
<p><em>Bismillah</em>, pada kesempatan kali ini kami akan coba membahas terkait tuntunan shalat sunnah rawatib. Semoga dengan pembahasan ini, kita semua bisa lebih maksimal dalam mengerjakan shalat sunnah rawatib.</p>

<p>Sesungguhnya diantara hikmah dan rahmat Allah atas hambanya adalah disyariatkannya At-tathowwu’ (ibadah tambahan). Dan dijadikan pada ibadah wajib diiringi dengan adanya at-tathowwu’ dari jenis ibadah yang serupa. Hal itu dikarenakan untuk melengkapi kekurangan yang terdapat pada ibadah wajib.</p>
<p>Dan sesungguhnya <em>at-tathowwu’</em> (ibadah sunnah) di dalam ibadah sholat yang paling utama adalah sunnah rawatib. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> senantiasa mengerjakannya dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh).</p>
<p>Mengingat pentingnya ibadah ini, serta dikerjakannya secara berulang-ulang sebagaimana sholat fardhu, sehingga saya (penulis) ingin menjelaskan sebagian dari tuntunan shalat sunnah rawatib secara ringkas.</p>
<h2>Keutamaan Sholat Rawatib</h2>
<p>Ummu Habibah radiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan sholat sunnah rawatib, dia berkata: saya mendengar Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa yang sholat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga</em>“. Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut. ‘Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah. ‘Amru bin Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Ansabah. An-Nu’am bin Salim berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Amru bin Aus. (HR. Muslim no. 728).</p>
<p>‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> telah meriwayatkan sebuah hadits tentang sholat sunnah rawatib sebelum (qobliyah) shubuh, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, beliau bersabda, “<em>Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya</em>“. Dalam riwayat yang lain, “<em>Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya</em>” (HR. Muslim no. 725)</p>
<p>Adapun sholat sunnah sebelum shubuh ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah rawatib dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim (tidak berpegian) maupun dalam keadaan safar.</p>
<p>Ummu Habibah <em>radhiyallahu ‘anha</em> telah meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “<em>Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka</em>“. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)</p>
<h2>Jumlah Sholat Sunnah Rawatib</h2>
<p>Hadits Ummu Habibah di atas menjelaskan bahwa jumlah sholat rawatib ada 12 rakaat dan penjelasan hadits 12 rakaat ini diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa’i, dari ‘Aisyah <em>radiyallahu ‘anha</em>, ia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh</em>“. (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)</p>
<h2>Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Qobliyah Subuh</h2>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radiyallahu ‘anhu</em>, “Bahwasanya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun <strong>(</strong><strong>قل يا أيها الكافرون</strong><strong>)</strong> dan surat Al Ikhlas <strong>(</strong><strong>قل هو الله أحد</strong><strong>)</strong>.” (HR. Muslim no. 726)</p>
<p>Dan dari Sa’id bin Yasar, bahwasannya Ibnu Abbas mengkhabarkan kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pada sholat sunnah sebelum subuh dirakaat pertamanya membaca: <strong>(</strong><strong>قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا</strong><strong>)</strong> (QS. Al-Baqarah: 136), dan dirakaat keduanya membaca: <strong>(</strong><strong>آمنا بالله واشهد بأنا مسلمون</strong><strong>)</strong> (QS. Ali Imron: 52). (HR. Muslim no. 727)</p>
<h2>Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib</h2>
<p>Dari Ibnu Mas’ud <em>radiyallahu ‘anha</em>, dia berkata: Saya sering mendengar Rasulullah <em>shallalllahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika beliau membaca surat pada sholat sunnah sesudah maghrib:” surat Al Kafirun <strong>(</strong><strong>قل يا أيها الكافرون</strong><strong>)</strong> dan surat Al Ikhlas <strong>(</strong><strong>قل هو الله أحد</strong><strong>)</strong>. (HR. At-Tarmidzi no. 431, berkata Al-Albani: derajat hadits ini hasan shohih, Ibnu Majah no. 1166)</p>
<h2>Apakah Sholat Rawatib 4 Rakaat Qobiyah Dzuhur Dikerjakan dengan Sekali Salam atau Dua Kali Salam?</h2>
<p>As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam, seseorang yang sholat rawatib empat rakaat maka dengan dua salam bukan satu salam, karena sesungguhnya nabi bersabda: “Sholat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam dua rakaat salam”. (<em>Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin</em> 14/288)</p>
<h2>Apakah Pada Sholat Ashar Terdapat Rawatib?</h2>
<p>As-Syaikh Muammad bin Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, “Tidak ada sunnah rawatib sebelum dan sesudah sholat ashar, namun disunnahkan sholat mutlak sebelum sholat ashar”. (<em>Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin</em> 14/343)</p>
<h2>Sholat Rawatib Qobliyah Jum’at</h2>
<p>As-Syaikh Abdul ‘Azis bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata: “Tidak ada sunnah rawatib sebelum sholat jum’at berdasarkan pendapat yang terkuat di antara dua pendapat ulama’. Akan tetapi disyari’atkan bagi kaum muslimin yang masuk masjid agar mengerjakan sholat beberapa rakaat semampunya” (<em>Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz</em> 12/386&amp;387)</p>
<h2>Sholat Rawatib Ba’diyah Jum’at</h2>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radiyallahu ‘anhu</em> berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Apabila seseorang di antara kalian mengerjakan sholat jum’at, maka sholatlah sesudahnya empat rakaat</em>“. (HR. Muslim no. 881)</p>
<p>As-Syaikh Bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata, “Adapun sesudah sholat jum’at, maka terdapat sunnah rawatib sekurang-kurangnya dua rakaat dan maksimum empat rakaat” (<em>Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz</em> 13/387)</p>
<h2>Sholat Rawatib Dalam Keadaan Safar</h2>
<p>Ibnu Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “Rasulullah <em>shallallahu a’laihi wa sallam</em> didalam safar senantiasa mengerjakan sholat sunnah rawatib sebelum shubuh dan sholat sunnah witir dikarenakan dua sholat sunnah ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah, dan tidak ada riwayat bahwasannya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengerjakan sholat sunnah selain keduanya”. (<em>Zaadul Ma’ad</em> 1/315).</p>
<p>As-Syaikh Bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata: “Disyariatkan ketika safar meninggalkan sholat rawatib kecuali sholat witir dan rawatib sebelum subuh”. (<em>Majmu’ Fatawa</em> 11/390).</p>
<h2>Tempat Mengerjakan Sholat Rawatib</h2>
<p>Dari Ibnu Umar <em>radiyallahu ‘anhuma</em> berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari sholat-sholat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan</em>“. (HR. Bukhori no. 1187, Muslim no. 777)</p>
<p>As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata: “Sudah seyogyanya bagi seseorang untuk mengerjakan sholat rawatib di rumahnya…. meskipun di Mekkah dan Madinah sekalipun maka lebih utama dikerjakan dirumah dari pada di masjid Al-Haram maupun masjid An-Nabawi; karena saat Nabi <em>shallallahu a’alihi wasallam</em> bersabda sementara beliau berada di Madinah….. Ironisnya manusia sekarang lebih mengutamakan melakukan sholat sunnah rawatib di masjidil haram, dan ini termasuk bagian dari kebodohan”. (<em>Syarh Riyadhus Sholihin</em>, 3/295)</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/22272-fatwa-ulama-memisahkan-shalat-sunnah-dan-shalat-wajib-dan-berpindah-tempat-antara-keduanya.html" target="_blank" rel="noopener">Memisahkan Shalat Sunnah Dan Shalat Wajib</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Waktu Mengerjakan Sholat Rawatib</h2>
<p>Ibnu Qudamah berkata: “Setiap sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu sholat fardhu hingga sholat fardhu dikerjakan, dan sholat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya sholat fardhu hingga berakhirnya waktu sholat fardhu tersebut “. (<em>Al-Mughni</em> 2/544)</p>
<h2>Mengganti (mengqodho’) Sholat Rawatib</h2>
<p>Dari Anas <em>radiyallahu ‘anhu</em> dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Barangsiapa yang lupa akan sholatnya maka sholatlah ketika dia ingat, tidak ada tebusan kecuali hal itu</em>“. (HR. Bukhori no. 597, Muslim no. 680)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata: “Dan hadits ini meliputi sholat fardhu, sholat malam, witir, dan sunnah rawatib”. (<em>Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah</em>, 23/90)</p>
<h2>Mengqodho’ Sholat Rawatib Di Waktu yang Terlarang</h2>
<p>Ibnu Qoyyim berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> meng-<em>qodho’</em> sholat ba’diyah dzuhur setelah ashar, dan terkadang melakukannya terus-menerus, karena apabila beliau melakukan amalan selalu melanggengkannya. Hukum mengqodho’ diwaktu-waktu terlarang bersifat umum bagi nabi dan umatnya, adapun dilakukan terus-menerus pada waktu terlarang merupakan kekhususan nabi”. (<em>Zaadul Ma’ad </em> 1/308)</p>
<h2>Waktu Mengqodho’ Sholat Rawatib Sebelum Subuh</h2>
<p>Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Barangsiapa yang belum mengerjakan dua rakaat sebelum sholat subuh, maka sholatlah setelah matahari terbit</em>“. (At-Tirmdzi 423, dan dishahihkan oleh Al-albani)</p>
<p>Dan dari Muhammad bin Ibrahim dari kakeknya Qois, berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> keluar rumah mendatangi sholat kemudian qomat ditegakkan dan sholat subuh dikerjakan hingga selesai, kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> berpaling menghadap ma’mum, maka beliau mendapati saya sedang mengerjakan sholat, lalu bersabda: “<em>Sebentar wahai Qois apakah ada sholat subuh dua kali?</em>“. Maka saya berkata: Wahai rasulullah sungguh saya belum mengerjakan sholat sebelum subuh, Tasulullah bersabda: “<em>Maka tidak mengapa</em>“. (HR. At-Tirmidzi). Adapun pada Abu Dawud dengan lafadz: “Maka rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> diam (terhadap yang dilakukan Qois)”. (HR. At-tirmidzi no. 422, Abu Dawud no. 1267, dan Al-Albani menshahihkannya)</p>
<p>As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim <em>rahimahullah</em> berkata: “Barangsiapa yang masuk masjid mendapatkan jama’ah sedang sholat subuh, maka sholatlah bersama mereka. Baginya dapat mengerjakan sholat dua rakaat sebelum subuh setelah selesai sholat subuh, tetapi yang lebih utama adalah mengakhirkan sampai matahari naik setinggi tombak” (<em>Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim </em>2/259 dan 260)</p>
<h2>Jika Sholat Subuh Bersama Jama’ah Terlewatkan, Apakah Mengerjakan Sholat Rawatib Terlebih Dahulu atau Sholat Subuh?</h2>
<p>As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sholat rawatib didahulukan atas sholat fardhu (subuh), karena sholat rawatib qobliyah subuh itu sebelum sholat subuh, meskipun orang-orang telah keluar selesai sholat berjama’ah dari masjid” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsatimin 14/298)</p>
<h2>Pengurutan Ketika Mengqodho’</h2>
<p>As-Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata: “Apabila didalam sholat itu terdapat rawatib qobliyah dan ba’diyah, dan sholat rawatib qobliyahnya terlewatkan, maka yang dikerjakan lebih dahulu adalah ba’diyah kemudian qobliyah, contoh: Seseorang masuk masjid yang belum mengerjakan sholat rawatib qobliyah mendapati imam sedang mengerjakan sholat dzuhur, maka apabila sholat dzuhur telah selesai, yang pertamakali dikerjakan adalah sholat rawatib ba’diyah dua rakaat, kemudian empat rakaat qobliyah”. (<em>Syarh Riyadhus Sholihin</em>, 3/283)</p>
<h2>Mengqodho’ Sholat Rawatib yang Banyak Terlewatkan</h2>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata: “Diperbolehkan mengqodho’ sholat rawatib dan selainnya, karena merupakan sholat sunnah yang sangat dianjurkan (<em>muakkadah</em>)… kemudian jika sholat yang terlewatkan sangat banyak, maka yang utama adalah mencukupkan diri mengerjakan yang wajib (fardhu), karena mendahulukan untuk menghilangkan dosa adalah perkara yang utama, sebagaimana “Ketika Rasulullah mengerjakan empat sholat fardhu yang tertinggal pada perang Khondaq, beliau mengqodho’nya secara berturut-turut”. Dan tidak ada riwayat bahwasannya Rasulullah mengerjakan sholat rawatib diantara sholat-sholat fardhu tersebut.…. Dan jika hanya satu atau dua sholat yang terlewatkan, maka yang utama adalah mengerjakan semuanya sebagaimana perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pada saat sholat subuh terlewatkan, maka beliau mengqodho’nya bersama sholat rawatib”. (<em>Syarh Al-‘Umdah</em>, hal. 238)</p>
<h2>Menggabungkan Sholat-sholat Rawatib, Tahiyatul Masjid, dan Sunnah Wudhu’</h2>
<p>As-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata: “Apabila seseorang masuk masjid diwaktu sholat rawatib, maka ia bisa mengerjakan sholat dua rakaat dengan niat sholat rawatib dan tahiyatul masjid, dengan demikian tertunailah dengan mendapatkan keutamaan keduanya. Dan demikian juga sholat sunnah wudhu’ bisa digabungkan dengan keduanya (sholat rawatib dan tahiyatul masjid), atau digabungkan dengan salah satu dari keduanya”. (<em>Al-Qawaid Wal-Ushul Al-Jami’ah</em>, hal. 75)</p>
<h2>Menggabungkan Sholat Sebelum Subuh dan Sholat Duha Pada Waktu Dhuha</h2>
<p>As-Syaikh Muhammad Bin Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata: “Seseorang yang sholat qobliyah subuhnya terlewatkan sampai matahari terbit, dan waktu sholat dhuha tiba. Maka pada keadaan ini, sholat rawatib subuh tidak terhitung sebagai sholat dhuha, dan sholat dhuha juga tidak terhitung sebagai sholat rawatib subuh, dan tidak boleh juga menggabungkan keduanya dalam satu niat. Karena sholat dhuha itu tersendiri dan sholat rawatib subuh pun juga demikian, sehingga tidaklah salah satu dari keduanya terhitung (dianggap) sebagai yang lainnya. (<em>Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</em>, 20/13)</p>
<h2>Menggabungkan Sholat Rawatib dengan Sholat Istikharah</h2>
<p>Dari Jabir bin Abdullah <em>radiyallahu ‘anhuma</em> berkata: “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengajarkan kami sholat istikhorah ketika menghadapi permasalahan sebagaimana mengajarkan kami surat-surat dari Al-Qur’an”, kemudian beliau bersabda: “<em>Apabila seseorang dari kalian mendapatkan permasalahan, maka sholatlah dua rakaat dari selain sholat fardhu…</em>” (HR. Bukhori no. 1166)</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata: “Jika seseorang berniat sholat rawatib tertentu digabungkan dengan sholat istikhorah maka terhitung sebagai pahala (boleh), tetapi berbeda jika tidak diniatkan”. (<em>Fathul Bari</em> 11/189)</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/58161-memperbanyak-shalat-sunnah-sebelum-datangnya-khatib-jumat.html" target="_blank" rel="noopener">Memperbanyak Shalat Sunnah sebelum Datangnya Khatib Jum’at</a></strong></em></p></blockquote>
<h2>Sholat Rawatib Ketika Iqomah Sholat Fardhu Telah Dikumandangkan</h2>
<p>Dari Abu Huroiroh <em>radiyallahu ‘anhu</em>, dari nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: “<em>Apabila iqomah sholat telah ditegakkan maka tidak ada sholat kecuali sholat fardhu</em>“. (HR. Muslim bi As-syarh An-Nawawi 5/222)</p>
<p>An-Nawawi berkata: “Hadits ini terdapat larangan yang jelas dari mengerjakan sholat sunnah setelah iqomah sholat dikumandangkan sekalipun sholat rawatib seperti rawatib subuh, dzuhur, ashar dan selainnya” (<em>Al-Majmu’</em> 3/378)</p>
<h2>Memutus Sholat Rawatib Ketika Sholat Fardhu ditegakkan</h2>
<p>As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata: “Apabila sholat telah ditegakkan dan ada sebagian jama’ah sedang melaksanakan sholat tahiyatul masjid atau sholat rawatib, maka disyari’atkan baginya untuk memutus sholatnya dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat fardhu, berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>: “<em>Apabila iqomah sholat telah ditegakkan maka tidak ada sholat kecuali sholat fardhu..</em>“, akan tetapi seandainya sholat telah ditegakkan dan seseorang sedang berada pada posisi rukuk dirakaat yang kedua, maka tidak ada halangan bagi dia untuk menyelesaikan sholatnya. Karena sholatnya segera berakhir pada saat sholat fardhu baru terlaksana kurang dari satu rakaat”. (<em>Majmu’ Fatawa</em> 11/392 dan 393)</p>
<h2>Apabila Mengetahui Sholat Fardhu Akan Segera Ditegakkan, Apakah Disyari’atkan Mengerjakan Sholat Rawatib?</h2>
<p>As-Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sudah seharusnya (mengenai hal ini) dikatakan: “Sesungguhnya tidak dianjurkan mengerjakan sholat rawatib diatas keyakinan yang kuat bahwasannya sholat fardhu akan terlewatkan dengan mengerjakannya. Bahkan meninggalkannya (sholat rawatib) karena mengetahui akan ditegakkan sholat bersama imam dan menjawab adzan (iqomah) adalah perkara yang disyari’atkan. Karena menjaga sholat fardhu dengan waktu-waktunya lebih utama daripada sholat sunnah rawatib yang bisa dimungkinkan untuk diqodho'”. (<em>Syarh Al-‘Umdah</em>, hal. 609)</p>
<h2>Mengangkat Kedua Tangan Untuk Berdo’a Setelah Menunaikan Sholat Rawatib</h2>
<p>As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata: “Sholat Rawatib: Saya tidak mengetahui adanya larangan dari mengangkat kedua tangan setelah mengerjakannya untuk berdo’a, dikarenakan beramal dengan keumuman dalil (akan disyari’atkan mengangkat tangan ketika berdo’a). Akan tetapi lebih utama untuk tidak melakukannya terus-menerus dalam hal itu (mengangkat tangan), karena tidaklah ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengerjakan demikian, seandainya beliau melakukannya setiap selesai sholat rawatib pasti akan ada riwayat yang dinisbahkan kepada beliau. Padahal para sahabat meriwayatkan seluruh perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan rasulullah baik ketika safar maupun tidak. Bahkan seluruh kehidupan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan para sahabat <em>radiyallahu ‘anhum</em> tersampaikan”. (Arkanul Islam, hal. 171)</p>
<h2>Kapan Sholat Rawatib Ketika Sholat Fardhu DiJama’?</h2>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata: “Sholat rawatib dikerjakan setelah kedua sholat fardhu dijama’ dan tidak boleh dilakukan di antara keduanya. Dan demikian juga sholat rawatib qobliyah dzuhur dikerjakan sebelum kedua sholat fardhu dijama'”. (<em>Shahih Muslim Bi Syarh An-Nawaw</em>i, 9/31)</p>
<h2>Apakah Mengerjakan Sholat Rawatib Atau Mendengarkan Nasihat?</h2>
<p>Dewan Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Saudi: “Disyariatkan bagi kaum muslimin jika mendapatkan nasihat (kultum) setelah sholat fardhu hendaknya mendengarkannya, kemudian setelahnya ia mengerjakan sholat rawatib seperti ba’diyah dzuhur, maghbrib dan ‘isya” (<em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah LilBuhuts Al-‘Alamiyah Wal-Ifta’</em>, 7/234)</p>
<h2>Mendahulukan Menyempurnakan Dzikir-dzikir setelah Sholat Fardhu Sebelum Menunaikan Sholat Rawatib</h2>
<p>As-Syaikh Abdullah bin Jibrin <em>rahimahullah</em> ditanya: “Apabila saya mengerjakan sholat jenazah setelah maghrib, apakah saya langsung mengerjakan sholat rawatib setelah selesai sholat jenazah ataukah menyempurnakan dzikir-dzikir kemudian sholat rawatib?</p>
<p>Jawaban beliau <em>rahimahullah</em>: “Yang lebih utama adalah duduk untuk menyempurnakan dzikir-dzikir kemudian menunaikan sholat rawatib. Maka perkara ini disyariatkan baik ada atau tidaknya sholat jenazah. Maka dzikir-dzikir yang ada setelah sholat fardhu merupakan sunnah yang selayaknya untuk dijaga dan tidak sepantasnya ditinggalkan. Maka jika anda memutus dzikir tersebut karena menunaikan sholat jenazah, maka setelah itu hendaknya menyempurnakan dzikirnya ditempat anda berada, kemudian mengerjakan sholat rawatib yaitu sholat ba’diyah. Hal ini mencakup rawatib ba’diyah dzuhur, maghrib maupun ‘isya dengan mengakhirkan sholat rawatib setelah berdzikir”. (<em>Al-Qoul Al-Mubin fii Ma’rifati Ma Yahummu Al-Mushollin</em>, hal. 471)</p>
<h2>Tersibukkan Dengan Memuliakan Tamu Dari Meninggalkan Sholat Rawatib</h2>
<p>As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata: “Pada dasarnya seseorang terkadang mengerjakan amal yang kurang afdhol (utama) kemudian melakukan yang lebih afdhol (yang semestinya didahulukan) dengan adanya sebab. Maka seandainya seseorang tersibukkan dengan memuliakan tamu di saat adanya sholat rawatib, maka memuliakan tamu didahulukan daripada mengerjakan sholat rawatib”. (<em>Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin</em> 16/176)</p>
<h2>Sholatnya Seorang Pekerja Setelah Sholat Fardhu dengan Rawatib Maupun Sholat Sunnah lainnya</h2>
<p>As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata: “Adapun sholat sunnah setelah sholat fardhu yang bukan rawatib maka tidak boleh. Karena waktu yang digunakan saat itu merupakan bagian dari waktu kerja semisal aqad menyewa dan pekerjaan lain. Adapun melakukan sholat rawatib (ba’da sholat fardhu), maka tidak mengapa. Karena itu merupakan hal yang biasa dilakukan dan masih dimaklumi (dibolehkan) oleh atasannya”.</p>
<h2>Apakah Meninggalkan Sholat Rawatib Termasuk Bentuk Kefasikan?</h2>
<p>As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz <em>rahimahullah</em> berkata: “Perkataan sebagian ulama’: (Sesungguhnya meninggalkan sholat rawatib termasuk fasiq), merupakan perkataan yang kurang baik, bahkan tidak benar. Karena sholat rawatib itu adalah nafilah (sunnah). Maka barangsiapa yang menjaga sholat fardhu dan meninggalkan maksiat tidaklah dikatakan fasik bahkan dia adalah seorang mukmin yang baik lagi adil. Dan demikian juga sebagian perkataan fuqoha’: (Sesungguhnya menjaga sholat rawatib merupakan bagian dari syarat adil dalam persaksian), maka ini adalah perkataan yang lemah. Karena setiap orang yang menjaga sholat fardhu dan meninggalkan maksiat maka ia adalah orang yang adil lagi tsiqoh. Akantetapi dari sifat seorang mukmin yang sempurna selayaknya bersegera (bersemangat) untuk mengerjakan sholat rawatib dan perkara-perkara baik lainnya yang sangat banyak dan berlomba-lomba untuk mengerjakannya”. (<em>Majmu’ Fatawa</em> 11/382)</p>
<p><em>(Yang dimaksud adalah artikel tersebut: <a href="http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/14.htm" target="_blank" rel="noopener">fdawj.atspace.org/awwb/th2/14.htm</a> (pen.))</em></p>
<p><strong>Faedah:<br>
</strong>Ibmu Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata: “Terdapat kumpulan sholat-sholat dari tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehari semalam sebanyak 40 rakaat, yaitu dengan menjaga 17 rakaat dari sholat fardhu, 10 rakaat atau 12 rakaat dari sholat rawatib, 11 rakaat atau 13 rakaat sholat malam, maka keseluruhannya adalah 40 rakaat. Adapun tambahan sholat selain yang tersebutkan bukanlah sholat rawatib…..maka sudah seharusnyalah bagi seorang hamba untuk senantiasa menegakkan terus-menerus tuntunan ini selamanya hingga menjumpai ajal (maut). Sehingga adakah yang lebih cepat terkabulkannya do’a dan tersegeranya dibukakan pintu bagi orang yang mengetuk sehari semalam sebanyak 40 kali? Allah-lah tempat meminta pertolongan”. (Zadul Ma’ad 1/327)</p>
<p>Lembaran singkat ini saya ringkas dari sebuah buku yang saya tulis sendiri berjudul “Hukum-hukum Sholat Sunnah Rawatib”.</p>
<p>Dan sholawat serta salam kepada nabi kita muhammad shallalllahu ‘alaihi wasallam dan keluarganya serta para sahabatnya. Amiin</p>
<p>Ummul Hamaam, 1 Ramadhan 1431 H</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: </strong></em><a href="https://muslim.or.id/8485-shalat-sunnah-fajar-jangan-sampai-ditinggalkan.html" target="_blank" rel="noopener"><em><strong>Shalat Sunnah Fajar, Jangan Sampai Ditinggalkan</strong></em></a></p></blockquote>
<p>—</p>
<p>Penulis: As-Syaikh Abdullah bin Za’li Al-‘Anziy</p>
<p>Sumber: Buletin Darul Qosim (<a href="http://www.dar-alqassem.com/" target="_blank" rel="noopener">dar-alqassem.com</a>)</p>
<p>Penerjemah: Abu Ahmad Meilana Dharma Putra</p>
<p>Muroja’ah: Al-Ustadz Abu Raihana, MA.</p>
<p>Artikel muslim.or.id</p>
 