
<p>Di antara tanda-tanda dan bukti-bukti ittiba’ yang paling nampak adalah rasa takut seorang hamba dari penyimpangan dan dosa-dosanya. Dan rasa takutnya dari <em>istidraj </em>(diberikan kenikmatan-kenikmatan sehingga tetap di dalam kesesatannya <sup>–pen</sup>) dan ketidak-kokohan dirinya di atas kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad <em>Shallahu’alaihi Wasallam</em>. Tanda-tanda ini telah nampak jelas dan gamblang pada diri para sahabat dan tabi’in <em>rahimahumullah</em>.</p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>radhiallahu’anhu</em> menggambarkan keadaan ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya keadaan seorang mukmin ketika melihat dosa-dosanya, sebagaimana keadaan dia ketika duduk di bawah suatu gunung. Dia khawatir gunung itu akan runtuh menimpanya. Sedangkan orang yang fajir melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang melewati hidungnya. Dia mengusirnya begitu saja”.<a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Seorang yang beriman melaksanakan ketaatan-ketaatan dalam keadaan takut dan khawatir. Sedangkan orang yang fajir melakukan maksiat-maksiat dengan perasaan aman”.<a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></p>
<p>Imam Bukhari berkata, Ibrahim At-Taimi berkata, “Tidaklah aku membandingkan perkataanku terhadap perbuatanku melainkan aku merasa takut kalau-kalau aku adalah seorang pendusta.” Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku mendapati tiga puluh sahabat Nabi <em>Shallahu’alaihi Wasallam</em>, semuanya mengkhawatirkan dirinya terkena sifat nifaq. Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa dia memiliki keimanan Jibril dan Mikail.” Disebutkan dari Al-Hasan, “Tidak ada yang takut kepada-Nya kecuali orang yang beriman, dan tidak merasa aman dari-Nya kecuali orang munafiq”.<a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></p>
<p>Bahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq – manusia yang paling utama dari umat ini setelah Nabinya – berkata, “Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang diamalkan oleh Rasulullah <em>Shallahu’alaihi Wasallam</em> melainkan aku juga mengamalkannya. Sungguh aku takut menyimpang jika aku meninggalkan sesuatu dari perintah beliau”.</p>
<p>Ibnu Bath-thah memberikan komentar terhadap perkataan Ash-Shiddiq ini dengan mengatakan, “Inilah Ash-Shiddiq al-Akbar – wahai saudaraku – beliau takut dirinya menyimpang jika menyelisihi sesuatu dari perintah Nabinya <em>Shallahu’alaihi Wasallam</em>. Maka apa jadinya suatu zaman yang manusianya menghina Nabi mereka dan perintah-perintahnya, berbangga dengan menyelisihinya dan mencela sunnahnya?! Kita memohon kepada Allah perlindungan dari ketergelinciran dan keselamatan dari buruknya amal”.<a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></p>
<div>
<h5 align="LEFT">Catatan Kaki</h5>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote1anc">1</a> <em>Shahih al-Bukhari</em> no. 6308.</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote2anc">2</a> <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> (2/235).</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote3anc">3</a> Al-Bukhari dengan <em>Al-Fath</em> (1/135).</p>
</div>
<div>
<p align="LEFT"><a href="#sdfootnote4anc">4</a> Lihat perkataan Ash-Shiddiq di dalam <em>Shahih Al-Bukhari</em> no. 3093, dan komentar Ibnu Bath-thah di dalam <em>al-Ibanah al-Kubra</em> (1/245, 246).</p>
<p align="LEFT">—</p>
<p align="LEFT">Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.</p>
<p align="LEFT">Artikel Muslim.Or.Id</p>
<p> </p>
</div>
 