
<p><i><span style="font-weight: 400;">Segala puji itu hanyalah milik Allah. Dialah zat yang telah menyempurnakan nikmat-Nya untuk kita dan secara berturut-turut memberikan berbagai pemberian dan anugerah kepada kita.</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuk Nabi kita Muhammad, keluarganya yang merupakan manusia pilihan dan semua sahabatnya yang merupakan manusia-manusia yang bertakwa seiring silih bergantinya malam dan siang.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai</span></i><span style="font-weight: 400;">.” Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika seseorang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula. Berikut beberapa contoh dalam Al Qur’an dan hadits yang menceritakan maksud dari peribahasa ini.</span></p>

<h2><b>Menjaga Hak Allah, Menuai Penjagaan Allah</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah mengajarkan pada Ibnu ‘Abbas –</span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;">– sebuah kalimat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">1</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah). Orang yang melakukan seperti ini, merekalah yang menjaga diri dari batasan-batasan Allah. Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib. Dan yang patut dijaga lagi adalah pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Begitu pula yang mesti dijaga adalah kemaluan, yaitu meletakkannya pada yang halal saja dan bukan melalui jalan haram yaitu zina.</span><span style="font-weight: 400;">2</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan dua penjagaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penjagaan pertama</span><span style="font-weight: 400;">: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barangsiapa menjaga (hak-hak) Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan.” Sebagian salaf mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Jika aku bermaksiat pada Allah, maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan tungganganku.”</span><span style="font-weight: 400;">3</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penjagaan kedua</span><span style="font-weight: 400;">: Penjagaan yang lebih dari penjagaan pertama, yaitu Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga dirinya dari pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan.</span><span style="font-weight: 400;">4</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Semoga dengan menjaga hak-hak Allah, kita semua bisa menuai dua penjagaan ini.</span></i></p>
<h2><b>Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">5</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkhusus lagi, beliau memerintahkan kejujuran ini pada pedagang karena memang kebiasaan para pedagang adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan barang dagangan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Rifa’ah, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ke tanah lapang dan melihat manusia sedang melakukan transaksi jual beli. Beliau lalu menyeru, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Wahai para pedagang</span></i><span style="font-weight: 400;">!” Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka pada beliau. Lantas Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">6</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berlaku jujur juga akan menuai berbagai keberkahan. Yang dimaksud keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan. Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا – أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا – فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">7</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah buah yang dipetik dari pedagang yang tidak berlaku jujur. Sedangkan sebaliknya jika pedagang bisa berlaku jujur, maka ia pun akan menuai berbagai kebaikan dan keberkahan.</span></p>
<h2><b>Mudah Memaafkan dan Tawadhu’, Menuai Kemuliaan</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ رَجُلاً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sedekah tidak mungkin mengurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.</span></i><span style="font-weight: 400;"> “</span><span style="font-weight: 400;">8</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang yang selalu memaafkan akan semakin mulia dan bertambah kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan dan kemuliaan di akhirat. Begitu pula orang yang tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, ia akan ditinggikan derajatnya di dunia, Allah akan senantiasa meneguhkan hatinya dan meninggikan derajatnya di sisi manusia, serta kedudukannya pun akan semakin mulia. Di akhirat pun, Allah akan meninggikan derajatnya karena ketawadhu’annya di dunia.</span><span style="font-weight: 400;">9</span></p>
<h2><b>Berperilaku Baik, Menjadi Teman Akrab</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Fushilat: 34-35)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sahabat yg mulia, Ibnu ‘Abbas –</span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;">– mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”</span><span style="font-weight: 400;">10</span></p>
<h2><b>Menolong dan Memudahkan Sesama, Menuai Pertolongan dan Kemudahan dari Allah</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">11</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara bentuk pertolongan di sini adalah seseorang memberikan kemudahan dalam masalah utang. Ini bisa dilakukan dengan dua cara. </span><span style="font-weight: 400;">Cara pertama</span><span style="font-weight: 400;">, memberikan tenggang waktu pelunasan dari tempo yang diberikan, ini hukumnya wajib. Karena Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Baqarah: 280). </span><span style="font-weight: 400;">Cara kedua</span><span style="font-weight: 400;">, dengan memutihkan hutang tersebut, dan ini dianjurkan. Sebagaimana Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Al Baqarah: 280)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkebalikan dari sikap baik ini adalah mengenakan riba pada saudaranya yang menunda utang. Ini adalah berkebalikan dari memberi kemudahan. Maka tentu saja orang yang memberi kesulitan pada saudaranya akan menuai hasil yang sebaliknya.</span></p>
<h2><b>Usaha disertai Tawakkal akan Menuai Hasil</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Umar bin Al Khoththob </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span><span style="font-weight: 400;">12</span><span style="font-weight: 400;"> Burung ini melakukan usaha dan bertawakkal pada Allah, akhirnya ia pun kenyang ketika pulang di sore hari. Ini berarti tanpa usaha, tidak akan memperoleh hasil apa-apa. Dan usaha tanpa tawakkal, hanya akan memperoleh sekadar yang Allah takdirkan. Yang tepat adalah usaha disertai tawakkal, niscaya hasil memuaskan yang akan dituai.</span></p>
<h2><b>Berbuat Curang, Menuai Berbagai Musibah</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbangm melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup dan kelaliman para penguasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;">13</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan sebab curang dalam perniagaaan inilah sebab dibinasakannya kaum Madyan, umat Nabi Syu’aib ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">alaihis salam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan pada kaum Madyan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَوْفُوا الْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ (181) وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ (182) وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (183)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. Asy Syu’ara: 181-183)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi ingatlah, setiap yang kita tanam -baik kebaikan maupun kejelekan-, pasti kita akan menuai hasilnya. Oleh karenanya, bersemangatlah dalam menanam kebaikan dan janganlah pernah mau menanam kejelekan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama seringkali mengutarakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Sedangkan balasan dari kejelekan adalah kejelekan setelahnya</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span><span style="font-weight: 400;">14</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</span></i></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, </span></i><span style="font-weight: 400;">Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, Beirut, cetakan kedua, 1392.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu Rajab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<i><span style="font-weight: 400;">Sifat Perdagangan Nabi,</span></i><span style="font-weight: 400;"> Muhammad Arifin Badri, MA, Pustaka Darul Ilmi, cetakan pertama, tahun 1429 H.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel </span><span style="font-weight: 400;">Rumaysho.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disempurnakan pada siang hari, 16 Muharram 1431 H di Panggang-Gunung Kidul.</span></p>
<p><b>Footnote:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">1 HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 223-224.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">3 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 225-226.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">4 Faedah dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 224-226.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">5 HR. Muslim no. 2607.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">6 HR. Tirmidzi no. 1210 dan Ibnu Majah no. 2146. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih At Targhib</span></i><span style="font-weight: 400;"> 1785 mengatakan bahwa hadits tersebut </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih lighoirihi</span></i><span style="font-weight: 400;"> (shahih dilihat dari jalur lainnya).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">7 HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">8 HR. Muslim no. 2588, dari Abu Hurairah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">9</span><i><span style="font-weight: 400;"> Al Minhaj Syarh Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 16/141-142.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">10 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 12/243.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">11 HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">12 HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">13 HR. Ibnu Majah no. 4019. Syaikh Al Albani mengatkan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">hasan.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">14 Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 14/372 [Tafsir Surat Al Lail ayat 7]</span></p>
<p> </p>
 