
<p>Sebagaimana diterangkan sebelumnya bahwa ada tiga shalat <strong><span style="color: #0000ff;">sunnah muakkad</span></strong>, yang termasuk shalat sunnah mutlak. Yang telah dibahas adalah mengenai shalat lail atau shalat tahajjud. Sekarang kita melihat hal-hal seputar <strong><span style="color: #0000ff;">shalat Dhuha</span></strong>. Yang akan kita tinjau sekali lagi masih bersumber dari fikih Syafi’i, tepatnya penjelasan para ulama yang menjeleskan kitab <em>Matan Al Ghoyah wat Taqrib</em> atau dikenal pula dengan Matan Abi Syuja’.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Sunnahnya Shalat Dhuha</span></strong></p>
<p>Mengenai pensyari’atan shalat Dhuha disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ</span></span></p>
<p>“<em>Mereka bertasbih di waktu petang dan pagi</em>” (QS. Shaad: 18). Kata Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud isyroq di sini adalah shalat Dhuha. (Lihat <em>Kifayatul Akhyar</em>, hal. 84)</p>
<p>Mengenai maksud Ibnu ‘Abbas di atas terlihat dalam hadits hadits ‘Abdullah bin Al Harits, di mana ia berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">أن ابن عباس كان لا يصلي الضحى حتى أدخلناه على أم هانئ فقلت لها : أخبري ابن عباس بما أخبرتينا به ، فقالت أم هانئ : « دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيتي فصلى صلاة الضحى ثمان ركعات » فخرج ابن عباس ، وهو يقول : « لقد قرأت ما بين اللوحين فما عرفت صلاة الإشراق إلا الساعة » ( يسبحن بالعشي والإشراق) ، ثم قال ابن عباس : « هذه صلاة الإشراق</span></span></p>
<p>Ibnu ‘Abbas pernah tidak shalat Dhuha sampai-sampai kami menanyakan beliau pada Ummi Hani, aku mengatakan pada Ummi Hani, “<em>Kabarilah mengenai Ibnu ‘Abbas</em>.” Kemudian Ummu Hani mengatakan, “<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Dhuha di rumahku sebanyak 8 raka’at.</em>” Kemudian Ibnu ‘Abbas keluar, lalu ia mengatakan, “<em>Aku telah membaca antara dua sisi mushaf, aku tidaklah mengenal shalat isyroq kecuali sesaat</em>.” (Allah berfirman yang artinya), “<em>Mereka pun bertasbih di petang dan waktu isyroq (waktu pagi)</em>” (QS. Shaad: 18). Ibnu ‘Abbas menyebut shalat ini dengan shalat isyroq. (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 4: 59. Syaikh Bazmoul dalam <em>Bughyatul Mutathowwi’</em> mengatakan bahwa atsar ini <em>hasan ligoirihi</em>, yaitu dilihat dari jalur lainnya).</p>
<p>Hadits Abu Hurairah juga menunjukkan sunnahnya shalat Dhuha di mana beliau berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ</span></span></p>
<p>“<em>Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku: (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan (3) berwitir sebelum tidur</em>.” (HR. Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 721.)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari lainnya digunakan lafazh,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ</span></span></p>
<p>“<em>Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku yang tidak kutinggalkan hingga aku mati: (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) belaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan (3) berwitir sebelum tidur</em>.” (HR. Bukhari no. 1178).</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Jumlah Raka’at Shalat Dhuha</span></strong></p>
<p>Jumlah raka’at minimal shalat Dhuha adalah 2 raka’at. Sedangkan menurut Ar Rofi’i, raka’at maksimalnya adalah 12 raka’at. Sedangkan menurut Imam Nawawi dalam Syarh Al Muhaddzab, jumlah raka’at maksimal shalat Dhuha adalah 8 raka’at. Inilah pendapat kebanyakan ulama. Sebagai dalil penguat adalah hadits Ummu Hani (Lihat <em>Kifayatul Akhyar</em>, hal. 84).</p>
<p>Dari Ummu Hani binti Abi Tholib <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَامَ الْفَتْحِ ، فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ ، وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ قَالَتْ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ « مَنْ هَذِهِ » . فَقُلْتُ أَنَا أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِى طَالِبٍ . فَقَالَ « مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ » . فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ ، قَامَ فَصَلَّى ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ ، مُلْتَحِفًا فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، زَعَمَ ابْنُ أُمِّى أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلاً قَدْ أَجَرْتُهُ فُلاَنَ بْنَ هُبَيْرَةَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ » . قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ وَذَاكَ ضُحًى</span></span></p>
<p>“Aku pernah menghadap Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada tahun penaklukan kota Mekkah, aku menemukan beliau sedang mandi. Dan ketika itu putri beliau, Fathimah menutupi diri beliau dan Fathimah berkata setelah kuberi salam padanya. Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, “<em>Siapa ini?</em>” “<em>Aku adalah Ummu Hani binti Abi Tholib</em>”, jawabku. Beliau pun bersabda, “<em>Selamat datang wahai Ummu Hani</em>.” Ketika beliau selesai dari mandinya, beliau berdiri dan melaksanakan shalat 8 raka’at dengan memakai satu pakaian. Ketika beliau selesai dari shalatnya, aku berkata pada beliau, “<em>Wahai Rasulullah, anak ibuku (yaitu ‘Ali bin Abi Tholib) menyangka bahwa ia boleh membunuh orang yang telah saya lindungi (yaitu) si Fulan bin Hubairah</em>.” Maka beliau bersabda, “<em>Kami telah lindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani</em>.” Ummu Hani berkata, “<em>Demikianlah shalat Dhuha</em>.” (HR. Bukhari no. 357 dan Muslim no. 336). Ini menjadi dalill bahwa maksimal raka’at shalat Dhuha adalah 8 raka’at.</p>
<p>Dalam kitab <em>Al Iqna’ </em>(1: 212) disebutkan bahwa pelaksanaan shalat Dhuha  disunnahkan dilakukan dengan tiap dua raka’at salam.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha</span></strong></p>
<p>Syaikh Dr. Musthofa Al Bugho berkata, “Waktu shalat Dhuha adalah mulai dari matahari meninggi hingga waktu zawal (matahari bergeser ke barat). Waktu afdholnya ketika telah masuk ¼ siang.” (At Tadzhib, hal. 50).</p>
<p>Ar Rofi’i mengatakan bahwa waktu pelaksanaan shalat Dhuha adalah mulai dari matahari meninggi (setinggi tombak) hingga istiwa’ (matahari di atas kepala, di pertengahan). Hal ini juga dikatakan oleh Ibnu Ar Rif’ah.</p>
<p>Imam Nawawi dalam <em>Ar Roudhoh</em> mengatakan bahwa waktu pelaksanaan shalat Dhuha menurut ulama Syafi’iyah dimulai dari terbitnya matahari, namun disunnahkan dimulai ketika matahari meninggi.</p>
<p>Waktu terbaik (<em>mukhtaar</em>) untuk shalat Dhuha adalah ketika telah masuk ¼ siang. Imam Nawawi pun menguatkan hal ini (Lihat <em>Kifayatul Akhyar</em>, hal. 84).</p>
<p>Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ ».</span></span></p>
<p>Zaid bin Arqom pernah melihat suatu kaum sedang melaksanakan shalat Dhuha, ia berkata, “<em>Yang mereka tahu bahwa shalat di selain waktu ini lebih afdhol. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat awwabin  yaitu ketika keadaan begitu panas</em>.” (HR. Muslim no. 748).</p>
<p>Shalat Dhuha dalam hadits ini disebut dengan shalat awwabin yaitu shalat orang yang kembali taat sebagaimana kata Imam Nawawi <em>rahimahullah</em>. Waktu afdhol shalat Dhuha adalah ketika sudah begitu siang diperkirakan telah masuk ¼ siang, yaitu keadaannya disebut dengan <em>tarmadhul fishool, </em>yaitu saat pasir mulai panas membakar dan anak unta meninggalkan induknya.</p>
<p><strong>Keterangan</strong>:</p>
<p>1- Waktu matahari meninggi (setinggi tombak), sekitar 10 menit setelah matahari terbit. Silakan diperkirakan untuk setiap daerah karena waktu terbitnya matahari di setiap daerah berbeda-beda. Kalau matahari terbit jam 06.00, maka shalat Dhuha bisa dimulai pukul 06.10. Demikian keterangan para ulama yang sering penulis dengar dan baca.</p>
<p>2- Waktu terbaik shalat Dhuha adalah ketika telah masuk ¼ siang, berarti sekitar jam 7 pagi ke atas.</p>
<p>Semoga bermanfaat dan moga berbuah amal sholih dengan selalu bisa dirutinkan. <em>Wallahu waliyyut taufiq</em>.</p>
<p>@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 1 Muharram 1433 H</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
 