
<p><span lang="en-US">Telah kita ketahui bersama bahwa utang-piutang sudah menjadi hal yang lumrah di tengah-tengah masyarakat negeri kita. Akan tetapi, di sisi lain krisis kepercayaan melanda era globalisasi ini, tak terkecuali di nusantara. Sehingga, tak mengherankan bila di dalam akad utang-piutang, pihak yang meminjamkan meminta jaminan, baik berupa harta, benda, atau jasa.</span></p>
<p><span lang="en-US">Nah, oleh sebab itu, sudah seharusnya kita sebagai seorang muslim mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan praktik semisal ini dari kacamata syariat Islam. Terlebih lagi transaksi jenis ini sudah dikenal lama sehingga sudah dibahas oleh ulama-ulama salaf maupun kontemporer.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>Definisi Rahn</b></span></span></h4>
<p><span lang="en-US">Secara bahasa, </span><span lang="en-US"><i>rahn</i></span><span lang="en-US"> memiliki </span>banyak <span lang="en-US">definisi</span>. Di antaranya adalah <i>habs</i> yang berarti tertahan, terhalang, tercegah, atau yang semakna dengannya. Hal ini senada dengan firman Allah <i>Ta’ala</i>,</p>
<p class="arab">كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ</p>
<p>“<span lang="en-US"><i>Setiap jiwa tertahan untuk mempertanggungjawabkan apa yang pernah ia perbuat.” </i></span><span lang="en-US">(QS. Al-Mudatstsir: 38)</span></p>
<p><span lang="en-US">Definisi lain dari </span><span lang="en-US"><i>rahn</i></span><span lang="en-US"> adalah </span><span lang="en-US"><i>dawam</i></span><span lang="en-US"> yang bermakna diam atau tetap. Syaikh Al Utsaimin </span><span lang="en-US"><i>rahimahullah</i></span><span lang="en-US"> mengumpamakan, jika ada seseorang yang mengatakan air ini </span><span lang="en-US"><i>rahin</i></span><span lang="en-US">, maksudnya air ini diam, tenang, dan tidak mengalir.</span><sup><span lang="en-US">[1]</span></sup></p>
<p><span lang="en-US">Adapun menurut istilah ulama fikih, </span><span lang="en-US"><i>rahn</i></span><span lang="en-US"> atau gadai adalah </span>berutang<span lang="en-US"> dengan menyerahkan </span>barang<span lang="en-US"> sebagai jaminan.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>Contoh Gadai</b></span></span></h4>
<p>Untuk memudahkan kita memahami persoalan ini ada baiknya kita mengenal pihak yang bertransaksi di dalam muamalah ini. Pihak pertama adalah <span lang="en-US"><i>rahin</i></span><span lang="en-US"> (</span>si peminjam atau <span lang="en-US">orang yang menggadaikan)</span>, sedangkan pihak kedua adalah <span lang="en-US"><i>murtahin</i></span><span lang="en-US"> (pemberi utang).</span></p>
<p>Adapun contoh gadai, misalnya, <i>rahin</i>ber<span lang="en-US">utang sebesar satu juta rupiah</span> kepada <i>murtahin</i><span lang="en-US">. Ia lantas menyerahkan barang yang dapat dijadikan jaminan untuk melunasi utangnya</span> kepada <i>murtahin</i><span lang="en-US">.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>Hukum Gadai</b></span></span></h4>
<p><span lang="en-US">Sistem transaksi utang piutang dengan gadai diperbolehkan dalam Islam. Hal ini berlandaskan dalil dari Alquran, sunah, maupun konsensus kaum muslimin sejak dulu.</span></p>
<p><span lang="en-US">Dalil utama yang menjelaskan disyariatkannya penggadaian adalah firman Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala</i></span><span lang="en-US">,</span></p>
<p class="arab">وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُواْ كَاتِباً فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ</p>
<p>“<span lang="en-US"><i>Jika kalian berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sedangkan kalian tidak menemui seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh orang yang memberi piutang)…”</i></span><span lang="en-US"> (QS. Al-Baqarah: 283)</span></p>
<p><span lang="en-US">Adapun penyebutan safar/bepergian dalam ayat ini bukanlah bermaksud untuk membatasi syariat gadai hanya boleh di waktu bepergian semata. Akan tetapi hal itu dikarenakan dahulu gadai sering kali dilakukan di dalam perjalanan.</span><sup><span lang="en-US">[3]</span></sup></p>
<p><span lang="en-US">Hal ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh istri Nabi yaitu Aisyah </span><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anha</i></span><span lang="en-US">. Beliau mengisahkan bahwa suatu ketika Nabi </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i></span><span lang="en-US"> pernah membeli makanan dari seorang Yahudi. Beliau pun menggadaikan sebuah baju perang yang terbuat dari besi.</span><sup><span lang="en-US">[4]</span></sup></p>
<p><span lang="en-US">Ketika kejadian ini, Nabi </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i></span><span lang="en-US"> sedang tidak melakukan safar. Kisah ini juga merupakan dalil dari sunah yang menjelaskan diperbolehkannya transaksi gadai.</span></p>
<p><span lang="en-US">Syekh Abdullah al-Bassam </span><span lang="en-US"><i>rahimahullah</i></span><span lang="en-US"> mengatakan, </span><span lang="en-US"><i>“Kaum muslimin telah bersepakat diperbolehkannya transaksi gadai ini, meskipun sebagian ulama bersilang pendapat di beberapa persoalannya.”</i></span><sup><span lang="en-US">[5]</span></sup></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>Hikmah Pergadaian</b></span></span></h4>
<p><span lang="en-US">Faedah pensyariatan gadai sangatlah besar. Karena dengan gadai, seorang pemberi utang akan merasa tenang dan tidak khawatir hartanya akan lenyap begitu saja disebabkan peminjam tidak membayar utang.</span></p>
<p><span lang="en-US">Selain itu, pergadaian merupakan bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa jika memang dibutuhkan. Gadai juga merupakan solusi di dalam situasi krisis, dan mempererat rasa sosial dan interaksi sesama manusia.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>Rukun Gadai</b></span></span></h4>
<p><span lang="en-US">Ulama telah merumuskan beberapa rukun yang harus terpenuhi di dalam melakukan transaksi gadai, yaitu:</span></p>
<ol>
<li><span lang="en-US">Barang yang digadaikan;</span></li>
<li><span lang="en-US">Utang;</span></li>
<li><span lang="en-US">Akad;</span></li>
<li>
<span lang="en-US">Dua pihak yang bertransaksi, yaitu </span><span lang="en-US"><i>rahin</i></span><span lang="en-US"> dan </span><span lang="en-US"><i>murtahin</i></span><span lang="en-US">.</span>
</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Syarat Gadai</b></span></h4>
<p><strong>Pertama</strong>, transaksi gadai tersebut berdasarkan utang yang wajib dibayar.<sup><span lang="en-US">[6]</span></sup></p>
<p><strong>Kedua</strong>, barang gadai tersebut diperbolehkan dalam jual beli. Jika seorang <i>rahin</i> menggadaikan seekor babi misalnya, maka transaksi gadai dalam kasus ini tidak sah. Karena babi adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam jual beli. Termasuk pula tidak diperbolehkan menggadaikan barang wakaf atau barang yang bukan miliknya.<sup><span lang="en-US">[7]</span></sup></p>
<p>Akan tetapi dikecualikan dalam masalah ini menggadaikan hasil pertanian atau buah-buahan yang belum matang. Meskipun sebagaimana yang kita ketahui hukum asal menjual buah-buahan yang belum matang adalah terlarang.<sup>[</sup><sup><span lang="en-US">8</span></sup><sup>]</sup></p>
<p><span lang="en-US"><strong>Ketiga</strong>, </span><i>rahin</i><span lang="en-US"> hendaklah orang yang boleh mempergunakan jaminannya, baik karena memilikinya atau diizinkan mempergunakannya secara syariat.</span></p>
<p><span lang="en-US"><strong>Keempat</strong>, hendaknya barang yang digadai diketahui kadar, sifat, dan jenisnya.</span><sup><span lang="en-US">[9]</span></sup></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Memanfaatkan Barang Gadai?</b></span></h4>
<p><span lang="en-US">Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah tidak diperbolehkannya </span>bagi <i>murtahin</i><span lang="en-US"> memanfaatkan barang yang digadaikan</span><i>rahin</i><span lang="en-US">. Hal ini berdasarkan ketentuan bahwa segala utang yang mendatangkan manfaat adalah riba.</span></p>
<p>Karena pada hakikatnya barang tersebut statusnya masih milik <i>rahin.</i> Sedangkan <i>murtahin</i> hanya berhak untuk menahan barang tersebut, bukan malah memanfaatkannya. Baik dengan izin dari <i>rahin</i> ataupun tanpa seizinnya.</p>
<p>Lain halnya jika barang gadai tersebut berupa hewan tunggangan dan ternak, maka boleh bagi <i>murtahin</i> menunggangi maupun memerah susunya jika memang <i>murtahin</i> tersebut memberi makan hewan-hewan tersebut. <span lang="en-US">Rasulullah </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i></span><span lang="en-US"> berbicara dalam hal ini,</span></p>
<p class="arab">الظَّهْرُ يُرْكَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِي يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ نَفَقَتُهُ</p>
<p>“<span lang="en-US"><i>Punggung hewan tunggangan yang digadaikan boleh dinaiki. Begitu pula susu hewan ternak yang digadaikan boleh diminum. Akan tetapi wajib bagi yang menunggangi dan meminum susunya untuk memberi hewan-hewan tersebut makanan.”</i></span><sup><span lang="en-US">[10]</span></sup></p>
<p><span lang="en-US">Semoga artikel sederhana ini bisa menambah wawasan kita seputar pergadaian sehingga kita tidak terjatuh di dalam kesalahan semisal memanfaatkan barang gadai yang hakikatnya bukan milik si peminjam atau menggunakan barang haram untuk digadaikan.</span></p>
<p> </p>
<p>—</p>
<h5><span style="color: #0000ff;"><span lang="en-US"><b>Catatan Kaki</b></span></span></h5>
<p><span lang="en-US">[1] Lihat </span><span lang="en-US"><i>Mudzakirah al-Fiqh</i></span><span lang="en-US"> 2/109</span></p>
<p><span lang="en-US">[2] Lihat contoh-contoh ini di dalam </span><span lang="en-US"><i>Mudzakhirah al-Fiqh</i></span><span lang="en-US"> 2/109-110</span></p>
<p><span lang="en-US">[3] </span><i>Al-Fiqh al-Muyassar fi Dhau al-Kitab wa as-Sunnah</i>, hal. 227</p>
<p><span lang="en-US">[4] HR. Bukhari: 2513, dan Muslim: 1603</span></p>
<p><span lang="en-US">[5] </span><span lang="en-US"><i>Taisir al-Allam Syarh Umdah al-Ahkam </i></span><span lang="en-US">2/77</span></p>
<p><span lang="en-US">[6] </span><i>M</i><span lang="en-US"><i>udzakirah al-</i></span><i>F</i><span lang="en-US"><i>iqh</i></span><span lang="en-US">2/</span>110</p>
<p><span lang="en-US">[7] </span><span lang="en-US"><i>Al-Fiqh al-Muyassar</i></span> hal. 227</p>
<p><span lang="en-US">[8] </span><i>M</i><span lang="en-US"><i>udzakirah al-</i></span><i>F</i><span lang="en-US"><i>iqh</i></span><span lang="en-US">2/</span>110</p>
<p><span lang="en-US">[9] Lihat </span><span lang="en-US"><i>Al-Fiqh al-Muyassar</i></span> hal. 227</p>
<p><span lang="en-US">[10] HR. Tirmidzi: 1254</span></p>
<p><b>Daftar Pustaka:</b></p>
<ul>
<li>
<span lang="en-US">Abdullah al-Bassam. </span><span lang="en-US"><i>Taisir al-Allam Syarh Umdah al-Ahkam</i></span><span lang="en-US">. 1442/2002. Jilid ke-2. Cetakan pertama. Dar al-Aqidah: Kairo – Mesir.</span>
</li>
<li>
<span lang="en-US">Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. </span><span lang="en-US"><i>Mudzakirah al-Fiqh</i></span><span lang="en-US">. 1428/2007. Jilid ke-2. Cetakan pertama. Dar al-Islam li an-Nasyr wa at-Tauzi’: Al-Jizah – Mesir.</span>
</li>
<li>
<span lang="en-US">Kumpulan ulama. </span><span lang="en-US"><i>Al-Fiqh al-Muyassar fi Dhau al-Kitab wa as-Sunnah</i></span><span lang="en-US">. 1424 H. Majma’ al-Malik al-Fahd li Thaba’ah al-Mushaf asy-Syarif: Madinah – Arab Saudi.</span>
</li>
</ul>
<p>—</p>
<p>Penulis: Roni Nuryusmansyah</p>
<p>Murajaah: Ust. Muhammad Yassir, Lc</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 