
<h2><strong>Status Warisan Untuk Anak Hasil Hamil di Luar Nikah</strong></h2>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Bismillah pak ustad ngeh. Pertanyaan. ada wanita dan laki2 yg berzina kemudian hamil. dlm keadaan hamil si wanita dinikahi oleh laki2 yg menghamilinya. inti dr pertanyaan sy apakah anak berikutnya itu termasuk anak haram yg dinasabkan sm ibu kandungnya. kan pernikahan itu tdk syah. misal anak pertama hasil zina trs dia melahirkan 2 anak lg. nah anak ke 2 dn ke 3 apakah berhak mendapatkan warisan dr bpknya.</span></em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Bismillah wal hamdulillah was sholaatu was salaamu ala rasulillah wa ba’du.</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pertama</strong>, kita bahas tentang hukum menikahi wanita yang dihamili di luar nikah atau yang biasa disebut dengan nikah karena ‘kecelakaan’.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada dua pendapat ulama tentang keabsahannya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pendapat pertama</strong>, mayoritas ulama (Jumhur): nikahnya sah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pendapat kedua</strong>, Imam Ahmad bin Hambal: tidak sah, kecuali jika pelaku telah bertaubat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat kedua ini lebih kuat insyaallah, sebagaimana dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau menjelaskan,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">نكاح الزانية حرام حتى تتوب، سواء كان زنى بها هو أو غيره، هذا هو الصواب بلا ريب، وهو مذهب طائفة من السلف والخلف، منهم أحمد بن حنبل وغيره، وذهب كثير من السلف إلى جوازه، وهو قول الثلاثة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menikahi wanita berzina hukumnya haram, sampai dia bertaubat. Baik dinikahkan oleh lelaki yang menghamili atau oleh lelaki lain. Ini pendapat yang tepat tanpa keraguan. Pendapat ini menjadi mazhab sejumlah ulama dahulu (salaf) dan akhir-akhir (khalaf). Di antaranya Ahmad bin Hambal dan yang lainnya. Dan banyak ulama salaf juga yang membolehkan, ini pendapat ketiga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dasarnya adalah riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau pernah mengatakan tentang menikahi wanita yang hamil di luar nikah,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">كان أوله سفاح وآخره نكاح وأوله حرام وآخره حلال</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Awalnya sifah (perzinahan), akhirnya nikah. Awalnya haram, akhirnya halal.” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunan Al Kubro)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan sebuah riwayat yang menceritakan bahwa seorang lelaki berzina dengan seorang perempuan di zaman Khalifah Abu Bakr As-Shidiq radhiyallahu’anhu. Lalu Abu Bakr menghukum keduanya dengan seratus cambukan. Setelah itu keduanya dinikahkan oleh Abu Bakr. (Riwayat Ibnu Syihab, tersebut dalam Mushonnaf Abdur Razzaq)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula riwayat dari Sa’id dari Qotadah dari Jabir bin Abdillah, Sa’id bin Al-Musayyab dan Sa’id bin Jubair tentang seorang lelaki yang berzina dengan wanita lalu menikahinya, mereka berkata,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لا بأس بذلك إذا تابا وأصلحا وكرها ما كان</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak mengapa keduanya menikah asal sudah bertaubat, berdamai, dan membenci masa lalunya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama mensyaratkan syarat tambahan, yaitu harus selesai masa iddah wanita.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika hamil maka masa iddahnya berakhir ketika melahirkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika tidak hamil, masa iddahnya satu kali suci haid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun syarat ini diperselisihkan ulama:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-weight: 400;"> Hanafi dan Syafi’i berpandangan: tidak ada ketentuan iddah dalam pernikahan seperti ini.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasannya air mani karena zina tidak memiliki kehormatan. Sehingga menjadikan boleh melakukan akad nikah dengan wanita yang hamil di luar nikah sebelum dia melahirkan.</span></p>
<ul>
<li><span style="font-weight: 400;"> Malikiyah dan Hambali: masa iddah berlaku dalam pernikahan karena kecelakaan.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasannya sebagaimana yang berlaku pada pernikahan normal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pendapat yang kuat dalam masalah ini</strong>, pendapat kedua insyaAllah, bahwa dipersyaratkan berakhir masa iddah dalam pernikahan karena kecelakaan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض حيضة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak boleh menikahi wanita hamil sampai dia melahirkan. Dan wanita yang (dicerai) tidak hamil sampai dia mengalami haid satu kali.” (HR. Abu Dawud, hadis yang senada diriwayatkan Imam Ahmad dan Ad-Darimi)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana keterangan dalam Fatawa Islam no. 1677 berikut,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ولكن الراجح وجوب الاستبراء – كما تقدم – لأن أكثر أهل العلم على أن الولد لا يجوز أن ينسب إلى أبيه من الزنا وإذا لم تستبرأ فيحتمل أن تكون قد حملت من وطئه الأول (وطء الزنى) فينسب إليه بغير حق. والله أعلم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pendapat yang kuat adalah wajib menunggu lahirnya janin (berakhirnya iddah). Karena mayoritas ulama berpandangan bahwa anak tidak boleh dinasabkan kepada ayah biologis karena zina. Jika tidak disyaratkan lahirnya janin, bisa jadi perempuan itu hamil dari hubungannya pertama (saat zina). Lalu sang anak dinasabkan kepada ayah biologis tanpa haq. Wallahua’lam.” </span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><a href="https://www.islamweb.net/ar/fatwa/1677/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%85%D9%86-%D8%B2%D9%86%D9%8A%D8%A7-%D8%AB%D9%85-%D8%A3%D8%B1%D8%A7%D8%AF%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D8%B2%D9%88%D8%A7%D8%AC"><span style="font-weight: 400;">Sumber Islamweb.net</span></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Kedua</strong>, jika pernikahan sah dengan ketentuan yang sudah kita simak pada poin pertama di atas, maka anak yang lahir setelah akad nikah (sebagian ulama mensyaratkan tidak kurang dari 6 bulan pasca akad), dihukumi sebagai anak biologis yang syar’i. Sehingga ia berhak dinasabkan kepada ayah dan mendapatkan warisan dari ayah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun anak hasil zina, tidak berhak menerima warisan dari ayah biologis dan sang ayah juga tidak menjadi ahli waris anak. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَلَدُ زِنَا لَا يَرِثُ وَلَا يُورَثُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Anak dari hasil zina tidak mendapat warisan dan tidak juga diwarisi oleh dan dari ayahnya.” (HR. Tirmidzi, dinilai Shahih oleh Syekh Albani)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Tirmidzi menjelaskan hadis ini,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ وَلَدَ الزِّنَا لَا يَرِثُ مِنْ أَبِيهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pengamalan terhadap hadis ini di kalangan para ulama bahwa anak hasil zina tidak mendapatkan warisan dari ayahnya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun warisan ibunya maka ia berhak dapat dan ibunya juga berhak menjadi ahli warisnya.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Wallahua’lam bish showab.</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc.</span></p>
<p> </p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>: BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 