
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh musibah silih berganti menimpa kaum muslimin. Realita ini mengharuskan kita semua untuk berpikir keras mencari solusi permasalahan. Banyak analisis yang diberikan beberapa pihak untuk mengidentifikasi problem yang sebenarnya dihadapi oleh kaum muslimin. Jika identifikasi yang diajukan tidak tepat, tentu solusi yang ditawarkan juga tidak pas.</span></p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Berbagai Solusi yang Ditawarkan Berbagai Pihak</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada yang mengatakan bahwa problema umat Islam yang paling mendasar adalah </span><b>konspirasi musuh-musuh Islam</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu orang-orang kafir dan kemenangan orang kafir atas kaum muslimin. Pihak pertama ini menawarkan solusi berupa menyibukan kaum muslimin dengan strategi-strategi orang-orang kafir, perkataan dan penegasan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada juga yang mengatakan bahwa permasalahan kaum muslimin yang paling pokok adalah </span><b>berkuasanya para pemimpin yang zalim</b><span style="font-weight: 400;"> di berbagai negeri kaum muslimin. Sehingga pihak kedua ini menawarkan solusi berupa upaya menggulingkan pemerintahan yang ada dan menyibukkan kaum muslimin dengan hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa masalah kita yang paling pokok adalah </span><b>perpecahan kaum muslimin</b><span style="font-weight: 400;">. Oleh karenanya solusi tepat adalah menyatukan kaum muslimin sehingga kaum muslimin unggul dalam kuantitas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada juga analisis keempat. Analisis ini mengatakan bahwa penyakit akut umat ini adalah </span><b>meninggalkan jihad </b><span style="font-weight: 400;">sehingga obat penyakit ini adalah mengibarkan bendera jihad dan menabuh genderang perang melawan orang-orang kafir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada juga analisis yang lainnya bahwa problema umat Islam ini adalah </span><b>karena masih banyaknya kaum muslimin yang berada di bawah garis kemiskinan </b><span style="font-weight: 400;">sehingga mereka menawarkan solusi untuk memperbaiki ekonomi kaum muslimin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada juga yang mengatakan bahwa problema umat Islam adalah karena </span><b>belum adanya khilafah islamiyah</b><span style="font-weight: 400;">. Sehingga solusi yang tepat menurut mereka adalah dengan menegakkan khilafah Islamiyah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Marilah kita telaah bersama pendapat-pendapat di atas dengan dua panduan kita yaitu </span><b>Al Qur’an dan Sunnah</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><b>Problema: Konspirasi Orang Kafir</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkait dengan pendapat pertama, kita jumpai firman Allah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS Ali Imran: 120).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat di atas dengan tegas menunjukkan bahwa jika kita benar-benar bertakwa kepada Allah maka konspirasi musuh bukanlah ancaman yang berarti.</span></p>
<p><b>Problema: Penguasa yang Zalim</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentang pendapat kedua, kita jumpai firman Allah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan demikianlah, kami jadikan orang yang zalim sebagai pemimpin bagi orang zalim disebabkan maksiat yang mereka lakukan</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS Al An’am: 129).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat ini menunjukkan bahwa penguasa yang zalim hukuman yang Allah timpakan kepada rakyat yang juga zalim disebabkan dosa-dosa rakyat. Jika demikian, penguasa yang zalim bukanlah penyakit bahkan penyakit sebenarnya adalah keadaan rakyat.</span></p>
<p><b>Problema: Perpecahan Kaum Muslimin</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan untuk pendapat ketiga kita dapati firman Allah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS At Taubah:25).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan dan jumlah yang banyak tidaklah bermanfaat jika kemaksiatan tersebar di tengah-tengah mereka. Kita lihat dosa ujub telah menghancurkan faedah dari jumlah yang banyak sehingga para shahabat menuai kekalahan pada saat perang Hunain. Di antara maksiat adalah menyatukan barisan bersama orang-orang yang membenci ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sikap tepat terhadap mereka adalah memberikan nasihat, bukan mendiamkan kesalahan. Sikap minimal adalah mengingkari dengan hati dalam bentuk tidak menghadiri acara-acara yang menyimpang dari sunnah bukan malah menikmati.</span></p>
<p><b>Problema: Meninggalkan Jihad</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk pendapat keempat kita katakan bahwa jihad itu bukanlah tujuan namun yang menjadi tujuan adalah </span><b>menegakkan agama Allah di muka bumi</b><span style="font-weight: 400;">. Oleh karena itu, ketika kaum muslimin lemah dari sisi agama dan persenjataan maka menabuh genderang perang pada saat itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Oleh karena itu, Allah tidak mewajibkan jihad kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau masih berada di Mekah dikarenakan berperang ketika itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya.</span></p>
<p><b>Problema: Kemiskinan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita melihat pendapat yang lainnya yang mengatakan bahwa solusi problematika umat adalah kemiskinan, maka ini juga bisa disanggah dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>فَوَاللَّهِ لاَ الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Demi Allah, sebenarnya bukanlah kemiskinan yang aku takutkan akan membahayakan kalian. Akan tetapi, yang kutakutkan adalah apabila dunia telah dibentangkan pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan pula bagi orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun akhirnya berlomba-lomba untuk meraih dunia sebagaimana orang-orang terdahulu berlomba untuk mendapatkannya. Akhirnya kalian pun akan binasa, sebagaimana mereka binasa.</span></i><span style="font-weight: 400;"> ” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukanlah perkara yang ditakutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam takut adalah apabila manusia sudah terpesona dengan dunia dan akibatnya mereka melanggar batasan-batasan Allah dan terjerumus dalam kubangan maksiat.</span></p>
<p><b>Solusi yang Tepat: Membersihkan Diri dari Dosa Terutama Kesyirikan dan Kembali Mentauhidkan-Nya</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, identifikasi yang tepat untuk penyakit yang membinasakan umat dan menjadikan kaum muslimin terbelakang adalah </span><b>dosa-dosa kita sendiri</b><span style="font-weight: 400;">. Banyak dalil dari al Qur’an yang menunjukkan hal ini. Di antaranya adalah firman Allah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS Ali Imran:165).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (</span><b>QS. Asy Syuraa: 30</b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">‘</span></i><span style="font-weight: 400;">Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (</span><b><i>Al Jawabul Kaafi, hal. 87</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (</span><b><i>Al Jawabul Kaafi, hal. 87</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Rojab Al Hambali –rahimahullah- mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (</span><b><i>Latho’if Ma’arif, hal. 75</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh sebab itu, obat yang mujarab adalah membersihkan diri kita dan seluruh umat dari dosa. Sedangkan dosa yang paling berbahaya adalah </span><b>syirik dan bid’ah</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/1499-ngalap-berkah-yang-syirik-dan-bidah.html" target="_blank" rel="noopener">Ngalap Berkah yang Syirik dan Bid’ah</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala menjelaskan bahwa dosa syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni jika pelakunya masih belum bertaubat ketika kematian menjemputnya. Inilah yang menunjukkan bahaya kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah kesyirikan, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. An Nisa’: 48)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga bid’ah (melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Nabi) adalah dosa yang berbahaya karena sebab bid’ah, amalan seorang muslim menjadi tertolak dan sia-sia belaka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim) Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Setiap kesesatan tempatnya di neraka</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. An Nasa’i. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula kita berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mengembalikan umat kepada panduan hidup mereka yaitu Al Qur’an dan sunnah Rasul sebagaimana pemahaman salaf. Kita habiskan umur dan harta kita untuk menegakan bendera tauhid dan sunnah dan menghancurkan bendera syirik dan bid’ah dengan berbagai sarana dan media yang kita miliki.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b><i>Jika bendera tauhid dan sunnah telah tegak berkibar dan bendera syirik dan bid’ah hancur maka saat itu kita berhak mendapatkan janji Allah yaitu kemenangan.</i></b></span></p>
<p> </p>
<p><b>Sumber</b><span style="font-weight: 400;">: </span><i><span style="font-weight: 400;">Faedah dari Guru Kami Ustadz Aris Munandar, SS </span></i><span style="font-weight: 400;">(http://ustadzaris.com)</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/10552-senang-akan-musibah-yang-menimpa-muslim-yang-lain.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Senang akan Musibah yang Menimpa Muslim yang Lain</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/333-sabar-di-awal-musibah.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Sabar di Awal Musibah</strong></span></a></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">25 Jumadits Tsani 1430 H</span></p>
 