
<p>“<em>Itu kan kebaikan, kenapa dilarang?!</em>“. Inilah sanggahan yang sering kita dengar dari sebagian orang yang terjatuh dalam amalan bid’ah saat diingatkan.</p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Sungguh, perkataan ini merupakan tanda kurang-tahunya dia tentang bid’ah. Jika dia mengetahui hal-hal berikut, tentu ucapan itu tidak akan terlontar darinya.</p>
<ol>
<li>Ranah bid’ah adalah ibadah, sehingga <span style="text-decoration: underline;">tidak mungkin terlihat sebagai keburukan</span>. Semua bid’ah tentunya terlihat baik, karena berupa ibadah yang dibuat-buat dan dimodifikasi sehingga terlihat mulia dan sangat pas.</li>
<li>Bid’ah bukan sekedar amalan yang tidak diterima. Tapi, <span style="text-decoration: underline;">dia merupakan DOSA</span> yang harus ditinggalkan, sebagaimana sabda Nabi <em>shollallohu alaihi wasallam</em>: “<em>Jauhilah hal-hal yg baru (dalam agama), karena semua perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah KESESATAN</em>“. (HR. Abu Dawud:4607 dan yang lainnya, shahih).</li>
<li>Ketika bid’ah sudah biasa dilakukan, maka <span style="text-decoration: underline;">sunnah Nabi –<em>shollallohu alaihi wasallam</em>– akan dianggap sebagai sebuah kekurangan</span>, bahkan suatu kemungkaran.</li>
</ol>
<p>Diantara contohnya, adalah bersalam-salaman setelah shalat fardhu. Nabi –<em>shollallohu alaihi wasallam</em>– dahulu tidak pernah bersalam-salaman setelah salam dari shalat fardhu. Ini menunjukkan bahwa diantara sunnah Nabi adalah tidak bersalam-salaman setelah shalat fardhu. Nah, ketika bid’ah bersalam-salaman setelah shalat ini menjadi kebiasaan di suatu tempat, maka meninggalkannya akan dianggap suatu kekurangan, bahkan suatu kemungkaran.</p>
<p>Padahal dahulu Nabi –<em>shollallohu alaihi wasallam</em>– meninggalkan hal itu dan tidak melakukannya, pantaskah kita katakan bahwa amaliah Nabi itu kurang, atau bahkan suatu kemungkaran?!</p>
<p>Ulama besar dari madzhab syafi’i, Al-Izz bin Abdussalam (w 660 H) telah menegaskan: “Bersalam-salaman setelah shalat subuh dan shalat ashar termasuk amalan BID’AH. Dahulu Nabi –<em>shollallohu alaihi wasallam</em>– setelah shalat; membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dan beristighfar tiga kali, kemudian beliau pergi. Dan semua kebaikan ada dalam tindakan mengikuti Rosul <em>shallallohu alaihi wasallam</em>. (Oleh karenanya) Imam Syafi’i menganjurkan kepada imam untuk pergi setelah salamnya”. (<em>Al-Fatawa</em>, karya: Al-Izz bin Abdussalam, hal: 46-47).</p>
<p>Tidak bisa dipungkiri, bahwa orang yang sudah terbiasa bersalam-salaman setelah shalat fardhu, kemudian dia tidak melakukannya atau melihat orang lain tidak melakukannya, tentu dia merasa kurang <em>afdhol</em>, padahal justru itulah sunnah Nabi shollallohu alaihi wasallam. Pantaskah sunnah Nabi dianggap kurang <em>afdhol</em>?! Atau pantaskah ajaran beliau dirasa ada yang kurang?!</p>
<p>Saudaraku kaum muslimin, cobalah perhatikan amalan-amalan bid’ah lainnya yang ada di sekitar Anda, tentu Anda akan mendapati kenyataan di atas. Jika tidak percaya, silahkan dibuktikan.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
</div>
 