
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;"><span style="font-weight: 400;">Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i></span></h2>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hukum mencela Allah, mencela Rasulullah atau mencela Islam</b></span></h2>
<h2><b>Soal:</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa hukum mencela Allah atau mencela Rasul-Nya, atau merendahkan keduanya? Dan apa hukum menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan? Atau menghalalkan apa yang Allah haramkan? Mohon jelaskan kepada kami, karena banyak sekali hal ini terjadi di tengah masyarakat.</span></p>
<h2><b>Syaikh menjawab:</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua orang yang mencela Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">subhanahu wa ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, apapun bentuk celaannya, atau mencela Rasulullah Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, atau para Rasul yang lainnya, apapun bentuk celaannya, atau mencela Islam, atau merendahkan Allah atau Rasul-Nya, maka ia kafir dan murtad dari Islam. Walaupun orang tersebut mengaku Muslim. Ulama ijma’ (sepakat) akan hal ini. Berdasarkan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah: apakah dengan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok? Tidak perlu minta maaf, kalian telah kafir setelah sebelumnya beriman”</span></i><strong> (QS. At Taubah: 65-66).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Allamah Abul Abbas Ibn Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah berpanjang lebar membahas masalah ini dalam kitab beliau berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul</span></i><span style="font-weight: 400;">. Siapa yang ingin mempelajari masalah ini lebih banyak beserta dalil-dalilnya, silakan merujuk pada kitab tersebut. Karena kitab ini agung dan penulisnya juga mulia, serta sangat luas ilmunya, rahimahullah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga hukum bagi orang yang menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan yang termasuk perkara </span><i><span style="font-weight: 400;">ma’lum minad diin bid dharurah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (perkara yang secara gamblang diketahui oleh orang Muslim). Seperti menentang wajibnya shalat, menentang wajibnya zakat, menentang wajibnya puasa Ramadhan, menentang wajibnya haji bagi orang yang mampu, menentang wajibnya berbakti kepada orang tua, dan semisalnya, atau menghalalkan minum khamr, menghalalkan durhaka kepada orang tua, menghalalkan harta dan darah orang lain tanpa hak, menghalalkan riba, dan semisalnya, yang termasuk perkara  </span><i><span style="font-weight: 400;">ma’lum minad diin bid dharurah, </span></i><span style="font-weight: 400;">berdasarkan ijma ulama ia kafir murtad dari Islam, walaupun mengaku Muslim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama telah berpanjang lebar dalam pembatal-pembatal keislaman ini, khususnya dalam bab tentang murtad. Mereka telah menjelaskan dalil-dalilnya. Siapa yang ingin mempelajarinya lebih lanjut, silakan merujuk kepada kitab-kitab para ulama dalam bab ini. Baik ulama dari kalangan Hanabilah, Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan yang selain mereka. InsyaAllah akan didapatkan penjelasan yang memuaskan dari kitab-kitab mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan tidak boleh memberikan udzur bil jahl kepada mereka. Karena ini perkara-perkara yang sudah gamblang diketahui oleh kaum Muslimin. Dan hukumnya sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu waliyyut taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa aalihi wasallam.</span></i></p>
<p><strong>(<i>Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah</i>, 7/45).</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/24440-fatwa-ulama-menyikapi-penghina-nabi-di-negeri-non-muslim.html" data-darkreader-inline-color="">Menyikapi Penghina Nabi Di Negeri Non-Muslim</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Sikap terhadap pencela agama</b></span></h2>
<h2><b>Soal:</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika ada da’i yang mendakwahkan Islam dan mendakwahkan tentang shalat, lalu ketika itu ada orang yang mencela agama dan menghina Rasul serta mencela Allah, bagaimana sikap kita?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh bertanya: siapa yang mencela?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penanya:  yang mencela adalah yang didakwahi</span></p>
<h2><b>Syaikh menjawab: </b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, hendaknya dia dinasehati dan dijelaskan bahwasanya itu perbuatan kufur dan sesat. Orang-orang yang hadir juga hendaknya menasehatinya, berbicara dengannya dan menjelaskan kekeliruannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ia bertaubat, </span><i><span style="font-weight: 400;">alhamdulillah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Jika tidak, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Jika pemerintahnya menerapkan syari’at Allah, maka diangkat perkaranya kepada pemerintah. Untuk kasus seperti ini, pelaku harus diberi hukuman, bahkan dipenjara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun jangan langsung serahkan kepada pemerintah, namun nasehati terlebih dahulu. Ajak bicara ia dengan perkataan tegas jika ia terus-menerus melakukan perbuatan batil tersebut. Ancam dia bahwa ia akan dilaporkan kepada ulil amri. Mudah-mudahan ia mau kembali ke jalan yang benar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena mencela agama itu perbuatan </span><i><span style="font-weight: 400;">riddah </span></i><span style="font-weight: 400;">(mengeluarkan pelakunya) dari Islam, </span><i><span style="font-weight: 400;">na’udzubillah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Mencela Rasulullah juga perbuatan <em>riddah</em> dari Islam. Andaikan seseorang mengatakan: “Rasulullah tidak paham masalah seperti ini, tidak tahu masalah ini…”, atau mengatakan: “Rasulullah orang kampung, tidak paham masalah seperti ini dan itu…” ini adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">riddah </span></i><span style="font-weight: 400;">dari Islam, dan merupakan kufur akbar,  </span><i><span style="font-weight: 400;">na’udzubillah.</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atau seseorang mengatakan: “Aturan syariat ini tidak benar…”, “Aturan syariat ini tidak cocok untuk zaman sekarang…”, “Syariat ini itu hanya cocok untuk zaman dulu…”, ini juga </span><i><span style="font-weight: 400;">riddah</span></i><span style="font-weight: 400;">,  </span><i><span style="font-weight: 400;">na’udzubillah.</span></i></p>
<p><strong>Sumber: <a href="https://bit.ly/2PJZ6YH">https://bit.ly/2PJZ6YH</a> </strong></p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://muslim.or.id/24172-siapa-yang-berhak-menghukum-penghina-nabi-shallallahualaihi-wasallam.html"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Siapa Yang Berhak Menghukum Penghina Nabi Shallallahu&amp;#8217;alaihi Wasallam?</span></a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Pencela agama, jika ia shalat apakah dianggap bertaubat?</b></span></h2>
<h2><b>Soal:</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana hukum orang yang pernah mencela agama atau mencela Allah? Namun ketika datang waktu shalat, ia pun berwudhu dan shalat wajib. Apakah dengan ia melaksanakan shalat wajib dapat dianggap bahwa ia telah mengumumkan taubatnya?</span></p>
<h2><b>Syaikh menjawab: </b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Mencela agama dan mencela Allah adalah kemurtadan yang besar. Sekali lagi saya katakan, ini kemurtadan yang besar dari Islam. </span><i><span style="font-weight: 400;">Na’udzubillah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang wajib dilakukan oleh pelakunya adalah bersegera untuk bertaubat, menyesal dan berhenti melakukan perbuatan tersebut. Tidak cukup dengan shalat. Karena shalat belum memenuhi (syarat taubat dari murtad). Namun wajib bertaubat dengan tulus atas perbuatan yang ia lakukan. Dan bertekad untuk tidak mengulang lagi perbuatan tersebut. Karena perbuatan jahat yang ia lakukan ini sangat fatal. Maka tidak boleh bermudah-mudahan dalam perkara ini. Wajib bagi dia untuk taubat dengan segera.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan hakikat dari taubat adalah menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan, dengan penuh menyesal dan kesedihan yang mendalam karena telah melakukannya. Disertai tekad yang tulus untuk tidak mengulanginya lagi. Dan sebelum ia lakukan ini semua, shalatnya tidaklah sah. Karena shalatnya dianggap sebagai shalat orang yang kafir. Maka wajib untuk bertaubat sebelum ia shalat. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24172-siapa-yang-berhak-menghukum-penghina-nabi-shallallahualaihi-wasallam.html" data-darkreader-inline-color="">Siapa Yang Berhak Menghukum Penghina Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47202-selektif-dalam-menuntut-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Selektif Dalam Menuntut Ilmu Agama</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Sumber: <a href="https://bit.ly/2XTfNFF">https://bit.ly/2XTfNFF</a> </strong></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penerjemah: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 