
<p>Jilbab adalah syariat Islam yang mulia bagi muslimah, maka setiap muslim wajib meyakini wajibnya syariat ini</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Fatwa Menyimpang Terkait Hijab</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Baru-baru ini muncul seseorang yang mengatakan bahwa boleh bagi perempuan muslimah di zaman modern ini untuk menampakkan sebagian dari rambut, leher, dan telinganya. Untuk menyokong pendapatnya tersebut, dia membawakan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَقُل لِلمُؤمِنـٰتِ يَغضُضنَ مِن أَبصـٰرِهِنَّ وَيَحفَظنَ فُروجَهُنَّ وَلا يُبدينَ زينَتَهُنَّ إِلّا ما ظَهَرَ مِنها</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah (wahai Nabi) kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, </span></i><b><i>kecuali yang biasa nampak daripadanya.</i></b><i><span style="font-weight: 400;">’”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [Surat an-Nur: 31]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">“yang biasa nampak daripadanya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> pada ayat di atas? Jumhur ulama’, termasuk di antaranya adalah madzhab Syafi’iy, berpendapat bahwa yang dimaksud itu adalah wajah dan telapak tangan jika tidak khawatir akan timbul </span><i><span style="font-weight: 400;">fitnah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Imam Abu Hanifah, ats-Tsauriy, dan al-Muzaniy </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berpendapat bahwa kaki perempuan juga termasuk, sehingga itu bukanlah aurat, walaupun ada salah satu riwayat dari Abu Hanifah yang menyebutkan bahwa itu adalah aurat. Sedangkan Abu Yusuf </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, salah satu dari dua murid Abu Hanifah yang paling terkenal, berpendapat bahwa lengan perempuan dan bahkan separuh betisnya juga termasuk, sehingga itu juga bukanlah aurat, karena menutupinya akan menimbulkan kesulitan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian dengan berbekal pendapat Abu Yusuf tersebut, tanpa memperhatikan apakah pendapat itu memiliki dalil yang kuat atau tidak, orang tersebut kemudian mencoba melakukan qiyas antara lengan dan separuh betis perempuan yang dibolehkan oleh Abu Yusuf untuk terlihat, dengan rambut, leher, dan telinga perempuan di zaman ini. Kata dia: Jika Abu Yusuf membolehkan lengan dan separuh betis perempuan karena menutupinya itu akan menimbulkan kesulitan, maka demikian pula di zaman ini, menutupi rambut, leher, dan telinga itu juga akan menimbulkan kesulitan. Sehingga akhirnya dia pun berfatwa bolehnya rambut, leher, dan telinga perempuan untuk terlihat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/34261-melepas-jilbab-berarti-melepas-kemuliaan-wanita.html" data-darkreader-inline-color="">Melepas Jilbab Berarti Melepas Kemuliaan Wanita</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Menyelisihi Ijma’ Itu Tercela</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketahuilah bahwa sesungguhnya fatwa tersebut telah menyelisihi ijma’ para ulama’ mujtahidin tentang aurat perempuan. Akan tetapi, sebelum kita membahas lebih jauh, kita ingin mengulas terlebih dahulu tentang apa itu ijma’ dan kewajiban untuk mengikuti ijma’ dan tidak boleh menyelisihinya.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Imamul-Haramain</span></i><span style="font-weight: 400;"> Abul-Ma’aliy ‘Abdul-Malik ibn ‘Abdillah al-Juwainiy </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan definisi ijma’ dalam perkataan beliau,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اتفاق علماء العصر على حكم الحادثة.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kesepakatan para ulama’ mujtahidin pada sebuah generasi tentang hukum sebuah permasalahan.” [Lihat: </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Waraqat fiy Ushulil-Fiqh</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya </span><i><span style="font-weight: 400;">Imamul-Haramain</span></i><span style="font-weight: 400;"> Abul-Ma’aliy ‘Abdul-Malik ibn ‘Abdillah al-Juwainiy]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama’ juga menjelaskan bahwa ketika dalam sebuah generasi, para ulama’ mujtahidin di generasi tersebut bersepakat dalam suatu permasalahan, maka tidak boleh bagi para ulama’ mujtahidin di generasi berikutnya untuk memunculkan pendapat ke dua dalam permasalahan tersebut. Itu karena Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> telah bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إن الله لا يجمع أمتي — أو: أمة محمد صلى الله عليه وسلم — على ضلالة.</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku — atau: umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam — di atas kesesatan.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [Hadits shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 2167)]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, ketika seorang ulama’ di generasi berikutnya memunculkan pendapat kedua, sama saja dia berkata bahwa seluruh ulama’ mujtahidin di generasi sebelumnya telah berada di atas kesalahan dalam masalah tersebut. al-Qadhiy Abu Ya’la </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>الإجماع حجة مقطوع عليها، يجب المصير إليها، وتحرم مخالفته، ولا يجوز أن تجتمع الأمة على الخطأ.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ijma’ itu adalah hujjah yang sangat kuat, wajib untuk berpendapat dengannya, tidak boleh menyelisihinya, dan umat ini tidak akan bersepakat di atas kesalahan.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">al-’Uddah fiy Ushulil-Fiqh</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya al-Qadhiy Abu Ya’la (4/1058)]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula, para ulama’ juga mewajibkan bagi siapa pun yang hendak berijtihad untuk mengetahui mana masalah yang telah ada ijma’ di dalamnya dan mana masalah yang ada khilaf di dalamnya. Ibnun-Najjar al-Futuhiy </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika sedang membahas tentang syarat-syarat ijtihad, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ويُشترط فيه أيضا: أن يكون عالما بالمجمع عليه والمختلف فيه حتى لا يفتي بخلاف ما أُجمع عليه، فيكون قد خرق الإجماع.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Disyaratkan juga bagi seorang mujtahid: Bahwa dia harus mengetahui tentang permasalahan yang telah ada ijma’ di dalamnya dan permasalahan yang memang ada khilaf di dalamnya, agar dia tidak berfatwa menyelisihi apa yang telah disepakati, sehingga pada kondisi itu dia telah melanggar ijma’.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarhul-Kaukabil-Munir</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Ibnun-Najjar al-Futuhiy (4/464)]</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26725-makna-hijab-khimar-dan-jilbab.html" data-darkreader-inline-color="">Makna Hijab, Khimar dan Jilbab</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Ijma’ Ulama’ dalam Masalah Ini</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama’ mujtahidin telah memiliki ijma’ bahwa rambut perempuan merdeka itu adalah aurat. Ibn Hazm </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>واتفقوا على أن شعر الحرة وجسمها حاشا وجهها ويدها عورة.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para ulama’ bersepakat bahwa rambut perempuan merdeka dan badannya, kecuali wajahnya dan tangannya, itu adalah aurat.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Maratibul-Ijma’</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Ibn Hazm (hlm. 53)]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan perkataan Ibn Hazm ini tidak dikritik oleh Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumallah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam kitab beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">Naqdu Maratibil-Ijma’</span></i><span style="font-weight: 400;">, yang secara khusus memang ditulis untuk mengkritik masalah-masalah ijma’ yang disebutkan oleh Ibn Hazm </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam kitab beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">Maratibul-Ijma’</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula, terkait telinga perempuan, disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اتفق الفقهاء على أن الأذن في المرأة من العورة، ولا يجوز إظهارها للأجنبي.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para </span><i><span style="font-weight: 400;">fuqaha’</span></i><span style="font-weight: 400;"> sepakat bahwa telinga perempuan itu termasuk aurat, dan tidak boleh menampakkannya kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">ajnabiy</span></i><span style="font-weight: 400;"> (orang asing, yaitu yang bukan suami dan bukan pula mahram).” [</span><i><span style="font-weight: 400;">al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (2/375)]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, dari perkataan para ulama’ ini, jelaslah bahwa apa yang difatwakan oleh orang di atas adalah sebuah kebathilan, karena fatwanya tersebut bertumpu pada qiyas yang menyelisihi ijma’. Ketika qiyas dan ijma’ berbenturan, maka ketahuilah bahwa qiyas itu adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">qiyas fasid</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu qiyas yang rusak karena menyelisihi hujjah yang lebih kuat, yaitu ijma’. Ketika sedang membahas tentang </span><i><span style="font-weight: 400;">qawadihul-’illah</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu hal-hal yang dapat merusak </span><i><span style="font-weight: 400;">‘illah</span></i><span style="font-weight: 400;"> sehingga akhirnya dapat merusak qiyas, Ibnun-Najjar al-Futuhiy </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>الثاني: من القوادح: فساد الاعتبار، وهو مخالفة القياس نصا أو إجماعا.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang kedua adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">fasidul-i’tibar</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu ketika ia menyelisihi nash atau ijma’.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarhul-Kaukabil-Munir</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Ibnun-Najjar al-Futuhiy (4/236)]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengikuti ijma’ para ulama’ mujtahidin yang sudah ada sejak lama dalam masalah ini, dan tidak menghiraukan fatwa-fatwa menyimpang yang bertentangan dengannya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/22039-fatwa-ulama-melamar-wanita-yang-tidak-berjilbab-atau-ber-tabarruj.html" data-darkreader-inline-color="">Melamar Wanita Yang Tidak Berjilbab Atau Ber-Tabarruj</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Apa yang Harus Kita Lakukan Ketika Kita Tidak Tahu Hukum Sesuatu?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam permasalahan </span><i><span style="font-weight: 400;">ijtihadiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang para ulama’ mujtahidin itu berbeda pendapat, kita diperintahkan untuk mengikuti pendapat yang dalilnya paling kuat, sebagaimana termaktub dalam firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَإِذا جاءَهُم أَمرٌ مِنَ الأَمنِ أَوِ الخَوفِ أَذاعوا بِهِ ۖ وَلَو رَدّوهُ إِلَى الرَّسولِ وَإِلىٰ أُولِى الأَمرِ مِنهُم لَعَلِمَهُ الَّذينَ يَستَنبِطونَهُ مِنهُم</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil-amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang bisa beristinbath (bisa menarik kesimpulan yang benar dari dalil) akan bisa mengetahuinya.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [Surat an-Nisa’: 83]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memerintahkan kita untuk mengembalikan perkaranya kepada orang yang berilmu, yang bisa </span><i><span style="font-weight: 400;">beristinbath</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari dalil untuk mencapai kesimpulan hukum atas permasalahan kontemporer yang terjadi. Dan pada ayat ini Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> menggunakan kata kerja </span><i><span style="font-weight: 400;">fi’l mudhari’</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu يستنبطون (</span><i><span style="font-weight: 400;">yastanbithun</span></i><span style="font-weight: 400;">), yang dalam bahasa Arab menunjukkan bahwa perbuatan ini terus berlangsung dan terus ada walaupun kita saat ini berada di zaman </span><i><span style="font-weight: 400;">muta’akhkhirin</span></i><span style="font-weight: 400;">. Ini menunjukkan bahwa ijtihad itu tidak hanya terbatas di zaman </span><i><span style="font-weight: 400;">mutaqaddimin</span></i><span style="font-weight: 400;">, tetapi tetap ada di zaman ini sebagaimana permasalahan kontemporer juga terus bermunculan di zaman ini, walaupun tentu kita sepakat bahwa ulama’ mujtahidin di zaman ini tidaklah sama derajatnya dengan para imam mujtahidin di zaman dulu, seperti imam madzhab yang empat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika masih belum bisa menganalisa dalil menggunakan </span><i><span style="font-weight: 400;">ushul</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">qawa’id</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka kita diperintahkan untuk bertanya kepada orang yang berilmu, yang paling kita percaya keilmuwannya dan ketakwaannya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَسـَٔلوا أَهلَ الذِّكرِ إِن كُنتُم لا تَعلَمونَ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [Surat an-Nahl: 43]</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/21176-jilbab-syari-itu-lebar.html" data-darkreader-inline-color="">Jilbab Syar’i Itu Lebar</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tercelanya </b><b><i>Tatabbu’ Rukhash</i></b><b> atau </b><b><i>Fatwa Shopping</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara perbuatan tercela yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah mencari-cari fatwa yang paling mudah dan paling ringan dalam sebuah permasalahan — atau bahkan dalam setiap permasalahan — yang paling mencocoki seleranya. Mereka tidak bertanya kepada para ulama’ yang terpercaya mengenai pendapat yang terkuat dalam masalah tersebut, akan tetapi mereka akan mengumpulkan fatwa-fatwa para ulama’ dari berbagai madzhab lalu mencari mana yang paling sesuai dengan hawa nafsunya, walaupun pendapat tersebut bisa jadi adalah pendapat yang </span><i><span style="font-weight: 400;">syadzdz</span></i><span style="font-weight: 400;"> (aneh, anomali). Sebagaimana pada kasus kita ini, sampai mencari-cari pendapat yang paling mendekati dengan selera dan hawa nafsunya (yaitu, pendapat Abu Yusuf </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">), lalu menerapkan qiyas atasnya walaupun akhirnya tampak jelas kebathilannya karena qiyasnya tersebut ternyata menyelisihi ijma’. </span><i><span style="font-weight: 400;">Fatwa shopping</span></i><span style="font-weight: 400;"> seperti ini disebut oleh para ulama’ dengan istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">tatabbu’ rukhash</span></i><span style="font-weight: 400;"> (mencari </span><i><span style="font-weight: 400;">rukhshah</span></i><span style="font-weight: 400;"> / keringanan dalam setiap permasalahan), dan para ulama’ telah mencelanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibn ‘Abdil-Barr meriwayatkan dari ‘Abdul-Warits, dari Qasim ibn Ashba’, dari Ahmad ibn Zuhair, dari al-Ghalabiy, dari Khalid ibn al-Harits, bahwa Sulaiman at-Taimiy, </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لو أخذتَ برخصة كل عالم اجتمع فيك الشر كله.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika engkau mengambil keringanan dari setiap ulama’ maka engkau akan mengumpulkan keburukan seluruhnya.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Jami’ Bayanil-’Ilm wa Fadhlih</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Ibn ‘Abdil-Barr (no. 1766)]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Abu ‘Umar (yakni, Ibn ‘Abdil-Barr) </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>هذا إجماع لا أعلم فيه خلافا والحمد لله.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ini adalah ijma’, yang aku tidak tahu adanya khilaf di dalamnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">wal-hamdu lillah</span></i><span style="font-weight: 400;">.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Jami’ Bayanil-’Ilm wa Fadhlih</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Ibn ‘Abdil-Barr (no. 1767)]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">adz-Dzahabiy </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>من تتبع رخص المذاهب وزلات المجتهدين فقد رقَّ دينه.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mengikuti </span><i><span style="font-weight: 400;">rukhash</span></i><span style="font-weight: 400;"> (keringanan) dari madzhab-madzhab dan mengikuti ketergelinciran para mujtahidin maka agamanya telah menipis.” [</span><i><span style="font-weight: 400;">Nuzhatul-Fudhala’ Tahdzib Siyar A’lamin-Nubala’</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Muhammad ibn Hasan ibn ‘Aqil Musa asy-Syarif (hlm. 619)]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saking tercelanya </span><i><span style="font-weight: 400;">fatwa shopping</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu sampai-sampai terkenal sebuah perkataan di kalangan para ulama’,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>من تتبع الرخص تزندق.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang selalu mencari-cari </span><i><span style="font-weight: 400;">rukhshah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (keringanan) maka dia telah </span><i><span style="font-weight: 400;">zindiq</span></i><span style="font-weight: 400;">.” [Lihat: </span><i><span style="font-weight: 400;">Waqfat ‘inda Qaulihi ‘Azza wa Jalla: Wa Laa Taqfu Ma Laisa Laka Bihi ‘Ilm</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya ‘Abdul-Karim ibn Hamud ibn ‘Abdillah at-Tuwaijiriy]</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/19679-fatwa-ulama-bagaimana-menyikapi-wanita-yang-enggan-berjilbab.html" data-darkreader-inline-color="">Bagaimana Menyikapi Wanita Yang Enggan Berjilbab?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/9411-kata-jil-jilbab-bukan-kewajiban-namun-pilihan-1.html" data-darkreader-inline-color="">Kata JIL: Jilbab Bukan Kewajiban Namun Pilihan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga kita dihindarkan oleh Allah dari melakukan amalan orang-orang zindiq.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">@ Dago, Bandung, 23 Jumada al-Akhirah 1441 H</span></i></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/andylatief" data-darkreader-inline-color="">Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@almaaduuriy / andylatief.net</span></p>
 