
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Umar mengatakan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">مَا جَاءَنِي أَجَلِي فِي مَكَانٍ مَا عَدَا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَأْتِيْنِيْ وَأَنَا بَيْنَ شِعْبَتَيْ رَحْلِيْ أَطْلُبُ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah kematian menjemputku di suatu tempat, selain medan perang jihad di jalan Allah, yang lebih kusukai dibandingkan mati ketika bekerja mencari rezeki, diantara sisi kanan dan sisi kiri pelana ontaku.” (<em>Mushannaf Abdurrazaq</em> 11/464)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mati dalam kondisi bekerja mencari harta yang halal adalah mati yang mulia. Mati ketika itu tidak kalah mulia dengan mati di medan perang jihad fi sabilillah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mati ketika kerja itu mulia dengan syarat:</span></p>
<p><strong>Pertama:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kerja yang halal.</span></p>
<p><strong>Kedua:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Niat yang benar ketika kerja. Semisal niat untuk jaga kehormatan agar tidak ngemis, menafkahi keluarga yang Allahﷻ wajibkan dll.</span></p>
<p><strong>Ketiga:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak menjadikan dunia sebagai orientasi hidup. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mati ketika kerja mencari harta halal adalah mati mulia. Ini menunjukkan bahwa kegiatan kerja mencari rezeki halal adalah aktivitas mulia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang lelaki muslim semestinya rajin bekerja. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di masa wabah seperti sekarang seorang laki-laki bertanggung jawab untuk lebih kreatif agar bisa menafkahi keluarga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cukuplah seorang laki-laki itu berdosa ketika kebutuhan keluarga terlantar karena rasa malas untuk bekerja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menolong orang lain itu berpahala. Menolong anak isteri dari kesusahan hidup itu lebih besar lagi pahalanya.</span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 