
<p><em>Oleh: Ino Ibnu Permadi*</em></p>
<p>Setiap  pebisnis pastilah ingin agar produk yang dia tawarkan dapat dikenal  oleh banyak orang, khususnya target pasarnya. Pastilah ingin agar produk  nya yang sebelumnya “nyaris tak terdengar….” menjadi diketahui oleh  masyarakat.</p>
<p>Apa hanya ingin diketahui saja ?</p>
<p>Pastilah tidak,  tentu juga berharap agar masyarakat yang tahu  juga berubah menjadi  masyarakat yang tertarik, ingin tahu lebih jauh, ingin mengenal lebih  dalam tentang produk yang dijual.</p>
<p>Sebenarnya bagaimana dari yang  tidak tahu menjadi akhirnya tertarik, ada prosesnya, dan juga ada  ilmunya. Bagaimana sih merubah dari yang sebelumnya tidak tahu sama  sekali, berubah menjadi tertarik untuk mendekati, berkenalan, ingin tahu  pada produk yang ditawarkan.</p>
<p>Ilmu itu adalah bernama <strong>LEAD GENERATION</strong>[1].</p>
<p>Penjelasannya dalam bahasa <em>English </em>sebagai berikut:</p>
<p><em>“Lead  generation is converting “suspects”- people who have never heard of  your business into “prospects” -people who have inquired about your  business.”</em></p>
<p>Terjemahan bebasnya adalah:</p>
<p>Lead generation  adalah Cara menkonversi (merubah menjadi) dari orang-orang yang belum  pernah mendengar tentang bisnis kita, berubah menjadi yang tertarik  untuk mengetahui, lebih mengenal akan bisnis / produk yang kita  tawarkan.</p>
<p>Contoh dalam bisnis makanan:</p>
<p>Seseorang yang baru  membuka warung pecel dipinggir jalan besar. Karena baru buka dagangan  dipinggir jalan besar yang memberli hanya sedikit, bahkan hampir tidak  ada yang datang untuk mencoba mampir ke warung pecelnya.</p>
<p>Jadi,  lead generation adalah cara untuk merubah dari yang tidak tahu sama  sekali, menjadi tertarik untuk datang. (Meskipun misal, pada akhirnya  hanya mampir saja, tidak jadi membeli)</p>
<p>Dan tujuan lead generation  adalah untuk menarik perhatian orang-orang agar mau melihat, mau  memperhatikan tentang bisnis kita. Misal untuk melihat, jualan apa saja  di dalam outlet kita, menanyakan ke penjual apa yang spesial, ada promo  apa saja saat ini, dll…..</p>
<p>Cara-cara yang biasa dipakai, misal:</p>
<ol>
<li>Membuat spanduk segede Gajah, yang bertuliskan produk kita.</li>
<li>Membagi-bagikan brosur ke orang-orang sekitar tentang bisnis kita</li>
<li>Membikin iklan di media massa tentang produk kita</li>
<li>Dll…..</li>
</ol>
<p>Dan sebenarnya, ada aturan-aturan dasar dalam menciptakan Lead Generation untuk bisnis kita, apa saja itu ?</p>
<h2><strong>Aturan dasar dalam membuat Lead Generation Pertama</strong></h2>
<p>Harus  selalu di TM (Test and Measure). Harus selalu di Tes dan Ukur antara  perubahan usaha kita dalam membuat Lead Generation dengan hasil yang  didapat.</p>
<p>Misal, kita mencoba membikin Spanduk sebesar Gajah tentang bisnis kita.</p>
<p>Harus di TM (Test and Measure), berapa orang total dan rata-rata per hari yang datang ke tempat kita sebelum memasang spanduk</p>
<p>(Ingat…  Lead Generation hanya menghitung berapa orang yang datang ke tempat  usaha, atau mencoba menghubungi kita untuk menanyakan tentang bisnis /  produk yang kita jual, dengan kondisi ada transaksi / pembelian, maupun  tidak ada transaksi / tidak ada pembelian)</p>
<p>Dibandingkan dengan kedatangan setelah memasang spanduk tersebut.</p>
<p>Apakah hasilnya sama saja / lebih banyak / tambah lebih sedikit?</p>
<p>Yang  perlu diperhatikan lagi adalah bila melakukan usaha lebih dari satu  untuk mendapatkan Lead Generation nya, misal selain menaruh sepanduk  besar di depan outlet, juga membagi brosur, plus pasang iklan di radio  lokal.</p>
<p>Bagaimana cara TM nya kalau seperti itu, kan gak bisa  dihitung lebih efektif yang mana dari ke 3 usaha tersebut? Cara TM nya  adalah, dengan selalu menanyakan ke orang-orang yang datang ke tempat  jualan, dengan kata-kata:</p>
<p><em>“Anda tahu dari mana tentang info bisnis kami</em><em>?</em></p>
<ul>
<li>dari Spanduk,</li>
<li>dari Brosur,</li>
<li>dari iklan radio,</li>
<li>dari kenalan</li>
<li>atau dari mana?”</li>
</ul>
<p>Kenapa juga ya ditanyakan dua pilihan, yaitu yang bukan usaha yang kita lakukan (dari kenalan dan dari mana?)</p>
<p>Karena selain usaha yang kita lakukan, ada kemungkinan ada dari sebab yang lain.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>Untuk  dari teman: Ada si A yang mendengar di radio tentang iklan tersebut, si  A yang cerita ke B tentang iklan itu, dan hal itu yang membuat si B  yang datang, bukan si A.</p>
<p>Untuk “atau dari mana”. Ada kemungkinan  terjadi seperti ini, ada tindakan Lead Generation yang diluar yang kita  kerjakan, diluar dari referall (dari mulut ke mulut)</p>
<p>Contoh:</p>
<p>Misal  seseorang punya bisnis tempat makan yang unik, yang lain daripada yang  lain. Karena lain daripada yang lain itulah, ada beberapa media yang  meliput sehingga jadi promo gratis dari media.</p>
<p>Tapi, ada beberapa  website online yang menulis ulang isi liputan dari mainstream media yang  meliput langsung bisnis saya dengan datang langsung ketempat, jadi  media online tersebut tidak pernah datang sama sekali, tidak pernah  mewawancarai langsung dari sumber berita, hanya mengolah tulisan yang  sudah ada, bahkan ada yang hanya meng copy paste saja secara  bulat-bulat.</p>
<p>Maka bila ada orang yang membaca tulisan di media  online seperti diatas,maka pemilik usaha juga tidak pernah merasa  mendapatkan diliput bisnisnya oleh media online tersebut. (Karena memang  kenyataannya tidak diliput secara langsung)</p>
<p>Jadi pastilah  termasuk pada pertanyaan yang harus diajukan pada orang yang datang ke  outlet kita dengan pertanyaan “atau tahu dari mana” selain ketiga usaha  yang dilakukan + referral (mulut lewat mulut)</p>
<p>Ini hanya salah satu contoh dari kemungkinan ada pertanyaan yang termasuk di: “atau tahu dari mana.”</p>
<p>(Pertanyaan  yang menanyakan apakah ada sebab yang lain selain dari sebab yang kami  (penjual) usahakan untuk mendapatkan Lead Generation).</p>
<p>Di kenyataannya, pastilah banyak macam contoh yang lain yang pernah terjadi.</p>
<p>Untuk  bocoran pembahasa yang akan datang, setelah kita faham tentang Lead  Generation ini, akan dibahas langkah selanjutnya, yaitu “Convertion  Rate” yaitu tingkat Konversi (perubahan menjadi), dari hanya Lead  Generation (yang belum tentu membeli, hanya lihat2 saja) menjadi pasti  membeli, berapa jumlah konversi nya.</p>
<p>Semakin besar konversi jadi membelinya dibandingkan dengan total yang datang (Lead Generation nya) adalah semakin baik.</p>
<p>Karena kan percuma kalau Lead Generation nya banyak, tapi semua yang datang gak jadi Convertion Rate (gak jadi membeli).</p>
<p>Itukan sama aja dengan omdo (omong doang) gak ada transaksi penjualan, gak ada duit masuk ke perusahaan.</p>
<h3>
<strong>Aturan dasar dalam membuat Lead Generation, no.2</strong><strong>, yaitu</strong>:</h3>
<ul>
<li>
<strong>AIDA</strong>:</li>
<li><strong>ATTENTION</strong></li>
<li><strong>INTEREST</strong></li>
<li><strong>DESIRE</strong></li>
<li><strong>ACTION</strong></li>
</ul>
<p>Apa hubungannya dengan Lead Generation dengan AIDA?</p>
<p>Setelah ini akan kita bahas, bagaimana cara untuk membuat Lead Generation dengan langkah-langkah AIDA.</p>
<p>Aspek  terpenting dari sebuah bisnis adalah membuat penjualan, baik produk  ataupun jasa. Jika tidak ada penjualan, tidak ada bisnis yang akan  bertahan lama. Dan setiap penjualan selalu diawali oleh promosi atau  iklan.</p>
<p>Pernahkah Anda memperhatikan halaman yang memuat iklan-iklan di koran ?</p>
<p>Apakah Anda membaca semuanya ?</p>
<p>Pasti tidak !</p>
<p>Saya  yakin Anda hanya membaca iklan-iklan yang menarik perhatian Anda saja.  Sebagian besar iklan tidak Anda baca sama sekali. Dan hampir semua orang  melakukan hal yang sama dengan Anda. Setelah Anda membaca iklan-iklan  yang menarik perhatian Anda, apakah Anda melakukan pembelian ?</p>
<p>Mungkin  tidak juga, karena ternyata iklan tersebut tidak mampu membuat Anda  BERMINAT dan BERHASRAT pada produk yang dijual. Tujuan setiap iklan  adalah untuk menjual produk atau jasa yang ditawarkan. Jika tidak  terjadi penjualan, berarti iklan tersebut tidak berhasil melakukan  tugasnya dengan baik.</p>
<p>Anda tentu tidak mau iklan Anda seperti itu. Iklan yang berhasil harus memenuhi unsur-unsur dalam formula klasik berikut ini :</p>
<p>*Menarik perhatian pembaca (<strong>Attention</strong>)</p>
<p>*Membuat pembaca tertarik dengan produk yang ditawarkan (<strong>Interest</strong>)</p>
<p>*Membuat pembaca berhasrat untuk memiliki produk tersebut (<strong>Desire</strong>)</p>
<p>*Membuat pembaca melakukan tindakan yang diharapkan (<strong>Action</strong>)</p>
<p>Formula klasik tersebut sering disingkat dengan AIDA.</p>
<p><strong>*Attention*</strong></p>
<p>Sebuah  media iklan baris biasanya menampilkan puluhan, atau bahkan ratusan  iklan per halaman. Dan iklan Anda hanyalah salah satu di antaranya.</p>
<p>Bagaimana, dalam waktu yang singkat, iklan Anda dapat menarik perhatian pembaca ?</p>
<ol>
<li>Buatlah judul (headline) iklan yang memukau, yang membuat pembaca terkejut, ingin tahu kelanjutan isinya.</li>
<li>Jika  media tersebut tidak menyediakan kolom judul (seperti iklan baris di  koran), buatlah kejutan itu di kalimat awal iklan Anda.</li>
<li>Gunakan kata-kata ‘sakti’ yang memaksa pembaca melihat iklan Anda.</li>
</ol>
<p>Contoh kata-kata ‘sakti’ :</p>
<p>RAHASIA,  GRATIS, GARANSI, BONUS, MUDAH, CEPAT, UANG, BEST SELLER, KISAH NYATA,  AMAN, TERPERCAYA, TERUJI, OTOMATIS, DISKON, LUAR BIASA, DIJAMIN.</p>
<p>Contoh judul yang menarik perhatian pembaca :</p>
<blockquote>
<p>“3 Langkah MUDAH Menghasilkan UANG Dari Internet”</p>
<p>“DIJAMIN Balik Modal Dalam Seminggu. GARANSI Uang Kembali”</p>
<p>“Dapatkan RAHASIA Akses Internet GRATIS !”</p>
</blockquote>
<p>Catatan :</p>
<p>Gunakan  huruf kapital secukupnya untuk menegaskan kata-kata ‘sakti’ yang Anda  harapkan dapat menarik perhatian pembaca. Jangan menulis judul iklan  dengan huruf kapital semua, karena akan terkesan tidak profesional (atau  orang akan menyangka keyboard Anda sedang rusak).</p>
<p>*<strong>Interest</strong>*</p>
<p>Segera  setelah iklan Anda mendapat perhatian dari pembaca, buatlah pembaca  tersebut tertarik dengan produk Anda. Tunjukkan manfaat terpenting dari  produk Anda, yang tidak bisa mereka dapatkan dari produk lain. Anda  harus bisa menahan pembaca tersebut, agar apa yang ingin Anda sampaikan  terbaca semuanya.</p>
<p>Oleh karena itu, kalau perlu, anda bisa gunakan lagi kata-kata‘sakti’agar mereka tidak mengalihkan perhatian dari iklan Anda.</p>
<p>*<strong>Desire</strong>*</p>
<p>Membuat  pembaca tertarik saja ternyata tidak cukup. Anda harus membuat pembaca  berhasrat untuk memiliki produk yang Anda tawarkan dengan menunjukkan  manfaat, keunikan, dan keunggulan produk Anda dibandingkan dengan produk  lain.</p>
<p>Tunjukkanlah sesuatu dalam produk Anda yang dapat membuat  pembaca merasa lebih bahagia, lebih kaya, atau lebih sehat jika memiliki  produk tersebut.</p>
<p>*<strong>Action</strong>*</p>
<p>Jika pembaca  iklan Anda tidak melakukan tindakan apapun setelah membaca iklan Anda,  artinya . . . iklan Anda sia-sia. Anda harus memancing pembaca untuk  bertindak seperti yang Anda harapkan.</p>
<p>Contoh :</p>
<blockquote>
<p>“Pesan Sekarang di 021-9998889″</p>
<p>“Dapatkan Informasi Selengkapnya di http://www.blablablaxxx.com”</p>
</blockquote>
<p>Mungkin Anda bertanya, bagaimana memasukkan semua unsur AIDA dalam sebuah iklan yang hanya terdiri dari 4 atau 6 baris saja ?</p>
<p>Di situlah seninya !</p>
<p>Semakin banyak Anda berlatih, maka semakin Anda kuasai teknik tersebut.</p>
<p>Nah, sekarang ada tugas untuk Anda :</p>
<ol>
<li>Kumpulkanlah  20 iklan dari iklan baris yang Anda bisa dapatkan, baik dari Koran atau  internet. Perhatikanlah . . . iklan mana yang paling berhasil menurut  Anda ?</li>
<li>Selanjutnya buatlah analisa mengapa iklan tersebut berhasil, dan mengapa iklan yang lain tidak.</li>
<li>Jika Anda memiliki sebuah produk untuk dijual, buatlah 10 iklan baris yang berbeda untuk produk tersebut.</li>
<li>Kemudian perhatikan dan pilihlah satu iklan yang paling bagus menurut Anda.</li>
<li>Jika memungkinkan, tunjukkanlah iklan-iklan yang sudah Anda buat tersebut kepada beberapa teman dekat Anda.</li>
<li>Mintalah pendapat mereka, iklan mana yang paling bagus menurut mereka.</li>
<li>Bandingkan hasilnya dengan pilihan Anda tadi, sama tidak ?</li>
<li>Jangan lupa, jika iklan Anda tidak terbaca, maka tidak akan terjadi penjualan.</li>
<li>Jika iklan Anda tidak terlihat, maka iklan (pesan) Anda tidak akan terbaca.</li>
<li>Jika iklan Anda tidak menarik perhatian, maka iklan Anda tidak akan terlihat.</li>
<li>Sekarang, kita sudah tahu hubungannya Lead Generation, dengan AIDA.</li>
</ol>
<p>Karena  bisnis kita berbeda-beda, maka penerapan bahasa yang dipakai untuk AIDA  untuk mencapai Lead Generation adalah berbeda-beda.</p>
<p>Silahkan  dicoba rumus ini, agar dengan mencobanya berulang-berulang, meskipun  tidak sempurna dan banyak kekurangannya di awal-awal, tapi kalau dicoba  terus menerus, akan menghasilkan kesempurnaan.</p>
<p>Ingat  setelah AIDA ini diterapkan, selalu di TM (Test and Measure), selalu di  test dan ukur, dari setiap iklan / pemberitahuan yang kita buat  menghasiklan berapa Lead Generation nya?</p>
<p>Hanya dengan TM itulah, yang dapat memperlihatkan keberhasilan dan ke efektifan usaha yang kita buat.</p>
<h3><strong>Aturan Dasar yang ke-3</strong></h3>
<p>WIIIFM (What’s In It For Me) atau dalam bahasa Indonesia: U.S.A (Untung Saya Apa)</p>
<p>Seringkali  dalam usaha kita untuk mendapatkan Lead Generation, misal membuat  brosur untuk bisnis kita (atau kebanyakan pemilik bisnis), coba kata apa  yang tertulis di baris paling atas di brosur tersebut ???</p>
<blockquote>
<p>“Cuci Mobil Sukses…..”</p>
<p>“Bengkel Makmur…..”</p>
<p>“Pecel bu xxx…..”</p>
<p>“Burger Lezzatt…”</p>
<p>Dll….</p>
</blockquote>
<p>Kata-kata merek bisnis mereka lah yang pertama yang sering dituliskan di brosur.</p>
<p>Apanya yang salah tentang hal ini?</p>
<p>Ya jelas salah, kecuali, kalau bisnis mereka itu sudah ada lebih dari 20 tahun misalnya.</p>
<p>Sudah banyak sekali pelanggannya yang benar2 hafal dengan merek produk tersebut.</p>
<p>Seperti, kalau di dalam brosur tersebut langsung ditulis di kata pertama merek:</p>
<p>“McDonald”.</p>
<p>Itu masih masuk akal, siapa yang tidak tahu restoran fast food tersebut.</p>
<p>Orang pasti sudah tahu keunggulan akan produknya.</p>
<p>Tapi,  misal, kalau mereknya misal “Burger Lezzatt”, yang berjualan belum 2  tahun, yang tahu produk itu cuman sekitar tempat berjualnya saja, dan  produknya masih sangat sulit dibedakan pembedanya dengan produk sejenis.</p>
<p>Kalau  brosur Burger baru ini dibaca ke calon konsumen, apalagi yang membaca  adalah yang benar-benar belum tahu dengan bisnis / brand ini.</p>
<p>Sebagian besar mereka akan mengucapkan didalam hatinya:</p>
<p>WIIFM (What’s In It For Me) atau dalam bahasa Indonesia: U.S.A (Untung Saya Apa)</p>
<p>Hal inilah akan sering terjadi, bila kita tidak memikirkan faktor diatas dalam membuat promo / iklan.</p>
<p>Kata-kata yang akan muncul di benak mereka adalah:</p>
<blockquote>
<p>“Siapa peduli?”</p>
<p>“Memangnya kenapa?”</p>
<p>“Apa untungnya buatku?”</p>
</blockquote>
<p>Jadi sebelum kita merancang atau menulis iklan kita, harus tahu dulu apa jawaban dari ke-3 pertanyaan diatas.</p>
<p>Karena  jawaban atas, ke-3 pertanyaan diatas sangat jauuuhhhh berharga buat  calon konsumen, daripada nama / merek bisnis maupun produk yang kita  jual.</p>
<p>Jadi cobalah keluar dari ego kita masing2, tentang nama  bisnis kita, masuklah ke pusat perhatian / keinginan calon konsumen pada  produk.</p>
<p>Karena setiap orang yang membaca iklan kita adalah orang2 yang egois.</p>
<p>Dan juga pada saat ini adalah era ledakan pilihan, banyak sekali pilihan yang ada selain dari produk kita.</p>
<p>Jadi konsumen akan tidak memperhatikan kita, kalau kita tidak bisa meng info kan apa yang membuat mereka tertarik.</p>
<p>Bila  ingin melakukan test iklan, mana yang bisa menarik orang atau tidak,  cobalah pada diri kita sendiri. Bukalah Koran yang disana terdapat  iklan.</p>
<p>Pilihlah mana yang benar2 kita baca semua info nya, mana yang cuma dilihat sekilas.</p>
<p>Jadi  sudah kita bahas tentang cara Bagaiman calon konsumen, yang dulunya  benar-benar tidak tahu akan bisnis kita, menjadi tertarik, ingin lebih  tahu tentang apa yag kita tawarkan kepada mereka.</p>
<p>Tapi ingat ini  hanyalah first step (langkah awal), karena meskipun calon konsumen  tertarik, tapi pada ujung-ujung nya tidak jadi membeli produk kitam sama  saja bohong.</p>
<p>Karena itu insya Alloh akan kita bahas ilmu  selanjutnya, lanjutan dari Lead Generation ini, yaitu Convertion Rate,  yaitu bagaimana cara mengkonversi (merubah) dari Lead (oramg-orang yang  tertarik akan bisnis kita) menjadi benar-benar membeli.</p>
<p><em>Selesai</em></p>
<p>Footnote</p>
<p>[1] Lead Genearation adalah salah satu ilmu bisnis yang dipelopori penyebarannya oleh Brad Sugars</p>
<p><strong>Artikel www.PengusahaMuslim.com</strong></p>
 