
<p>Kali ini kita akan membahas salah satu akidah yang mesti diyakini yaitu Al-Qur’an bukanlah makhluk, Al-Qur’an itu kalamullah. Ini adalah prinsip akidah dasar agar benar dalam memahami Al-Qur’an.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Imam Al-Muzani <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَالقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ لَدُنْهُ وَلَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ فَيَبِيْدُ</p>
<p style="text-align: center;"><em>“Al-Qur’an itu kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), berasal dari sisi-Nya. Al-Qur’an itu bukanlah makhluk yang akan binasa.”</em></p>
<h3></h3>
<h3 style="text-align: center;">Al-Qur’an itu dari Sisi Allah</h3>
<p> </p>
<p>Maksud perkataan Imam Al-Muzani <em>rahimahullah</em> bahwa Allah itu berbicara dengan Al-Qur’an secara hakikat, dan Al-Qur’an itu berasal dari sisi Allah.</p>
<p>Dalil yang menunjukkan hal di atas adalah firman Allah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ</p>
<p>“<em>Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu</em>.” (QS. Hud: 1)</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Al-Qur’an itu Bukan Makhluk</h3>
<p> </p>
<p>Kalimat Imam Al-Muzani <em>rahimahullah</em> “<em>Al-Qur’an itu bukanlah makhluk yang akan binasa</em>”, kalimat ini adalah bantahan untuk Hululiyyah, Ittihadiyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah yang menyatakan Al-Qur’an itu makhluk.</p>
<p>Dalilnya bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا</p>
<p><em>“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami.” </em>(QS. Asy-Syura: 52)</p>
<p>Dalam ayat lainnya,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ</p>
<p>“<em>Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah</em>.” (QS. Al-A’raf: 54). Di sini dibedakan antara menciptakan dan memerintah. Al-Qur’an itu termasuk dalam perintah Allah, bukan termasuk dalam makhluk Allah.</p>
<p>Begitu pula ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الرَّحْمَنُ . عَلَّمَ الْقُرْآنَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ</p>
<p>“<em>Allah Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia.” </em>(QS. Ar-Rahman: 1-3). Di sini disebutkan Al-Qur’an adalah ilmu Allah. Sedangkan manusia adalah makhluk. Berarti berbeda antara ilmu Allah dan makhluk.</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Kafirnya Orang yang Mengatakan Al-Qur’an Makhluk</h3>
<p> </p>
<p>Para ulama menyatakan sepakat akan kafirnya orang yang meyakini Al-Qur’an itu makhluk.</p>
<p>Imam Malik <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Siapa yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk, maka ia dipukul, hingga dipenjara sampai mati.” (<em>As-Sunnah li ‘Abdillah bin Ahmad,</em>1:106, dinukil dari <em>Tamam Al</em>–<em>Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani</em>, hlm. 95)</p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Al-Qur’an itu kalamullah, bukanlah makhluk.” (<em>Al-‘Arys li Imam Adz-Dzahabi</em>, 2:291, dinukil dari <em>Tamam Al</em>–<em>Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani</em>, hlm. 95)</p>
<p>Imam Ahmad <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Siapa yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka menurut kami ia kafir karena Al-Qur’an itu termasuk ilmu Allah dan di dalamnya terdapat nama-nama Allah.” (<em>As-Sunnah li ‘Abdillah bin Ahmad,</em>1:102, dinukil dari <em>Tamam Al</em>–<em>Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani</em>, hlm. 95)</p>
<p>Sufyan Ats-Tsaury <em>rahimahullah </em>menyatakan, “Siapa yang menyatakan bahwa firman Allah berikut,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَا مُوسَىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ</p>
<p>“(Allah berfirman): “Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An-Naml: 9)” <strong>sebagai makhluk</strong>, maka ia kafir zindiq, halal darahnya.” (<em>As-Sunnah li ‘Abdillah bin Ahmad,</em>1:106, dinukil dari <em>Tamam Al</em>–<em>Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani</em>, hlm. 95)</p>
<p>An-Nadhr bin Muhammad Al-Maruzi <em>rahimahullah </em>menyatakan, “Siapa yang menyatakan bahwa ayat berikut itu makhluk,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku</em>. (QS. Thaha: 14)”, maka ia kafir.” (<em>Al-‘Uluw li Al-Imam Adz-Dzahabi, </em>hlm. 161, dinukil dari <em>Tamam Al</em>–<em>Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani</em>, hlm. 95)</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Adapun pengafiran pada orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka telah dikatakan oleh ulama salaf di masanya Imam Malik, Ats-Tsauri, kemudian masanya Imam Ibnul Mubarak, Waki’, lalu masa Imam Syafi’i, ‘Affan, dan Al-Qa’nabi, kemudian masa Imam Ahmad bin Hambal, ‘Ali bin Al-Madini, kemudian pada masa Imam Al-Bukhari, Abu Zur’ah Ar-Razi, kemudian pada masa Muhammad bin Nashr Al-Maruzi dan Muhammad bin Jarir, dan Ibnu Khuzaimah.” (<em>Al-‘Uluw li Al-Imam Adz-Dzahabi, </em>hlm. 161, dinukil dari <em>Tamam Al</em>–<em>Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani</em>, hlm. 95-96)</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">“Lafazhku dengan Al-Qur’an itu Makhluk”</h3>
<p> </p>
<p>Telah masyhur dari Imam Ahmad, dan pengikutnya, juga Imam Malik dan Imam Syafi’i, begitu pula Al-Asy’ari dan selain mereka yang menyatakan, “Siapa yang menyatakan ‘lafazhku dengan Al-Qur’an bukanlah makhluk’, maka ia termasuk mubtadi’ (ahli bid’ah).” (<em>Majmu’ah Al-Fatawa</em>, 3:208)</p>
<p>Imam Ahmad menyatakan, “Yang mengatakan ‘<em>lafazhku dengan Al-Qur’an itu makhluk</em>’ adalah Jahmiyyah, sedangkan yang menyatakan bukanlah makhluk, dialah <em>ahli bid’ah</em>.” (<em>Majmu’ah Al-Fatawa</em>, 6:187)</p>
<p>Jika yang dimaksud adalah <em>talaffuzh </em>berarti lafazh yang keluar adalah makhluk, maka itu benar. Namun jika yang dimaksudkan adalah <em>al-mutalaffazh bihi</em>, yaitu yang diucapkan (Al-Qur’annya) jika disebut makhluk, maka inilah pendapat Jahmiyyah. Sehingga perlu diperinci untuk kalimat “<em>lafazhku dengan Al-Qur’an adalah makhluk</em>”, apakah yang dimaksud adalah lafazh ataukah <em>al-malfuzh </em>(ayat yang diucapkan).</p>
<p>Demikian penjelasan dari Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em>. Lihat <a href="https://www.alfawzan.af.org.sa/en/node/7078">https://www.alfawzan.af.org.sa/en/node/7078</a></p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Al-Qur’an itu Langsung dari Allah, Bukan Kalam Jibril</h3>
<p> </p>
<p>Faedah yang bisa disimpulkan dari Syaikh Muhammad Bazmul sebagai berikut.</p>
<p><em>Al-Qur’an Al-‘Azhim </em>adalah <em>kalamullah</em>, merupakan sifat di antara sifat Allah. Allah ‘<em>azza wa jalla </em>itu berbicara. Di antara kalam Allah adalah apa yang diturunkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Al-Qur’an ini dimulai dari surah Al-Fatihah dan ditutup dengan surah An-Naas. Allah memberikan kepada kita kemudahan untuk mempelajari Al-Qur’an, itu tidaklah berat. Dalam ayat disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ</p>
<p>“<em>Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?</em>” (QS. Al-Qamar: 17)</p>
<p>Menurut akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Allah sendiri yang berbicara dengan Al-Qur’an ini, lalu didengar oleh Jibril ‘<em>alaihis salam</em>, kemudian disampaikan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sebagaimana Jibril mendengarnya langsung dari Allah. Penjelasan ini telah diringkas dari <em>Iidhoh Syarh As-Sunnah li Al-Muzani</em>, hlm. 62.</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Akibat Tidak Meyakini Al-Qur’an itu Kalamullah</h3>
<p> </p>
<p>Syaikh Muhammad Bazmul berkata, “Akidah ini punya pengaruh hingga permasalah ushul fikih. Asya’irah dan Mu’tazilah menganggap bahwa perintah dalam Al-Qur’an bukanlah bermakna wajib. Begitu pula larangan mereka meyakini juga tidak bermakna haram. Karena mereka beranggapan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah kalamullah. Al-Qur’an hanyalah ungkapan Jibril—menurut mereka–, maka Al-Qur’an tidaklah dipastikan hakikatnya perintah atau larangan.” (<em>Iidhoh Syarh As-Sunnah li Al-Muzani</em>, hlm. 62)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Semoga bermanfaat.</em></p>
<p> </p>
<h4 style="text-align: center;">Referensi:</h4>
<ol>
<li>
<em>Iidhoh Syarh As-Sunnah li Al-Muzani</em>. Cetakan Tahun 1439 H. Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar Salim Bazmul. Penerbit Dar Al-Mirats An-Nabawi.</li>
<li>
<em>Syarh As-Sunnah</em>. Cetakan kedua, Tahun 1432 H. Imam Al-Muzani. Ta’liq: Dr. Jamal ‘Azzun. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.</li>
<li>
<em>Tamam Al</em>–<em>Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani.</em>Khalid bin Mahmud bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Juhani. <a href="http://www.alukah.net/">alukah.net</a>.</li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p>Disusun saat perjalanan Panggang – Jogja, 21 Dzulqa’ah 1440 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
 