
<p>Seseorang yang benar-benar mengenal Allah <em>Ta’ala, </em>tentu dia akan merasa takut dari bermaksiat kepada-Nya. Karena mereka mengetahui keagungan Allah <em>Ta’ala, </em>Dzat Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Dia juga mengetahui bahwa Allah <em>Ta’ala </em>amat keras siksa-Nya dan adzab-Nya pun sangat pedih. Dia akan memandang perbuatan maksiat -sekecil apa pun- ibarat sebuah gunung yang besar, sehingga dia akan menjaga diri agar tidak terjatuh ke dalamnya.</p>
<p>Inilah yang membedakan antara orang zaman sekarang dengan orang terdahulu dari kalangan para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum. </em>Karena ilmu yang dimiliki, membuat mereka tidak menganggap remeh sekecil apa pun maksiat yang mereka lakukan. Bahkan mereka menganggap dosa kecil sebagai suatu dosa besar karena begitu besarnya rasa takut mereka kepada Allah <em>Ta’ala </em>sebagai buah dari pengenalan-Nya terhadap Allah <em>Ta’ala. </em>‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu </em>berkata,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang menurut pandangan kalian lebih kecil dari sehelai rambut, namun kami menganggapnya di zaman Nabi sebagai perbuatan yang dapat membinasakan (pelakunya).” </em><strong>(HR. Bukhari no. 6492)</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>telah mengisyaratkan bahwa salah satu sebab perbuatan maksiat adalah karena manusia kurang mengenal Allah <em>Ta’ala. </em>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ</strong></p>
<p><em>“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabb-mu yang Maha Pemurah?”</em>  <strong>(QS. Al-Infithar [82]: 6)</strong></p>
<p>Maksudnya, apakah yang membuatmu terperdaya sehingga Engkau mendustakan hari kebangkitan, durhaka kepada-Nya dalam perintah dan larangan-Nya, dan terkadang mengingkari Allah <em>Ta’ala?</em></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>menjelaskan bahwa pertanyaan dalam ayat tersebut sekaligus mengisyaratkan jawabannya. Yaitu, yang memperdayai manusia adalah kemurahan Allah <em>Ta’ala </em>dan kelembutan-Nya sehingga dia terus-menerus berbuat maksiat dan ingkar kepada-Nya. (Lihat <strong><em>Tafsir Juz ‘Amma, </em></strong>hal. 89)</p>
<p>Demikianlah salah satu sebab mengapa manusia bisa terjatuh ke dalam maksiat. Dia hanya mengenal bahwa Allah <em>Ta’ala </em>itu Maha Pemurah, Maha Pengampun, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Sehingga dia pun merasa aman ketika bermaksiat kepada-Nya. Dia menyangka bahwa tentu Allah akan mengampuninya dan menyayanginya meskipun dia berbuat maksiat sesuai dengan kehendak hatinya, karena sifat-sifat Allah <em>Ta’ala</em> yang dikenalnya itu. Akan tetapi dia lupa atau memang tidak mengetahui, bahwa selain Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Allah juga amat keras dan amat pedih siksanya. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ</strong></p>
<p><em> </em><em>“Sesungguhnya <strong>azab Rabb-mu benar-benar keras.</strong>” </em><strong>(QS. Al-Buruuj [85]: 12)</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ</strong></p>
<p><em> </em><em>“Katakanlah,’<strong>Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu</strong>, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.’” </em><strong>(QS. Al-An’am [6]: 65)</strong></p>
<p>Allah<em> Ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</strong></p>
<p><em>“Dan bertakwalah kepada Allah dan<strong> ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.</strong>” </em><strong>(QS. Al-Baqarah [2]: 196)</strong></p>
<p>Oleh karena itu, maka tidak selayaknya seorang hamba meninggalkan ketaatan kepada Rabb-nya atau kurang bersyukur kepada-Nya karena merasa aman setelah melihat luasnya nikmat Allah yang dicurahkan kepadanya. Lalu dia menganggap bahwa itu berarti Allah <em>Ta’ala </em>telah ridha kepadanya meskipun hanya dengan melaksanakan sedikit ketaatan. Padahal Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ</strong></p>
<p><em>“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” </em><strong>(QS. Al-A’raf [7]: 99)</strong></p>
<p>Syirik merupakan kemaksiatan yang terbesar di antara maksiat yang ada. Tidaklah manusia berbuat syirik kecuali memang karena ia bodoh dalam pengenalan terhadap Rabb-nya. Orang yang mengenal keagungan dan kebesaran Allah <em>Ta’ala, </em>bahwa Allah <em>Ta’ala </em>memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan tersucikan dari sifat-sifat kekurangan, tentu tidak akan menjadikan sekutu dan tandingan bagi Allah <em>Ta’ala</em>. Karena dia mengetahui bahwa menyamakan antara Allah <em>Ta’ala </em>dan makhluk-Nya merupakan bentuk penghinaan bagi Allah <em>Ta’ala. </em></p>
<p>Oleh karena itu, ketika Nabi Nuh <em>‘alaihis salaam </em>mengajak kaumnya kepada tauhid lalu mereka menolaknya, maka beliau pun menyatakan bahwa penolakan tersebut disebabkan karena ketidaktahuan mereka akan kebesaran Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: right;"><strong>مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا</strong></p>
<p><em>”Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?”</em> <strong>(QS. Nuh [71]: 13)</strong></p>
<p>Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>berkata dalam menafsirkan ayat ini,</p>
<p><em>”<strong>Kalian tidak mengetahui keagungan atau kebesaran-Nya.</strong>”</em> (Lihat<strong> <em>Jami’ul Bayaan fii Ta’wil Al-Qur’an, </em></strong>23/634)</p>
<p>Apa yang dikatakan di atas sangat beralasan. Karena seandainya manusia mengenal Allah <em>Ta’ala </em>dengan sebenar-benarnya, niscaya mereka tidak akan terjerat dalam kesyirikan mempersekutukan Allah <em>Ta’ala</em> dengan sesuatu apa pun. Segala kebaikan berada di tangan-Nya, maka bagaimana mungkin mereka bersandar kepada selain-Nya?</p>
<p>***</p>
<p>Selesai disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 24 Muharram 1439/15 Oktober 2017</p>
<p>Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,</p>
<p><strong>Penulis: M. Saifudin Hakim</strong></p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<p> </p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 