
<h2><strong>Tamu dan Titipan</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Mas’ud mengatakan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">مَا أَحَدٌ أَصْبَحَ فِي الدُّنْيَا إِلَّا وَهُوَ ضَيْفٌ وَمَالُهُ عَارِيَةٌ. فَالضَّيْفُ مُرْتَحِلٌ وَالْعَارِيَةُ مَرْدُوْدَةٌ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua orang di dunia ini adalah ‘tamu’. Sedangkan harta seluruhnya adalah titipan. Semua tamu pasti pergi sedangkan barang titipan itu harus dikembalikan kepada pemilik.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad no 906)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah hakekat hidup di dunia. Manusia yang hidup di dunia hakekatnya adalah adalah ‘tamu’.  Semestinya ‘tamu’ itu memikirkan rumahnya yang sesungguhnya, bukan malah memikirkan rumah tempat bertamu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu orientasi hidup seorang muslim di dunia adalah akherat. Semua kita akan ‘mudik’ ke akherat. Pastikan kita tidak salah pulang kampung. Kampung asli kita adalah surga Allah Ta’ala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pastikan kendaraan mudik itu siap. Demikian pula bekal untuk mudik ke kampung akherat itu benar-benar cukup. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hakekat harta adalah barang titipan yang sewaktu-waktu bisa diminta oleh pemilik tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Dengan menyadari hal ini kita akan mudah untuk bersabar menghadapi musibah kehilangan harta. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja kita tidak boleh marah marah ketika pemilik mengambil barang titipan. Demikian pula sikap yang seharusnya kita miliki ketika Allah Ta’ala mengambil barang titipan-Nya dengan musibah yang menimpa harta kita. </span></p>
 