
<h3><strong><em>2. Khulu’ </em>(<span class="arab">الخلوع </span>)</strong></h3>
<p><em>Khulu’</em> diambil dari ungkapan <span class="arab"> خلع الثوب</span> yang artinya, melepas baju. Karena secara kiasan, istri adalah pakaian suami. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">… هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ …</p>
<p><em>“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” </em>(Qs. Al-Baqarah: 187).</p>
<p>Sedangkan definisinya menurut syari’at adalah: berpisahnya suami dengan istrinya dengan tebusan harta yang diberikan oleh istri kepada suaminya. [Lihat <em>Fiqhus Sunnah</em> (II/253), <em>Manaarus Sabiil</em> (II/226), <em>Fat-hul Baari</em> (IX/395), <em>Panduan Keluarga Sakinah</em> (hal. 297), <em>Terj. Al-Wajiz</em> (hal. 637), dan <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (II/422)]</p>
<p>Masalah ini sering sekali terlontar dari bibir kaum wanita. Tidak sedikit dari mereka yang protes kepada suaminya karena berbagai masalah yang menimpa rumah tangganya, sehingga muncullah benih-benih kedurhakaan yang jika dibiarkan maka dia akan tumbuh dan berkembang menjadi penyakit mematikan yang dapat mengancam keutuhan rumah tangga keduanya.<br>
Kita juga sering melihat fenomena di mana para wanita dituntut untuk balik menuntut suami agar mau mengikuti segala kemauannya, sehingga kita mengenal istilah ‘suami-suami takut istri’. Bahkan tidak jarang dari fenomena ini berakibat kepada banyaknya kisah cinta yang dirajut selama bertahun-tahun harus berakhir di pengadilan agama.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda,</p>
<p class="arab">الْمُخْتَلِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ .</p>
<p>“<em>Para istri yang minta cerai (pada suaminya) adalah wanita-wanita munafik.”</em> [Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1186) dan Abu Dawud (no. 9094), dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Lihat <em>Silsilah Ash-Shahiihah</em> (no. 632) dan <em>Shahih Jaami’ush Shaghiir</em> (no. 6681)].</p>
<p>Dan dalam riwayat lain disebutkan juga,</p>
<p class="arab">أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ .</p>
<p>“<em>Wanita mana saja yang meminta talak kepada suaminya tanpa ada alasan (yang dibenarkan oleh syar’i), maka haram baginya mencium wangi Surga.”</em> [Hadits shahih. Riwayat Abu Dawud (no. 2226), Tirmidzi (no. 1187), Ibnu Majah (no. 2055), Ad-Daarimi (II/162), Ibnul Jarud (no. 748), Ibnu Hibban (no. 4172 – <em>At-Ta’liiqaatul Hisaan</em>), Al-Hakim (II/200), Al-Baihaqi (VII/136), dari Tsauban <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Lihat <em>Irwa’ Al-Ghaliil</em> (VII/100)]</p>
<p>Makna kata: ‘<strong><em>alasan</em></strong>‘ yang tercantum dalam hadits di atas adalah alasan yang dibenarkan oleh syar’i, yaitu segala yang dapat mengakibatkan keduanya sudah tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah.</p>
<p>Apabila seorang istri sudah tidak sanggup lagi hidup berdampingan dengan suaminya, karena suaminya sering melakukan dosa dan maksiat, meskipun sudah diingatkan berulang kali, maka seorang istri boleh menuntut cerai terhadap suaminya tersebut dengan mengeluarkan pengganti berupa harta (disebut juga <em>fidyah</em> dan <em>iftida</em>) sebagai tebusan untuk dirinya dari kekuasaan suami. [Lihat <em>‘Aunul Ma’bud</em> (VI/306), <em>Syarah Al-Arba’un Al-Uswah</em> (no. 27), <em>Panduan Keluarga Sakinah</em> (hal. 297) dan <em>Terj. Al-Wajiz</em> (hal. 637)].</p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">… وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْ خُذُوا مِمَّآ ءَاتَيْتُمُو هُنَّ شَيْئًا إِلَّآ أَنْ يَخَافَآ ألَّا يُقِيْمَا حُدُودَ اللهِۖ …</p>
<p>“<em>… dan tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah,”</em> (Qs. Al-Baqarah: 229)</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> bahwa istri Tsabit bin Qais bin Syammas datang dan menghadap kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan berkata,</p>
<p class="arab">يَـا رَسُولُ الله، مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِيى دِيْنٍ وَ لَا خُلُقٍ إِلَّا أَنِّيْ أَخَافُ الكُفْرَ، فَقَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه و سلم : تَرُدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيْقَـتَهُ ؟ ، فَقَالَتْ : نَعَمْ . فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا .</p>
<p>“<em>Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama dan akhlaknya, akan tetapi aku takut akan (menjadi) kufur.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau mau mengembalikan kebun kepadanya?” Ia menjawab, “Ya.” Maka kemudian kebun itu dikembalikan kepada Tsabit bin Qais dan (beliau) menyuruhnya untuk menceraikan istrinya.</em> [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 5276)].</p>
<p>Sedangkan alasan yang banyak dikemukakan oleh para wanita yang menuntut cerai dari suaminya pada zaman sekarang ini, datang dari hawa nafsunya sendiri. Karena kurangnya pemahaman terhadap agama dan tidak adanya rasa <em>qana’ah</em> (merasa puas) terhadap suami, sehingga mengakibatkan timbulnya konflik di dalam rumah tangga. Dan seorang istri yang bertakwa kepada Allah <em>Ta’ala</em>, sekali-kali tidak akan meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at, meskipun orang tuanya memerintahkan hal itu kepadanya.</p>
<p>Karena suami memiliki hak yang lebih besar atas dirinya melebihi orang tuanya sendiri. Dengan demikian, apabila wanita tersebut lebih memilih untuk mengabulkan keinginan kedua orang tuanya dan merelakan kehancuran rumah tangganya, maka dia telah bermaksiat kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. [Lihat <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (II/423-424) dan <em>Panduan Lengkap Nikah</em> (hal. 101-102)]</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ طَاعَةَ لِبَشَرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، إِنَّمَا الطَاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ .</p>
<p><em>“Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam hal kemaksiatan terhadap Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal yang ma’ruf (baik).”</em> [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4340, 7257), Muslim (no. 1840), An-Nasa’i (VII/159-160 no. 4205), Abu Dawud (no. 2625) dan Ahmad (I/94 no. 623), dari ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em>].</p>
<p>Adapun dalam Islam, pemberlakuan <em>khulu’</em> dinilai sebagai<strong> <em>fasakh</em></strong> (pembatalan nikah). Artinya, perceraian karena <em>khulu’</em> <strong>bukan termasuk talak</strong>. Demikianlah yang difahami oleh Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> ketika mentafsirkan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab">فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُـدُودَ اللهِ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَـدَتْ بِهِ ۗ …</p>
<p>“<em>… Jika kamu (wali) merasa khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya…”</em> (Qs. Al-Baqarah: 229).</p>
<p>Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> menafsirkan ayat di atas, bahwa adanya kata “” menunjukkan bahwa <em>khulu’</em> bukanlah talak. [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam <em>Mushannaf</em>nya (no. 11765) dengan sanad yang shahih, dari Thawus <em>radhiyallahu ‘anhu</em>].<br>
Meskipun <em>khulu’</em> menggunakan lafazh talak, akan tetapi berlaku sebagai <em>khulu’,</em> selama dilakukan dengan cara ada penebusan dari seorang istri agar dirinya bisa lepas dari ikatan pernikahan dengan suaminya. Oleh karena itu, apabila istri mengajukan <em>khulu’</em> dalam masa <em>‘iddah</em>nya, setelah suami menjatuhkan talak kedua , kemudian suami menerima pengajuan <em>khulu’</em> tersebut, maka status talak yang ketiga ini adalah talak <em>ba-‘in shugra </em>dan bukan <em>talak ba-‘inkubro</em>. Karena talak yang terakhir tidak dihitung sebagai talak, tetapi <em>fasakh</em>.</p>
<p>Dengan demikian, jika dua mantan suami-istri ini hendak menikah lagi maka tidak disyaratkan sang istri harus dinikahi laki-laki lain terlebih dahulu. Karena talaknya baru dua kali dan bukan tiga kali. Hanya saja, proses pernikahannya harus dilakukan dengan akad nikah yang baru, mahar yang baru pula, dan tentunya setelah istri ridha untuk menikah lagi dengannya.<br>
[lihat <em>Zaadul Ma’ad</em> (V/197 dan 199), <em>Al-Mughni</em> (VII/52-56), <em>Al-Inshaaf</em> (VIII/392), <em>Raudhah Ath-Thaalibiin</em> (VII/375), <em>Al-Muhallaa</em> (X/238), <em>Majmuu’ Al-Fataawaa</em> (XXXII/289 dan 309), <em>Jaami’ Ahkaamin Nisaa’</em> (IV/160), <em>Shahiih Fiqh Sunnah</em> (III/340-348), <em>Terj. Al-Wajiz</em> (hal. 640-641), <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (II/425-428), <em>Panduan Keluarga Sakinah</em> (hal. 317-319), <em>Ensiklopedi Larangan</em> (III/72-73)]</p>
<p>bersambung <em>insyaallah</em></p>
<p>***<br>
Artikel <a href="https://muslimah.or.id">muslimah.or.id</a><br>
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad<br>
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p>Maraji’:</p>
<ul>
<li>
<em>Ahkaam al-Janaaiz wa Bidaa’uha,</em> Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, Riyadh</li>
<li>
<em>Al-Wajiz</em> (Edisi Terjemah), Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, cet. Pustaka as-Sunnah, Jakarta</li>
<li>
<em>Do’a dan Wirid</em>, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em>, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Islam al-Kamil</em>, Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, cet. Darus Sunnah, Jakarta</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Larangan Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta</li>
<li>
<em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em>, Lajnah ad-Daimah lil Ifta’, cet. Darul Haq, Jakarta</li>
<li>
<em>Meniru Sabarnya Nabi</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cet. Pustaka Darul Ilmi, Jakarta</li>
<li>
<em>Panduan Keluarga Sakinah</em>, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka at-Taqwa, Bogor</li>
<li>
<em>Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z</em>, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor</li>
<li>
<em>Penyimpangan Kaum Wanita</em>, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, cet. Pustaka Darul Haq, Jakarta</li>
<li>
<em>Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin</em>, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cet. Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta</li>
<li>
<em>Shahiih Fiqhis Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Maktabah at-Taufiqiyyah, Kairo</li>
<li>
<em>Subulus Salam</em> (Edisi Terjemah), Imam Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’ani, cet. Darus Sunnah, Jakarta</li>
<li>
<em>Syarah Al-Arba’uun Al-Uswah Min al-Ahaadiits Al-Waaridah fii An-Niswah</em>, Manshur bin Hasan al-Abdullah, cet. Daar al-Furqan, Riyadh</li>
<li>
<em>Syarah Riyaadhush Shaalihiin</em>, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cet. Daar al-Wathaan, Riyadh</li>
<li>
<em>Syarah Riyadhush Shalihin</em> (Edisi Terjemah), Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor</li>
<li>
<em>‘Umdatul Ahkaam</em>, Syaikh ‘Abdul Ghani al-Maqdisi, cet. Daar Ibn Khuzaimah, Riyadh</li>
</ul>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 