
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Orang musyrik zaman dahulu sangat paham dengan makna kalimat tauhid</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang-orang musyrik, ketika mereka diminta untuk mengucapkan kalimat tauhid </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah, </span></i><span style="font-weight: 400;">mereka menolak dengan sangat keras. Ketika Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menyerukan kepada mereka untuk mengucapkan</span><i><span style="font-weight: 400;">“laa ilaaha illallah”, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka mereka menolak untuk mengatakan kalimat tersebut sambil mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ ؛ وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ</span></p>
<p><b> “’Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sebagai sesembahan yang satu saja?</b><span style="font-weight: 400;"> Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.’ </span><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), </span><b>’Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) sesembahan-sesembahanmu</b><span style="font-weight: 400;">,</span><span style="font-weight: 400;"> sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki’.” </span><b>(QS. Shaad [38]: 5-6)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/19276-inilah-mode-wanita-jahiliyah.html" data-darkreader-inline-color="">Ternyata Inilah Mode Wanita Jahiliyah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Marilah kita merenungkan, mengapa kaum musyrik menolak untuk mengatakan kalimat tersebut? Penolakan mereka untuk menyambut seruan dakwah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut tidak lain adalah karena mereka memahami makna kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut dengan benar. Mereka mengetahui bahwa orang yang mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah, </span></i><span style="font-weight: 400;">dia harus memenuhi syarat-syaratnya sebelum mengucapkannya. Karena mereka adalah orang-orang yang mengerti bahasa Arab dengan baik. Mereka juga memahami bahwa ketika mereka mengucapkan kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka berarti dia telah bersaksi bahwa segala jenis peribadatan mereka kepada berhala-berhala mereka adalah peribadatan yang batil. Mereka juga harus melepaskan segala ketergantungan hati sanubari mereka kepada semua sesembahan selain Allah <em>Ta’ala.</em></span> <span style="font-weight: 400;">Dan mereka harus menujukan segala aktivitas ibadah mereka hanya kepada Allah <em>Ta’al</em></span><i><span style="font-weight: 400;"><em>a</em> </span></i><span style="font-weight: 400;">saja. Oleh karena konsekuensi-konsekuensi itulah, mereka pun menolak untuk mengucapkan kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah. </span></i><span style="font-weight: 400;">(Lihat </span><b><i>At-Tanbihaat Al-Mukhtasharah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 34)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat yang lain Allah <em>Ta’ala</em> berfirman menceritakan kisah mereka,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ ؛ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “Sesungguhnya mereka dahulu, apabila dikatakan kepada mereka, </span><i><span style="font-weight: 400;">’Laa ilaaha illallah’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, </span><b>’Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?’</b><span style="font-weight: 400;">”</span> <b>(QS. Ash-Shafat [37]: 35-36)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari jawaban kaum musyrikin tersebut, terlihat jelas bahwa mereka telah memahami bahwa makna kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah </span></i><span style="font-weight: 400;">menuntut mereka untuk meninggalkan segala jenis peribadatan kepada selain Allah, dan mengesakan Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">dalam seluruh aktivitas ibadah yang mereka lakukan. Seandainya mereka mau mengucapkannya, dan di sisi lain mereka tidak mau meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka selain Allah <em>Ta’ala</em> tersebut, tentu hal ini sangatlah kontradiktif. (Lihat </span><b><i>Haqiqatu laa ilaaha illallah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 111-114)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/4952-tumbal-dan-sesajen-tradisi-syirik-warisan-jahiliyah.html" data-darkreader-inline-color="">Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukti lain yang menunjukkan bahwa orang musyrik memahami makna kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">“laa ilaaha illallah” </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan benar adalah kisah meninggalnya Abu Thalib. Ketika Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan Abu Thalib untuk mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">“laa ilaaha illallah”, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah yang saat itu juga berada di sisi Abu Thalib mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apakah Engkau membenci agama Abdul Muthallib?”</span> <b>(HR. Bukhari no. 1360 dan Muslim no. 141)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perkataan ini menunjukkan bahwa mereka telah memahami, apabila Abu Thalib sampai mengucapkan kalimat tersebut, maka berarti terlepaslah dari dalam hati sanubarinya segala bentuk sekutu dan berhala, dan menujukan ibadah semuanya hanya kepada Allah <em>Ta’ala</em></span> <span style="font-weight: 400;">saja. (Lihat </span><b><i>At-Tanbihaat Al-Mukhtasharah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 34)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Syaikh Muhammad At-Tamimy </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Orang kafir jahiliyyah mengetahui bahwa yang Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kehendaki dengan kalimat ini (yaitu ‘laa ilaaha illallah’, pen.) adalah mengesakan Allah Ta’ala dengan menyandarkan hati kepada-Nya dan mengingkari serta berlepas diri dari sesembahan selain-Nya. Buktinya, ketika dikatakan kepada mereka, ’Katakanlah </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah!’</span></i><span style="font-weight: 400;">  Mereka menjawab (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">’Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sebagai sesembahan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan’ </span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Shaad [38] : 5).” (Lihat </span><b><i>At-Taudhihat Al-Kaasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 100)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Abu Jahal pun memahami kalimat ini (dengan benar, pen.), meskipun dia sendiri enggan untuk mengucapkannya. Apabila maknanya adalah, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada sesembahan selain Allah”,</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagaimana persangkaan kebanyakan masyarakat saat ini dan masyarakat sebelum mereka, maka tentu dia akan mengatakannya dengan mudah meskipun dia tidak memahami makna yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi, orang-orang musyrik jahiliyyah memahami bahwa makna kalimat tersebut adalah, </span><i><span style="font-weight: 400;">’laa ma’buuda haqqun illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> [tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah] dan sesungguhnya segala peribadatan kepada selain Allah hanyalah kezaliman.” (Lihat </span><b><i>At-Tamhiid, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 78)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/37309-memahami-hakikat-kesyirikan-pada-zaman-jahiliyyah-02.html" data-darkreader-inline-color="">Memahami Hakikat Kesyirikan pada Zaman Jahiliyyah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Orang musyrik jaman sekarang tidak paham dengan makna kalimat tauhid</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemahaman yang dimiliki oleh orang-orang musyrik tersebut seolah-olah membantah apa yang dipahami oleh para pemuja kubur zaman sekarang ini dan yang semisal dengan mereka, bahwa makna kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">“laa ilaaha illallah” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah bersaksi bahwa Allah <em>Ta’ala</em> itu ada, atau bahwa Allah-lah Yang Maha mencipta dan Maha mengatur segala urusan, atau makna-makna yang semisal dengan itu. Mereka menyangka bahwa barangsiapa yang telah meyakini hal tersebut, berarti dia telah mewujudkan tauhid dalam dirinya. Meskipun mereka juga menujukan ibadah mereka kepada selain Allah <em>Ta’ala</em></span><i><span style="font-weight: 400;"><em>,</em> </span></i><span style="font-weight: 400;">meminta kepada orang-orang shalih yang telah mati, serta mendekatkan diri kepada mereka dengan menyembelih dan bernadzar untuk mereka, atau mengelilingi </span><i><span style="font-weight: 400;">(thawaf) </span></i><span style="font-weight: 400;">kubur mereka dan mencari berkah </span><i><span style="font-weight: 400;">(tabarruk) </span></i><span style="font-weight: 400;">dengannya. (Lihat </span><b><i>Haqiqatu laa ilaaha illallah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 112)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah kondisi dan realita kaum muslimin saat ini. Mereka memang sangat gemar untuk mengucapkan dzikir </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Ini memang suatu hal yang sangat baik dan terpuji, karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Dzikir yang paling utama adalah bacaan </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;">.” </span><b>[2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun sayang, mereka tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap kalimat tersebut. Sehingga mereka juga melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan apa yang diucapkannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah perbedaan kaum musyrik zaman dahulu dengan sekarang. Kaum musyrik zaman dahulu, mereka memahami makna kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">“laa ilaaha illallah” </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan pemahaman yang benar. Sehingga mereka menolak untuk mengucapkannya karena mengingkari makna dan konsekuensinya. Akan tetapi, kaum musyrik zaman sekarang ini, mereka sangat gemar untuk mengucapkan dzikir </span><i><span style="font-weight: 400;">“laa ilaaha illallah”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Namun mereka tidak mengetahui dengan benar apa yang dimaksud dengan kalimat tersebut. Sehingga di satu sisi mereka mengucapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">“laa ilaaha illallah”, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun di sisi lain mereka juga tetap melakukan berbagai aktivitas ibadah yang ditujukan kepada selain Allah <em>Ta’ala.</em> Inilah kondisi kaum muslimin saat ini yang sangat menyedihkan bagi kita semua.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/32546-kesyirikan-pada-zaman-sekarang-ternyata-lebih-parah-01.html" data-darkreader-inline-color="">Kesyirikan pada Zaman Sekarang ternyata Lebih Parah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika menjelaskan realita tersebut, Syaikh Muhammad At-Tamimy </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Jika kamu sudah mengetahui bahwa orang kafir jahiliyyah mengetahui yang demikian itu (bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;"> bermakna </span><b>tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah,</b><span style="font-weight: 400;"> pen.), maka sungguh sangat mengherankan di mana para da’i yang mendakwahkan Islam tidak mengetahui tafsir (yang benar) dari kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagaimana yang diketahui oleh orang kafir jahiliyyah. Bahkan mereka mengira bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;">  cukup diucapkan saja tanpa perlu meyakini maknanya. Dan pakar ahli (yaitu orang-orang pintar dari ahli kalam dan ahli bid’ah, pen.) di antara mereka pun menyangka bahwa makna </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta kecuali Allah. </span><b>Maka tidak ada satu pun kebaikan pada seseorang di mana orang kafir jahiliyyah lebih mengetahui dari dirinya mengenai makna ‘laa ilaha illallah’.</b><span style="font-weight: 400;">” (Lihat </span><b><i>At-Taudhihat Al-Kaasyifat ‘ala Kasyfi Asy-Syubuhat, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 101)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah sangat disayangkan sekali, para cendekiawan muslim dan para da’i yang mengajari umat tentang Islam banyak yang tidak memahami </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang musyrik. Dan kebanyakan pakar Islam sendiri –yang kebanyakan adalah ahli kalam (ahli filsafat)- hanya memaknai kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan ‘tidak ada pencipta selain Allah’, atau ‘tidak ada pengatur alam semesta selain Allah’, atau ‘tidak ada pemberi rizki selain Allah’. Padahal tafsir tersebut hanya terbatas pada sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">rububiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah <em>Ta’ala</em> saja. Lalu apa kelebihan mereka dari orang-orang musyrik dahulu? Maka renungkanlah hal ini!</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18042-nasihat-di-zaman-penuh-fitnah.html" data-darkreader-inline-color="">Nasihat Di Zaman Penuh Fitnah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/12558-fatwa-ulama-penutup-para-nabi-dan-isa-yang-akan-datang-di-akhir-zaman.html" data-darkreader-inline-color="">Penutup Para Nabi dan Isa yang Akan Datang di Akhir Zaman</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogja, 21 Dzulqa’dah 1440/18 Juli 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Silakan dilihat tulisan kami sebelumnya di sini: <a href="http://muslim.or.id/45166-kebodohan-kita-terhadap-makna-kalimat-tauhid-bag-4.html">Kebodohan Kita terhadap Makna Kalimat Tauhid (Bag. 4)</a><br>
</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Dinilai </span><i><span style="font-weight: 400;">hasan</span></i><span style="font-weight: 400;"> oleh Syaikh Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">tahqiq</span></i><span style="font-weight: 400;"> beliau terhadap kitab </span><b><i>Kalimatul Ikhlas</i></b><span style="font-weight: 400;">, hal. 62.</span></p>
 