
<h2><strong>Keutamaan Shalat Sunah Antara Adzan dan Iqamah</strong></h2>
<p><em>Assalaamualaikum Ustadz.</em></p>
<p><em>Apakah keutamaan salat sunah antara azan dan iqamah? Dan apakah itu hanya diperuntukkan untuk laki-laki yang salat di masjid?</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaykumussalaam wa rahmatullaahi wa barokaatuh.</em></p>
<p><em>Alhamdulillaahi wahdah, wa-sh sholaatu wa-s salaamu alaa man laa nabiyya ba’dah, ammaa ba’du.</em></p>
<p>Ahlan wa sahlan saudaraku penanya.</p>
<p>Secara umum, salat sunah antara azan dan iqamat dapat digolongkan menjadi dua; Pertama sunah rawatib, dan yang kedua adalah salat sunah non rawatib.</p>
<p>– Adapun salat sunah antara azan dan iqamah yang tergolong rawatib, maka ia adalah:</p>
<ul>
<li>
<strong>2 raka’at sebelum antara azan dan iqamat Subuh</strong>.<br>
Rasulullah –<em>shallallaahu alaihi wa sallam</em>– bersabda:<em> “2 raka’at fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.”</em> (Aisyah –<em>radhiyallaahu anha</em>-, HR. Muslim)<br>
Aisyah –<em>radhiyallaahu anha</em>– juga mengatakan: “Tidak ada salat sunah/nafilah yang lebih dijaga oleh Rasulullah –<em>shallallaahu alaihi wa sallam</em>– melebihi salat sunah fajar.” (HR. Bukhari)</li>
<li>
<strong>4 raka’at antara azan dan iqamat Zuhur.</strong><br>
Rasulullah –<em>shallallaahu alaihi wa sallam</em>– bersabda: <em>“Barang siapa yang menegakkan 4 raka’at sebelum dan sesudah Zuhur, niscaya Allah akan haramkan bagi api neraka untuk melalap tubuhnya.”</em> (Anbasah –<em>radhiyallaahu anhu</em>-, HR. Abu Daud, disahihkan oleh Al-Albani)<br>
Rasulullah –<em>shallallaahu alaihi wa sallam</em>– biasa menunaikan 4 raka’at ini, seraya mengatakan: <em>“Waktu ini adalah saat dibukanya pintu-pintu langit. Dan aku suka jika ada amal salihku yang naik ke langit pada saat tersebut.” (Abdullah bin Sa’ib –radhiyallaahu anhu</em>-. (HR. Ahmad, disahihkan oleh Al-Arna’uth)</li>
</ul>
<p>Dan bagi mereka yang melaksanakan salat sunah rawatib ini, ada keutamaan khusus, sebagaimana Rasulullah – <em>shallallaahu alaihi wa sallam</em>– sabdakan:<br>
<em>“Barang siapa yang salat 12 raka’at dalam sehari semalam, niscaya Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga, yaitu 4 raka’at sebelum Zuhur, 2 raka’at setelahnya, 2 raka’at setelah Magrib, 2 raka’at setelah Isya, dan 2 raka’at sebelum salat Subuh.”</em> (Ummu Habibah –radhiyallaahu anha-, HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Al-Albani)</p>
<p>– Adapun salat-salat lainnya di antara azan dan iqamat, walau ia tidak termasuk rawatib, namun melaksanakannya juga merupakan sunah.</p>
<p>Rasulullah – s<em>hallallaahu alaihi wa sallam</em>– mengatakan: <em>“Di antara setiap azan dan iqamat ada salat.” Beliau mengulanginya 3 kali, sembari mengatakan pada kali ketiga, “… bagi mereka yang ingin untuk mengerjakannya.”</em> (Abdullah bin Mugaffal –radhiyallaahu anhu-, HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Rasulullah – <em>shallallaahu alaihi wa sallam</em>– juga mengatakan: <em>“Salatlah sebelum Maghrib.” Beliau mengulanginya 3 kali, sembari mengatakan pada kali ketiga, “… bagi mereka yang ingin untuk mengerjakannya.”</em> (Abdullah Al-Muzani –radhiyallaahu anhu-, HR. Bukhari)</p>
<p>Sebagaimana para sahabat –<em>radhiyallaahu anhum</em>– juga terbiasa mengamalkannya, dan para ulama pun sepakat bahwa di setiap waktu antara azan dan iqamat disunahkan untuk salat, walau mereka berselisih pada 2 raka’at antara azan dan iqamat pada salat Magrib.</p>
<p>Adapun keutamaan salat antara azan dan iqamat secara khusus, maka tidak ada nas sahih dari Nabi –<em>shallallaahu alaihi wa sallam</em>– yang menyatakannya, namun tetap ia merupakan sunah dan kebaikan yang memiliki keutamaan umum yang sangat besar.</p>
<p>Allah –<em>ta’aala</em>– berfirman:</p>
<p class="arab">وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّئَاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ</p>
<p><em>Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang hendak mengingat.</em> (QS. Hud: 114)</p>
<p>Rasulullah –<em>shallallaahu alaihi wa sallam</em>– bersabda kepada Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami –radhiyallaahu anhu- ketika ia meminta kepadanya untuk dapat menyertainya di surga:</p>
<p><em>“Bantulah aku (untuk mewujudkan itu) dengan memperbanyak sujudmu (salatmu).”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Adapun apakah wanita juga dianjurkan untuk melaksanakan semua hal di atas, maka tentu saja iya. Bukankah yang meriwayatkan hadis-hadis di atas kepada kita adalah Aisyah dan Ummu Habibah, yang keduanya merupakan istri Nabi –shallallaahu alaihi wa sallam-?</p>
<p>Hukum asal setiap syari’at adalah ditujukan kepada lelaki dan wanita, kecuali jika ada dalil yang mengecualikan salah satu dari keduanya dari syari’at tersebut.</p>
<p><em>Wallaahu a’lam.</em> Semoga ini dapat menjawab pertanyaan anda.</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
<li>
<strong>KONFIRMASI DONASI</strong> hubungi: 087-738-394-989</li>
</ul>
<p><iframe src="https://www.youtube.com/embed/8Gf6xIOI7Pg" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
 