
<p>Penyusun: Ummu Hafidz D<br>
Muroja’ah: Ust. Abu Salman</p>
<p>Saudariku,<br>
Bagaimana sikap kita jika mendapatkan teguran dari orang lain saat kita  melakukan kesalahan? Apakah kita menerimanya begitu saja mengingat dia  orang yang kita segani atau takuti, atau mungkin kita justru merasa  sebal dan terhina karena peringatan itu datang dari orang yang tidak  kita sukai atau kita anggap lebih rendah dari kita? Ataukah kita justru  merasa cuek dengan segala kesalahan dan peringatan yang ditujukan  kepada kita, karena merasa bahwa hidup kita adalah milik kita  sepenuhnya?</p>
<p><!--more--><br>
Teguran yang baik adalah yang menghendaki kita untuk kembali ke  kebenaran. Sementara kebenaran itu hanya satu, yaitu yang datang dari  Allah dan RosulNya. Alangkah jahil dan berdosanya kita jika tidak tahu  hakikat kebenaran. Oleh karena itulah menuntut ilmu syar’i diwajibkan  bagi kita, agar kita mengetahui dan kita tidak terjerumus pada  kesalahan (kejelekan) yang boleh jadi menurut pendapat kita itu justru  sebuah kebenaran (kebaikan).</p>
<p><strong>Setiap Kita Akan Diminta Bertanggung Jawab</strong></p>
<p>Sadarilah Saudariku,<br>
Allah Ta’ala memberikan kepada kita anggota tubuh untuk bergerak, akal  untuk berpikir, ini semua kenikmatan yang harus disyukuri, dengan cara  menggunakannya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, dan  beraktifitas keduniawiaan yang bermanfaat dalam kebaikan. Ingatlah  firman Allah Ta’ala,</p>
<p><em>“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”</em> (QS. Qiyamah: 36)</p>
<p>Hendaknya kita berhati-hati dalam berucap dan berbuat, karena semua  pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala di akhirat. <em>“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” </em>(QS. Al Isra’: 36)</p>
<p>Dan balasan yang disediakan oleh Allah Ta’ala di akhirat kelak  sesuai dengan amalnya di dunia. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,</p>
<p><em>“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan)  pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan,  sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan  (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan  menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya  hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah  seburuk-buruk tempat kediaman.”</em> (QS. Ar-Ra’du:18)</p>
<p><strong>Mengikuti Kebenaran Bukan Berdasarkan Pada Pembawanya, Tapi Pada Apa Yang Dibawanya</strong></p>
<p>Abu Yazid bin Umairah, yakni salah seorang sahabat Muadz bin Jabal, pernah menceritakan, <em>“Setiap  kali Muadz bin Jabal duduk dalam satu majlis, ia pasti berkata, ‘Allah  adalah Yang Maha Bijaksana Lagi Maha Adil, sungguh Maha Suci Allah.  Binasalah orang-orang yang meragu’. Lalu ia menceritakan hadits  tersebut, di mana di dalamnya disebutkan, ‘Aku pernah bertanya kepada  Muadz, ‘Apa pendapatmu tentang seorang hakim yang telah memutuskan  perkara dengan salah ?’ Beliau menjawab, ‘Begini, bila pendapat hakim  jelas-jelas salah tanpa ada keraguan, maka jangan diikuti, namun  janganlah hal itu membuatmu berpaling darinya. Karena mungkin saja ia  meralat ucapannya dan mengikuti yang benar apabila ia telah  mengetahuinya. Sesungguhnya kebenaran itu membawa cahaya’.”</em></p>
<p>Dari Abdurrahman bin Abdulah bin Mas’ud, dari ayahnya diriwayatkan  bahwa ada seorang lelaki yang datang menemui Ibnu Mas’ud dan berkata, <em>“Wahai Abu Abdirrahman, ajarkan padaku beberapa kata yang sederhana dan padat lagi berguna.”</em> Abdullah berkata, <em>“Janganlah  engkau menyekutukanNya dengan sesuatu pun, berjalanlah seiring dengan  ajaran al Qur’an ke manapun engkau mengarah, dan barangsiapa yang  datang kepadamu membawa kebenaran, terimalah, meskipun ia orang yang  jauh yang engkau benci, dan barangsiapa yang datang kepadamu membawa  kebatilan, tolaklah, meskipun ia adalah kerabat yang engkau cintai.”</em></p>
<p><strong>Mayoritas Bukan Berarti Benar</strong></p>
<p>Tahukah Saudariku,<br>
Setiap hal yang kita anggap benar, dan juga dianggap benar oleh  kebanyakan orang (mayoritas), tidaklah selalu benar dalam timbangan  syari’at, karena kebenaran tidak diukur dengan pertimbangan hawa nafsu,  akal (ra’yu), ataupun diukur dari pendapat mayoritas (jumhur,  demokrasi), sehingga Allah Ta’ala pun mengingatkan kita dalam firmanNya,</p>
<p><em>“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi  ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak  lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain  hanyalah berdusta (terhadap Allah).”</em> (QS. Al-An’am: 116)</p>
<p>Dari Abdurrahman bin Yazid diriwayatkan bahwa ia menceritakan, <em>“Abdullah  berkata, ‘Janganlah kamu sekalian menjadi imma’ah.’ Orang-orang yang  hadir bersama beliau bertanya, ‘Apakah arti imma’ah itu?’ Beliau  menjawab, ‘Yaitu sikap orang yang menyatakan, ‘Saya ikut dengan  kebanyakan mereka, baik dalam hal yang ada petunjuknya atau pun dalam  hal yang tidak ada petunjuknya (kesesatan).’ Ingatlah, hendaknya  masing-masing di antara kamu menguatkan dirinya, yakni bila orang  banyak itu kufur, maka engkau tidak ikut kufur.”</em></p>
<p><strong>Mengikuti Kebenaran Dengan Mengetahui Hujjahnya, Tidak Dengan Taklid Buta</strong></p>
<p>Saudariku,<br>
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui dasar dari setiap hal yang  akan kita lakukan, dan tidak hanya mengikuti begitu saja (taklid) apa  yang dikatakan dan diperbuat oleh orang lain. Karena masing-masing kita  di akhirat nanti akanbertanggung jawab kepada Allah, bukan kepada  kebanyakan orang tersebut. Para ulama’ pun sangat berhati-hati dalam  hal ini.</p>
<p>Mutharrif telah menceritakan, <em>“Kami telah mendatangi Zaid bin  Shuhan. Beliau kala itu berkata, “Wahai hamba-hamba Allah, milikilah  sifat mulia dan berbuatlah kebajikan. Sesungguhnya sarana para hamba  mendapatkan keridhaan Allah hanya dua hal: rasa takut dan rasa tidak  puas.” Suatu hari, aku menemui beliau. Kala itu orang-orang telah  menulis surat kepadanya yang isinya: “Sesungguhnya Allah adalah Rabb  kita, Muhammad adalah Nabi kita, al-Qur’an adalah imam kita,  barangsiapa yang sependapat dengan kami, maka kami dan mereka adalah  sama. Dan barangsiapa tidak sependapat dengan kami, tangan kami akan  bertindak atas mereka. Kami adalah kami.” Diceritakan, bahwa beliau  menyodorkan surat itu kepada teman-temannya satu persatu sambil  bertanya, “Apakah engkau menyetujuinya?” Hal itu terus beliau lakukan,  hingga sampai kepadaku. Beliau bertanya, “Apakah engkau menyetujuinya  wahai anakku?” Aku menjawab, “Tidak.” Zaid berkata, “Janganlah kalian  terburu-buru menyikapi anak ini. Apa pendapatmu wahai anakku?” Aku  menjawab, “Sesungguhnya saya tidak akan menerima perjanjian selain  perjanjian yang telah Allah ambil atas diriku.” Maka orang-orang itu  pulang semuanya, setelah jatuh pertanyaan kepada orang terakhir, dan  akhirnya tak seorang pun di antara mereka yang menyetujui perjanjian  itu. Padahal mereka adalah orang-orang terhormat yang berjumlah tiga  puluh orang.”</em></p>
<p>Saudariku,<br>
Setiap manusia di dunia ini (kecuali Rosulullah <em>shollallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang maksum) adalah makhluk yang pasti mempunyai kesalahan yang  terkadang tidak kita sadari, sehingga kita pun wajib untuk terus  belajar agama agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan tersebut.</p>
<p>Dari Abul Ahwash, dari Abdullah diriwayatkan bahwa ia menceritakan, <em>“Janganlah  seorang itu bertaklid kepada orang lain dalam urusan diennya, yang  apabila orang lain itu beriman, ia ikut beriman dan bila orang itu  kafir maka ia pun ikut kafir. Kalaupun kita harus bertaklid, hendaknya  kita bertaklid kepada (tauladan) yang sudah mati (maksudnya Rasulullah  shollallahu ‘alaihi wa sallam). Karena orang yang masih hidup, masih  belum dijamin selamat dari petaka.”</em></p>
<p><strong>Kebenaran Hanya Datang dari Al Qur’an dan Sunnah</strong></p>
<p>Terbukalah Saudariku,<br>
Para ulama selalu bersikap jujur dan rendah hati terhadap kebenaran  yang mereka terima. Mereka tidak menyuruh orang lain untuk mengikuti  pendapatnya dengan taklid buta, tapi mereka menghendaki orang lain  untuk tidak mengikuti pendapatnya jika itu memang bertentangan dengan  Kitab dan Sunnah.</p>
<p>Ar Rabi’ menceritakan, <em>“Aku pernah mendengar Asy Syafi’i  berkata, ‘Apabila dalam bukuku kalian mendapati sesuatu yang tidak  sesuai dengan sunnah Rosulullah, maka ambillah sunnah itu sebagai  pegangan, dan tinggalkan apa yang aku katakan.”</em></p>
<p>Juga dari Ar Rabi’, <em>“Aku pernah mendengar Syafi’i ditanya oleh  seorang laki-laki, ‘Apakah engkau berpendapat dengan hadist yang engkau  sebutkan itu wahai Abu Abdillah?’ Beliau menjawab, ‘Apabila aku  meriwayatkan hadits, lalu tidak kujadikan sebagai pendapatku, saya  jadikan kalian semua sebagai saksi, bahwa akalku sudah hilang’.”</em></p>
<p>Al Humaidi menceritakan, <em>“Suatu hari Imam Syafi’i meriwayatkan  hadist. Aku lantas bertanya, ‘Apakah engkau menjadikannya sebagai  pendapatmu?’ Beliau menjawab, ‘Apakah engkau melihat aku sedang keluar  dari gereja atau aku tengah mengenakan sabuk simbol Ahli Kitab,  sehingga ketika aku mendengar dari Rosulullah satu hadist, tak  kujadikan sebagai pendapatku?'”</em></p>
<p>Ar Rabi’ pernah menceritakan, aku pernah mendengar Syafi’i menyatakan, <em>“Langit  mana lagi tempat aku berteduh, dan bumi mana lagi tempat aku berpijak,  apabila aku meriwayatkan hadist Rosulullah lalu tidak kujadikan sebagai  pendapatku?”</em></p>
<p>Adz Dzahabi menceritakan, <em>“Dalam Musnad Syafi’i disebutkan  riwayat dengan sima’i (dengan cara mendengar), Abu Hanifah bin Samak  telah mengabarkan kepada saya, Ibnu Abi Dzi’bin telah memberitakan  kepada kami, dari al Maqburi, dari Abu Syuraih, bahwa Rosulullah  bersabda, “Barangsiapa terbunuh sanak familinya, ia memiliki salah satu  dari dua pilihan: kalau suka, ia bisa meminta qishash, kalau suka ia  juga bisa mengambil diyat (uang ganti rugi).” Aku bertanya kepada Ibnu  Abi Dzi’bin, “Apakah engkau menjadikannya sebagai pendapatmu?” Beliau  memukul dadaku sambil berteriak keras sampai membuatku kesakitan,  sambil berkata, “Apakah layak apabila aku menyampaikan hadist  Rosulullah kepadamu, lalu engkau bertanya kepadaku, “Apakah engkau  menjadikannya sebagai pendapatku?” Jelas aku menjadikannya sebagai  pendapatku, dan itu adalah kewajiban atas diriku dan atas setiap orang  yang mendengarnya. Sesungguhnya Allah memilih Muhammad dari kalangan  manusia lalu melalui beliau Allah memberi petunjuk kepada mereka  melalui kedua tangan beliau. Maka satu kewajiban atas umat manusia  untuk mengikuti beliau dengan penuh ketaatan dan penuh ketundukan. Tak  ada jalan lain bagi seorang muslim.”</em></p>
<p>Abul ‘Aina telah menceritakan kepada kami, <em>“Tatkala al Mahdi  berhaji, beliau memasuki masjid Rosulullah. Setiap orang yang ada  bersama beliau berdiri (sebagai penghormatan), kecuali Ibnu Abi  Dzi’bin. Maka Musayyab bin Zubair berkata, ‘Berdirilah. Itu Amirul  Mukminin.’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya manusia hanya oleh berdiri  menghormat kepada Rabbul ‘alamin.’ Al Mahdi lalu berkata, ‘Biarkan dia.  Seluruh rambut di kepalaku sudah berdiri semua’.”</em></p>
<p>Perhatikanlah sikap ulama dan kerendahan hati mereka dalam menerima  kebenaran dan teladanilah mereka. Karena tidaklah seorang mukmin  diperkenankan untuk menghukumi sesuatu serta beramal sebelum ia  mengetahui dalilnya dari Qur’an dan Sunnah, sebagaimana firman Allah, <em>“Hai  orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya  dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi  Maha Mengetahui.”</em></p>
<p><strong>Kebenaran Bukanlah dari Hawa Nafsu</strong></p>
<p>Saudariku,<br>
Tanyakanlah lagi pada hati kecil kita, benarkah kita ini mukmin, sudah  benarkah cara kita beriman, kemudian tanyakan lagi, apakah keimanan  kita itu sudah seperti apa yang diinginkan Allah. Karena jika hati kita  masih merasa tidak cocok/’sreg’ dengan syari’at yang kita terima  (terasa ada penolakan dan keraguan dalam hati kita), maka kita harus  berhati-hati jangan sampai kita menjadi orang yang munafik yang  disebutkan dalam firman Allah,</p>
<p><em>“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk  tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah  turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang  sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah  masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan  kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”</em> (QS. Al Hadid: 16)</p>
<p>Saudariku,<br>
Jadikanlah hati kita ini hati yang hidup, hati yang sehat, hati yang  selamat, yang jika ia mendengar suatu perintah agama (syari’at) sesuai  Al Qur’an dan As Sunnah, maka ia melaksanakan tanpa menanyakan  sebabnya, begitu juga saat mendengar ada larangan syari’at. Janganlah  kita menimbang-nimbang, jika nanti perintah/larangan itu menguntungkan  kita, maka kita akan patuh padanya. Jika ini yang kita lakukan, maka  ketundukan kita terhadap kebenaran bukanlah karena mencintai Allah dan  RosulNya, tapi karena hawa nafsu, dan ini termasuk syirik, karena kita  beramal bukan karena Allah.</p>
<p>Berusahalah untuk melakukan kebenaran tersebut. Jika kita belum  mampu melakukannya, maka setidaknya kita tidak menolaknya, tapi  tanamkan dalam hati bahwa ‘inilah yang paling benar, yang akan dapat  menyelamatkanku’ dan berusahalah semampunya untuk belajar  mengamalkannya sedikit demi sedikit sehingga tidak ada lagi penolakan  dalam hati kita dan kita dapat dengan ringan mengamalkannya.</p>
<p>Dari Syafi’i diriwayatkan bahwa ia menceritakan, <em>“Setiap orang  yang membangkang dan menentangku ketika aku melakukan kebenaran, akan  kupandang sebelah mata. Dan setiap yang menerima kebenaran itu, pasti  aku segani dan aku yakin bahwa aku mencintainya.”</em></p>
<p>Diriwayatkan bahwa Hatim al Ashan berkata, <em>“Aku senang bila  orang yang mendebat diriku ternyata dia benar. Sebaliknya aku bersedih  kalau orang yang mendebat diriku ternyata keliru.”</em></p>
<p>Demikianlah Saudariku,<br>
Sikap para ulama dalam menerima kebenaran. Hendaknya kita sebagai  tholabul ‘ilmi juga mengikuti jejak para pewaris Nabi tersebut,  sehingga sikap kita ini akan menyelamatkan diri kita dari kesesatan  yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan kejahilan kita.</p>
<p><strong>Maraji’:</strong> <em>Belajar Etika dari Generasi Salaf</em> (Abdul Aziz bin Nashir al Jalil Bahauddinin Fatih Uqail)</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 