
<p>Setelah kita melihat berbagai penyimpangan dari ritual pesugihan yang di antaranya dibahas mengenai bentuk kesyirikan di dalamnya, bentuk bid’ah dan maksiat, kali ini kita akan melanjutkan pembahasan terakhir mengenai solusi agar terhindar dari ritual pesugihan.</p>
<p>Berikut beberapa solusinya:</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">1-</span></strong> Membentengi diri dengan akidah yang benar</p>
<p>Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa perintah yang utama bagi manusia adalah mentauhidkan Allah. Dan ibadah barulah dinamakan ibadah jika disertai dengan tauhid. Tanpa tauhid ibadah tidaklah disebut ibadah. Hal ini dapat kita misalkan dengan shalat tidaklah disebut shalat sampai seseorang itu berthoharoh atau bersuci. Hal ini sudah menunjukkan dengan sendirinya urgensi tauhid.</p>
<p>Begitu pula syirik itu bisa merusak amalan sebagaimana adanya hadats, membuat thoharoh (keadaan bersuci) seseorang menjadi rusak. Oleh karena sangat penting untuk memahami kesyirikan karena syirik adalah suatu perangkap yang berbahaya. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya. Inilah ungkapan yang kami petik dari penjelasan Syaikh Muhammad At Tamimi dalam <em>Al Qowa’idul Arba’</em>.</p>
<p>Dalil-dalil yang menunjukkan urgensi mempelajari tauhid di antaranya,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا</span></span></p>
<p>“<em>Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya</em>.” (QS. Al Kahfi: 110). Ayat ini sudah menunjukkan syarat diterimanya ibadah yaitu tauhid dan ittiba’. <em>Tauhid</em> maksudnya mengikhlaskan ibadah untuk Allah semata, sedangkan <em>ittiba’</em> maksudnya adalah mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dalam beramal.</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” (<em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 9: 205). Ini berarti jika akidah seseorang tidak beres, maka amalannya tidak diterima. Ini dalil pertama yang menunjukkan seseorang harus memiliki akidah yang benar.</p>
<p>Begitu pula dalil lainnya menunjukkan bahwa amalan yang tercampur dengan syirik akan merusak amalan. Bahkan jika yang dilakukan adalah syirik akbar (besar), seluruh amalan terhapus. Sedangkan jika yang dilakukan adalah syirik ashgor, maka amalan yang tercampur dengan kesyirikan saja yang terhapus. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</span></span></p>
<p>“<em>Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi</em>.” (QS. Az Zumar: 65)</p>
<p>Bahkan dakwah para rasul adalah untuk meluruskan akidah umat yaitu dengan beribadah pada Allah saja dan meninggalkan kesyirikan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</span></span></p>
<p>“<em>Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thoghut (sesembahan selain Allah)</em>’” (QS. An Nahl: 36)</p>
<p>Begitu pula urgensi bertauhid ditunjukkan pula dalam ayat berikut,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ</span></span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya</em>.” (QS. An Nisa’: 48). Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata, “<em>Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik yaitu ketika seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik</em>.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 3: 129).</p>
<p>Sedangkan jika seseorang mati dalam keadaan bertauhid walau ia penuh dosa sepenuh bumi, maka Allah akan memaafkannya. Syaratnya adalah ia bebas dari syirik. Dalam hadits qudsi dari Anas bin Malik, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً</span></span></p>
<p>“<em>Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula</em>.” (HR. Tirmidzi no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Abu Thohir)</p>
<p>Jika seseorang memiliki tauhid dan akidah yang benar, maka ia akan semakin sadar bahwa dirinya hanya bergantung pada Allah, bukan pada makhluk yang hina. Hingga ia pun tahu kelamnya ritual pesugihan.</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>2-</strong> </span>Mengenal keagungan Allah, sehingga Allah tidaklah direndahkan dengan lainnya</p>
<p>Allah itu Maha Besar dan Maha Agung. Makhluk begitu kerdil dibandingkan dnegan kebesaran Allah. Hadits yang kita kaji kali ini menerangkan pula bahwa orang yang menyekutukan Allah dengan sesembahan yang lain tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya.</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنه – قَالَ جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الأَحْبَارِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ ، إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ وَالأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ ، وَسَائِرَ الْخَلاَئِقِ عَلَى إِصْبَعٍ ، فَيَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ . فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ الْحَبْرِ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ( وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ )</span></span></p>
<p>Dari ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ’anhu, </em>ia berkata, “Salah seorang pendeta Yahudi pernah mendatangi Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> seraya berkata”, Wahai Muhammad, sesungguhnya kami dapati (dalam kitab suci kami) bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, kemudian Allah berfirman, “<em>Akulah Penguasa (raja)</em>”, maka Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> tertawa (lebar) sampai nampak gigi geraham beliau dalam rangka membenarkan ucapan pendeta Yahudi tadi, kemudian beliau membacakan firman Allah (yang artinya), “<em>Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagung-agungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat</em>.” (QS. Az Zumar: 67). (HR. Bukhari no. 4811 dan Muslim no. 2786).</p>
<p>Jika seorang muslim tahu agung dan besarnya Rabb yang ia sembah setiap waktu, maka ia tentu tidak akan tega menduakan Allah dalam ibadah.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">3-</span></strong> Mengadu segala hajat hanya pada Allah lewat do’a</p>
<p>Kita kadang merasa mudah berputus asa dan putus harapan. Seakan-akan tidak ada yang isa menyelesaikan setiap kesulitan kita. Padahal ada Allah yang setiap saat mendengar do’a setiap hamba-Nya, walau disampaikan dalam berbagai bahasa, walau semua makhluk menyampaikan hajat mereka dalam satu waktu. Allah selalu sibuk mengabulkan do’a-do’a mereka.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ</span></span></p>
<p>“<em>Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan</em>” (QS. Ar Rahman: 29).</p>
<p>Ayat di atas menunjukkan bagaimana kemaha sempurnaan Allah, di mana ia tidak butuh pada makhluk-Nya, malah setiap makhluk yang butuh pada-Nya. Mereka mengeluhkan setiap hajat mereka pada Allah. Mereka menyampaikan urusan mereka dengan lisan dan menunjukkan dengan mereka yang lemah. Sungguh, Allah setiap waktu itu sangat sibuk, yaitu dalam hal mengabulkan do’a hamba-Nya.</p>
<p>Al A’masy, dari Mujahid, dari ‘Ubaid bin ‘Umair berkata, “Setiap harinya Allah benar-benar sibuk, maksudnya adalah sibuk dalam mengabulkan do’a, Dia memberi siapa yang meminta, Dia menolong siapa yang sedang mengalami kesulitan, Dia pun menyembuhkan yang sedang mengalami derita sakit.”</p>
<p>Ibnu Abi Najih berkata, dari Mujahid, ia berkata, “Setiap hari Allah benar-benar sibuk dalam mengabulkan do’a hamba-Nya, Dia melepaskan kesulitan, mengabulkan hajatan orang yang sedang terhimpit (<em>mudhtorr</em>), dan Dia-pun mengampuni dosa.”</p>
<p>Qotadah mengatakan, “Allah sungguh tidak butuh pada penduduk langit dan bumi. Allah menghidupkan dan mematikan, Dia pun dapat mengembangkan suatu yang kecil dan membuat segalanya mudah. Di sisi-Nya hajatan orang sholih dikeluhkan dan aduan mereka ditujukan.”</p>
<p>Dalam tafsir Al Jalalain karya Al Mahalli dan As Suyuthi disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">{ يَسْئَلُهُ مَن فِى السموات والأرض } أي بنطق أو حال : ما يحتاجون إليه من القوّة على العبادة والرزق والمغفرة وغير ذلك { كُلَّ يَوْمٍ } وقت { هُوَ فِى شَأْنٍ } أمر يُظهره على وفق ما قدّره في الأزل من إحياء وإماتة وإعزاز وإذلال وإغناء وإعدام وإجابة داع وإعطاء سائل وغير ذلك .</span></span></p>
<p>“Segala yang berada di langit dan bumi memohon pada Allah dengan lisan dan keadaan harap mereka. Mereka meminta hajat untuk dapat kuat dalam ibadah, juga diberikan karunia rizki dan ampunan Allah, serta hajat lainnya yang diminta. Setiap waktu, Allah benar-benar tersibukkan dengan segala hal yang Allah Maha Mampu, yaitu menghidupkan, mematikan, menguatkan, merendahkan, mencukupkan, membuat tidak ada, mengijabahi setiap do’a yang dipanjatkan, juga sibuk memberi yang meminta, serta sibuk dengan berbagai urusan lainnya.”</p>
<p>Ayat ini menggambarkan bagaimana setiap makhluk hakekatnya amat butuh pada Allah. Namun sungguh sangat disayangkan masih banyak yang merasa butuh pada makhluk, memalingkan ibadah pada makhluk, bahkan mereka meminta pada mayyit yang tiada punya daya apa-apa. Padahal Allah <em>Ta’ala</em> berfirman mengenai orang-orang yang meminta pada selain Allah yang tiada dapat mengabulkan do’a,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ (14) يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15)</span></span></p>
<p>“<em>Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.</em>” (QS. Fathir: 14-15).</p>
<p>Sehingga jika ada yang menyeru pada selain Allah dalam menyampaikan hajatnya, maka sungguh ia tidak memuliakan Allah, Yang Maha Ghoni, Maha Kaya lagi Mencukupi segala hajat hamba-Nya.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">4-</span></strong> Memahami takdir ilahi</p>
<p>Takdir Allah itu baik dan Allah menetapkannya sesuai yang terbaik bagi hamba.  Ketahuilah setiap yang terjadi di muka bumi ini sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun yang lalu sebelum penciptaan langit dan bumi. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ</span></span></p>
<p>“<em>Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi</em>.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)</p>
<p>Jika seseorang mengimani takdir ini dengan benar, maka ia pasti akan memperoleh kebaikan yang teramat banyak. Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” (Al Fawaid, hal. 94)</p>
<p>Yang Allah takdirkan tidaklah sia-sia. Pasti ada hikmah di balik itu semua. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ  فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ</span></span></p>
<p>“<em>Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia</em>.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ</span></span></p>
<p>“<em>Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq</em>.” (QS. Ad Dukhan: 38-39). Kalau seseorang memahami takdir ilahi dengan benar, maka ia akan selalu bersabar setiap menghadapi kesusahan dan kesempitan. Jika ia memahami demikian, ritual pesugihan tidak akan ia tempuh hanya untuk meraih kepuasan dunia yang sementara.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong><span style="color: #ff0000;">5-</span></strong> </span>Merasa cukup dengan nikmat harta yang Allah beri</p>
<p>Jika seseorang memiliki sifat <em>qona’ah</em> yaitu merasa cukup dengan setiap apa yang Allah beri, maka tentu ia tidak akan pernah iri dengan rizki yang ada pada orang lain. Tentu pula ia tidak akan bersusah payah hanya mencari dunia dengan menempuh jalan pesugihan yang Allah murkai. Karena memang kekayaan yang hakiki bukanlah dengan banyaknya harta, namun hati yang selalu merasa cukup.</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ</span></span></p>
<p>“<em>Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup</em>.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)</p>
<p>Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب</span></span></p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).</em>” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim). Moga Allah menganugerahkan kita sifat <em>qona’ah</em> ini.</p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">6-</span></strong> Jauhi banyak berutang</p>
<p>Berawal dari berprinsip hidup yang tidak pernah merasa cukup, akhirnya hidup pun lebih senang diisi dengan banyak berutang. Itulah yang menjadikan seseorang kalang kabut sehingga ujung-ujungnya ketika tidak ada lagi jalan keluar, cara pesugihanlah yang ditempuh. Jadi pelajaran yang penting bagi kita supaya mengurangi banyak berutang.</p>
<p>Ini di antara akibat banyak utang,</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ</span></span></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham</em>.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>).</p>
<p dir="RTL" align="center"><span style="font-size: 14pt;"><span style="color: #800000;">نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ</span></span></p>
<p>“<em>Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya</em>.” (HR. Tirmidzi no. 1078 dan Ibnu Majah no. 2413. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al ‘Iroqiy mengatakan, “Urusannya masih menggantung, artinya tidak bisa kita katakan ia selamat ataukah sengsara sampai dilihat utangnya tersebut lunas ataukah tidak.” (<em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 3: 142).</p>
<p>Semoga Allah menyelematkan kita dari akidah sesat, serta menyelamatkan kita dari berbagai penyimpangan yang dapat berujung pada kesengsaraan dunia dan akhirat. <em>Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah</em>.</p>
<p>Berakhir sudah pembahasan ritual pesugihan, moga bermanfaat bagi kaum muslimin. <em>Alhamdulillahilladzi bi ni’atihi tatimmush sholihaat</em>, segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p> </p>
<p>Baca artikel sebelumnya tentang pesugihan di Rumaysho.com:</p>
<ul style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; border: 0px; outline: 0px; font-size: 11.818181991577148px; background-color: transparent; list-style-type: square; list-style-position: inside; color: #666666; line-height: 18.18181800842285px;">
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (11)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-11-3211">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (11)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (10)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-10-3203">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (10)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (9)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-9-3201">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (9)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (8)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-8-3199">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (8)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (7)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-7-3195">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (7)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (6)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-6-3193">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (6)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (5)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-5-3189">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (5)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (4)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-4-3184">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (4)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (3)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-3-3176">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (3)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (2)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-2-3172">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (2)</a></li>
<li style="margin: 0px; padding: 0px 0px 0px 2em; border: 0px; outline: 0px; line-height: 18.18181800842285px;"><a style="margin: 0px; padding: 0px; border: 0px; outline: 0px; background-color: transparent;" title="Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (1)" href="https://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/ritual-pesugihan-dan-ingin-kaya-mendadak-1-3170">Ritual Pesugihan dan Ingin Kaya Mendadak (1)</a></li>
</ul>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan 20 Jumadal Ula 1434 H, siang hari di <a href="http://darushsholihin.com/"><span style="color: #0000ff;">Pesantren Darush Sholihin</span></a>, Panggang-Gunungkidul</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/"><span style="color: #0000ff;">www.rumaysho.com</span></a></p>
<p> </p>
<p>Silakan follow status kami via Twitter <a href="https://twitter.com/RumayshoCom"><span style="color: #ff0000;">@RumayshoCom</span></a>, <a href="http://www.facebook.com/muhammad.tuasikal"><span style="color: #ff0000;">FB Muhammad Abduh Tuasikal</span></a> dan <a href="http://www.facebook.com/rumaysho"><span style="color: #ff0000;">FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat</span></a></p>
 