اللَّهِ </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </strong><strong>عَنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ </strong><strong>أخرجه الترمذي</strong><strong>. </strong></p>
<p><em> </em><em>Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Allah Subhanahu wa Ta’alabahwa Allah berfirman: “Wahai Bani Adam, shalatlah untuk-Ku pada awal siang hari empat rakaat, niscaya Aku menjagamu pada sisa hari tersebut”</em>.</p>
<p>Adapun jeda sebelumnya, karena ada larangan shalat sebelum matahari tergelincir. Oleh karena itu, Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah menyatakan, “Jika demikian, waktu shalat Dhu<u>h</u>a dimulai setelah keluar dari waktu larangan pada awal siang hari (pagi hari) sampai adanya larangan saat tengah hari”<a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a></p>
<p><strong>W</strong><strong>aktu </strong><strong>P</strong><strong>aling Utama</strong><br>
Adapun waktu paling utama dalam pelaksanaan shalat Dhu<u>h</u>a ialah di akhir waktunya. Demikian menurut penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah,<a href="#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a> dan hal ini dijelaskan oleh hadits:</p>
<p><strong>أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنْ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </strong><strong>قَالَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya Zaid bin Arqam melihat satu kaum melakukan shalat Dhuha, lalu ia berkata: “Apakah mereka belum mengetahui bahwa shalat pada selain waktu ini lebih utama? Sesungguhnya, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, shalat al-awwab</em><em>î</em><em>n (ialah) ketika anak onta kepanasan”</em>.<a href="#_ftn14" name="_ftnref14">[14]</a></p>
<p><strong>J</strong><strong>umlah Rakaat Dan Tata Cara Shalat</strong><strong>D</strong><strong>huha</strong><br>
Seorang muslim disyariatkan melakukan shalat Dhu<u>h</u>a dua rakaat, atau empat, atau enam, atau delapan, atau lebih tanpa ada batasan tertentu. Inilah yang <em>dirajihkan</em> Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah sebagaimana beliau telah menyatakan, bahwa pendapat yang benar, tidak ada batasan maksimalnya, karena ‘Aisyah berkata:</p>
<p><strong>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </strong><strong>يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ الله </strong></p>
<p>(<em>Dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhu<u>h</u>a empat rakaat, dan menambahnya sangat banyak</em>).<a href="#_ftn15" name="_ftnref15">[15]</a></p>
<p>Seandainya seseorang mengerjakannya sejak matahari terbit seukuran tombak sampai menjelang matahari tergelincir, misalnya 40 rakaat, maka semua ini termasuk dalam shalat Dhu<u>h</u>a.<a href="#_ftn16" name="_ftnref16">[16]</a></p>
<p>Adapun pelaksanaannya, semua dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat berdasarkan keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p><strong>صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى</strong></p>
<p><em>Shalat malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat</em>.<a href="#_ftn17" name="_ftnref17">[17]</a></p>
<p>Demikianlah beberapa penjelasan mengenai shalat Dhu<u>h</u>a, semoga bermanfaat.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> HR Muslim, kitab Shalât al-Musâfirîn wa Qashruha, Bab: Istihbâb Shalat ad-Dhu<u>h</u>a, hadits No. 720.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> HR Abu Dawud no. 5242 dan <em>disha<u>h</u>i<u>h</u>kan</em> oleh Syaikh al-Albâni dalam kitab <em>Irw</em><em>â</em><em>a`ul-Ghaliil</em>, 2/213 dan <em>at-Ta’liq ar-Raghib</em>, 1/235.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> HR at-Tirmidzi, kitab Shalât, Bab: Mâ Jâ`a fi Shalât ad-Dhu<u>h</u>a, no. 475. Abu ‘Isa berkata: “Hadits <u>h</u>asan gharib”. Hadits ini <em>disha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em>kan</em> Ahmad Syakir dalam <em>tahqiq</em> beliau atas kitab at-Tirmidzi. Juga <em>disha<u>h</u>i<u>h</u>kan</em> Syaikh al-Albâni dalam <em>Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em> Sunan at-Tirmidzi</em>, 1/147.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> HR al-Hâkim dalam <em>al-Mustadrak</em>, 1/314. Syaikh al-Albâni menilai sebagai hadits <u>h</u>asan dalam <em>Silsilah al-A<u>h</u></em><em>â</em><em>dits ash-Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em>ah</em> no. 1994; lihat 2/324.<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Lihat <em>asy-Syar<u>h</u>u al-Mumti’</em>, 4/115-117. <em>Sha<u>h</u>i<u>h</u> Fiqhis-Sunnah</em>, 1/422-424. <em>Zâdul-Ma’</em><em>âd</em>, 1/318-348.<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> <em>Asy-Syar<u>h</u>ul-Mumti’</em>, 4/116.<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> HR Muslim, kitab Shalaat al-Musâfirîn wa Qashruha, Bab: Isti<u>h</u>bâb Shalât ad-Dhu<u>h</u>a, hadits no. 719.<br>
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> <em>Zâdul-Ma’</em><em>âd</em>, 1/346.<br>
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> <em>Majmu’ Fatâwâ</em>, 22/284.<br>
<a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> <em>Asy-Syar<u>h</u>ul-Mumti’</em>, 4/117.<br>
<a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> Lihat <em>asy-Syar<u>h</u>ul-Mumti’</em>, 4/122-123.<br>
<a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> <em>Asy-Syar<u>h</u>ul-Mumti’</em>, 4/123.<br>
<a href="#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> <em>Asy-Syarhul-Mumti’</em>, 4/123.<br>
<a href="#_ftnref14" name="_ftn14">[14]</a> HR Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Shalat al-Awwabina Hiina Tarmidhu al-Fishâl, no. 748.<br>
<a href="#_ftnref15" name="_ftn15">[15]</a> HR Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Istihbâb Shalat ad-Dhu<u>h</u>a, no. 719.<br>
<a href="#_ftnref16" name="_ftn16">[16]</a> <em>Asy-Syarhul-Mumti’</em>, 4/119.<br>
<a href="#_ftnref17" name="_ftn17">[17]</a> HR an-Nasâ`i,  dalam kitab <em>Qiy</em><em>â</em><em>mul-Lail wa Tathawu’ an-Nahar</em>, Bab: Kaifa Shalatul-Lail, 3/227. Ibnu Majah dalam kitab Iqâmat ash-Shalat was-Sunnah fî ha, Bab: Mâ Jâ fî Shalatul-Lail wan-Nahâr Matsna-Matsna, no. 1322. <em>Disha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em>kan</em> Syaikh al-Albâni dalam <em>Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em> Ibnu Majah</em>, 1/221.</p>
 