
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Pengaruh positif memahami dan mengamalkan <em>tawassul</em> dengan benar</strong></span></h4>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan faidah yang agung ini di sela-sela penjelasan beliau tentang kaidah-kaidah dalam memahami <em>tawassul</em> yang benar dan sesuai dengan syariat Islam, beliau berkata, “Sesungguhnya, kaidah-kaidah ini berkaitan erat dengan penetapan tauhid (mengesakan Allah <em>Ta’ala</em> dalam beribadah) dan peniadaan unsur kesyirikan serta sikap <em>ghuluw</em> (melampaui batas dalam agama). (Sehingga jika) semakin diperinci keterangannya dan semakin jelas penyampaiannya, maka sungguh yang demikian itu adalah <em>nuurun ‘ala nuur</em> (cahaya di atas cahaya), dan Allah Dialah tempat meminta pertolongan.” (Kitab <em>Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassuli wal Wasiilah</em>” (hal. 244).</p>
<p>Dari keterangan beliau ini dapat disimpulkan bahwa tujuan pembahasan mengenai <em>tawassul</em> yang benar adalah [lihat keterangan Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali dalam <em>muqaddimah</em> kitab <em>Qaa’idatun Jaliilah fit Tawassuli wal Wasiilah</em> (hal. 20-21)]:</p>
<ul>
<li>Penetapan/ penegakan tauhid yang untuk tujuan mulia inilah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengutus para Rasul-Nya <em>‘alahimussalam</em> dan menurunkan kitab-kitab-Nya.</li>
<li>Peniadaan/ pembatalan unsur-unsur kesyirikan yang ini merupakan inti kandungan agama yang dibawa oleh para Rasul <em>‘alaihimussalam</em>, yaitu membasmi kesyirikan dan membersihkan permukaan bumi, hati serta jiwa manusia dari kotoran dan noda syirik.</li>
<li>Pembatalan unsur-unsur sikap <em>ghuluw</em> (melampaui batas dalam agama) dalam semua sendi-sendi agama Islam. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</li>
</ul>
<p style="text-align: center;">يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ</p>
<p>“<em>Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar</em>.” (QS. an-Nisaa’:  171).</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang Nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan Rasul-Nya.’</em>” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 3261).</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Penutup</strong></span></h4>
<p>Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya untuk memurnikan akidah dan tauhid mereka, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan, yang besar maupun kecil.</p>
<p>Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan nama-nama-Nya yang Mahaindah dan sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna, agar Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu menegakkan tauhid kepada-Nya dan menjauhi segala bentuk perbuatan syirik, yang besar maupun kecil, serta menjaga kita dari semua bencana yang merusak agama dan keyakinan kita, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.</p>
<p style="text-align: center;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p>Kota Kendari, 7 Shafar 1432 H</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.</p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
 